The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, June 22, 2017
Tentang Pulang

Saya masih membuka aplikasi pemesanan tiket di ponsel saya malam ini, saat saya baru mengetik isi pesan out-of-office di Outlook. Saya masih bimbang, apakah saya akan menjalani perjalanan di libur panjang Lebaran tahun ini, atau hanya berdiam di Jakarta.

Beberapa rekan kantor sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Warga di sekitar lingkungan tempat tinggal, malam ini terlihat berangkat bersama-sama mudik ke kampung halaman. Pada percakapan mereka yang kucuri dengar saat lewat, tersebut nama-nama daerah di beberapa provinsi di Pulau Jawa, juga Lampung.

Lingkungan apartment pun malam ini sepi. Lahan parkir yang biasa dipenuhi mobil para penghuni, kali ini lebih dari separuhnya kosong.

Tahun lalu, sayapun ikut mudik ke Sumatra Utara dengan adik saya, tepat di malam takbiran. Ada kesenangan tersendiri, saat berada di udara, dan lapisan di bawahnya dipenuhi kembang api di sepanjang perjalanan di atas Pulau Sumatra.

Tahun ini, saya meragu. Antara merasa sayang akan ongkosnya - meski sudah menerima THR dan bonus, dan rasa aneh untuk mengetuk saya untuk tetap di Jakarta, meski jelas saya saat ini merasa sangat membutuhkan penyegaran dengan keluar dari rutinitas ibukota ini.

Saya kembali membuka arsip foto dari Whatsapp chat dengan adik saya, yang hampir setiap hari mengirimkan kabar dan gambar tentang ibu kami, dan bagaimana mereka berjuang setiap hari. Rasa bangga, kagum, prihatin, sesekali membuat perasaan saya menjadi basah di dalam. Ucapku di hati, "you're still working this hard, Mak... I don't want my Mamak to be like this. I want to end this, we all need to stay together..."

Saya ingin sekali berlibur kembali, kali ini dengan ibu dan adik-adik saya. Entah ke Padang, atau di Sumatra Utara seperti Februari lalu. Tetapi entah, urusan kepergian dan perjalanan yang biasanya sangat enteng saya lakukan, kali ini terasa berat.
Photo of myself during #eapgetawayfeb2016, captured by Vera, stylized by myself.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 6/22/2017 10:50:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Tuesday, May 30, 2017
Menuju Deep Work (III): Top Performer

Perhaps, this "Top Performer" certificate is the result of deep work I wrote earlier. "Domo arigato" to my boss, all leadership team, and my team members. 😙


Labels: ,

Eleazhar P. @ 5/30/2017 11:15:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, May 18, 2017
Lagom, Golden Ratio, dan Kekacauan Kehidupan (Bagian I)

Yang terjadi akhir-akhir di ranah internet dan dunia nyata sebenarnya sangat mengganggu saya. Kau pasti tahu; segala macam keriuhan politik, penghakiman komunal yang dicorogkan melalui akun-akun gosip dan propaganda di Instagram, dan banyak lagi macam wars of tweets dan ujaran-teriakan mengecilkan kelompok-kelompok lain yang berseberangan. Ada semacam rasa damai yang berusaha enyah atau dienyahkan. Ada pemain-pemain besar yang ingin mengubah kompas hidup banyak orang, termasuk ke saya, keluarga dan orang-orang yang saya kenal, dan masyarakat negeri ini secara luas.

Ada propaganda senyap tetapi masif yang sedang berjalan. Saya tidak tahu pasti siapa yang menggerakkan, tetapi tanda-tanda kehidupan bisa terbaca. Kita diarahkan ke sana; untuk terbawa atau menjadi korban dari huru-hara politis.

Ini sesuatu yang saya tidak setujui. Ada hal yang salah; pemain-pemain tadi dan agendanya. Apa yang salah; nafsu mereka. Dan sebagai pribadi yang selalu menghentikan diri sebentar untuk melihat apa yang sedang terjadi atau menjadi titik awal kenapa seseorang atau sesuatu bergerak menjadi anomali - atau menjadi deviasi dari batas-batas yang “dianggap wajar” oleh orang awam atau berdasarkan pada nilai-nilai universal, saya harus berkata, “rasa berkekurangan” adalah awal dari gerakan-gerakan ini.

“Rasa berkekurangan” yang menjurus ke arah penunjukan ego sebagai pusat sudut pandang. Rasa yang mendorong bahwa kehidupan yang berdasarkan pada “modesty” tidaklah cukup, bahwa hidup harus dirayakan semeriah mungkin. Rasa yang mendorong bahwa “orang lain yang mencelakakan saya, haruslah lebih menderita daripada saya, haruslah merasakan kesakitan yang lebih daripada yang saya rasakan”. Rasa berkurangan yang berubah dan bisa diterjemahkan sebagai ketamakan, egosentrisme, keculasan.

Obyek atau korban dari tindakan-tindakan itupun bukan hanya manusia dan berlapis generasi berikutnya. Nilai-nilai hidup dari korban yang disasar, lingkungan - termasuk hutan dan hewan, Dan para pelaku ketamakan ini saya yakini, bisa berbuat apa saja untuk membuat agenda, propaganda, dan segala hal taktis menjadi berhasil. Mereka bahkan bisa memperhitungkan korban dari pihak mereka sendiri, seperti barisan akar rumput mereka sendiri, sebagai “costs” yang harus ada, sebagai “casualties” yang akan selalu ada di setiap peperangan. Mereka bisa mengambil secara berlebih dari alam - semacam “perampasan” besar, yang pasti minim perhitungan atas apa-apa yang akan terjadi di masa mendatang dari tindakan mereka.

Apakah kita sebenarnya “serendah” ini? Seberapa jamak ini ditemukan? Jika ini ditemukan di hampir setiap manusia, apakah ini “basic instinct” kita, dan tertulis dalam DNA?

(Bersambung)

Labels:

Eleazhar P. @ 5/18/2017 10:44:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, April 17, 2017
Menuju Deep Work (II): Mulai Menyingkirkan Media Sosial

Ada jeda waktu yang cukup lama untuk saya bisa meninjau kembali kebiasaan saya aktif di media sosial sejak ide untuk mengurangi, bahkan berhenti, dari media sosial. Waktu yang cukup lama itu lebih tepatnya dikarenakan mengobservasi apa-apa yang mungkin menjadi keuntungan mutlak atau kerugian kalau saya mengundurkan diri. Hingga akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa akan lebih menguntungkan untuk mengundurkan diri dari ranah media sosial.

Secara sederhana, pertimbangan terutama adalah saya tidak menemukan kebaikan berarti untuk tetap aktif di media sosial. Media sosial tidak membantu saya menyelesaikan dan menyempurnaan pekerjaan sehari-hari; yang ada malah membuat distraksi, tidak menyumbang apa-apa bagi pekerjaan saya. Tidak pula menyumbangkan kebaikan bagi kesehatan fisik dan psikis; yang ada bikin sakit kepala membaca cuitan dan komentar netizen di seantero platform, plus - seperti yang dialami banyak sekali orang di negeri ini sejak huru-hara politis di dunia maya - membuat saya mulai berpikir yang tidak-tidak ke kawan-kawan yang saya anggap dekat karena pemikiran mereka yang dituangkan di media sosial pun ternyata cukup radikal. Pada titik ini, mungkin kita dan saya harus merenung juga; "apakah saya harus memutuskan tali perkawanan dengan orang-orang yang bertentangan ide? Haruskah kita berpisah dan bertolak karena pemikiran? Apa memang bahwa sejak awal, orang-orang yang saya anggap kawan ini, tidak menganggap saya sebagai kawannya? Sebaik apa kita sebagai kawan untuk memberikan toleransi dan bertutur baik ke orang-orang yang kita anggap kawan tetapi menjadi “buas” di media sosial?"

Satu hal lagi, “kok rasanya lebih bahagia dan tenang tanpa media sosial ya?” Saya nggak perlu merasa lagi bahwa saya harus berbagi apapun dalam hidup saya di media sosial; tidak merasa “oh, I’m the trendsetter, saya harus duluan membagi ini,” atau “oh, pemikiran saya sangat cemerlang, saya harus membaginya ke khalayak,” atau “oh, saya harus mem-posting ini, saya keren, teman-teman saya keren jadi sayapun harus keren,” atau, ”oh, hidup saya sangat diberkati oleh Pemiik Semesta, saya harus menceritakan kebaikanNya bagi orang-orang". In fact, I never and will never change the world by just posting or tweeting my thoughts in the internet. Mungkin ada, satu dua orang yang terpengaruh dan berubah, tetapi saya skeptis tentang ini. Kadang pula saya berpikir kini, bahwa memang tidak perlu membagi hal-hal tertentu. Have you ever thought that you’ve just made someone is feeling bad and awful about his/her life, caused by the perfect portrayal and images you make about yourself in social medias?

Di satu sisi, saya bersyukur tidak punya tekanan sosial dari lingkar orang-orang sekitar kehidupan saya bahwa saya harus menjadi ini-itu, harus terlihat oke di depan orang-orang. I’m way too grateful for being a lone wolf in this hectic and fast world… Oh well, internet was a peaceful place at one place once upon a time, dulu ya, mungkin, where we - the introverts - once ruled over the internet.

Dan kemarin, 16 April, sebagai langkah pertama, saya menghapus semua aplikasi sosial media di ponsel dan iPad. I have not deleted the accounts yet, just the apps, so I would have lesser access to social medias and the massive notifications they pop out.

Jika saya ingin berbagi cerita ke ibu saya, saya akan menelepon beliau. Jika saya ingin bercerita mendalam ke teman tertentu atau adik saya, saya akan ajak ke restoran yang masakan dan suasananya enak. Jika saya ingin sesekali mengakses media sosial, saya akan buka kembali Macbook dan menjelajahi satu per satu nama-nama kawan yang saya anggap kini (atau pernah) berarti. As for me, this last action is quite “romantic”, isn’t it? Bukankah kita manusia sudah lama tidak mengalami rasa rindu kepada kerabat atau keluarga, karena kini sudah terlalu mudah mengetahui kabar mereka, selfie mereka, keluh-kesahnya, dan segala perkara yang menjadi masalah hidup mereka?

Satu-satunya hal yang akan membuat saya sesekali kembali ke media sosial adalah membagi foto-foto selama aktivitas traveling mendatang. Ibu saya senang melihat foto-foto traveling saya, dan juga saya tidak pernah terbebani jumlah likes atas foto-foto yang saya unggah selama ini.

Saya sungguh ingin berfokus ke perencanaan dan penyelesaian hal-hal yang lebih besar dalam hidup. Bila “menyingkirkan” media sosial adalah salah satu “harga” yang harus saya pangkas, maka biarlah. :)

Photo by: myself.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 4/17/2017 10:59:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Wednesday, March 8, 2017
Telusur Tangkahan dan Sumatra Utara, Feb 2017: Rasanya Seperti Mati dan Lahir Kembali

"Hello, Nature... Hello, Tangkahan..."
Oh hei, scroll the page below to see other photos, or go browse "#eapgetaway2017" in my Instagram feed for complete photos of this getaway.

Mengajukan cuti liburan jauh-jauh hari bukan berarti bisa merencanakan kegiatan menjelajah bagian negeri dengan matang dan terinci, yang ada di liburan lalu malah segala sesuatunya serba mendadak. Saya berencana hendak ke Tanjung Bira (Sulawesi Selatan), atau Baubau (Sulawesi Tenggara), atau Derawan, atau balik ke Balikpapan, atau malah terbang ke Sabang (Aceh) lagi. Galau luar biasa rasanya. Belum lagi saya memang butuh berlibur, sangat penat rasanya menjalani kehidupan akhir-akhir ini.
"Penumpang business class yang menggembel..."

Hingga menjelang tanggal 23 Februari - saat dimulainya tanggal cutiku, tiket pesawat belum dibeli, hotel pun tidak ada yang di-book. Saya bahkan baru membeli tiket one-way business class Batik Air di siang hari, beberapa jam sebelum saya akhirnya memutuskan menjelajah provinsi asalku; Sumatra Utara. Ternyata, tanpa itinerary terincipun, liburan bisa dinikmati.

Liburan kali ini hanya ada saya dan keluarga; adik laki-lakiku dan Mamak (ibu) tepatnya. Adik perempuanku masih harus bekerja, jadi kutinggal di Jakarta. Mungkin Februari semacam sudah menjadi bulan tradisi, saat saya merayakan ulangtahunku dengan berbaur di kota atau masyarakat yang tidak kujumpai setiap hari. Di 2015 saya berpelesir ke Aceh dan Sabang, di 2016 saya melakukan island hopping di Kepulauan Batam. Tahun 2017 ini, beberapa jam sebelum saya tiba di bandara, saya hanya ingin pulang, ke Sumatra Utara.

Kami pergi ke Tangkahan, Tanah Karo (lagi), dan Danau Toba (lagi, sejak kecil, hahaha) dengan memanfaatkan jasa private trip yang dijalankan adikku itu; @anakmedanonvacation. Dan kunjungan kami ke Tangkahan untuk pertama kali ini (yes! Saya yang asli warga Sumut saja baru kali ini ke Tangkahan), tidak lain dan tidak bukan karena posts di Instagramnya Nicholas Saputra, yang bolak-balik ke Tangkahan. And I wondered, “what does attract him to come over and over? Apa sih yang bikin si Abang Pisces itu tertarik dengan alam Tangkahan? Apa hal yang sama bisa membuatku tertarik sebagai sesama Pisces?” Hehehe...

Kembali, saya hanya ingin pulang. Menyepi, menyendiri di alam tanah kelahiranku. Dengan keluarga rasanya menjadi lebih baik. Ada banyak cerita yang saya ingin bagi dan luapkan ke Mamak dan adikku itu; hal-hal yang menjadi kegundahanku (yang tidak mungkin saya bagi di dunia maya atau teman manapun), kegusaranku tentang hiruk-pikuk politik dan aura kebencian yang menyelimuti Jakarta, dan hal-hal di masa-masa awal perantauan dan hal buruk yang terjadi selama hampir dua tahun terakhir ini.

Terlepas dari rasa suka melihat gajah di Tangkahan, bercebur dan menyentuh alam, ada hal yang rasanya terlepas dari jiwa ini. Rasanya seperti mati dan lahir kembali. Seperti mengalami baptisan. Seperti ada yang baru. Yang mati adalah kesakitan yang dialami jiwa saya sejak hampir dua tahun terakhir ini, hingga puncaknya yang saya alami beberapa saat setelah Natal lalu. Hal-hal yang menohok dan mengguncang hati saya tentang manusia-manusia yang saya anggap adalah sahabat saya. Hal-hal pahit yang membentuk jiwa saya sejak saya merantau di penghujung usia 21, hingga saya membuangnya di Tangkahan di penghujung usia 30 lalu.

Tanpa saya sadari, T-shirts yang saya pakai selama foto-foto di Tangkahan seperti mewakili apa yang saya bawa dan saya buang di alam; kesakitan jiwaku. Datang dengan pakaian berwarna coklat, ibarat air keruh yang menampung segala kotoran di jiwa saya, lalu tanpa pakaian atas saat bercebur, dan pulang dengan pakaian putih yang seperti memperlihatkan kesakitan yang sudah terbuang dari jiwa saya.

Alam Tangkahan seperti suaka bagi jiwaku. Sepi, jauh dari peradaban yang tercemar iri dengki. Hanya ada penduduk sekitar, alam, sungai, hutan, dan langit biru di atas sana. Kini saya mengerti, bisa merasakan kesukaan dan sukacita yang sama, seperti mungkin yang dialami selebritas di atas.
Dan saat kesakitan di jiwa saya terlepas, rasanya sangat melegakan. Jika mereka yang pernah mengecilkan saya, dikarenakan hal-hal yang saya tidak ketahui alasannya, tidak menganggap saya seperti manusia dan salah di mata mereka atas segala yang ada di diriku, maka biarlah. Jika bagi mereka saya adalah penjahat yang tidak terampuni, maka biarlah kini. Jika bagi mereka saya selalu dicurigai, maka biarlah. At the end of the day, what is the point to befriend someone if you do not trust him/her? Maka jika saya menghilang dari mereka, maka biarlah. Ada hal-hal yang saya tidak mengerti sepenuhnya, dan itu bukan kesalahan saya untuk tidak memahaminya saat ini.

Dan saat jiwa ini merasakan kemerdekaan, ada hal-hal yang menggugah jiwaku. Ada mimpi-mimpi besar di masa lalu yang seperti dimunculkan kembali. Dan saya, siap untuk hidup lagi.

"Membawa segala kesakitan di jiwa ke alam Sumatra..."

"Membuang segala luka dan kesakitan yang ditanggung selama hampir sepuluh tahun..."

"And all the pains are gone..."

"Tangkahan landscape"

"Hello, Lumbini Temple..."

"Stay and wander in Lumbini Hidden Garden"

"Hello, North Sumatra... Hello, Tanah Karo..."

"Mamak / Mother / Ibu"

"The mist of bliss in Simalungun"

All photos by Eleazhar and Daniel Purba.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 3/08/2017 01:09:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives