The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, August 30, 2009
Kau Diutus OlehNya

Kau, ya dirimu
Tuhanlah yang telah mengutusmu
Untuk membalut kembali sebuah hati
Untuk menyembuhkan bilur-bilur yang mengalirkan darah

Tak perlu berkata banyak
Tak perlu bicara ini itu yang tidak jelas
Sedikit saja kau berucap
Maka semuanya selesai

Diberkatilah ayah ibumu
Diberkatilah hari engkau dilahirkan
Diberkatilah hari saat engkau memasuki pintu itu
Kau, ya dirimu...

Labels:

Eleazhar P. @ 8/30/2009 11:43:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, August 24, 2009
Tak Bernama, Tak Berhati

Ssshhh...
...
...
...
Diamlah dengan diam...
...
...
...
Sunyi.
Sepi.
Bimbang.
Sendiri.
...
...
...
Dia, dia, dia...
Kamu dan saya...

Labels:

Eleazhar P. @ 8/24/2009 01:05:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Tuesday, August 18, 2009
Sederhana dan Sangat Biasa

Template baru untuk blog ini akhirnya selesai, dengan desain yang jauh lebih sederhana dan sangat biasa. Hanya ada abu-abu, putih, dan hitam sebagai warna-warna utama, sangat berbeda dengan tema "Village Kid and Blue Sky" (VKBS) yang hip, vibrant, extrovert, penuh detil, dan youthful itu. Satu hal yang sama, template ini juga "dipahat" secara tableless dan memakai "riasan" CSS.

Nggak ada filosofi khusus untuk template baru ini. Saya cuma mau sesuatu yang lebih sederhana. Saya mau agar saya dan orang yang membaca isi blog ini hanya berfokus ke post dan iklan. Iklan?! Ya, dengan ini saya menutup juga servis web design, dan sekaligus menegaskan kalau saya tidak lagi ingin mencari tambahan penghasilan dari kanal itu. Saya cuma blogging dengan satu tujuan, menyampaikan pemikiran, dan penghasilan dari iklan hanya "iseng-iseng berhadiah". Ke depannya memang seperti itu, fokus ke konten dan ruang untuk iklan (yang untuk sementara ini) hanya diisi iklan dari Google Adsense dan iklan on-demand yang nanti saya berikan kesempatannya.



Walaupun nggak ada filosofi khusus, penamaan untuk template ini mungkin didasari satu hal, bahwa template ini menyimbolkan "pemberontakan" saya kepada desain-desain yang eye-catching seperti VKBS. Karena tokh, sebagus apapun desain kalau kontennya tidak diperhatikan maka suatu blog dan pemikiran di dalamnya menjadi tidak berarti apa-apa. Ah, jadi mengingatkan saya pada "learning log" saya dulu, yang kebetulan menggunakan template VKBS. Biarlah abu-abu dan kegelapan menegaskan sesuatu yang ada di dalam putih dan terang. Biarlah hitam dan kekelaman menebalkan pandangan. Fokuslah ke konten di dalamnya. :)

So here it is, "Hati Yang Remuk", suatu reaksi pemberontakan, jiwa introvert, kesuraman & kemuraman, pendewasaan...

Labels: ,

Eleazhar P. @ 8/18/2009 12:16:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, August 17, 2009
Gue Nggak Takut Mati, Li

Kalideres, 15 Agustus 2009. Pukul sembilan.

"Mereka udah nggak ada, Li. Opung, bapatongah Siantar, Medan, Pakam, satu persatu. Kalau mereka berjumpa disana, juga nggak saling kenal. Tiap orang adalah dirinya sendiri. Nggak ada tingkatan ini bapaknya, ini abangnya, itu adiknya. Semua dipertanggungjawabkan masing-masing."

"Gue lihat sendiri waktu bapatongah meninggal, nggak ada yang berani masuk ke dalam. Gue pegangin kakinya. Berdoa dia, "Tuhan, kuserahkan nyawaku dalam tanganMu". Disitu gue lihat indikatornya langsung datar".

"Habis elu nelpon, langsung gue ngebut dari Cawang. Gue udah nggak peduli lagi, pokoknya harus nyampe Harapan Kita waktu itu juga."

"Nangis ya nangis. Sebentar gue nangis, sebentar bisa tenang. Waktu bapatongah mau dimandiin, gue nangis lagi. Tapi gue puas, Li. Gue puas karna di tahun-tahun terakhir bapatongah, gue udah ngejaga dia. Elu liat sendiri kan, pagi-pagi gue udah ngantar dia ke kantor. Kemanapun dia bilang, ayo bang kesana, gue anterin. Waktu kuliah dulu juga gitu, Li. Habis ngantar ke Bintaro baru gue berangkat kuliah (ke Trisakti yang berlawanan arah)".

"Sedih ya sedih, tapi semuanya kan harus terjadi. Waktu di pemakaman, gue pegang salib di atas kuburan bapatongah, gue lihat sekeliling, semua tempat tubuh dikuburkan. Gue pikir, ah semua orang juga pasti meninggal. Gue juga suatu saat nanti. Sejak itu, gue nggak takut mati, Li."

"Dunia terus berputar, kita boleh rindu. Tapi menangispun nggak membuat mereka kembali. Menuding-nuding Tuhanpun nggak ada guna".

"Gitu juga waktu bapatongah Pakam meninggal. Tiga hari sebelum dia meninggal, gue ditelpon berkali-kali waktu di kantor tapi belum sempat diangkat. Tumben, gue pikir. Waktu ditelepon balik siang itu, bapatongah bilang, jagai adekmu itu, tatar dia. Gue tanya, kenapa bapatongah, dia jawab, pokoknya tatar dia. Eh, Selasa siang dapat kabar kalau bapatongah meninggal. Inangtongah Pakam nggak sanggup ngomong ke elu langsung, jadi inangtongah yang diminta tolong menelepon ke Surabaya. Ke bapatongah juga, inangtongah mikir dulu cara yang enak ngasihtau kalau adeknya udah nggak ada lagi."


----------

Entah dinding kamar bisa ngomong, atau di kantor ada CCTV yang mengadu ke Bang Gendut kalau sepanjang Sabtu itu aku udah benar-benar down, berteriak-teriak dalam hati. Jumat malam menangis di kamar, dan Sabtu siang di kantor masih memandangi Pacific Place, melamun merindui bapak dan semua ceritaku yang mengekori kematiannya. Apa Tuhan yang "mengadu" sehingga Bang Gendut tau isi pikiran & pergumulanku? Kenapa tiba-tiba ia bicara tentang kematian, topik yang nggak pernah kami bicarakan.

Mungkin aku yang terlalu sensitif tentang kematian, terlalu keras menghukum diri, mungkin aku yang terlalu lambat untuk bergerak. Dengan pikiran yang terlalu rumit menanyakan ini dan itu, dan sempat menuding-nuding ke wajahNya. Menggugat banyak hal. Menginginkan segalanya serba sempurna seperti apa yang aku mau.

Sementara, untuk hal-hal yang sederhana, bahwa bumi berputar tetap dan perubahan selalu ada, tak terpikirkan. Lantas, apalagi? Mengharapkan ucapan-ucapan itu ditarik kembali? Entahlah. Sebagian diriku berkata ya. Entah seberapa besar porsi diriku itu. Sementara ini, aku bisa tenang dengan semua yang sepupuku sampaikan.

Bang Gennnddduuutttt... Bentar lagi kan dirimu ulangtahun, makan-makan dimana kita, bang? Aku yang bayarin lah. Sekalian tatar aku sering-sering. Tularkan pemikiran-pemikiran sederhanamu, wahai tax accountant. Hahaha...

Labels: ,

Eleazhar P. @ 8/17/2009 11:17:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, August 3, 2009
Happy Birthday, Pooh

Tuhan, mungkin ini terasa gila. Tapi aku mungkin memang sudah gila. Jika kedalaman hati seseorang hanya Kau yang mengetahuinya. Maka tahulah juga Kau setiap materi yang terkirim dalam setiap aliran bandwidth ini. Maka, sampaikanlah noteku ini padanya, dimanapun ia sekarang berada.

Pak, seandainya suara bapak masih bisa kudengar hari ini, aku mau menelepon bapak. Mengomeli kebiasaan makan bapak yang nggak terjaga, yang mamak mungkin udah capek juga soal ini, memberitahu kabarku hari ini, masalahku hari ini, orang-orang aneh macam apa yang kulihat di jalan hari ini. Macam-macam, seperti yang biasa kita bicarakan dulu.

Akupun berkeras untuk nggak pindah kos dari rumah mendiang bapatongah, meski rute dari rumah ke kantor udah membuat aku sering mengomel karena macet sesaknya jalanan dari Grogol hingga Slipi. Karena, di rumah inilah aku menghabiskan hari-hari terakhir bersama bapak dua tahun lalu. Karena disini ada inangtongah, kawannya bapak. Karena disini ada bang Eko yang bapak minta menjagaku.

Pak, banyak rahasia yang mau kuceritakan, banyak perkara yang mau aku bincangkan. Tapi mungkin bapak sendiri disana udah tau apa yang mau kubicarakan. Yang mungkin, kalau memang aku berniat membicarakannya, hanya ingus dan airmata yang keluar.

Banyak yang bapak bilang dulu terbukti benar. Bahwa hidup diluar rumah memang kejam. Bahwa aku ini memang orang yang susah memegang uang, pemboros ya pak, dari jaman sekolah dasar bapak udah tau kebiasaanku. Haha... Ternyata memang ya pak, ada senjata dan aliansi yang serangannya bisa lebih hebat dari satuan militer. Yang... Ah, sudahlah itu.

Pak, ingatanku memang kuat, tapi ada satu hal yang terlupa, dan bahkan paling mendasar dalam skenario hidupku. Minggu lalu aku teringat satu ucapan bapak, dua minggu sebelum keberangkatan kita ke Jakarta. Bahwa, akulah yang membuat keputusan atas hidupku sendiri...

Sewaktu kusampaikan maksudku untuk bekerja di luar Sumatra Utara karena beban isi pemberitaan di suratkabar yang "terlalu spektakuler" buatku, bapak hanya bilang kemanapun aku mau pergi maka bapak mendukung, bahwa setiap keputusan yang kubuat harus kupertanggungjawabkan sendiri. Ini yang kulupa.

Alpaku, maka kusalahkan semua kejadian-kejadian di kota itu pada Tuhan yang seharusnya bisa mencegahku mengirim lamaran kerja online siang itu; maka sempat kusesalkan kepergianku dari rumah, maka sempat kusesalkan dan aku kutuki kelahiranku. Maka hingga kini tiap kali aku mengingatnya maka tubuh keduaku, jiwa, terasa ada yang menghujam keras. Sakit sekali. Padahal, saat aku mengutuki darahku, sebenarnya aku mengingkari engkau sebagai bapakku. Anak durhaka.

Pak, ingat nggak sepulang dari ibadah malam, habis menonton film akhir zaman itu, bapak ngomong kalo bapak nggak mau masuk dalam masa tribulasi itu, trus aku bilang apa ke bapak malam itu? Ingat nggak, bos? Haha... Malah kejadian ya, pak.

Tentang dia, yang membuat kematianmu menjadi begitu tak ada artinya dengan membandingkannya dengan kepergian seseorang yang aku hormati hingga setiap perkataannya mempengaruhi hidupku, aku akan membiarkannya saja. Aku nggak ada urusan dengan orang itu lagi. Bapak pasti marah kalau aku melakukan yang bukan seturut Firman; membalasnya dengan hal yang sama. Ah, Tuhan pasti punya pertimbangan sendiri. Mungkin kejadiannya sama seperti jaman kecil dulu, waktu semua anak di sekolah suka mengejek orangtua teman-temannya, lengkap dengan olokan tentang profesinya. "Woi, anu anaknya si anu, tukang anu!" Haha... Lucu juga pak kalo dinggat-ingat.

Biarlah kau tetap jadi pahlawanku. Bagaimanapun rupamu. Bagaimanapun karaktermu.
Bagaimanapun jeleknya dirimu di mata orang lain.
Bagaimanapun keras dan degilnya engkau.
Bagaimanapun hancurnya masa laluku.

Engkaulah yang memperjuangkan kehidupan kami.
Engkaulah wakil Tuhan di mataku.
Engkaulah figur yang menunjukkan dunia di hadapanku.
Engkaulah bapakku.

Janjiku, pak. Berbanggalah kelak engkau memilikiku sebagai anakmu.
Sampai tiba waktunya kelak kita berjumpa lagi, aku akan terus menahan rinduku menjumpai bapak.

Aku sayang bapak. Umurmu genap limapuluh enam tahun di buku kehidupan hari ini. Happy birthday, Pooh.

Labels:

Eleazhar P. @ 8/03/2009 12:59:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts