The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, August 3, 2009
Happy Birthday, Pooh

Tuhan, mungkin ini terasa gila. Tapi aku mungkin memang sudah gila. Jika kedalaman hati seseorang hanya Kau yang mengetahuinya. Maka tahulah juga Kau setiap materi yang terkirim dalam setiap aliran bandwidth ini. Maka, sampaikanlah noteku ini padanya, dimanapun ia sekarang berada.

Pak, seandainya suara bapak masih bisa kudengar hari ini, aku mau menelepon bapak. Mengomeli kebiasaan makan bapak yang nggak terjaga, yang mamak mungkin udah capek juga soal ini, memberitahu kabarku hari ini, masalahku hari ini, orang-orang aneh macam apa yang kulihat di jalan hari ini. Macam-macam, seperti yang biasa kita bicarakan dulu.

Akupun berkeras untuk nggak pindah kos dari rumah mendiang bapatongah, meski rute dari rumah ke kantor udah membuat aku sering mengomel karena macet sesaknya jalanan dari Grogol hingga Slipi. Karena, di rumah inilah aku menghabiskan hari-hari terakhir bersama bapak dua tahun lalu. Karena disini ada inangtongah, kawannya bapak. Karena disini ada bang Eko yang bapak minta menjagaku.

Pak, banyak rahasia yang mau kuceritakan, banyak perkara yang mau aku bincangkan. Tapi mungkin bapak sendiri disana udah tau apa yang mau kubicarakan. Yang mungkin, kalau memang aku berniat membicarakannya, hanya ingus dan airmata yang keluar.

Banyak yang bapak bilang dulu terbukti benar. Bahwa hidup diluar rumah memang kejam. Bahwa aku ini memang orang yang susah memegang uang, pemboros ya pak, dari jaman sekolah dasar bapak udah tau kebiasaanku. Haha... Ternyata memang ya pak, ada senjata dan aliansi yang serangannya bisa lebih hebat dari satuan militer. Yang... Ah, sudahlah itu.

Pak, ingatanku memang kuat, tapi ada satu hal yang terlupa, dan bahkan paling mendasar dalam skenario hidupku. Minggu lalu aku teringat satu ucapan bapak, dua minggu sebelum keberangkatan kita ke Jakarta. Bahwa, akulah yang membuat keputusan atas hidupku sendiri...

Sewaktu kusampaikan maksudku untuk bekerja di luar Sumatra Utara karena beban isi pemberitaan di suratkabar yang "terlalu spektakuler" buatku, bapak hanya bilang kemanapun aku mau pergi maka bapak mendukung, bahwa setiap keputusan yang kubuat harus kupertanggungjawabkan sendiri. Ini yang kulupa.

Alpaku, maka kusalahkan semua kejadian-kejadian di kota itu pada Tuhan yang seharusnya bisa mencegahku mengirim lamaran kerja online siang itu; maka sempat kusesalkan kepergianku dari rumah, maka sempat kusesalkan dan aku kutuki kelahiranku. Maka hingga kini tiap kali aku mengingatnya maka tubuh keduaku, jiwa, terasa ada yang menghujam keras. Sakit sekali. Padahal, saat aku mengutuki darahku, sebenarnya aku mengingkari engkau sebagai bapakku. Anak durhaka.

Pak, ingat nggak sepulang dari ibadah malam, habis menonton film akhir zaman itu, bapak ngomong kalo bapak nggak mau masuk dalam masa tribulasi itu, trus aku bilang apa ke bapak malam itu? Ingat nggak, bos? Haha... Malah kejadian ya, pak.

Tentang dia, yang membuat kematianmu menjadi begitu tak ada artinya dengan membandingkannya dengan kepergian seseorang yang aku hormati hingga setiap perkataannya mempengaruhi hidupku, aku akan membiarkannya saja. Aku nggak ada urusan dengan orang itu lagi. Bapak pasti marah kalau aku melakukan yang bukan seturut Firman; membalasnya dengan hal yang sama. Ah, Tuhan pasti punya pertimbangan sendiri. Mungkin kejadiannya sama seperti jaman kecil dulu, waktu semua anak di sekolah suka mengejek orangtua teman-temannya, lengkap dengan olokan tentang profesinya. "Woi, anu anaknya si anu, tukang anu!" Haha... Lucu juga pak kalo dinggat-ingat.

Biarlah kau tetap jadi pahlawanku. Bagaimanapun rupamu. Bagaimanapun karaktermu.
Bagaimanapun jeleknya dirimu di mata orang lain.
Bagaimanapun keras dan degilnya engkau.
Bagaimanapun hancurnya masa laluku.

Engkaulah yang memperjuangkan kehidupan kami.
Engkaulah wakil Tuhan di mataku.
Engkaulah figur yang menunjukkan dunia di hadapanku.
Engkaulah bapakku.

Janjiku, pak. Berbanggalah kelak engkau memilikiku sebagai anakmu.
Sampai tiba waktunya kelak kita berjumpa lagi, aku akan terus menahan rinduku menjumpai bapak.

Aku sayang bapak. Umurmu genap limapuluh enam tahun di buku kehidupan hari ini. Happy birthday, Pooh.

Labels:

Eleazhar P. @ 8/03/2009 12:59:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives