The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, October 31, 2009
Capung - Capung Mati

Sampai pagi tadi, rasa kagumku pada helikopter masih belum juga hilang. Sebagian diri bersorak senang melihat satu unit helikopter mendarat di helipad Polda Metro Jaya, sewaktu aku berjalan di jembatan depan Plaza Semanggi mengarah kawasan perkantoran SCBD yang elit itu. Sepertinya ada patroli khusus pagi tadi.

Sadar, anak kecil di dalam diriku masih menginginkan helikopter menjadi kendaraanku, ia tetap berisik, menampar-nampar udara menjadi angin.

Aku ingat, di masa lalu, mendiang bapak pernah membelikanku helikopter mainan berwarna kuning, hasil rengekanku sewaktu melihatnya di sebuah toko di kota kecil yang kami tinggali. Asupan tenaga dari batere tetap membuat baling-balingnya bisa berputar, dan aku membuat meja-meja di rumah menjadi pangkalan utama, dan pinggiran semen di kolam kecil di depan rumah menjadi helipad. Ini adalah markas rahasia pasukan khayalanku, penumpang helikopter kuningku.

Berbulan hingga menjadi setahun kemudian, helikopter itu rusak. Satu dari empat baling-balingnya patah, ekornya pun retak, dan pasukan khayalanku, semut-semut angkrang itu pun susah diatur karena selalu keluar dari pintu heli yang jebol. Maklum, plastik.

Aku diajar bukan menjadi orang yang habis akal. Kalau sesuatu tak dapat kau raih atau dapat, maka pergunakan atau cari hal lain yang lebih kurang sama. Maka helikopter cacat itu tetap kusimpan di bawah kolong tempat tidur, atau sesekali masih kumainkan saat itu. Aku mencari mainan lain, yang bisa tetap menjadi helikopterku. Yang lebih kurang sama, imaginya sama, capung!... Haha... Capung!...

Akupun menjadi pemburu capung di sore hari, dengan adik laki-lakiku yang sudah lebih dulu menjadi pemburu belalang. Sore hari menjelang maghrib, setelah tayangan Ksatria Baja Hitam, Superboy, The Simpsons, selesai, kamipun lari ke pekarangan-pekarangan kosong milik tetangga, mencari capung dan belalang. Sering kami jumpai anak-anak lain yang juga mencari buah "cimplukan" atau berburu serangga seperti kami.

Capung-capung air yang berwarna biru atau merah selalu jadi buruan favoritku. Ada sungai di dekat rumah, jadi ada begitu banyak capung berterbangan. Aku sering merasa menjadi raksasa yang menangkapi capung, lalu mengurungnya di kantong plastik bening. Ada sedikit rasa senang kalau berhasil mendapat capung-capung besar, gigitannya pasti tajam. Hehe...

Sewaktu malam, sehabis makan, dan atau sambil mengerjakan pekerjaan rumah, adalah waktu permainan dimulai. Imajinasiku terlalu tinggi, punya pasukan helikopter, capung merah sebagai penyembur api, capung biru si penyembur air, dan capung hijau, karena coraknya yang "militeristik" sebagai capung penyerang. Dengan kedua tanganku, aku mengadu mereka, hingga akhirnya aku selalu memilih capung hijau sebagai korban yang matinya lebih "tragis" dalam peperangan yang kukarang jalan ceritanya. Tubuhnya tersobek, sayap (baling) yang dilepas satu demi satu, dan mati tak berbentuk di lantai. Aku puas dengan ceritaku, peperanganku. Sedang adikku yang masih bloon saat itu, sibuk dengan belalang-belalangnya di pojok. Aku tidak mau tahu cerita apa yang dikarangnya, mungkin belalang itu di tangannya menjadi Belalang Tempur, kendaraan Kotaro Minami, pahlawan anak-anak di masa itu.

Kekagumanku pada helikopter susah hilang. Bahkan pada kampanye Partai Golkar di tahun 1997, setahun sebelum Tangan Tuhan "mengobok-obok" birokrasi negeri ini, aku berkeras mengajak bapak dan adikku berlari menuju helikopter yang terparkir di alun-alun kantor Bupati Deli Serdang. "Pak! Aku nyentuh helikopter!..." teriakku kepada bapakku.

(My little brother, Daniel Purba, on your birthday, I saw my favorite thing, a chopper, this morning. Happy birthday! :) )

Jakarta, Oct 30 2009.

Labels:

Eleazhar P. @ 10/31/2009 03:12:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, October 24, 2009
Wanita Pemetik Kapas

I know, I know...
I know You are there, my Lord...
Hear me speaking
This, I'm crying on this cotton field
Asking for Your kindness and mercy
Sit by me, my Master
Sit by me, hear me speaking...
This old lady begging Thee...
Aku mengandung, Tuhan...
Aku tak tahu bagaimana, dimana akan kulahirkan bayiku
Segenggam gandum di tangan yang kupunya
Untuk bekal hidupku hari ini
Jujur, aku khawatir tentang kehidupannya kelak ya Tuhan

Selama ini kupendam rintihanku
Tangisku yang kutampung di jiwaku
Aku terima keadaanku
Aku tak menyalahkanMu karna menetapkanku berkulit hitam
Bau keringat leluhurku tetap kebanggaanku
Aku tak meminta diberikan pedangMu
Untuk membalas laku majikanku
Aku mintakan kebaikanMu atasnya
Luka-luka di tubuhku adalah kebaikannya

This is my cry, o Lord...
This is my cry...

Build me a shelter on this field
Build my baby a fighter
A real fighter like his ancestor...
Let him conquer this life in You
Let him remember his mother is a slave
Let me be his proud

Sakitku tak tertahan lagi
Dengar rintihku kali ini...

Decisions I made are mine
For my tears dropped, I'm thankful for being a slave
One has breathe, I do
Slaves, masters, we do

Butakan mataku, Tuhan
Ambil biji-biji ini dan berikan untuk majikanku dan istrinya
Agar aku bisa melihat kebahagiaan anakku dengan hatiku
Sejatinya aku diciptakan roh dalam tubuh indera fana
Agar majikanku melihat dunia sejenak dengan mataku
Take my sight...

I will see my soul inside
I will dance, my soul

Anakku, aku akan melepas bajuku
Akan kututup malumu
Segalanya untukmu
Aku tak akan malu demi kamu
Karna aku tak akan lagi melihat orang
Tuntunlah ibu kelak, ibu akan bercerita banyak sepanjang perjalanan kita
Dan Tuhan, tetaplah tetap...

(Jakarta, 19 Oktober 2008)
Photo credit goes to DeviantArt

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/24/2009 12:13:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
Akar, Batang, Daun, Buah

Akar
Tersebut sesuatu bernama amarah
Terbilang kepahitan dan luka menjadi suku-suku bangsa
Terkatakan mimpi yang berbaur keruh
Tak tahukah dia, sekali saja dia menangis, terhujam rasa berlaksa jarum

Batang
Akulah kesedihan
Akulah hembus dingin Bintang Utara
Melindungi jalinan peredaran, melindungi segala sesuatu
Sang pelindung, yang ditempa kemuraman, yang dibentuk penjunan bernama depan hidup
Keras, akulah yang terbentuk
Untuk melindungi satu kehidupan

Daun
Kupetik sinar kehidupan
Kuhembuskan nafas kehidupan
Berjuang, terlepas dari ranting
Hingga akhir kesudahanku
Hidupku, inilah aku
Tak bernama, hanya daun
Satu diantara yang berjuang
Satu diantara yang gugur
Muncul, hidup, mati

Buah
Semailah aku seperti generasi pendahuluku
Bandingkan rasaku, hirup aromaku
Nikmati, atau segera campakkanku
Akulah hasil dari kehidupan
Akulah yang terakhir dari suatu siklus
Akulah awal dari suatu sistem yang baru
Tebarkan medulla di dalamku
Di tanah dimana mereka terjatuh
Di tanah bebatuan, diantara ilalang, di semak duri, atau tanah yang subur
Sesukamu, lihatlah pertumbuhan medulla dariku

Pohon yang tertanam di atas puncak bukit semesta, imagi akhir dari biji yang tersangkut pada tali perak yang mengikat Aphrodite dan Eros. Ibu dan anak, mengambil rupa sepasang ikan, menyelamatkan diri dari serangan Typhoon.
Ialah bagian dari belas kasih, pendamaian, dan pengampunan. Sama seperti burung dara pernah mengambil pucuk daunnya setelah banjir besar itu.
Dialah pohon yang menjadi kapel terbuka, naungan para tetua, melihat dunia, menghitung peradaban.
Sarang dari serangga penembak cahaya, tempat persinggahan para unggas saat hitungan bintang menetapkan zamannya.

Pohon itu, mengingatkanku pada seseorang.

(Jakarta, 23 Okt 2009)
Photo credit goes to DeviantArt.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/24/2009 11:32:00 AM. 1 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, October 10, 2009
Dua Kata

Akulah aku, memandang dunia dengan entengnya. Tak ada yang terlalu berat, semua berjalan dengan teratur dan indahnya. Dan aku selalu bisa mendapatkan apa yang kumau. Yang kutahu, Tuhan itu, si Empunya Hidup adalah adil dan baik. Dia teramat baik. Tak sedikitpun pandangaNnya terlewat atasku. Akulah kepunyaanNya, akulah biji mataNya. Akulah yang bernama Bahagia.

Akulah aku, yang memandang dunia dengan getir dan kejam. Tiada sejengkal tanah yang pantas kududuki. Setiap hari adalah perjuangan, setiap hari adalah menang atau kalah. Tuhan, aku tahu Dia ada. Aku tak memandang Ia bengis dan begitu angkuhnya untuk sekedar memandangku, hanya aku memandang, inilah hidup yang harus kujalani. Hidup tak pernah mudah bagiku. Akulah yang bernama Muram.

Hei Muram... Janganlah engkau begitu. Lihatlah aku, semua dalam hidup ini begitu sempurna. Kau saja yang tak mampu beryukur. Aku, apapun yang kumau bisa kuperoleh. Kenyamanan hidup, kebahagiaan, semua ada padaku. Uang kuliah, ada. Uang pelesir, ada. Makanan, tak pernah berkekurangan. Orangtuaku hidup berbahagia, akupun anak mereka. Setiap keinginan yang kupanjatkan Tuhan selalu dengar dan kabulkan. Lihatlah tubuh yang Tuhan ciptakan, begitu sempurna.

Bahagia, standar hidupmu, itulah yang banyak orang inginkan. Adakah pernah sepanjang hidupmu, mengenal orangtua yang bekerja sepenuh hati, dengan upah seadanya, untuk membiayai kuliah anak-anaknya? Lalu bagaimana dengan mereka yang terlahir cacat, adakah Tuhan mempunyai agenda tersembunyi untuk hidup mereka? Adakah mereka untuk menjadi bahan olok-olokan bagi mereka yang sempurna dan bahagia? Kejamlah Dia yang mencipta kalau demikian.

Muram, aku tak berkata seperti itu...

Tapi perkataanmu menyiratkan demikian, Bahagia. Janganlah engkau memandang terlalu gampang. Lebih banyak orang berjuang diluar sana. Jangankan untuk membeli donat dan pizza di mall-mall besar, menginjakkan kakinya saja di gedung itu saja mereka enggan, takut. Adakah engkau tahu berapa yang mereka hasilkan sehari? Tahu kamu?

Muram, apakah kau mengukur hidup ini dengan materi? Tak bisakah kau sedikit tersenyum dan menularkan kebahagiaan dengan sekitarmu manusia.

Tidak. Aku memandang hidup dengan standarku, dan kaulah yang terdahulu menetapkan materi menjadi standar. Adakah kebahagiaan diukur dengan apa yang kau punya dan bisa peroleh dengan gampangnya? Kaulah yang menetapkan standar tertentu untuk dapat diterima dunia. Tubuh sempurna, uang yang tercukupi hingga berlebih, dan segala kemudahan dalam hidup. Dan untuk orang yang tidak memilikinya, kau katakan kami ini tak bahagia. Kau masukkan kami dalam kotak bernama "kemiskinan", untuk kemudian bisa kau kasihani, kau ludahi, dan kau jadikan proyek bernama "pengentasan kemiskinan". Sementara banyak dari mereka yang punya segalanya pun tak selalu merasa cukup. Lantas menjadikan kami sebagai obyek untuk keserakahanmu. Dimana standar bahagiamu itu? Tak konsisten!

Aku belajar menghitung abad-abad, Tuhan
Saat orang menemukan api
Saat orang menemukan sistem
Saat orang mengenal peperangan
Dan lalu mencari suaka

Adakah garis dimana setiap norma itu dikatakan terlarang
Atau perdamaian itu adalah peperangan yang terselubung
Lantas, siapakah dia yang membawa kabar damai tapi menggendong anak bertubuh api bernama Kacau

Bagaimana semuanya menjadi benar menurut kebenaranMu?

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 10/10/2009 04:52:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, October 1, 2009
The Revelation (of Facebook status)

Mungin benar kalau orang Pisces itu lebay (berlebihan). Status di Facebook pun dibuat dengan selera sastra (murahan, hahaha). Berikut ini status-status saya di jejaring sosial Facebook dengan gaya tulisan yang lebay, agar terlihat berbeda dengan yang lain. Itu saja, maksudnya.

"Anak kucing dalam bahtera Nabi Nuh. Hibernasi, dingin, kehidupan yang baru. Saat atmosfer dibelah, cuaca bumi berubah. Satu titik dalam kalimat keputusan di buku kehidupan."
06 September at 07:40 via Mobile Web


Interpretasinya, Lagi meringkuk kedinginan, lagi sakit...

"Tanah di bawah perkampungan merapat membentuk kuadaran2 laba2, ada gemuruh suara berputar dalam tanah searah jarum jam. Perkampungan amblas, masuk ke dalam tanah. Satu, sepi. Dua, tangis. Tiga, berhala."
08 September at 06:19 via Mobile Web


Interpretasinya, Mimpi gempa di hampir seluruh wilayah Indonesia, tapi daerah-daerahnya samar terlihat di mimpi. Gempa membuat banyak bangunan amblas menyentuh tanah.

"Satu komando, kapal selam siap meluncur pulang ke anjungan asalnya. Hanya satu komando, gunung2 api di laut yg membidani lahirnya pulau2 baru, tak lagi bisa menghalanginya."
08 September at 23:07 via Mobile Web


Interpretasinya, saya menunggu approval dari bos untuk bisa cuti Lebaran di kampung halaman. Hahaha... Begitu ada approval, saya langsung pesan tiket.

"Kujahitkan benang2 pada tubuhku. Tertusuk jarum menembus lapisan kulit, terangkai dari telinga, tangan, hingga kakiku. Aliran darah dari bilurku, tanda kesakitan ini kesenanganku."
09 September at 08:33 via Mobile Web


Interpretasinya, Ingus sudah meleleh di hidung, nggak tahan saya. Perut juga lagi nggak enak, diare pula. Badan pun meriang.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 10/01/2009 09:18:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
Kenapa Tidak Dari Tadi Kau Muncul?


Mengapa baru sekarang?
Mengapa tidak dari tadi saja?

Serakkan kini seribu kunang-kunang di hadapanku
Menggantikan terangmu
Menggantikan sengat terikmu

Tapi, semuanya tak tergantikan
Semuanya tak sama

The Sun in Vivid Cloud. Photo by Ele. Medan, Sep 19 2009.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/01/2009 09:04:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts