The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, October 10, 2009
Dua Kata

Akulah aku, memandang dunia dengan entengnya. Tak ada yang terlalu berat, semua berjalan dengan teratur dan indahnya. Dan aku selalu bisa mendapatkan apa yang kumau. Yang kutahu, Tuhan itu, si Empunya Hidup adalah adil dan baik. Dia teramat baik. Tak sedikitpun pandangaNnya terlewat atasku. Akulah kepunyaanNya, akulah biji mataNya. Akulah yang bernama Bahagia.

Akulah aku, yang memandang dunia dengan getir dan kejam. Tiada sejengkal tanah yang pantas kududuki. Setiap hari adalah perjuangan, setiap hari adalah menang atau kalah. Tuhan, aku tahu Dia ada. Aku tak memandang Ia bengis dan begitu angkuhnya untuk sekedar memandangku, hanya aku memandang, inilah hidup yang harus kujalani. Hidup tak pernah mudah bagiku. Akulah yang bernama Muram.

Hei Muram... Janganlah engkau begitu. Lihatlah aku, semua dalam hidup ini begitu sempurna. Kau saja yang tak mampu beryukur. Aku, apapun yang kumau bisa kuperoleh. Kenyamanan hidup, kebahagiaan, semua ada padaku. Uang kuliah, ada. Uang pelesir, ada. Makanan, tak pernah berkekurangan. Orangtuaku hidup berbahagia, akupun anak mereka. Setiap keinginan yang kupanjatkan Tuhan selalu dengar dan kabulkan. Lihatlah tubuh yang Tuhan ciptakan, begitu sempurna.

Bahagia, standar hidupmu, itulah yang banyak orang inginkan. Adakah pernah sepanjang hidupmu, mengenal orangtua yang bekerja sepenuh hati, dengan upah seadanya, untuk membiayai kuliah anak-anaknya? Lalu bagaimana dengan mereka yang terlahir cacat, adakah Tuhan mempunyai agenda tersembunyi untuk hidup mereka? Adakah mereka untuk menjadi bahan olok-olokan bagi mereka yang sempurna dan bahagia? Kejamlah Dia yang mencipta kalau demikian.

Muram, aku tak berkata seperti itu...

Tapi perkataanmu menyiratkan demikian, Bahagia. Janganlah engkau memandang terlalu gampang. Lebih banyak orang berjuang diluar sana. Jangankan untuk membeli donat dan pizza di mall-mall besar, menginjakkan kakinya saja di gedung itu saja mereka enggan, takut. Adakah engkau tahu berapa yang mereka hasilkan sehari? Tahu kamu?

Muram, apakah kau mengukur hidup ini dengan materi? Tak bisakah kau sedikit tersenyum dan menularkan kebahagiaan dengan sekitarmu manusia.

Tidak. Aku memandang hidup dengan standarku, dan kaulah yang terdahulu menetapkan materi menjadi standar. Adakah kebahagiaan diukur dengan apa yang kau punya dan bisa peroleh dengan gampangnya? Kaulah yang menetapkan standar tertentu untuk dapat diterima dunia. Tubuh sempurna, uang yang tercukupi hingga berlebih, dan segala kemudahan dalam hidup. Dan untuk orang yang tidak memilikinya, kau katakan kami ini tak bahagia. Kau masukkan kami dalam kotak bernama "kemiskinan", untuk kemudian bisa kau kasihani, kau ludahi, dan kau jadikan proyek bernama "pengentasan kemiskinan". Sementara banyak dari mereka yang punya segalanya pun tak selalu merasa cukup. Lantas menjadikan kami sebagai obyek untuk keserakahanmu. Dimana standar bahagiamu itu? Tak konsisten!

Aku belajar menghitung abad-abad, Tuhan
Saat orang menemukan api
Saat orang menemukan sistem
Saat orang mengenal peperangan
Dan lalu mencari suaka

Adakah garis dimana setiap norma itu dikatakan terlarang
Atau perdamaian itu adalah peperangan yang terselubung
Lantas, siapakah dia yang membawa kabar damai tapi menggendong anak bertubuh api bernama Kacau

Bagaimana semuanya menjadi benar menurut kebenaranMu?

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 10/10/2009 04:52:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives