The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, February 27, 2010
Rumah-Rumah di Langit

Jauh di masa para tetua masih hidup, mereka diajar untuk melihat rumah - rumah yang Engkau atur di langit sebatas mereka mampu melihat. Untuk mengerti waktu memulai menanam, menuai yang dilimpahkan dari dalam bumi. Untuk memetakan waktu yang tepat untuk berpindah, mencari padang yang lebih baik untuk ternak-ternak. Untuk memulai satu kehidupan, untuk mengakhiri satu garis kehidupan. Satu penghentian. Titik tempat mereka dikenang, dilahirkan dan meninggalkan kehidupan. Perputaran dan pergerakan benda-benda langit yang Engkau buat. Matahari, bulan, planet, bintang-bintang.

Satu musim berhitung tahun, berkala abad, berukuran milenia. Sehasta hembusan nafas yang terlihat. Ah, ajaklah aku sesekali bertandang ke rumah-rumah di langit itu, melalui musim-musim, melewati tahun.

Berkali revolusi sejatinya sudah aku diajak, bertandang ke pelataran rumah-rumah di langit. Berduduk pangku di Tahta Utara Semesta, melihat mengunjungi rumah-rumah itu, satu demi satu. Dari rumah pertama, hingga keduabelas.

Aku pun tak begitu mengerti sebenarnya. Mengapa hanya diajak sampai di pelataran rumah-rumah itu? Apa isi rumah-rumah itu? Siapa raja-raja yang menghuninya? Mengapa bumi hanya berputar, menari di lantai aula istana semesta, menghadap kepada keduabelas raja, dalam tempo dan gerak yang sama? Setiap revolusinya...

Ah, aku belum puas. Rasa ingintahu ini membuatku gusar. Ayo pergi saja. Aku ingin melihat yang lain.

Lihat itu, batu-batu yang saling berkejaran berekor api. Ajak aku kesana, bisakah aku menungganginya? Bolehkah aku mendengar dari dekat deru dentum batu-batu berekor api itu dalam kehampaan langit ini? Bukakan sedikit celah dalam kekosongan ini, agar amplitudonya sampai ke telingaku. Agar aku haru menatapMu yang menetapkan segala ketetapan yang tak terbantahkan ini.

Lindungi aku, saat bintang-bintang tua itu mati meledak. Aku hampir tertarik dalam sedot kuatnya. Ah, kupikir aku akan berakhir disini... Ternyata Kau mengajak ke ruang kosong yang luas ini, tempat Engkau mencipta bintang-bintang baru, pembentuk satu rumah yang baru, memperbaiki bentuk rumah yang belum begitu sempurna itu. Kesempurnaan baru di langit. Kemegahan waktu, massa, dan kecepatan. Menembakkan cahaya, menelanjangi kegelapan.

Terlalu megah bagiku semua ini. Ajakku pulang. Ke bumi, ke rumah, ke hatiku. Tahta Utara Semesta inipun rasanya terlalu suci untuk boleh aku dipangku diatasnya. Bawaku pulang. Kelak jiwa, dan hati ini menjadi dewasa, buatku tetap ingat akan rumah-rumah di langit itu.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/27/2010 10:59:00 AM.

2 Comments:

"rumah.
langit.

*keren."
 
"@ms. ema,
thanks again."
 

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives