The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, May 13, 2010
Salak Yang Kugenggam

Aku tertawa saat matahari bersinar. Aku tertunduk menahan airmata saat matahari bersinar di belahan bumi yang lain. Tidakkah gila dan aneh hidup yang kujalani? Gilalah aku memang. Terganggu, tergoncang jiwaku sejak hari ketetapanmu tiba, tubuh terpisah dari manusia rohmu.

Berkata bahwa aku bisa sepenuhnya menerima kehilanganmu adalah terlalu mudah. Nyatanya, aku tak pernah terlalu siap. Aku tak pernah bisa sepenuhnya menerima semua ini.

Banyak, bapa. Masih banyak. Banyak pertanyaanku yang belum sempat kutanyakan padamu. Pun jawaban-jawaban tak pernah kudapatkan. Jawaban yang sebenarnya.
Jawaban yang bukan untuk melindungi hati. Tanpa menutup-nutupi apapun. Hanya di antara kita. Hingga aku tak perlu lagi mengirim sendiri pesan teks atas namamu ke ponselku. Menyemangituku dengan kata-kata terakhirmu yang kuingat, setiap awal minggu di layar ponsel, "baik-baik, Li. Anak Tuhan jangan kecil hati. Bapak berdoa untukmu."

Ah, Tuhan. Aku sudah kehabisan kata untuk bicara padaNya tentang kematianmu. Bapak pun tak mungkin bangkit dari kubur. Saat bapak meninggal siang itu, aku masih berharap mereka tidak segera menyuntikkan formalin ke tubuhmu. Agar saat aku berdoa, meminta bapak agar dibangkitkan kembali dari kematian, maka saat bapak hidup kembali, tubuhmu tidak teracuni. Sayang sudah terlambat.

Pikiranku benar kosong malam itu melihat tubuhmu. Beberapa hari sebelumnya bapak sudah berjanji mau datang menjengukku, lalu kita ke Graha Bethany bersama. Tapi malah aku yang pulang, untuk mengantarkan tubuhmu ke tanah.

Seperti menjalani mimpi saja, pak.
Terlalu cepat. Hingga kini. Hidup kami banyak berubah sepeninggalmu.

Aku tahu engkau menang di hari-hari terakhirmu. Tapi aku ingin tahu jawaban-jawabannya, langsung darimu. Sehari saja, kalau aku bisa duduk denganmu lagi. Engkau melihatku yang sekarang, dan aku mendapat jawabmu.

Pak. Salak yang kugenggam sepanjang perjalanan kita di kereta, dari Lubuk Pakam ke Siantar hari itu. Ingatkah? Tahunya bapak, aku memegang salak itu terus, mengharap bapak mau mengupaskannya untukku? Aku belum tahu cara mengupasnya hari itu. Bapak si Kiki, bapak si Panca, kok pernah kulihat mengupaskan buah untuk mereka? Kenapa bapak enggan padaku hari-hari itu? Kan aku bukan pembohong, pak? Bahkan tiga keping uang duapuluhlima rupiah kuhitung menjadi seratus rupiah. Aku tak mengenal uang. Aku juga tidak menjahati adikku. Kenapa menunggu aku menangis baru mengupaskannya? Salahkah caraku, yang berbicara dari hatiku? Tidak terdengarkah sinyal-sinyal yang kusampaikan? Aku hanya takut berbicara padamu.

Saat aku memenangkan persaingan di sekolah, kenapa bapak masih membanggakan anak orang lain? Karena aku kalah di matematikakah? Aku tidak bisa mengerti matematika. Alam pikiranku tidak mengenalnya hari-hari itu, pak.

Aku sadar, mungkin sejak hari kelahiranku, bahwa aku bukan seperti orang kebanyakan. Dikata-katai aneh pun, hari ini aku sudah terbiasa. Kiranya pun bapak sudah maklum.

Entahlah.
Setidaknya, pak, aku sudah hampir kebal dengan penolakan. Dibenci orang tanpa alasan pun, semoga, aku pun kebal.
Entah sampai kapan bisa kutanggung penyesalanku atasmu.
Mungkin sampai mati. Entah.

(Jakarta, May 10 2010)

Labels: ,

Eleazhar P. @ 5/13/2010 05:38:00 PM.

2 Comments:

  • On May 14, 2010 at 6:41 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "aduh le,,,sedih betul curahan hatimu,,,aku baru baca barusan,,seharian LAN di kantor trouble benci aku,,,ga usah sedih le di alam sana bokapmu pasti bangga punya anak kayak kau,,,"
     
    "@vera.
    kangen bapak...."
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives