The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, July 31, 2010
Karena Kita Bertemu di Awan Setiap Hari

Hari ini, sama seperti kemarin dan dulu, juga akan sama seperti besok.
Karena kita hidup di bawah awan, dan awan selalu adalah perantara diantara kita.

Hari ini sama seperti kemarin dan dulu, juga akan sama seperti besok…
Sesaat setelah aku terbangun dari tidurku di waktu pagi, aku mengambil ponselku, memasukkan identitas unik, dan aku segera terangkat, raptured, ke atas awan.

Di awan, aku segera melihat, bertemu, menyambut mereka, orang-orang yang kukenal. Keluarga, saudara, kawan, atau apapun sebutan bagi orang-orang yang pernah dan sedang menjadi bagian dari hidupku.
Hari ini mereka naik ke awan dengan menggunakan wajah yang baru, kabar yang baru, juga celotehan, opini, kegembiraan, kekesalan yang baru. Semua emosi. Dan kami saling berbagi.

Di awan…
Aku mengetahui apa yang dialaminya, sebaliknya ia tahu apa yang aku alami atau perjuangkan hari ini. Dan kita saling tertawa melihat foto yang kita bawa masing-masing, dan kita secara kolektif menularkan kemarahan dan kekesalan kita bersama atas aksi baku cium seorang wanita bergelar diva dengan seorang pria yang masih beristrikan seorang wanita lainnya.
Atau, beberapa dari kita langsung memburu video yang katanya bermuatan amoral dan mengundang rasa penasaran, yang katanya saat itu, dilakukan seorang bintang rock dan beberapa wanita cantik yang berasal negeri nyata yang kita diami.

Secara kolektif, akumulatif, pun kita saling beralur, berbagi emosi gemas dan marah melihat tingkah laku para pejabat publik yang mengangkangi keadilan publik, meniupkan tipu daya, memperdaya rasa kemanusiaan dari orang-orang yang menginginkan hal-hal terbaik terjadi bagi negeri di bawah sana. Semakin banyak kita berkumpul di atas ini, menangisi negeri itu, dan semakin terhubung kita, maka awan ini semakin berat, semakin hitam, dan hujan deras yang nyata tercurah ke bawah sana. Hujan awal berlalu, hujan akhir segera datang. Ini akan segera memaksa para pembuat keputusan negeri itu tahu bahwa kita, the silent majority, benar-benar ada. Suara kita benar adanya. Suara kita menjadi suara petir yang menyuarakan, meneriakkan suatu perubahan! :)

Sejenak aku tertawa sambil terkejut melihat perselingkuhan yang terjadi di antara sesama kawan di awan. Si anu berteriak ini, si itu mengumbar itu, dan Mr. Whoever yang mencak-mencak di atas awan ini. Aku cukup terhibur, aku berinteraksi, aku mahluk sosial, aku manusia.

Cukuplah. Aku lalu turun sebentar, kembali menginjak tanah, bersesak di antara kumpulan karyawan di kawasan Sudirman, Jakarta. Setibanya di kantor, aku mengaktifkan koneksi wireless LAN di iPod touch-ku, dan segera muncul undangan meeting dari bosku di layar sentuh, “Ele, meeting dengan tim regional siang ini”. Thanks! Dan aku akan naik ke awan lagi, terhubung lagi siang ini.

Satu persatu, dia yang ada di Thailand, Australia, Singapura, India, dan aku yang berbasis di Indonesia bermunculan di awan. Suatu awan yang private, yang pembicaraan yang kami lakukan hanya kami yang tahu. Jadi, memang ada awan publik dan awan terproteksi, seperti awan yang kami naiki saat ini. Kami berbicara, saling bertukar data, berkolaborasi dalam hal-hal taktis, saling berbantah dan lalu berjalan dalam arahan yang benar-benar searah. Dan kami tahu kebijakan dan langkah apa yang harus kami eksekusi dalam operasi pekerjaan.

Suatu arsitektur unik dan rumit, area yang sangat luas, mencakup seluruh bumi dari Timbuktu, New York, Jakarta, Berlin, hingga Sragen, Pontianak, Lubuk Pakam, Mumbai. Tidak diskriminatif, semua orang bisa terhubung dan bergandengan tangan di atasnya. Putih, tempat kita bisa menunjukkan emosi kita, berbagi rasa yang sebenarnya kepada orang-orang yang kita pilih dan percaya. Bahkan terselubung, karena kita bisa bersembunyi dari identitas asli dan melakukan penyamaran terhadap orang lain di atas awan ini. Semakin murah dan banyak pilihan untuk bisa terangkat ke awan, serbuan berbagai handset dan platform memberi banyak pilihan untuk terhubung kesana. Laptop biasa, desktop, netbook, iPad, ponsel dan smartphone, lalu ragam sistem operasi dari Windows, iOS, Blackberry, Android, dan dari platform yang sangat tertutup hingga yang terbuka dan memberi kebebasan penuh bagi pengguna. Semua tersedia, untuk terhubung dengan komputasi awan, the cloud computing.

Ini akan semakin besar. Semakin massive.
Dan kita akan terbiasa hidup di awan, setiap hari.

Hari ini, sama seperti kemarin dan dulu, juga akan sama seperti besok.
Karena kita hidup di bawah awan, dan awan selalu adalah perantara diantara kita.
Karena kita, hidup di awan setiap hari...

(Photo (2006) and graphic (2010) are shot and drawn by Ele Azhar Purba)

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 7/31/2010 06:14:00 PM.

2 Comments:

"menarik. kukira, demikian adanya...
ini blog pribadi saya. trims telah menikmati bacaan di twentea ^^"
 
"Hi Putri, thanks udah berkunjung kemari. :)
Twentea bagus banget."
 

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives