The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Tuesday, July 27, 2010
Senjata-Senjata Paling Mematikan, Pun Adalah Karunia Terbesar

Guru, senjata apakah yang paling mengerikan, mematikan di muka bumi?

Benarkah kamu ingin tahu?
Lihatlah langit...
Lalu lihatlah sekelilingmu manusia...
Lalu resapi...

Bukanlah api yang bisa muncul dari ujung jari.
Ataupun sengatan listrik dari ujung lengan.
Bukan pula sinar panas yang melelehkan besi yang terpancar dari kedua mata.
Kita tidak memiliki hal-hal seperti itu.
Tubuh kita tidak didesain untuk mengeluarkan, melepaskan energi-energi dalam rupa-rupa tersebut.

Maka, pandanglah ke dalam.
Pada pikiran dan hatimu.
Pikiran dan hati...
Ialah keduanya senjata-senjata paling mematikan yang pernah ada.

Pikiranlah yang membuat sebagian kita mampu berpikir untuk menghabisi suatu kaum.
Untuk menebarkan kebencian, untuk menghasut kemarahan satu generasi.
Pikiranlah yang mampu membuat seseorang merancang kejahatan, suatu skenario penghabisan nyawa untuk teman baiknya sendiri.
Pikiranlah yang membuat seorang anak menempatkan orangtuanya yang sudah renta ke rumah kumpulan para tetua.

Adalah hati sebagai senjata kedua.
Selayaknya ialah yang menjadi hakim untuk mengeksekusi apa-apa yang keluar dari pikiran, si senjata pertama.
Bila hatimu telah menjadi senjata mematikan, maka engkau akan memisahkan orangtua dari anak-anaknya, dengan pedang kematian.
Mampu pula engkau meramu racun dan virus untuk memusnahkan satu ras dan bangsa.
Pun bila hatimu adalah senjata, maka kepunahan satu kaum akan menjadi impian dan kebanggaanmu, yang akan terus kau ceritakan melewati angkatanmu, hingga berabad setelahnya.

Hatimulah yang membuat orang lain menderita. Menangis di malam-malamnya. Membuat mereka ketakutan di pagi hari untuk menatap matahari dan kehidupan.
Hingga mereka bersakitan, kurus kering, mati perlahan, karena hati yang terluka.

Sebaliknya...
Bila engkau bijak menggunakan hatimu, pikiranmu...
Maka keduanya adalah anugerah, karunia terbaik yang pernah tercipta.

Keduanya adalah yang mampu membuatmu ikut menangis saat orang yang memusuhimu menangis.
Yang mampu membuatmu mengambil keputusan untuk tidak pernah lagi mengingat-ingat kesalahan orang atasmu.
Yang meskipun berat, ada beban yang teramat sangat sakit kemudian terlepas.

Keduanya pula yang mampu membuatmu mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup, untuk memperjuangkan kehidupan orang lain.
Orang lain yang berharap besar padamu...
Orang lain yang menginginkanmu memimpin mereka...

Keduanya yang bisa membuatmu tiba-tiba memeluk musuhmu.
Karena engkau tidak ingin ia terluka lebih dalam.

Berhati-hatilah menggunakan hatimu, ialah batu berharga terbaik di dunia, namun paling rapuh ia.
Ia akan bersinar sebagai karunia kalau engkau telaten menjaganya.
Namun sebaliknya, ia akan menghitam dan hancur karena luka.

Berawaslah dengan pikiranmu. Ialah sumber pengenalanmu akan segala yang ada.
Yang ada... Meraba keberadaan Tuhan dan para malaikat.
Mencicip warna dan rasa, melihat wajah yang dipahat.
Lalu hatimu yang membuatmu percaya apa yang pikiranmu sampaikan.

Pertempuran di keduanya berbeda.
Pertempuran di pikiran, berlangsung semalam atau seminggu.
Pertempuran di hatimu, berlangsung menahun atau dibawa mati.
Namun sejatinya, pertempuran terbesar kita manusia adalah di hati kita...

Senjata-senjata paling mematikan keduanya, pun adalah karunia-karunia terbaik yang tercipta.

Ele Purba
Sent from my iPod.

Labels:

Eleazhar P. @ 7/27/2010 06:59:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives