The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, September 30, 2010
Dunia Yang Kami Ciptakan Sendiri

Aku mengingat jauh di masa dulu saat duduk di kelas dua atau tiga sekolah dasar, bapak pernah membelikanku sebuah bola dunia (globe). "Untuk mengenal negara-negara", katanya. Lalu dengan pengetahuannya, bapak menjelaskan ini dan itu, bahwa inilah Jepang dengan pulau-pulaunya, kawasan Palestina dan letak Gunung Moria-nya, India dan Kashmir, lalu Sarajevo yang sedang bergejolak saat itu, Asia Tenggara, dan Antartika.

Bapak, dia memang tidak mau mengajariku untuk hal-hal yang secara formal aku pelajari di bangku sekolah, tapi dia memang selalu senang membagiku segala hal tentang pengetahuan umum. Dua kali ia membelikanku buku pintar, dan membeli secara rutin Majalah Bobo selama bertahun, dan seingatku ia pernah beberapa kali mengajakku ke Medan hanya untuk membeli buku dan majalah pengetahuan umum. Ada satu Majalah Intisari, yang kusobek-sobek karena ketakutan dengan artikel tentang drakula di dalamnya, lengkap dengan gambar-gambarnya. Bapak hanya diam. Ketakutanku saat itu, lebih mungkin karena hebohnya isu tentang drakula yang berkeliaran di Sumatra Utara saat itu.

Sejak dibelikannya bola dunia, yang secara fisik mirip dengan balon biasa, kesukaanku mengkhayal semakin "terasah". Bapak pernah bilang, "lihat-lihat aja dulu negaranya dimana, jalan-jalan pun bisa direncanakan kalau tau letak negaranya dimana". Dan aku, mulai "berwisata" keliling dunia dengan globe itu.

Aku mencari tahu moda transportasi dari satu negara ke negara lain. Dari Bobo, saat itu aku tahu kalau ada moda kereta api yang melayani Asia hingga Eropa dengan memakan waktu tempuh tujuh hari, hingga para penumpangnya bisa saling mengenal. Lalu ketakjuban yang muncul akan Alaska, atau hutan cemara di Kanada. Dan selalu menghindari Afrika bagian Tengah, Timur, dan Barat, karena kecamuk perang dan wabah penyakit. Dari sini ketertarikanku muncul akan UFO saat "menjelajahi" hutan-hutan Meksiko; pengetahuan matematis dan astronomi luar biasa yang konon diajarkan mahluk pengendara UFO untuk masyarakat asli Amerika Tengah. Atau keherananku akan pulau-pulau kecil di Pasifik yang mandiri sebagai negara sendiri, bukan hanya bagian dari Persemakmuran Inggris. Tapi kalau memang dibolehkan menjadi kenyataan, aku hanya ingin terbang dari satu negara ke negara satunya lagi, seperti aku menggunakan jariku untuk membuat rute perjalananku di bola dunia itu.

Aku menemukan duniaku sendiri, yang bahkan secara fisik dan finansial tidak mungkin aku jelajahi, yang hingga sekarang masih aku mimpikan. Dan di masa itu, sebenarnya aku bersorak senang sewaktu Janet Jackson merilis klip musiknya -aku lupa judulnya- yang menggambarkan ia keliling dunia, melompat dari satu negara ke negara lain, lengkap dengan landmark-nya, and that was magical, that was how I made my worldwide travel plan! :)

Saat umur bertambah & masalah-masalah dalam hidup bermunculan, aku mulai meninggalkan beberapa khayalan masa kecilku. Tetapi tetap khayalan adalah pelarianku. Aku tidak membutuhkan apa itu yang mereka sebut obat-obatan pemicu kesenangan. Aku tidak pernah menggunakannya, karena secara alami aku mampu dan sudah mengembangkan kemampuan untuk menciptakan dunia utopiaku sendiri, saat masalah sepertinya susah dipecahkan dan tidak ada orang untuk mendengarkan, dan saat Tuhan sepertinya menjadi terlalu jauh dan enggan mendekatiku.

Ada satu tempat kesukaanku untuk berdiam diri di duniaku. Tempat itu berupa padang rumput di tepi danau. Berkunjung di waktu sore, saat matahari dan awan berwarna oranye, saat angin berhembus pelan, saat kumpulan angsa dan belibis bersiap kembali dari air naik ke padang rumput.

Hanya ada alam itu semua, aku dan seseorang lagi. Seseorang itu seringkali adalah orang yang dengannya aku mungkin sedang ada masalah, yang mungkin segala kekesalanku, kemarahanku bisa kusampaikan dengan baik, dan aku mau mendengar juga menerima segala keberatan dan kemarahannya atasku. Seringkali orang itu adalah Yesus, yang sudah bertahun-tahun aku tidak menjumpaiNya lagi dalam mimpi-mimpiku. Yang seringkali di tepi danau itu aku membantahNya, berteriak kepadaNya, dan berakhir hanya dengan menangis setelah berdiskusi panjang lebar.

Di sabana yang sama, aku suka memanjat satu-satunya pohon di tempat itu. Di atas cabang pohon tidak berdaun itu, aku suka memandangi langit malam hari di atas sana. Langit yang disesaki bintang, dan ratusan, mungkin ribuan kunang-kunang berterbangan di sekitar danau dan pohon ini. And I'm filled with wonders and my own joy.

Aku menyukai dunia yang kami ciptakan sendiri ini. Bahwa seringkali hidup ini didapati sangat sulit. Terjatuh, lalu bangkit. Aku tidak punya terlalu banyak cara untuk melepaskan segala ketakutanku, atau kanal lain menyerahkan segala hal yang tidak baik ke hadapan Tahta Semesta untuk diubahkan menjadi suatu kebaikan, selain dengan kemampuanku untuk memvisualkan dunia tempatku mengagumi, menggugat, berdebat, berbicara ke Pemilik Hidup ini. Dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku, tentang hidup, tentang aku, tentang mereka, tentang kamu, tentang Hati Tuhan.


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 9/30/2010 12:20:00 PM. 1 comments.
Read full post with comments.
Kapan Kita Mulai Saling Mengenal?

Seratusan orang terdaftar sebagai teman di Facebook. Hei, kapan kita mulai saling mengenal?

Pertanyaan sederhana ini tiba-tiba melintas saja. Sekian ratus individu, diwakili masing-masing foto profil, semua berstatus "friend". di Facebook...

Aku mencoba mengingat-ingat lagi kapan pertama kali aku bertemu, dan lalu mengenal pribadi-pribadi itu. Memori dibuka lagi. Imagi-imagi dimunculkan kembali. Bisa dibilang, hampir semua mereka pernah aku temui dan menjalani hidup dalam frame yang sama di dunia nyata.

Jadi kapan kita mulai saling mengenal?

Di bus Transjakarta, di bus umum, di antara kerumunan karyawan, di berisik anak sekolah, di tengah bising pengunjung mall, di halte yang penuh sesak. Atau orang-orang yang sama sekali tidak kita sangka, yang berada di kota lain, pulau lain, negara lain. Orang-orang itu, aku, mereka, lalu aku. Wajah-wajah yang aku tidak tahu nama tiap persona itu. Sebaliknya mereka tidak mengenal aku.

Pernahkah berpikir, ada satu kejadian, dalam frame waktu tertentu, kita bisa saling mengenal mereka, dan mereka mengenal kita sebaliknya? Sebelumnya.

Atau dalam semburat yang kompleks, mengalir dari hal besar yang tergradasi mengerucut pudar. Kumpulan pudar, orang-orang yang "tidak bernama" itu, dalam frame misterius tadi, berangsur menjadi menebal, menjadi hal besar dalam hidup kita, setelah melewati begitu banyak cerita?

Ah, aku pun sebenarnya risih dengan dengan kata "teman". Terlepas apakah aku pernah menjadi teman yang baik atau tidak bagi tiap-tiap mereka, tokh kita juga tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai teman. It's just happened that way. :)


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 9/30/2010 12:12:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Tuesday, September 21, 2010
Setengah Jalan Dari Awal

Akan lebih mudah bagiku kalau kau bukan sesiapa bagiku.
Akan lebih sulit bagiku kalau aku sanggup mengeja namamu tanpa tubuh harus terasa terguncang.

Akankah sama ceritanya kalau aku tidak pernah mengenalmu?
Apakah jalan hidupku masih tetap sama kalau saja aku tidak seperti saat itu?

Membaca isi hati adalah mudah bagiku.
Membaca isi pikiran adalah yang tersulit bagiku.
Sesiapa dirimu, tidak mudah bagiku untuk tidak menyadari keberadaanmu.
Pikiranku percaya kau adalah yang terutama menginginkan hal-hal tidak baik atasku.
Hatiku percaya kau tidak seperti yang terlihat. Satu dari sedikit orang terpilih, mereka yang istimewa.
Bahwa hatimu masih jauh lebih megah dari segala yang muncul dengan imagi tidak baik yang pernah kulihat.

Dan aku tidak lagi bisa mengatakan hal-hal terlarang yang kucuri dengar dari langit. Tentangmu.
Entah apa yang pernah atasnya kita bertikai, aku tidak lagi bisa mengatakanmu rahasia-rahasia itu.

Aku melihatmu sore itu, di atas suatu ketinggian.
Dan aku hanya bersembunyi ketakutan lalu menangisi sesuatu, entah tentang dirimu atau diriku.
Dan sebagian diriku terlepas dari tanah, sepelempar batu ke udara, lalu semakin tinggi, tinggi.
Dan aku melihatmu tanpa harus terlihat di atas sana.
Dan aku mendengar jeritan orang-orang di bawah sana.
Tangisan satu, dua, tiga orang.
Kebisingan yang menjadi saat aku mendengar tangisan satu kota, beratus kota, sekumpulan daratan dikelilingi air.
Satu, reruntuhan amplitudo yang menghubungkan langit dan bumi.
Dua, jeritan dan isakan dibalut wajah kebahagiaan.
Tiga, reruntuhan rumah tertelan bumi.
Dan aku tetap memilih untuk menutupi telingaku.
Aku tidak tahan. Ini tidak sesederhana itu.
Aku tidak dapat menemukan suara dan tangisanmu diantara tali-tali suara yang mencoba menggugat surga.

Sama seperti darahku mengalir sore itu, saat sinar matahari menusuki rimbunan daun di hutan, sesaat setelah engkau menumpahkan darahku. Aku melihat senyum kepuasanmu.
Adalah kebutaan hatiku yang sederhana, yang masih tetap mempercayaimu menuntunku melewati hutan itu.

Hatiku tidak melihat, ia merasa, seperti ia dengan kebutaannya meraba Tuhan dan para malaikat.
Hatiku memilih untuk tetap percaya pada awal dari segala sesuatu tentang ini. Tentang kebutaan ini, tentang segala yang buruk dan jahat yang melekat padaku menurutmu. Tentang mengeja isi hati.

Sekalipun kau mencoba untuk menumpahkan darahku sekali lagi. Sekali lagi, berkali lagi.
Aku memilih berdiam dalam keputusanku.
Bila kau bertanya, kenapa?
Maka aku tidak bisa menjawab. Aku tidak punya jawabannya.

Bila kau sudah mencapai setengah jalan dari awal, maka semuanya tidak lagi sama seperti dulu.
Awal, akhir. Entah berupa garis lurus yang jelas memiliki titik alfa dan titik omega. Entah berupa lingkaran.
Memilih untuk percaya adalah pilihanku.



Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 9/21/2010 08:48:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Wednesday, September 15, 2010
Free Goodies: Blogger Templates in Simplicity

Back to the year 2007, I did give web templates for free. Yes, FREE! And now I'm planning to do the same thing again. Hehehe...

Jadi, rencananya si provokator profesional ini akan membuat satu template -khusus utk Blogger- Sabtu ini. Yang minimalis, light pattern, content-focused, tinggal copy-paste, dan TADA! Gratis pula. Untuk metode distribusi, kamu yang berminat tinggal kirim e-mail saja ke aku.

Lalu, apa yang membuat kamu berpikir untuk membagikan free goodies ini, Pak?

Simple. Aku sudah terlalu sering berjanji sama Lae-ku yang satu ini, dari dulu. Hahahaha. Mau bagi script lah. Mau diajarin beberapa hal lah. Tapi realisasinya sering terkendala. Tapi siapa aja yang suka boleh menggunakan template itu nantinya.

PS: Link pertama di post ini merujuk pada blog lamaku. Materi gambar sudah nggak ada dikarenakan Geocities sudah tutup dan aku nggak pindahan hosting saat penutupannya. Oh, terpujilah para business analysts! :(

Labels: ,

Eleazhar P. @ 9/15/2010 09:15:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, September 13, 2010
Kode. September.

Aku menyukai September, entah kenapa.
Mungkin karena limpahan air dari langit yang semakin sering.
Mungkin karena banyak kejadian baik dalam hidupku terjadi saat September.

Tipis sekali batasan antara kenyataan dan mimpi.
Sedikit kesusahan, ditambah kemuraman.
Terlalu banyak kode dalam kata-kata.
Dan kata-kataku, perkataanku adalah kode.
Dan aku...
Masih bisa tertawa lepas.
Seorang teman kantor -yang lebih suka menyebut dirinya sebagai musuhku- di toilet sore ini, "El, kamu itu cocok jadi pelawak".
Huahuahuahuahuahahaha....

Ah, kenapa perutku semakin kelihatan membesar?! Ini pasti kamera hape-mu yang jelek. Dan aku... Aku tetaplah menawan! Hahahaha...

Labels:

Eleazhar P. @ 9/13/2010 07:14:00 PM. 3 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts