The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Tuesday, September 21, 2010
Setengah Jalan Dari Awal

Akan lebih mudah bagiku kalau kau bukan sesiapa bagiku.
Akan lebih sulit bagiku kalau aku sanggup mengeja namamu tanpa tubuh harus terasa terguncang.

Akankah sama ceritanya kalau aku tidak pernah mengenalmu?
Apakah jalan hidupku masih tetap sama kalau saja aku tidak seperti saat itu?

Membaca isi hati adalah mudah bagiku.
Membaca isi pikiran adalah yang tersulit bagiku.
Sesiapa dirimu, tidak mudah bagiku untuk tidak menyadari keberadaanmu.
Pikiranku percaya kau adalah yang terutama menginginkan hal-hal tidak baik atasku.
Hatiku percaya kau tidak seperti yang terlihat. Satu dari sedikit orang terpilih, mereka yang istimewa.
Bahwa hatimu masih jauh lebih megah dari segala yang muncul dengan imagi tidak baik yang pernah kulihat.

Dan aku tidak lagi bisa mengatakan hal-hal terlarang yang kucuri dengar dari langit. Tentangmu.
Entah apa yang pernah atasnya kita bertikai, aku tidak lagi bisa mengatakanmu rahasia-rahasia itu.

Aku melihatmu sore itu, di atas suatu ketinggian.
Dan aku hanya bersembunyi ketakutan lalu menangisi sesuatu, entah tentang dirimu atau diriku.
Dan sebagian diriku terlepas dari tanah, sepelempar batu ke udara, lalu semakin tinggi, tinggi.
Dan aku melihatmu tanpa harus terlihat di atas sana.
Dan aku mendengar jeritan orang-orang di bawah sana.
Tangisan satu, dua, tiga orang.
Kebisingan yang menjadi saat aku mendengar tangisan satu kota, beratus kota, sekumpulan daratan dikelilingi air.
Satu, reruntuhan amplitudo yang menghubungkan langit dan bumi.
Dua, jeritan dan isakan dibalut wajah kebahagiaan.
Tiga, reruntuhan rumah tertelan bumi.
Dan aku tetap memilih untuk menutupi telingaku.
Aku tidak tahan. Ini tidak sesederhana itu.
Aku tidak dapat menemukan suara dan tangisanmu diantara tali-tali suara yang mencoba menggugat surga.

Sama seperti darahku mengalir sore itu, saat sinar matahari menusuki rimbunan daun di hutan, sesaat setelah engkau menumpahkan darahku. Aku melihat senyum kepuasanmu.
Adalah kebutaan hatiku yang sederhana, yang masih tetap mempercayaimu menuntunku melewati hutan itu.

Hatiku tidak melihat, ia merasa, seperti ia dengan kebutaannya meraba Tuhan dan para malaikat.
Hatiku memilih untuk tetap percaya pada awal dari segala sesuatu tentang ini. Tentang kebutaan ini, tentang segala yang buruk dan jahat yang melekat padaku menurutmu. Tentang mengeja isi hati.

Sekalipun kau mencoba untuk menumpahkan darahku sekali lagi. Sekali lagi, berkali lagi.
Aku memilih berdiam dalam keputusanku.
Bila kau bertanya, kenapa?
Maka aku tidak bisa menjawab. Aku tidak punya jawabannya.

Bila kau sudah mencapai setengah jalan dari awal, maka semuanya tidak lagi sama seperti dulu.
Awal, akhir. Entah berupa garis lurus yang jelas memiliki titik alfa dan titik omega. Entah berupa lingkaran.
Memilih untuk percaya adalah pilihanku.



Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 9/21/2010 08:48:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives