The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Friday, October 29, 2010
#Ucok Di Rantau

So it's been three (3) years I've been leaving home, my hometown, my province. October 29 will be always set as a memorial of this journey, called "From Home to "Home In The Heart"". Dari rumah menuju "rumah di hati". Dari sesuatu yang secara fisik disebut rumah menuju fase untuk mengerti dan menerima bahwa rumah adalah dimana hati ini berada.

Untuk menandai tiga tahun perjalanan ini pada hari ini, label baru bernama "Ucok Di Rantau" dirilis sebagai tag baru, yang padanya kamu bisa membaca beberapa post tentang cara, kejadian, cerita, dan tokoh (yang sebagian besar akan aku samarkan) yang sudah menjadi bagian dari perjalanan perantauan seorang anak Sumatra Utara (Ucok) ini.

Akan ada banyak post yang ditulis secara konsisten, time wise. Misal, bagaimana beradaptasi secara cepat dengan orang baru, bagaimana berlaku dan "berpura-pura" dan meniru menjadi orang kota, dan segala kegagapan melihat dinamika manusia. Terlalu formal? Ah, entahlah. Saya nanti hanya mencoba menulis apa adanya saja. Bisa serius, bisa pula agak lucu dan cerewet, pun penuh tangisan dan airmata. Hahahaha...

Launched now: #Ucok Di Rantau.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/29/2010 09:04:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, October 28, 2010
Ketika Empati Ada

Penggalan obrolan dua orang di Facebook...

Junior Pisces, "Kalian para Cancer apa kebanyakan seperti yang aku experience ya? Ceritanya... Bla bla bla, bla bla bla (intinya, tentang kesalahpahaman dirinya temannya yang seorang Cancer, yang sangat memperhatikan perasaan orang lain, yang kepada si Pisces ia merasa bersalah). Aneh kalau dipikir-pikir. Setelahmu, aku kenal beberapa orang Cancer, inti jiwanya hampir sama. Protektif sekali, melindungi perasaannya, fashionable, sering bahasanya halus."
Senior Cancer, "Haha... Gue malah nggak merasa diri gue sebaik itu, El; protektif, fashionable, berbahasa halus, de el el. Yang gue lakukan selama ini cuma berusaha hati-hati bersikap, & mencoba menempatkan diri pada posisi orang lain, (mungkin tepatnya) empati? Kalo gue jadi temanmu itu, mungkin gue akan bereaksi yang kurang lebih sama. Secara gue sudah merasa bersalah lalu ketika gue berusaha memperbaiki itu, orangnya itu (seperti si Pisces yang menunjukkan reaksi martirnya) malah bereaksi seperti itu. Tapi no worries lah... Nanti juga baik sendiri asal kamunya bersikap normal lagi".

------

Empati, adalah tepat seperti yang disampaikan Senior Cancer itu, adalah momen ketika hati masuk dalam fase memahami dan menempati perasaan dan hati orang lain. Sama seperti menempatkan diri ini pada posisi orang lain.

"Aku tidak ingin ia terluka karena perkataanku, maka aku menjaga tutur kataku karena aku bisa merasakan luka yang seperti itu."
Itulah empati.

"Aku ingin menghargai diriku dan orang-orang di sekelilingku dengan menjaga penampilanku, agar kami tetap tercitra baik dan tidak menjadi celaan karena citra, di tengah dunia yang mengagungkan pencitraan ini."
Itulah empati.

"Aku tidak ingin menjadi batu sandungan yang menyulitkan orang lain, terutama mereka yang di sekitarku. Karenanya aku berusaha mandiri semampuku, dan "get everything's done correctly" dengan upayaku, jangan orang lain merasakan kesulitan karenaku."
Itulah empati.

Atau ketika...

Apa yang sebenarnya dirasakan pengamen-pengamen kecil ini? Adakah hal lain selain lapar yang terasa? Apa yang mereka perjuangkan dalam hidupnya?

Padanya yang aku berkata "hei, kamu lambat bekerja", mungkin aku harus mencoba memahami porsi pekerjaannya dan melihat porsi pekerjaanku. Maka aku tidak sepatutnya berkata seperti itu padanya, bila ia memang kewalahan dan aku terlalu menuntut.

Bagaimana rasanya ditinggalkan orangtua karena batasan hidup-mati? Bila sekarang bukan giliranku, pasti nanti. Sakitkah kehilangan itu? Bila menyakitkan, bolehkah aku menangis bersamamu dan merasakan kehilangan yang kau rasa?

Mereka yang tinggal jauh dari peradaban modern, bagaimana kelelahan mereka setiap harinya menerjang jarak untuk memperoleh pangan, air bersih, dan pendidikan?

Mereka yang saat ini mengalami musibah karena bencana alam, adakah yang sudah bergerak untuk mengulurkan bantuan? Apa yang mereka rasakan di sana? Bila aku menjadi mereka, apa yang aku butuhkan sekarang?

Kawanmu itu, mengapa ia berdiam? Adakah masalahnya? Mengapa sampai keluar airmata? Beratkah bebannya?

Dan saat diri ini bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, mengambil rasa luka mereka, pun kebahagiaan mereka sekalipun, dan hati ini bisa memahami, melindungi perasaan mereka dengan empati yang kita bangun atas kita sendiri untuk bertindak sewajarnya tanpa menimbulkan luka, sebaliknya menumbuhkan kesepahaman, penerimaan. Dan asalkan ada komunikasi yang tersampaikan dengan baik, antara subyek dan obyek, yang setara, semoga kita yang hidup di atas bumi ini bisa lebih baik dalam konteks relasi sehari-hari.

Kesepahaman dari hati.
Penerimaan atas eksistensi dan esensi.
Siapapun membutuhkan perkara-perkara di atas.

Hidup akan lebih baik, ketika empati ada.

*Beruntungnya saya yang secara natural mampu menyerap perasaan orang lain, ikut tertawa dalam kebahagiaan mereka, ikut menangis dalam kesukaran mereka. Dan beruntungnya saya mengenal orang-orang Cancer yang secara natural menguasai lebih baik empati itu, dan dari mereka saya belajar lebih tentang ini.

Tokh saya tetaplah manusia pembelajar seperti yang lainnya. Tulisan ini, biarlah saya simpan untuk saya boleh mempelajari lebih empati itu.*


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/28/2010 06:24:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
Pray for Indonesia?

Status Facebook pagi ini...

Ele Azhar Purba, "Pray for Indonesia? Trending Topic di Twitter? Hanya kepanikan temporer saja. Empati semu. Lucu sekali. Menyedihkan. Yah, tdk apalah. Hanya bila bencana. Bila damai sejahtera konsisten, masih ada Pray for Indonesia? Pastikan saja kamu memang berdoa bagi bangsa ini. Sigh..."
9 hours ago via Mobile Web    • Comment • Like
Soe Narti likes this.

Comments:

Tjandra Ratna Dewi, "Bencana memang kekuatan paling efektif membuat manusia berdoa....:-)"
8 hours ago • Like

Ele Azhar Purba "Eneg aku, mbak. Paling sebal waktu segelintir orang mendadak jd super relijius di dunia maya. Pertanyaan bg mereka, bener kamu berdoa, jgn2 hanya pencitraan di dunia maya?"
8 hours ago • Like

Tjandra Ratna Dewi, "Hehe... kalo eneg ya gak usah dimakan, Le. Menurutku sih di dunia maya kan memang kita berlomba menjadi trend setter. Berlomba untuk memberi pengaruh kepada sebanyak mungkin orang. Dan itu bisa memakai even apa aja. Kebetulan sekarang ini even yang bisa dipakai adalah bencana."
8 hours ago • Like

Ele Azhar Purba, "Kekuatan "Retweet". Hanya dgn me-retweet, menambahi sedikit komentar, dgn mudahnya jari mencoba beralur empati. Esensinya? Entah. Jomplang sebenarnya. Kalau tdk ada bencana? Ya sama2 kita semua memikirkan merancang solusi; misal gap lebar antara sosialita/elitis kekuasaan vs kaum miskin kota. Dan netizen sebaiknya lebih peka ke lingkungan sekitarnya. Jgn hanya omdo di net. Kepedulian tetap dihargai, tp jgn hanya mengambil momentum. It's just... hurts. Sakit rasanya bila kita mengambil peran sbg mereka yg tertimpa bencana sementara ada orang2 di luar sana yg mencoba meraih popularitas dan yield pencitraan baik atasku. Lebih baik mereka diam. Untuk sounding awareness ttg bencana, cara spt ini menyakitkan. Sigh..."
8 hours ago • Like

Tjandra Ratna Dewi, "Aku bisa ngerti yang kamu rasakan, Le. Aku juga berpendapat begitu. Karena aku gak bisa buat apa2 untuk para korban itu, ya mungkin lebih baik aku berdoa diam-diam saja daripada banyak komentar..."
8 hours ago • Unlike •  1 person

Ele Azhar Purba, ":)"
7 hours ago • Like

Francus Winatacus, "Betulll itu bahh ! Kita mmg bangsa latah. Saat negri ini keliatan adem2 semua terlena pdhl pemiskinan & degradasi moral sdh terjadi sjk republik ini msh muda, bagaikan air yg meresap & menggerogoti pondasi bangunan perlahan. Lbh baik lakukan langkah konkrit tnp byk bcr, msl lsg ke ATM trnsfr sana sini utk bantuan. Korbankan sdkt kenyamanan kita ber-mall ria atau beli brg2 baru."
7 hours ago • Unlike •  1 person

Francus Winatacus, "I just transfer some (small amount aja lah) to Dana Kemanusiaan Kompas. Talk to talk walk to walk."
5 hours ago • Like

Francus Winatacus, "If I can sacrifice some of my time with my family and off from business for while, I would love to join the volunteers. Unfortunately I can't...:-("
5 hours ago • Unlike •  1 person

Ele Azhar Purba, "Pak Frans. It's more than enough. Mereka pasti bersyukur utk "small amount" itu. Dana Kemanusiaan Kompas udah pilihan yg pas, setidaknya akuntabilitas dana dan alokasinya bisa dipertanggungjawabkan, dan bukan atas favoritism atau kepedulian parsial. Great!"
4 hours ago • Like

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/28/2010 04:28:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, October 21, 2010
Hati. Kamu. Jari. (3)

Kepada dia yang pernah menjadi sesuatu dalam hidup.
Inilah aku sekarang. Dan mungkin, inilah terakhir kalinya aku bercerita kepadanya.

Seorang bijak di buku pintar yang dibelikan bapaku pernah berkata, "sesungguhnya bukan perpisahan yang aku tangisi, tetapi pertemuan itulah yang sebenarnya aku tangisi dan ratapi."

Kau tahu? Sejak kepergianmu hari itu, ada kehilangan yang terasa. Aku tidak malu mengakuinya. Dan kenapa pula harus malu. Ya, aku kehilangan. Kehilangan kamu.

Hati.
Entah ia segumpal protein di dalam tubuh, ataukah ia hanya cahaya maya dalam diri sesorang. Entah. Kata mereka, keduanya adalah bagian penting dari manusia dan hidupnya.
Dan hati ini. Hatiku. Ia telah mempelajari kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Mata dan indera-indera lain di luar tubuh terlalu gampang menembakkan imagi dan rasa yang mereka dapatkan di luar tubuh ke hati. Dan hati ini, akan terlalu cepat menaruh iba atau memunculkan reaksi lain sebagai tanggapan.
Sama seperti reaksinya kepadamu.
Entah ini apa. Tapi hatiku pernah menembakkan sulur-sulur maya kepadamu.
Seperti biasa. Berupa iba.

Kamu.
Siapakah sebenarnya dirimu?
Kamu yang tidak pernah kukenal.
Rupa yang masih samar.
Yang namamu adalah sesuatu yang rahasia.
Dulu, hampir setiap harinya kita berpapasan.
Berdiri di lobi masing-masing bangunan yang kita diami.
Bangunan kehidupan. Bangunan yang dibangun dari hati.
Dan masing-masingnya berisi gudang data.
Setiap informasi hidup kita, bayangan dan kenangan tiap individu yang tersimpan rapi di dalamnya.
Dan lalu, kamu menghilang dan pergi.

Gedung tempatmu berdiam kini sepi.
Entah siapa kini yang menjaganya atau bekerja di dalamnya.

Ialah dirimu yang berperan besar dalam hidupku.
Meski kamu tidak mengetahuinya.
Tapi aku tahu seperti apa aku dulu.
Dan aku tahu seperti apa aku sekarang.
Dan perubahan ini, adalah kamu yang membantunya.
Transisi ini sangat mudah, meski sangat sakit.
Tapi aku tidak pernah mengenalmu.
Sama seperti kamu tidak pernah mengenalku.

Kamu.
Hatiku telah mempelajari kemampuan untuk melindungi dirinya dari sayatan-sayatan dari pisau yang dilemparkan mereka.

Jari.
Aku suka memandangi jariku.
Tangan dan kaki.
Semua lengkap. Sempurna.
Tapi hidupku tidak sesempurna kelengkapan jariku.
Sejak hati ini mengetahui tentangmu, segala ketidaksempurnaan ini terungkap.
Bahwa aku tidak sempurna. Bahwa aku manusia.

Dan jari-jari ini kembali menekuk.
Sama seperti saat-saat transisi dulu.
Ah, aku lebih suka menyebutnya akselerasi.

Bahwa memang tidak baik untukku tetap seperti ini.
Bahwa memang tidak baik untuk tetap merasa kehilanganmu.
Bahwa memang aku bukan sempurna.
Bahwa memang hidup kita berbeda.
Bahwa memang harus disini aku mengambil keputusan.

Keputusan. Sebuah kehilangan.
Kamu. Aku.


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 10/21/2010 08:07:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
Setelah Perang Berakhir

Aku belum menemukan kenyataan-kenyataan yang tercatat dalam sejarah, bahwa perang akan berakhir dan hanya menyisakan perdamaian. Belum ada.

Hanya ada hutang, kuburan, luka di tubuh, luka di hati, kematian dan kehilangan...

Sama halnya dengan dua kerajaan ini.
Tidak ada kedamaian atau rekonsiliasi yang sungguh terjadi dan disepakati.
Luka di dalam hati keduanya.
Keengganan, kesungkanan.
Dan raja-rajanya setiap harinya hanya menangis di tahtanya.
Sebab sebenarnya, mereka masih terikat bersaudara.

Setelah perang berakhir, ada luka yang sakit.
Di tubuh, di hati.


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 10/21/2010 08:01:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Wednesday, October 6, 2010
Mobil Ambulans. Malam Ini. Doa. Keluarga.

News passing by on the newspapers and online medias...
Most of them are not good news to hear.
Truly hard to hear and see.

Kecelakaan kereta api, ancaman terorisme, ledakan tabung gas.

Kematian, kemalangan, bisa terjadi kapan saja.
Kita tidak akan pernah tahu.
Kapan...
Dimana...

"Dulu, setiap kali mobil ambulans meraung-raung di jalan, aku bertanya, kapan tiba giliran orang terdekatku akan ada di mobil ambulans itu. Ternyata sekarang waktunya." - Daniel Purba, Maret 2008.

Dan doa untuk anggota keluarga kita tetaplah esensial.
Hari ini, malam ini...

Tuhan, lindungi mamak dan adik-adikku di sana.

Labels:

Eleazhar P. @ 10/06/2010 08:29:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts