The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, October 21, 2010
Hati. Kamu. Jari. (3)

Kepada dia yang pernah menjadi sesuatu dalam hidup.
Inilah aku sekarang. Dan mungkin, inilah terakhir kalinya aku bercerita kepadanya.

Seorang bijak di buku pintar yang dibelikan bapaku pernah berkata, "sesungguhnya bukan perpisahan yang aku tangisi, tetapi pertemuan itulah yang sebenarnya aku tangisi dan ratapi."

Kau tahu? Sejak kepergianmu hari itu, ada kehilangan yang terasa. Aku tidak malu mengakuinya. Dan kenapa pula harus malu. Ya, aku kehilangan. Kehilangan kamu.

Hati.
Entah ia segumpal protein di dalam tubuh, ataukah ia hanya cahaya maya dalam diri sesorang. Entah. Kata mereka, keduanya adalah bagian penting dari manusia dan hidupnya.
Dan hati ini. Hatiku. Ia telah mempelajari kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Mata dan indera-indera lain di luar tubuh terlalu gampang menembakkan imagi dan rasa yang mereka dapatkan di luar tubuh ke hati. Dan hati ini, akan terlalu cepat menaruh iba atau memunculkan reaksi lain sebagai tanggapan.
Sama seperti reaksinya kepadamu.
Entah ini apa. Tapi hatiku pernah menembakkan sulur-sulur maya kepadamu.
Seperti biasa. Berupa iba.

Kamu.
Siapakah sebenarnya dirimu?
Kamu yang tidak pernah kukenal.
Rupa yang masih samar.
Yang namamu adalah sesuatu yang rahasia.
Dulu, hampir setiap harinya kita berpapasan.
Berdiri di lobi masing-masing bangunan yang kita diami.
Bangunan kehidupan. Bangunan yang dibangun dari hati.
Dan masing-masingnya berisi gudang data.
Setiap informasi hidup kita, bayangan dan kenangan tiap individu yang tersimpan rapi di dalamnya.
Dan lalu, kamu menghilang dan pergi.

Gedung tempatmu berdiam kini sepi.
Entah siapa kini yang menjaganya atau bekerja di dalamnya.

Ialah dirimu yang berperan besar dalam hidupku.
Meski kamu tidak mengetahuinya.
Tapi aku tahu seperti apa aku dulu.
Dan aku tahu seperti apa aku sekarang.
Dan perubahan ini, adalah kamu yang membantunya.
Transisi ini sangat mudah, meski sangat sakit.
Tapi aku tidak pernah mengenalmu.
Sama seperti kamu tidak pernah mengenalku.

Kamu.
Hatiku telah mempelajari kemampuan untuk melindungi dirinya dari sayatan-sayatan dari pisau yang dilemparkan mereka.

Jari.
Aku suka memandangi jariku.
Tangan dan kaki.
Semua lengkap. Sempurna.
Tapi hidupku tidak sesempurna kelengkapan jariku.
Sejak hati ini mengetahui tentangmu, segala ketidaksempurnaan ini terungkap.
Bahwa aku tidak sempurna. Bahwa aku manusia.

Dan jari-jari ini kembali menekuk.
Sama seperti saat-saat transisi dulu.
Ah, aku lebih suka menyebutnya akselerasi.

Bahwa memang tidak baik untukku tetap seperti ini.
Bahwa memang tidak baik untuk tetap merasa kehilanganmu.
Bahwa memang aku bukan sempurna.
Bahwa memang hidup kita berbeda.
Bahwa memang harus disini aku mengambil keputusan.

Keputusan. Sebuah kehilangan.
Kamu. Aku.


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 10/21/2010 08:07:00 PM.

2 Comments:

  • On October 21, 2010 at 8:47 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "le,,makasih ya udah ngetag aku,,,paling senang lah emang baca ginian,,,

    dalam bgt maknanya,,,keep writing yaaa,,,"
     
  • On November 7, 2010 at 2:38 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "so deep... :'("
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives