The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, October 28, 2010
Ketika Empati Ada

Penggalan obrolan dua orang di Facebook...

Junior Pisces, "Kalian para Cancer apa kebanyakan seperti yang aku experience ya? Ceritanya... Bla bla bla, bla bla bla (intinya, tentang kesalahpahaman dirinya temannya yang seorang Cancer, yang sangat memperhatikan perasaan orang lain, yang kepada si Pisces ia merasa bersalah). Aneh kalau dipikir-pikir. Setelahmu, aku kenal beberapa orang Cancer, inti jiwanya hampir sama. Protektif sekali, melindungi perasaannya, fashionable, sering bahasanya halus."
Senior Cancer, "Haha... Gue malah nggak merasa diri gue sebaik itu, El; protektif, fashionable, berbahasa halus, de el el. Yang gue lakukan selama ini cuma berusaha hati-hati bersikap, & mencoba menempatkan diri pada posisi orang lain, (mungkin tepatnya) empati? Kalo gue jadi temanmu itu, mungkin gue akan bereaksi yang kurang lebih sama. Secara gue sudah merasa bersalah lalu ketika gue berusaha memperbaiki itu, orangnya itu (seperti si Pisces yang menunjukkan reaksi martirnya) malah bereaksi seperti itu. Tapi no worries lah... Nanti juga baik sendiri asal kamunya bersikap normal lagi".

------

Empati, adalah tepat seperti yang disampaikan Senior Cancer itu, adalah momen ketika hati masuk dalam fase memahami dan menempati perasaan dan hati orang lain. Sama seperti menempatkan diri ini pada posisi orang lain.

"Aku tidak ingin ia terluka karena perkataanku, maka aku menjaga tutur kataku karena aku bisa merasakan luka yang seperti itu."
Itulah empati.

"Aku ingin menghargai diriku dan orang-orang di sekelilingku dengan menjaga penampilanku, agar kami tetap tercitra baik dan tidak menjadi celaan karena citra, di tengah dunia yang mengagungkan pencitraan ini."
Itulah empati.

"Aku tidak ingin menjadi batu sandungan yang menyulitkan orang lain, terutama mereka yang di sekitarku. Karenanya aku berusaha mandiri semampuku, dan "get everything's done correctly" dengan upayaku, jangan orang lain merasakan kesulitan karenaku."
Itulah empati.

Atau ketika...

Apa yang sebenarnya dirasakan pengamen-pengamen kecil ini? Adakah hal lain selain lapar yang terasa? Apa yang mereka perjuangkan dalam hidupnya?

Padanya yang aku berkata "hei, kamu lambat bekerja", mungkin aku harus mencoba memahami porsi pekerjaannya dan melihat porsi pekerjaanku. Maka aku tidak sepatutnya berkata seperti itu padanya, bila ia memang kewalahan dan aku terlalu menuntut.

Bagaimana rasanya ditinggalkan orangtua karena batasan hidup-mati? Bila sekarang bukan giliranku, pasti nanti. Sakitkah kehilangan itu? Bila menyakitkan, bolehkah aku menangis bersamamu dan merasakan kehilangan yang kau rasa?

Mereka yang tinggal jauh dari peradaban modern, bagaimana kelelahan mereka setiap harinya menerjang jarak untuk memperoleh pangan, air bersih, dan pendidikan?

Mereka yang saat ini mengalami musibah karena bencana alam, adakah yang sudah bergerak untuk mengulurkan bantuan? Apa yang mereka rasakan di sana? Bila aku menjadi mereka, apa yang aku butuhkan sekarang?

Kawanmu itu, mengapa ia berdiam? Adakah masalahnya? Mengapa sampai keluar airmata? Beratkah bebannya?

Dan saat diri ini bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, mengambil rasa luka mereka, pun kebahagiaan mereka sekalipun, dan hati ini bisa memahami, melindungi perasaan mereka dengan empati yang kita bangun atas kita sendiri untuk bertindak sewajarnya tanpa menimbulkan luka, sebaliknya menumbuhkan kesepahaman, penerimaan. Dan asalkan ada komunikasi yang tersampaikan dengan baik, antara subyek dan obyek, yang setara, semoga kita yang hidup di atas bumi ini bisa lebih baik dalam konteks relasi sehari-hari.

Kesepahaman dari hati.
Penerimaan atas eksistensi dan esensi.
Siapapun membutuhkan perkara-perkara di atas.

Hidup akan lebih baik, ketika empati ada.

*Beruntungnya saya yang secara natural mampu menyerap perasaan orang lain, ikut tertawa dalam kebahagiaan mereka, ikut menangis dalam kesukaran mereka. Dan beruntungnya saya mengenal orang-orang Cancer yang secara natural menguasai lebih baik empati itu, dan dari mereka saya belajar lebih tentang ini.

Tokh saya tetaplah manusia pembelajar seperti yang lainnya. Tulisan ini, biarlah saya simpan untuk saya boleh mempelajari lebih empati itu.*


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 10/28/2010 06:24:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives