The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Tuesday, November 23, 2010
Kak?! Kau Lihat Aku Pakai Rok?

"Mari Kakak... Dilihat dulu jaketnya. Ada diskon duapuluh persen loh..." Mesra sekali si storekeeper ini menyapaku saat lewat di depan tokonya. Dan bukan cuma dia yang seperti itu. Hampir di setiap toko, hampir di setiap mall, hampir di semua tempat di kota ini. Banyak orang seperti dia. Cara dan kata-kata dalam kalimat sapaannya hampir sama.

Aku suka disapa. Meski mereka menginginkan uangku, but I just like to be treated that way.

Tapi sungguh di dua tahun pertama perantauanku, telingaku benar-benar gatal saat dipanggil "kakak". Hei, kau lihat aku pakai rok apa, hah?!...

Lain lubuk lain ikannya. Beda daerah, beda pula cara memanggilnya. Dan panggilan yang kita berikan ke orang lain, bisa menimbulkan esensi yang berbeda. Dalam hal arti, dalam hal rasa, yang dikandung oleh panggilan itu.

Bagiku yang dibesarkan di Sumatra Utara, adalah sangat umum untuk memanggil orang lelaki yang lebih tua dari kita dengan panggilan "abang", sementara untuk yang perempuan adalah dengan panggilan "kakak". Tidak mesti harus ada hubungan darah. Contohnya bila kita belum mengenal seseorang, bahkan namanya pun tidak kita ketahui, sangat jamak untuk memanggil dengan sebutan abang atau kakak, sesuai dengan keadaan orang tersebut. Dan kondisi ini, setahu aku, bisa ditemui di sepanjang Tanah Sumatra. Bahkan sebenarnya dikenali dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sederhana sesungguhnya, membedakan panggilan berdasarkan jenis kelamin. Sama halnya seperti panggilan "mas" dan "mbak" di banyak tempat di negeri ini. Jelas. Bold. Straight.

Tapi ya itu, lain daerah lain pula kebiasaannya. Aku yang terbiasa di lidah dan otak dengan panggilan abang dan kakak merasakan kesulitan yang sangat dalam hal rasa. Terutama karena panggilan "kakak" itu terasa rancu.

Kok aku manggil kakak ke laki-laki yang lebih tua ya?...
Kok aku merasa melecehkan mereka, dengan merasa mereka memakai rok?
Kok mesti repot dalam berbahasa, dengan menekankan "kakak laki-laki" dan "kakak perempuan"?


Entah siapa yang memulai... Panggilan "abang" atau "mas" diasosiasikan dengan laki-laki yang bekerja kasar dan berpenghasilan rendah. Sering aku dengar di jalan, "jangan manggil gue "abang", memangnya gue tukang bakso?!" atau "nggak usah manggil "mas" napa? Loe lihat gue kerja nguli (kuli)?!..." Astaga, serendah itukah esensi panggilan-panggilan itu? Kemungkinan besar, hal-hal seperti itu yang membuat panggilan "kakak" terasa lebih sopan dan terhormat dibandingkan "abang" atau "mas". Bahwa panggilan-panggilan tersebut sudah terlanjur melekat dengan profesi-profesi kasar. Tidak tahu lagi bagaimana jadinya dengan panggilan-panggilan lain yang berasal dari serapan bahasa daerah lain... Walaupun setahu aku, panggilan "abang" itu sudah jamak dari zaman dulu, yaitu berasal dari Bahasa Melayu yang menjadi arus utama pembentuk Bahasa Indonesia.

Well, back to my case... Kayak yang udah aku singgung di atas, aku akan memilih untuk memanggil orang berdasarkan usia dan jenis kelaminnya, untuk menunjukkan rasa hormatku. Dilihat juga lingkup hubungan kerja, asal daerahnya dan sebagainya. Tapi sungguh aku sangat menghindari memanggil "kakak" ke laki-laki yang lebih tua dan perbedaan usianya denganku nggak begitu jauh. Lebih baik memanggil abang, mas, atau pak. Dan my nerdy mind, masih sangat tidak bisa menerima dipanggil "kakak". Pun aku tidak memanggil abang kepada orang yang bisa kutekan. Karena terasa sangat kurang ajar bagiku untuk menekan seorang "abang". Baiknya memanggil nama langsung atau "pak" saja. Dan itu pun kadang penggunaannya campur aduk, misalkan ke seorang rekan kantor sekarang, yang kadang aku panggil "pak" dan kadang aku panggil "mas" juga, karena umurnya masih muda dan kadang jadi abang buatku untuk urusan kerjaan.

Tiba-tiba teringat. Di pekerjaan pertamaku dulu di Surabaya, seorang senior di kantor mulanya aku panggil dengan sebutan "kak", dan dia laki-laki! Aku tidak berkenalan dengannya secara formal, dan aku tidak tahu bagaimana baiknya dan nyaman baginya untuk dipanggil dengan sebutan apa. Saat seorang rekan kantor yang kebetulan seangkatan memanggilnya "kak", aku pun ikut memanggilnya dengan sebutan itu. Bagiku, luar biasa aneh! Sangat ganjil terasa. Belum lagi karena seniorku itu bernamakan nama yang umumnya dimiliki perempuan, sama sepertiku yang orang seringkali merasa aku ini "perempuan" dari namaku, sebelum mereka mendengar suara bass-ku, hahaha... Aku cuma merasa... "No... This is not what I should call him". Bahkan di masa sekolah dulu aku tidak pernah memanggil "kakak kelas" ke senior laki-laki di sekolah. Ya tetap panggilan "abang". Jujur, waktu itu aku merasa geli, "kok kalo aku manggi Kak D*** serasa manggil cewek, terus kalo orang lain mendengarnya, kan bisa diartikan berbicara ke perempuan ya?..." Di bulan ketiga aku mengenalnya, aku mulai memberanikan diri memanggil "abang" padanya. Kupikir, toh aku pikir ini pantas, dia juga masih ada hubungan dengan Tanah Sumatra yang terbiasa dengan panggilan itu. Tapi aku nggak pernah bertanya kepadanya apakah dia nyaman dipanggil seperti itu. Sepertinya dia tidak protes.

Kebalikannya, seorang seniorku yang lain di Jakarta, yang juga masih ada hubungan dengan Tanah Sumatra, merasa risih dipanggil "abang". Aku lalu jarang memanggilnya "Bang J**" saat berbicara kepadanya. Hanya berbicara saja, dengan rasa hormat yang kurang. Beda dengan senior yang pertama, karena aku memanggil "abang" kepadanya, esensinya berbeda. Hehehe... *Jujur aja Bang Jim, aku mau bisa bebas ngobrol samamu, tapi aku takut nanti Bang Jim risih kalau aku keceplosan memakai panggilan itu. :p*

Flashback!... Di hari keduaku bekerja di perusahaan pertama dulu...
Bapak, "Udah ada kawanmu? Kekmana hari pertamamu kerja?"
Anak, "Ya kayak gitulah, Pak. Bla bla bla... Bla bla bla... Kawan belum ada."
Bapak, "Orang-orang di kantormu kayak apa rupanya? Baiknya kan?"
Anak, "Ya macam-macam lah, Pak. Sifatnya kayaknya beda-beda. Banyakan perempuan. Ada kemarin senior cewek, pas kenalan langsung nanya apa aku mau ikut gabung ibadah di gerejanya atau nggak. Bla bla bla... Bla bla bla... Ada banyak orang kita Jawa, ada orang kita Manado, ada orang-orang Filipina, ada juga yang Batak. Sebelum aku masuk, yang orang kita Batak itu satu-satunya karyawan laki-laki di kantor Surabaya selain karyawan laki-laki lain yang bertugas jadi supir, Pak."
Bapak, "Nah, abangmu nya dia itu. Kau minta diajarin aja kekmana hidup di Surabaya."
Anak, "Hah.. Semuanya Bapak begitukan orang. Si Bang Eko waktu di Jakarta pun, Bapak bilangkan jagai adekmu. Jadi anak kecil terus lah aku... Lagian aku nggak pala (begitu) kenal sama kawan kantorku itu..."


*Mendiang bapakku memang seperti itu, mohon maaf dan maklum...* --'

Ok, setahun ini aku juga sudah mulai mencoba membiasakan diri untuk dipanggil "kakak". Segampang itu menerimanya? Oh, tentu tidak. Caraku untuk being terbiasa adalah dengan menganggap orang yang memanggilku "kakak" itu adalah orang yang akan segera berlalu dari hidupku, orang yang namanya aku tidak kenal, yang wajahnya akan segera aku lupakan. Dan tetap berpikir bahwa aku hidup di kampung orang, di hub budaya nasional Indonesia. Wah, kejam, kejam... Ya, mau bagaimana lagi, aku belum menemukan cara baiknya. Ini juga sama tokh dengan orang yang tidak mau dipanggil "abang"? Impas kan? :p


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/23/2010 12:10:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, November 20, 2010
What's Up With Life?

Good. Life is good, these days, weeks, and months.
I've been barely writing up my life in details for the last two years. Somehow recently I found myself a little bit more extrovert than before. I found people to share my problems, my thoughts, most things... But the rest, are somehow still be my secrets.

There was an "accident" yesterday, which has lined up strict statement in mind. And it was very bold indeed...
That I was intending to be the real me, someone who take control of my own heart, my gestures and attitudes, my spoken words, in such ways an introvert guy should be.

Ada hal yang sebenarnya mengganjal di hati.
It's something unspoken to be told...
Gelisah. Cemas. Rindu.
Entah apa tepatnya.
Tapi saya terus memikirkannya.
Tentang seseorang. Tentang sesuatu. Tentang banyak hal.
I think these whole things are very normal to me.
I think a lot, I take problems of others to be part of mine.
But this time it's felt so unusual.
Jaraknya jauh, sangat jauh. Jarak fisik dan jarak yang tidak kelihatan.
Semoga ini tetap terjaga...

Please welcome, the genius girl in our music industry. Pisces she is, Riani Sovana.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/20/2010 07:51:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, November 18, 2010
Sent From ... Hey It's Not To Show-Off!

Now what will you think when you read this on e-mail signatures?
"Sent from my Blackberry."
Or...
"Sent from my iPhone."

Hahahaha... Two years ago, I was still considering that e-mail signatures embedded with attribution of the particular gadget used to access the e-mail, was no more than to show off.

Showing off to people / recipient that we have Blackberry or iPhone or any such cool gadgets...
Showing off to people that we're such a busy employee / worker who needs to be always online, carrying the whole e-mail access anywhere anytime...
Showing off to people that we're afford to pay the special yet expensive data plan of our carriers...

But now I change my perspective on this... Well, it was just several months ago, when I bought my (lovely) iPod. It does have the ability to access corporate e-mail account of my office.

The e-mail experience on iPod is great. I like it. But when I was starting to send e-mails out of this gadget, in which the default signature was saying " Sent from my iPod", some colleagues dropped a straight thought that I can be always online like an iPhone. Whilst I am not. This gadget truly depends on the WiFi to go online, which I can not always find (for free)... Essentially it's still a music player with computer abilities in it, as it has operating system you may say so. It's not an iPhone. Please... :(

Oh well, the only solution I find was to emphasize that this is such a dumb gadget when there's no WiFi! Hehehe...

So I add additional words on e-mail signature... "Sent from my iPod, limited connectivity". This must explains all things written above. :p

So things are quite clear now. That signature is more to be short explanation to people of the nature of gadgets we're using to access the e-mail.

Now have a look on people's signature...
When they're stating that the e-mail you currently read on was sent from a mobile device; Blackberry, iPhone or any Android based devices, please rethink of how the e-mail was transmitted to you. Please rethink that somehow the e-mail had already been passing the allocated small sized bandwith from carrier to server, processed in, and transmitted to recipient, and so is vice versa. Or even an iPod, please reconsider that the gadget used to send e-mail you receive, is truly depending on the available connection. It's limited. And its user, might be someone who wants to choose device which is not "pushing" him to read and respond e-mails the whole day. A private person, maybe. Just like me, hahaha...

So, please... Read the e-mail signature in another perspective. And pour out a little bit empathy on it. :)


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 11/18/2010 11:57:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, November 14, 2010
Scared To Believe

Then things are going well.
November, December, then where all the paradoxes I have been seeing on my days?
I'm scared.
Truly I am... Ah, this is not what it's supposed to be.
So I'm scared to believe...

Kiranya "perjalanan menuju rumah" ini berjalan baik.
Lord, have your way in me.
Kepada dia, I know that you do not want me to be there.
That you don't want me by your side.
Tuhan, mari kita berbicara lagi malam ini.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/14/2010 07:22:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, November 13, 2010
Emotionsphere - Updated!

So I made some retouching today for this "Emotionsphere" template: removing the childish clouds-and-sun, and add one more Google Ads on the top of main post. So it's visible! Haha...

And yes! The sun was very childish!... :))
Eh, by the way, I haven't published any post to publish this template ya? Oh well, let this post to announce it.

Updated, Nov 27
Did I tell you that this template was inspired by this post?


The newly retouched "Emotionsphere".


The old "Emotionsphere" with the childish sun as the header.

Template name: Emotionsphere
Tested and works fine in: Safari, Firefox, IE, and Chrome.
Created on: October 31 2010
Designer: Ele Azhar Purba

Labels:

Eleazhar P. @ 11/13/2010 08:26:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, November 8, 2010
Kita Kan Datang Bukan Untuk Mengemis, Pak...

Mendiang bapakku tidak pernah mengajariku untuk berharap terlalu banyak tentang banyak hal dari hubungan persaudaraan. Entah itu famili dekat, atau famili jauh. Karena setiap famili itu memiliki anggota keluarganya masing-masing untuk ditolong, dibantu, diperhatikan. Bapak mengajar, " tolonglah bila mereka memang membutuhkan pertolongan, tapi kebalikannya, jangan menyusahkan mereka dengan menggantungkan hidupmu kepada mereka. Kalau kau tidak membantu apapun di rumah mereka, jangan kau makan".

-----

Aku mengingat jelas urutan kejadian-kejadian pada malam itu. Tepat pada sore hari setelah aku menyelesaikan interview di perusahaan yang memanggilku ke Jakarta, (mendiang) bapatongah dan inangtongah mengajak bapak dan aku untuk berobat ke Cikini. Kebetulan di sana, katanya, ada kenalan bapatongah yang seorang dokter ternama yang bisa memberikan diagnosis tepat akan penyakit yang bapak derita. Aku sendiri pun tidak tahu pasti penyakit bapak, hingga ia meninggal pada tahun 2008.

Sore itu, kami pun berangkat dari Kemanggisan menuju Cikini. Dan bapak pun menjalani pemeriksaannya sore itu juga. Cukup singkat. Selepas pukul delapan malam, entah apa yang dibicarakan ketiga orangtuaku itu, kami lalu menuju kawasan Cempaka Putih, katanya untuk menemui seorang saudara. Entah saudara dari mana. Aku tidak tertarik, mata ini rasanya sangat lelah. Mau tidur saja bawaannya. Aku memilih diam terus selama di mobil. Apa boleh buat, aku pun nggak tahu jalanan di Jakarta yang baru beberapa hari aku tinggali ini. Mana aku tahu jalan untuk pulang langsung ke rumah pamanku itu di Kemanggisan. Jadi aku menurut saja.

Cempaka Putih cukup sepi malam itu. Entah kalau di malam-malam lain. Setibanya di depan rumah orang yang disebut saudara itu, seorang ibu yang kuperkirakan pembantu rumah itu, menerima kami dan mengantarkan ke ruang tamu. Cukup makmur juga orang yang kami temui ini.

Bapatongah lalu memperkenalkan masing-masing kami kepada saudara itu dalam bahasa Simalungun, aku masih mengerti. Bapatongah mengenalkan bapakku dan aku, "ini anaknya, ke Jakarta untuk interview pekerjaan." Dan si saudara tadi langsung bereaksi dengan berkata, "ooh, di sini tidak ada pekerjaan lagi. Kalau mau, beli Kompas di hari Sabtu, di situ banyak lowongan!" Jujur, aku sangat terkejut. Bapatongah langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Tapi pikiranku langsung penuh.

"Kita kan datang bukan untuk mengemis, Pak. Kenapa dia tadi keknya ketakutan, kalau-kalau kita meminta kerjaan ke dia. Kan aku berusaha nyari kerjaan sendiri," keluhku ke bapak di kamar malam itu sepulang dari rumah si saudara tadi. "Biar cuma bapak sama Eli aja yang tau. Kalau memang interview tadi buatmu. Tuhan nanti buka jalan biar diterima," bapak cuma berusaha menenangkan hatiku. Tapi jujur, aku merasa hatiku tersakiti.

-----

Dari kejadian ini, aku belajar bahwa hubungan persaudaraan bisa disalahartikan. Kasusku, sangat mungkin si saudara itu menganggap kami berkunjung ke rumahnya untuk meminta pekerjaan kepadanya, dengan bertamengkan hubungan persaudaraan. Padahal ia sangat salah. Kami tidak datang kepadanya dengan tujuan itu. Aku pun sadar hidup adalah perjalanan yang disertai kerja keras, bukan dengan mengandalkan orang untuk dapat hidup. Di Sumatra, kami belajar bahwa untuk hidup adalah untuk mengandalkan Tuhan saja dan bekerja adalah cara Tuhan untuk menghidupi kami. Aku pun sadar, aku sungguh nekat datang ke Pulau Jawa karena aku meyakini kemampuanku, tidak terpikirkan olehku untuk mengandalkan mereka yang disebut "saudara". Aku tahu sekarang bukan waktunya mengandalkan mereka yang lebih dulu datang dan menghidupi dirinya di tanah ini. Ini bukan seperti era "Batak Tembak Langsung" pada generasi pendahuluku. Ini adalah era kompetensi, dan aku tahu bahwa aku berkompeten.

Aku pernah dianggap hina dan kecil, bahkan di saat aku belum menyampaikan maksud dan tujuanku.
Waktu akan menjawab segalanya. Tuhan, kemurahan hatiMu kuharapkan. Sertai aku dalam perjalananku...


Keterangan:
Bapatongah: Paman di urutan kelahiran tengah. Baoatongah di  cerita ini menunjuk ke abang kandung bapakku.
Inangtongah: Istri dari Bapatongah.



Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/08/2010 12:01:00 PM. 1 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, November 7, 2010
How Does It Feel to Be Brokenhearted?

A close friend of mine texted me recently, "dia akan pergi, El. Gue hancur banget. Gue cinta ke dia, El". And I knew that she was crying over there.

I know how it feels, that I knew she was crying then.
That someone is leaving or it can be you to leave someone you love, for certain reasons.
And as in certain moments, being together is not even good for both.

Berjalanlah segala isi pikiran di udara
Uap-uap pemikiran berkumpul erat dan terikat di atas sana
Segala kejadian, rekam ingatan naiklah kesana...
Memberatlah sekalian semuanya menjadi awan hitam pekat
Segala kesedihan biarlah tercurah menjadi hujan
Hati ini terluka, dan hujan akan membersihkan luka ini
Biarkan kami menangis untuk suatu kehilangan yang tidak kami inginkan untuk ditangisi
Karena sungguh, pertemuan itu yang kami tangisi...

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 11/07/2010 12:13:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, November 4, 2010
Menjadi Alay Yang Elegan

Alay...
Mereka menyebutnya sebagai singkatan dari "anak layangan", tepatnya anak kampung yang sering bermain layangan di bawah terik matahari, hingga kulit menggosong dan rambut menjadi kemerahan. Identik dengan selera berpakaian yang agak "menggangu" pemandangan, dan tata bahasa yang kurang terjaga. Mereka pula yang kemudian bergerak hijrah ke kota-kota, membawa serta segala ciri khas mereka.

Lebih ke arah proses adaptasi kebudayaan, aku bilang... Mencoba beradaptasi dengan produk-produk budaya yang diperkenalkan media ke mereka; musik, fashion, cara berbicara, dan seterusnya. Ah, entah. Akupun bukan pengamat sosial bergelar sarjana apalagi master...

Seketika banyak orang yang tiba-tiba merasa sangat terusik dengan kehadiran anak-anak ini. Terlebih dengan cara komunikasi tulisan yang benar-benar menyakitkan mata; paduan huruf besar-kecil, angka dan simbol, yang semuanya tidak pada tempatnya, membuat bingung, memacu otak berpikir lebih keras daripada biasanya... Sungguh, akupun terusik sebenarnya.

Mencoba berempati...

Mungkin akupun dulu pernah menjadi alay, bahkan hingga sekarang sebenarnya tetaplah seorang alay sejati, bila alay didefinisikan menjadi "mereka yang muda yang masih beradapatasi dengan produk budaya". Hahaha... Entahlah kalau aku memang masih tergolong muda, tapi semua orang pernah menjadi alay. Hahaha...

- Meniru karakter manga setengah mati...
- Meniru vokalis band, dari pola hidup hingga segala aksesoris di tubuh...
- Menulis berbagai bentuk sastra layaknya penulis buku-buku best-seller...
- Mendramatisir hidupnya dalam komunikasi hiperbola...

Tokh semuanya pernah melalui proses itu. Semua orang pernah berada pada fase alay dalam hidupnya, terserah apakah "alay" itu keukeuh diasosiasikan dengan "anak layangan".

Kalaupun harus menggali lebih lagi, "alay yang mengganggu" tepatnya adalah alay yang tidak tahu menempatkan segala bentuk output kreatifnya pada waktu yang tepat, atau terlalu berlebihan. Contohnya, kamulah yang tahu... :)

Mencemaskan apakah kaum alay akan tetap seperti itu seumur hidupnya? Ah, terlalu berlebihan. Itu hanya masalah waktu.
Mencemaskan tentang nilai-nilai mereka di sekolah karena kemampuan berbahasa yang semakin menurun? Aku pikir harus ada riset mendalam tentang ini.

Lalu, bagaimana baiknya? Jadilah alay yang elegan. Yang nggak cuma menyerap produk-produk budaya, tapi kemudian bisa mengolahnya untuk menjadi hal yang lebih baik. Mungkin menjadi hobbynomics... Hanya sedikit kesempatan dan milestone, aku pikir bisa-bisa saja. Industri kreatif mungkin bisa menjadi penampungan sementara bagi anak-anak ini, sebelum mereka benar-benar menemukan passion dalam hal tertentu dalam hidup mereka. Membuat web untuk ajang eksis, bisa menjadi awal bagi mereka untuk mencintai dunia IT atau desain grafis. Membuat notes di Facebook pun, kalau terasah dan bagus, mungkin bisa dibukukan suatu saat.

Alay pun punya masa depan.
Alay pun tetap manusia; adik-adik, sepupu, atau tetangga kita.

Dan nggak perlu seekstrim beberapa individu di forum-forum internet yang berniat untuk menghajar alay yang mereka temui di jalan atau mall. Sadis nian engkau... Siapa yang bisa tahu sih, kalau seorang alay bisa menjadi pemimpin besar pada beberapa tahun mendatang? :p

Labels:

Eleazhar P. @ 11/04/2010 08:29:00 PM. 3 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, November 1, 2010
Orang Baik di Pulau Seberang

When the journey was just to begin...

Pernah kamu merasa mendapat perlakuan yang sebegitu baiknya dari orang yang kamu tidak kenal secara pribadi? Aku pernah, bahkan saat kami belum pernah saling bertemu secara pribadi sama sekali.

Dia adalah orang yang bisa dikategorikan sebagai orang yang cukup dikenal di Medan. Dia itu sesama alumni dari sekolah menengah pertama (SMP) dan kota yang sama denganku, Lubuk Pakam. Saat aku menghubunginya, dia sudah meninggalkan profesinya sebagai penyiar di radio anak muda paling top di Medan, dan menjalani karir baru di sebuah stasiun televisi swasta sebagai news anchor, dan dia berbasis di Surabaya. Hanya beberapa teman dekatku yang memang mengenalnya secara pribadi, mungkin dari link komunitas "kalak kita" Karo di kotaku.

Percakapan di Friendster berlangsung beberapa bulan sebelum keberangkatanku ke Jawa. Hanya sekedar basa-basi. Dan di pertengahan Oktober 2007, saat aku menerima panggilan interview untuk ke Surabaya (yang beberapa hari setelahnya aku baru diberitahu untuk menjalani interview di Jakarta), aku langsung menghubungi orang ini, lagi, di Friendster. Lebih kurang kami berbicara seperti ini.

"Bang, aku ada panggilan interview ke Surabaya. Perusahaan perikanan gitu. Kira-kira Surabaya itu seperti apa? Kalau daerah X itu di dekat apa?"
"Oh, perikanan yang dekat pelabuhan kah? Dekat kosku kalau memang yang itu, tinggal beberapa menit lagi sampai kalau naik angkutan. Supaya nggak repot, tinggal aja di tempatku selama interview sampai positif kerja di situ. Tapi sekedarnya aja ya. WC Yes, AC No. Hahaha..."

Aku nggak tahu apa harus mengikuti saran, tepatnya tawaran darinya waktu itu. Terlalu baik untuk orang yang tidak pernah kukenal secara pribadi. Dan ya... Dia memang orang baik.

Setelah hari interview di Jakarta, aku menghubunginya kembali di Friendster, "Bang, interviewnya ternyata dipindahkan ke Jakarta. Kalau diterima, nantinya aku ditempatkan di Surabaya. By the way, makasih banyak untuk tawarannya kemarin itu. Bujur."

Mungkin karena aku jarang menerima perlakuan baik dari orang, maka tawaran dari orang yang kupanggil "abang" itu, aku akui, sangat membekas. Ternyata memang masih ada orang baik di bumi. Mungkin memang sudah dominan bahwa orang bertanda Cancer, seperti dia, adalah memang orang baik.

.....

Selama tinggal di Surabaya, aku tidak pernah berusaha menemui atau menghubungi abang itu. Aku terlalu sibuk dengan banyak hal yang menguras pikiran dan perasaanku. Dia pun pasti sibuk dengan pekerjaannya.

Pun setelah aku tinggal dan bekerja di Jakarta sekarang ini, lokasi kami bekerja sangat berdekatan. Dia di kantor pusatnya di Senayan City, aku di Gedung Bursa Efek Indonesia. Kalau bertemu, mungkin aku hanya akan mengucapkan terima kasih kepadanya, bahwa sudah menampilkan sosok orang baik di masyarakat ini, bahwa menjadi bagian dari orang-orang yang sudah memiliki pengaruh -baik pengaruh yang besar ataupun kecil- dalam hidupku. :)

Anyway, dari akun Twitter-nya aku tahu kalau dia akan segera melangsungkan pernikahannya di awal November ini di Medan. Selamat menjalani hidup baru, Bang Boy! Tuhan memberkati. :)


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/01/2010 12:40:00 PM. 3 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts