The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, November 8, 2010
Kita Kan Datang Bukan Untuk Mengemis, Pak...

Mendiang bapakku tidak pernah mengajariku untuk berharap terlalu banyak tentang banyak hal dari hubungan persaudaraan. Entah itu famili dekat, atau famili jauh. Karena setiap famili itu memiliki anggota keluarganya masing-masing untuk ditolong, dibantu, diperhatikan. Bapak mengajar, " tolonglah bila mereka memang membutuhkan pertolongan, tapi kebalikannya, jangan menyusahkan mereka dengan menggantungkan hidupmu kepada mereka. Kalau kau tidak membantu apapun di rumah mereka, jangan kau makan".

-----

Aku mengingat jelas urutan kejadian-kejadian pada malam itu. Tepat pada sore hari setelah aku menyelesaikan interview di perusahaan yang memanggilku ke Jakarta, (mendiang) bapatongah dan inangtongah mengajak bapak dan aku untuk berobat ke Cikini. Kebetulan di sana, katanya, ada kenalan bapatongah yang seorang dokter ternama yang bisa memberikan diagnosis tepat akan penyakit yang bapak derita. Aku sendiri pun tidak tahu pasti penyakit bapak, hingga ia meninggal pada tahun 2008.

Sore itu, kami pun berangkat dari Kemanggisan menuju Cikini. Dan bapak pun menjalani pemeriksaannya sore itu juga. Cukup singkat. Selepas pukul delapan malam, entah apa yang dibicarakan ketiga orangtuaku itu, kami lalu menuju kawasan Cempaka Putih, katanya untuk menemui seorang saudara. Entah saudara dari mana. Aku tidak tertarik, mata ini rasanya sangat lelah. Mau tidur saja bawaannya. Aku memilih diam terus selama di mobil. Apa boleh buat, aku pun nggak tahu jalanan di Jakarta yang baru beberapa hari aku tinggali ini. Mana aku tahu jalan untuk pulang langsung ke rumah pamanku itu di Kemanggisan. Jadi aku menurut saja.

Cempaka Putih cukup sepi malam itu. Entah kalau di malam-malam lain. Setibanya di depan rumah orang yang disebut saudara itu, seorang ibu yang kuperkirakan pembantu rumah itu, menerima kami dan mengantarkan ke ruang tamu. Cukup makmur juga orang yang kami temui ini.

Bapatongah lalu memperkenalkan masing-masing kami kepada saudara itu dalam bahasa Simalungun, aku masih mengerti. Bapatongah mengenalkan bapakku dan aku, "ini anaknya, ke Jakarta untuk interview pekerjaan." Dan si saudara tadi langsung bereaksi dengan berkata, "ooh, di sini tidak ada pekerjaan lagi. Kalau mau, beli Kompas di hari Sabtu, di situ banyak lowongan!" Jujur, aku sangat terkejut. Bapatongah langsung mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Tapi pikiranku langsung penuh.

"Kita kan datang bukan untuk mengemis, Pak. Kenapa dia tadi keknya ketakutan, kalau-kalau kita meminta kerjaan ke dia. Kan aku berusaha nyari kerjaan sendiri," keluhku ke bapak di kamar malam itu sepulang dari rumah si saudara tadi. "Biar cuma bapak sama Eli aja yang tau. Kalau memang interview tadi buatmu. Tuhan nanti buka jalan biar diterima," bapak cuma berusaha menenangkan hatiku. Tapi jujur, aku merasa hatiku tersakiti.

-----

Dari kejadian ini, aku belajar bahwa hubungan persaudaraan bisa disalahartikan. Kasusku, sangat mungkin si saudara itu menganggap kami berkunjung ke rumahnya untuk meminta pekerjaan kepadanya, dengan bertamengkan hubungan persaudaraan. Padahal ia sangat salah. Kami tidak datang kepadanya dengan tujuan itu. Aku pun sadar hidup adalah perjalanan yang disertai kerja keras, bukan dengan mengandalkan orang untuk dapat hidup. Di Sumatra, kami belajar bahwa untuk hidup adalah untuk mengandalkan Tuhan saja dan bekerja adalah cara Tuhan untuk menghidupi kami. Aku pun sadar, aku sungguh nekat datang ke Pulau Jawa karena aku meyakini kemampuanku, tidak terpikirkan olehku untuk mengandalkan mereka yang disebut "saudara". Aku tahu sekarang bukan waktunya mengandalkan mereka yang lebih dulu datang dan menghidupi dirinya di tanah ini. Ini bukan seperti era "Batak Tembak Langsung" pada generasi pendahuluku. Ini adalah era kompetensi, dan aku tahu bahwa aku berkompeten.

Aku pernah dianggap hina dan kecil, bahkan di saat aku belum menyampaikan maksud dan tujuanku.
Waktu akan menjawab segalanya. Tuhan, kemurahan hatiMu kuharapkan. Sertai aku dalam perjalananku...


Keterangan:
Bapatongah: Paman di urutan kelahiran tengah. Baoatongah di  cerita ini menunjuk ke abang kandung bapakku.
Inangtongah: Istri dari Bapatongah.



Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/08/2010 12:01:00 PM.

1 Comments:

  • On November 9, 2010 at 10:04 AM, Anonymous Anonymous said,
  • "itulah memang realita kekeluargaan yang sebenarnya ya le,,,kalaupun aku dianggap sombong dan tidak peduli kepada kerabat,,tetapi merekalah yg mengganggp kita rendah bahwa kita tidak bisa lebih dari mereka,,seolah olah kita mengemis pekerjaan,,,dan itu salah besar,,,aku benci hal sperti ini,,,terlalu sering kejadian seperti ini di dalam keluargaku,,"
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives