The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, November 4, 2010
Menjadi Alay Yang Elegan

Alay...
Mereka menyebutnya sebagai singkatan dari "anak layangan", tepatnya anak kampung yang sering bermain layangan di bawah terik matahari, hingga kulit menggosong dan rambut menjadi kemerahan. Identik dengan selera berpakaian yang agak "menggangu" pemandangan, dan tata bahasa yang kurang terjaga. Mereka pula yang kemudian bergerak hijrah ke kota-kota, membawa serta segala ciri khas mereka.

Lebih ke arah proses adaptasi kebudayaan, aku bilang... Mencoba beradaptasi dengan produk-produk budaya yang diperkenalkan media ke mereka; musik, fashion, cara berbicara, dan seterusnya. Ah, entah. Akupun bukan pengamat sosial bergelar sarjana apalagi master...

Seketika banyak orang yang tiba-tiba merasa sangat terusik dengan kehadiran anak-anak ini. Terlebih dengan cara komunikasi tulisan yang benar-benar menyakitkan mata; paduan huruf besar-kecil, angka dan simbol, yang semuanya tidak pada tempatnya, membuat bingung, memacu otak berpikir lebih keras daripada biasanya... Sungguh, akupun terusik sebenarnya.

Mencoba berempati...

Mungkin akupun dulu pernah menjadi alay, bahkan hingga sekarang sebenarnya tetaplah seorang alay sejati, bila alay didefinisikan menjadi "mereka yang muda yang masih beradapatasi dengan produk budaya". Hahaha... Entahlah kalau aku memang masih tergolong muda, tapi semua orang pernah menjadi alay. Hahaha...

- Meniru karakter manga setengah mati...
- Meniru vokalis band, dari pola hidup hingga segala aksesoris di tubuh...
- Menulis berbagai bentuk sastra layaknya penulis buku-buku best-seller...
- Mendramatisir hidupnya dalam komunikasi hiperbola...

Tokh semuanya pernah melalui proses itu. Semua orang pernah berada pada fase alay dalam hidupnya, terserah apakah "alay" itu keukeuh diasosiasikan dengan "anak layangan".

Kalaupun harus menggali lebih lagi, "alay yang mengganggu" tepatnya adalah alay yang tidak tahu menempatkan segala bentuk output kreatifnya pada waktu yang tepat, atau terlalu berlebihan. Contohnya, kamulah yang tahu... :)

Mencemaskan apakah kaum alay akan tetap seperti itu seumur hidupnya? Ah, terlalu berlebihan. Itu hanya masalah waktu.
Mencemaskan tentang nilai-nilai mereka di sekolah karena kemampuan berbahasa yang semakin menurun? Aku pikir harus ada riset mendalam tentang ini.

Lalu, bagaimana baiknya? Jadilah alay yang elegan. Yang nggak cuma menyerap produk-produk budaya, tapi kemudian bisa mengolahnya untuk menjadi hal yang lebih baik. Mungkin menjadi hobbynomics... Hanya sedikit kesempatan dan milestone, aku pikir bisa-bisa saja. Industri kreatif mungkin bisa menjadi penampungan sementara bagi anak-anak ini, sebelum mereka benar-benar menemukan passion dalam hal tertentu dalam hidup mereka. Membuat web untuk ajang eksis, bisa menjadi awal bagi mereka untuk mencintai dunia IT atau desain grafis. Membuat notes di Facebook pun, kalau terasah dan bagus, mungkin bisa dibukukan suatu saat.

Alay pun punya masa depan.
Alay pun tetap manusia; adik-adik, sepupu, atau tetangga kita.

Dan nggak perlu seekstrim beberapa individu di forum-forum internet yang berniat untuk menghajar alay yang mereka temui di jalan atau mall. Sadis nian engkau... Siapa yang bisa tahu sih, kalau seorang alay bisa menjadi pemimpin besar pada beberapa tahun mendatang? :p

Labels:

Eleazhar P. @ 11/04/2010 08:29:00 PM.

3 Comments:

"hahaha. kesihan sih memang. tapi huruf gede kecilnya itu sungguh menyakitkan mata. wkwkwk..."
 
"@putri
hahahaha..."
 
  • On November 7, 2010 at 2:39 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "iya, parah tuh yg pengen ngehabisin alay2... :))"
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives