The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, December 13, 2010
Yupiter, Saturnus. Hati. Dia Yang Sulung.

Adalah suatu kebetulan? Entah. Mencoba menghubung-hubungkan? Rasanya tidaklah terlalu memaksa. Ini hanyalah sebuah episode baru dalam perjalanan spiritualku.

Desember kini. Dan hampir setiap orang di bumi tahu bahwa bulan ini identik dengan perayaan Natal, atau setidaknya akhir dari suatu tahun. Aku pun sebenarnya sangat tidak ingin berdebat tentang pemilihan tanggal tertentu di bulan Desember sebagai tanggal kelahiran Kristus Tuhan di bumi. Tokh itu hanya sekedar tanggal peringatan, tanggal apapun di dalam satu tahun, esensinya tetap sama, bahwa Kristus pernah lahir.

Maka aku memilih untuk berpijak pada peristiwa konjungsi Yupiter dan Saturnus menjelang kelahiran Kristus beberapa ribu tahun lalu itu. Konjungsi yang berlangsung beberapa waktu lamanya, yang menuntun kaum Majus dari Timur menuju Bethlehem. Konjungsi yang membawa pesan besar tentang kelahiran Seseorang. Yupiter, tentang seorang agung. Saturnus, tentang umat pilihan, Israel. Dan konjungsi ini tepat berakhir pada konstelasi Pisces; simbol belas kasihan, misteri, pengorbanan, dan penghubung surga dengan bumi. Maka segenap bentuk pernyataan di langit tentang kelahiran Kristus ini adalah rahasia, bahkan Dia Sang Pemilik Semesta hanya menyingkapkan arti ini semua kepada mereka Kaum Majus terpilih melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno.

Kontroversi baru? Bisa saja. Tapi entah kenapa aku sangat ingin percaya bahwa ini benar adanya. "Klik" yang terjadi dalam hatiku sejak lama tentang Yesus, adalah kesamaan dalam banyak hal yang kami pernah hadapi. Klik sebagai mereka yang terlahir dalam periode Pisces.

Dan ini terasa semakin kuat.
Ikatan ini terasa semakin kuat saja.
Karena ini, tentang hati.

Maka aku dapat mengerti kenapa Ia menjadi begitu marah luar biasa saat Bait BapaNya dijadikan ajang jual-beli. Aku mengerti kemarahan itu karena aku pun bisa marah besar untuk sesuatu yang aku anggap benar dan harus dijunjung tinggi. Sama seperti aku memilih ditampar dan diusir bapak dari areal pekuburan keluarga besar kami, berbelas tahun lalu. "Aku nggak mau berdoa ke kuburan semua opung disini. Nggak mungkin dapat kepintaran dari kuburan. Nggak ada Tuhan merintahkan kayak itu, Pak!" Dan tamparan di pipiku dari bapak setelah itu terasa sangat menyakitkan. Sebagai anak kecil, aku merasa keperihan yang sangat saat itu. Aku hanya merasa itu tidak benar. Ada semacam kebenaran yang dikangkangi. Kebenaran, tentang kehendak Tuhan. Di rumah opung aku berteriak dan mengamuk sejadi-jadinya. "Aku benci bapak!! Aku mau pulang ke Pakam, mak! Ayok kita pulang, mak... Aku nggak mau berdoa ke kuburan opung. Biarin dibilang durhaka. Aku nggak takut sama itu roh-roh. Dosa!! Dosa itu!!! Tuhan nggak suka, mak!..."

Dan kemarahanku itu berlangsung bertahun, aku tidak pernah lagi mau ke kampung halaman bapakku itu selama bertahun-tahun, hingga di tahun 2008, saat aku mengantarkan jenazah bapakku ke tanah. Yang hatiku lalu menaruh belas kasihan untuk penduduk di kampung itu. Aku merasa suatu getaran. Sesuatu yang aneh.

Maka aku pun bisa memahami penolakan dari orang. Tanpa alasan tertentu, orang lain bisa saja membenci kita. Dan seorang Yesus pernah mengalaminya. Alasan penolakan tentu berbeda. Aku, bisa saja ditolak karena kelakuanku, fisikku, atau mungkin karena asal-usulku, atau tentang segala prinsipku. Tapi, adakah yang lebih baik saat kita tahu bahwa tersebut keberadaan Orang yang juga pernah mengalami penolakan untuk suatu alasan yang lebih besar, dan kamu merasakan klik bahwa perasaan kamu dan Orang itu sama?

Maka aku pun terkagum dengan kesamaan tentang marifat denganNya. Seperti firasat, tetapi visualisasi yang ada sangat jelas. Mengetahui tentang suatu rahasia. Tentang suatu maksud dari orang-orang atau kejadian tertentu bahkan sebelum mereka membicarakannya. Ini mungkin tentang anugerah, tetapi aku tidak tahu pasti tentang itu. Semacam getaran perasaan, yang ditimbulkan dari hati orang lain lalu ditangkap dan dirasa.

Dan akhir-akhir ini, aku merasa bahwa aku mendapat begitu banyak kebaikan dariNya saat aku mencoba kembali mengerti hatiNya. Adalah tentang hati, adalah tentang mengenal hati. Maka aku mengenal Yesus dengan cara yang baru...

Saat perkara-perkara kecil tentang "klik" itu aku pikirkan, semakin aku merasakan banyak kesamaan denganNya. Mungkin aku terpengaruh karena Ia juga Pisces. Dan aku menanyakan lebih dalam ke hatiku. Tentang Yesus yang beberapa kali menjumpaiku dalam mimpi-mimpi masa remajaku.

Yesus, aku pikir aku mengerti hatiMu kalau memang kita memiliki banyak kesamaan. Tentang merasakan sesuatu, tentang mempertahankan prinsip, tentang rasa aneh yang bergetar di hati melihat kesusahan orang, tentang pandangan kita akan manusia.

Dan rasa-rasanya aku mengerti tentang kejengkelan hatiNya, dan segala penyebabnya. Dan rasa-rasanya aku tahu bagaimana mendapatkan hatiNya seperti aku memahami tentang diriku. Maka aku melihat ke dalam diriku. Sekali lagi tetapi tidak seperti yang sudah-sudah. Menuju bagian terdalam. Tentang kesepian yang tidak terucapkan. Tentang kepedihan yang belum terungkap dalam airmata. Tentang memahami. Tentang mengerti. Tentang mengenal. Dia. Dan aku.

Sama seperti di saat-saat kedua adikku memintakan sesuatu dariku. Tak ada yang terlintas di pikiran untuk pertama sekali selain "berikan!". Apapun akan kuberi. Namun sering aku tidak mampu memenuhinya. Hanya ada dua penyebabnya; bahwa aku tidak punya dana untuk menyediakannya, atau aku melihat bahwa yang diminta itu tidaklah terlalu penting dan dibutuhkan karena yang lama pun masih bagus dan layak.

Sama seperti di saat aku menjadi sangat jengkel, atau sangat kesal kalau adik-adikku tidak menuruti panduanku yang kupertimbangkan baik bagi masing-masing mereka. Tapi aku tidak bisa mengalami kekesalan terlalu jauh. Keduanya adik-adikku. Apapun itu, darah dan daging kami sama, berasal dari pasangan orangtua yang sama. Siapa lagi yang aku punya kini selain ibu dan adik-adikku? Tidak ada. Ikatan ini terlalu kuat, bahkan bila adik-adikku pun mungkin menjauh dariku. Pun mereka bisa juga kesal dan kecewa akanku. Saat menembakkan rantai emosi sekali lagi, aku tidak punya alasan apapun untuk tidak memikirkan mereka di malam-malamku.

Aku lalu merasakan kegembiraan yang sangat, saat aku kembali menoleh kepada Yesus, Dia yang juga Pisces. Lalu aku lantang berkata, "I think I know why I've been feeling too much about You. Kupikir aku sudah mengenalMu sejak aku dilahirkan. Kupikir aku tahu kenapa kita memiliki beberapa kesamaan. Dan kupikir aku tahu bagaimana menyenangkan hatiMu!" Yeeaahhh!... Aku memandangMu, mengenalMu sebagai Si Sulung, Yang Terlebih Dahulu, yang tentangMu aku bisa mengenalMu dengan lebih saat aku melihat diriku. Karena akan jauh lebih mudah bagiku untuk berbicara kepadaMu dalam pribadi yang aku bisa pahami sepenuhnya selayaknya aku mengenal diriku, sebagai seorang "Abang". Yeah!..

Dan kini aku tahu cara meminta dariNya, sebagaimana aku melihat cara terbaik dalam meminta. "Bang, aku sebetulnya ingin sesuatu, yang itu. Kupikir memang aku nggak terlalu membutuhkannya. Tapi kalo dipikir-pikir, mungkin bisa membantuku untuk ini dan itu. Tapi bagaimana baiknya, terserahMu aja. Aku ikut aja apa yang baik menurutMu." Dan akhir-akhir ini, aku semakin tidak mengkhawatirkan masa depanku, karena aku tahu ada yang memikirkanku, karena aku tahu ada Dia yang menginginkan yang terbaik bagiku. Sama seperti aku selalu ingin memperlakukan adik-adikku. Dan aku bisa meredam keinginan kebendaanku.

Dan kupikir, aku yang terbatas ini saja sangat ingin untuk memenuhi apa yang dimintakan adik-adikku dariku, meski sering aku tidak mampu memenuhinya. Bagaimana pula dengan Dia yang memiliki akses tidak terbatas? Tentu Dia bisa memenuhinya. Kalaupun yang kuminta tidak diberi, aku lalu tahu ada suatu alasan baik kenapa hal tersebut tidak diberikanNya, sehingga aku tidak mengalami kekecewaan untuk pemenuhan yang tertunda atau dibatalkan itu.

Dan segala kepedihan tentang penolakan. Aku merasakan kelegaan bahwa aku tidak sendiri. Sama seperti Dia, yang ditolak dimana-mana, yang penolakan itu sangat jauh lebih besar dari penolakan orang kepadaku. Aku lalu tahu bahwa sekalipun Dia bisa sesekali cuek terhadap penolakan, Dia juga sering mengalami kepedihan dan mencurahkan airmata atas mereka yang menolakNya. Dan tidak ada rasa lain selain iba kutaruh bagiNya. Dan aku menangis tentangNya.

Semakin peka hati ini untuk setiap perbuatan yang bisa saja hatiNya tidak berkenan. It's just ringing like a bell, "no, no... The Big Bro can be mad at me. Stop doing this."

And it feels so good to know that Someone is thinking about you! Bahwa setiap langkah Dia tahu. Bahwa setiap perasaan yang muncul Dia tahu. Bahwa untuk setiap rencana Dia sudah memikirkannya dengan lebih matang dan penuh perhitungan dari segala kalkulasimu. Dia tahu yang lebih baik. Dan lalu tahu bahwa tindakan-tindakan dan sikap hati tertentu bisa membuatNya jengkel dan marah, dan kamu lalu berhenti melakukannya dengan ketulusan yang meredamkan kemarahanNya. Dan terlalu baik saat tahu ada Orang yang pernah mati bagiMu! Hahai... Tidak ada yang pernah selain Yesus.

Dan adalah baik bagiku untuk mengenalNya dengan rantai hubungan yang seperti ini.

Aku semakin puas dengan hidupku. Natal kali ini, aku tidak lagi merasa tersisih dari manusia. Hidup memang jauh dari kesempurnaan yang berdasarkan standarku. Tetapi Tuhan, aku kini tahu hatiMu. Mari melanjutkan hidup. :)

Arrgghh!... Aku merasa sangat "terbakar" dan tiba-tiba merasa bisa melakukan apapun! Aduh, gawat! Ini terasa seperti kepenuhan akan rasa sayang. Encouraging it is!


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 12/13/2010 12:04:00 PM. 1 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, December 5, 2010
Social Time Bomb of Jakarta

It's always interesting to observe and analyze the social issues covering up Jakarta. This capital of Indonesia, has complex problems in terms of many things and would have gained the impacts within.

Set up your steps to humble poor kampongs and societies in Jakarta. Surrounding the skyscrappers and huge malls, these are all panorama of contradiction we may looking at. The gap is too wide to be measured. On one side, there are people who have accesses to sufficient and luxurious living, transportation, food, entertainment, education, and good jobs - though it's stressful sometimes. Contrary to this, most people spend more than half of their salary (and wages) for transportation purpose, and have no accesses to sufficient things which are mentioned above. Moreover, many of them have no access to basic standard of living, like clean water and air, well maintained environment (housing and sanitation), and education for the youth. Everything has its own fee and price as there's nothing free in Jakarta.

Considering those issues above, and observing that there have been no significant actions and regulations by the local government, whilst the govt is apparently giving full supports to the capital owners than the majority poor people, we would say that this is a problem. A serious problem for the whole Jakartans in the future. We just counter it with political and economy bias then, so the result will be, let's say, a time bomb of social issues.

So what are you expecting from me? I have no answer for this. The answer and solution themselves are on the hands of Jakartans, people and the govt. An outsider like me, can not give any full advice on how to solve and unravel this situation. I'm just conveying hope that there soon will be great actions taken forward. Put your steps ahead, Jakartans!...

Labels:

Eleazhar P. @ 12/05/2010 04:41:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, December 4, 2010
Reviving Mobile Blogging

By now, if you haven't even heard and visited a blog, you might have been living in a cave. It is serious. This new media - if I may say so, is a new powerful tool for people among the world. And I myself have been enjoying the fruit of blogging, indeed.

Okay, I won't tease nor even preach you more about blogging and its fruits. But here I'm going to tell you such a practical and easiest way to send your idea to your blog and let it be conveyed throughout the blogosphere. It is, mobile blogging.

The first thing you got to have, after a blog account for sure, is an e-mail account which support POP3 and or IMAP4. The second is the handheld (mobile phone and smartphone) which has e-mail client feature in it. Nowadays, low-end phones, like my Nokia 1680c, do support e-mail client feature. Moving up to the next step, let's configure and rocking the blog.

1. E-mail Configuration
Please make sure that your e-mail account supports POP3/IMAP4 feature. This I recommend Gmail and Cortado for free powerful e-mail providers. Then go to the setting menu and follow & activate the POP3/IMAP4.

2. Phone Configuration
Now hold your mobile phone. Configure the e-mail client setting according to the general protocol setting given by your e-mail provider. Lucky you, if your handheld support the e-mail wizard featurd. You just have to fulfill your e-mail address and password and -voila!- the rests are all configured. Oh, I forgot. Kindly make sure that you already subsbribe to data service which is provided by your nework operator.

3. Blog Configuration
The last step is to configure your blog setting. This step depends on your blog provider or CMS. If you're a Blogspot user, you just have to go to your blog dashboard and choose the "e-mail" menu, covered under Setting menu. Tap the magic word of your own, it will be your unique e-mail address to post your contents. Then... abrakadabra! Now you're ready to send posts to your blog thru your mobile handheld.

So why is it interesting for me to write this? Nothing else than to raise mind awareness (again) for people that blogging is so cheap and easy. Sending posts from mobile handhelds won't cost us much money, if we sight out that data service tariff is very cheap by now. After all, mobile handhelds are very common anyway. Bet you have it, ranging from low-end ones to Blackberry. Now you can convey your ideas and contents (pictures or even videos, depends on the blog service you're using) to the whole world right away on your finger, anytime, anywhere. Happy blogging!...

Labels: ,

Eleazhar P. @ 12/04/2010 04:40:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts