The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Friday, February 25, 2011
Tentang Orang-Orang Sulit

There a lot of things I want to tell you. Really there are. You know how a real secretive person I am. And it's hard for me to spring out the heart talk to everyone. You know I pick certain people only. And one of them is you, at the very first.

Keindahan adalah tentang serangkaian ketulusan dan kemurnian. Yang sering muncul dalam wujud kemuraman dan kekacauan, yang masing-masingnya adalah indah. Kau pun tahu tentang awan mendung di pagi hari, kegelapan dan kemuraman sesaatnya, dan hujan gerimis yang ditembaki sinar-sinar dari kunang-kunang di tepi danau pada saat senja.

And the wet grass, and the well smelt soil, the sunset at the horizon. All they separate entities and existences.

Dan tidak banyak yang lebih menakjubkan daripada dinding-tepi pagar batu di padang rumput yang menggemakan nyanyian dari laut biru kehijauan di pinggir sana. Engkaulah penggembala domba di padang, bila itu memang simbolmu dari Tanah di Sisi Timur Sungai Mynx.

For things I have never known in my period when the blossoms of spring is appointed, I would only come to you, my One. Dan butuh waktu yang sangat lama, hingga mungkin saat kita berlayar di atas sampan-sampan kecil bersendiri menuju akhir dunia, untuk aku boleh mengerti tentang bahasa-bahasa asing darimu. Beribu kata, tapi hanya satu arti dalam bahasa malaikat dan setan yang aku kuasai, sebagai bagian dari mereka yang dikenal sebagai orang-orang sulit. Kesempurnaan yang hampa, adalah tentang segala tata laksana semesta.

Demi hati, dan tautan benang di antaranya. Terjadilah.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/25/2011 05:11:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, February 21, 2011
Dengan Cara Apa Kamu Memilih Mengakhiri Hidup?

Dengan seorang kawan, saya terlibat perbincangan tentang hidup beberapa waktu lalu. Tidak lama, kami sampai pada area yang agak tidak lazim dibicarakan, tentang orang-orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ya, tentang bunuh diri.

Kawan saya itu lalu bertanya, "pilih, El. Kalau kamu memutuskan bunuh diri, dengan cara apa kamu mengakhiri hidupmu? Gantung diri, melompat dari ketinggian, memotong urat nadi, tidur di jalur lintasan kereta, menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju kencang, atau menenggak racun serangga?" Sayapun tidak berani memilih salahsatunya. Membayangkannya saja cukup ngeri. Meski memang, pemikiran untuk bunuh diri pernah terlintas beberapa kali di kepala saya di masa dulu. Tapi tidak satupun menjadi bagian yang terencanakan, hanya terlintas, hanya sebuah keinginan.

"Nggak, takut aku. Aku memang pengecut. Mau bunuh diri tapi membayangkannya aja udah buat aku mulas," kataku. Kalaupun saya memilih mati, saya pikir tidak sepatutnya untuk menyulitkan mereka yang menemukan tubuhku. Lalu bagaimana proses berikutnya? Bagaimana menguburkannya? Berapa biayanya, lalu bagaimana perasaan ibuku nanti? Adik-adikku, bukankah nanti mereka mencapku pengecut? Pertimbangan seperti ini yang selalu menghentikan niat bunuh diri, terlepas dari pertimbangan "akan dimana nanti setelah bunuh diri". Saya tidak berani melakukannya sama sekali, dan pengecutnya saya, "kalaupun aku mati dengan cara yang aneh, aku mau mati di kecelakaan pesawat aja. Terbakar, lenyap, kalaupun jatuh ke laut tidak akan diangkat kembali untuk dikuburkan secara wajar. Dan memang pengecut, sementara para penumpang di pesawat itu nantinya, mungkin belum ingin hidupnya berakhir. Hanya karena aku ada di situ. Dan aku ingin Tuhan "membunuhku" di waktu itu."

"Tapi sudahlah, keinginan mati dalam kecelakaan pesawat itu hanya angan-angan dan pikiran picik beberapa tahun lalu," kataku.

"Dan sangat mungkin, mereka yang ingin mati itu tidak pernah membicarakan masalahnya kepada orang lain. They just keep the problem by themselves," lanjut si kawan. "Exactly. Seperti kasusku, di waktu itu aku tidak punya seorangpun untuk aku boleh berbicara. Bahkan dengan orang-orang yang dengannya aku ingin masalahku selesai, aku tidak punya keberanian untuk berbicara. Karena posisiku tidak pernah benar, atau kalaupun aku mau berbicara, kesempatan itu nggak pernah ada atau langsung ditepiskan. That's it. Jadi aku diam saja dan memilih menyimpan semua masalahku hingga semuanya meledak di pikiran. Begitupun mungkin yang dihadapai mereka yang terpikir untuk bunuh diri," sambungku. Hidup memang penuh tanda tanya. Benang-benang kosmos menautkan satu peristiwa dengan peristiwa satunya lagi yang berbeda. Kadang sinar yang satu terlalu terang, yang lainnya sangat muram. Suatu rencana, suatu keterkaitan yang hanya dipahami dan bisa dijelaskan seiring berlalunya waktu. Selebihnya, tetaplah menjadi misteri.

Saya sangat kagum kepada orang-orang yang bisa memandang dan menjalani hidup dengan sebegitu positifnya, atau menjalani hidup yang sepertinya terlalu sempurna, untuk kemudian bernyanyi "Tuhan itu baik" tanpa ada kecanggungan. Yang menjadi masalah bagi saya adalah sebagian orang-orang sempurna itu yang datang kepada orang-orang tidak sempurna yang "Tuhan fungsikan untuk menjadi tanda keberadaanNya bahwa manusia memang membutuhkanNya" ini, dengan menghakimi ketidaksempurnaan hidup mereka sebagai hal yang jahat dan hina.  "Untuk sekarang, aku sudah bisa menerima sedikit demi sedikit diriku sendiri. Butuh proses. Kejadian-kejadian beberapa waktu lalu mengobrak-abrik pandanganku tentang Tuhan, manusia dan diriku sendiri. Mungkin memang  sudah jalanku untuk hidup sebagai orang yang tidak sempurna dan tertolak kebanyakan orang; tentang asal-usulku, rupaku, tuturkata dan logatku, banyak lagi, mungkin tingkah laku dan perkataanku. Akupun tidak bisa memaksa dunia berjalan seperti yang aku bayangkan dalam pola idealku sebagai sebuah utopia. Membuat frustrasi, memicu pemikiran untuk bunuh diri," kataku. "Iya, setiap orang punya perannya sendiri-sendiri. Kita bisa menjadi tokoh protagonis atau antagonis bagi seseorang, atau menjadi cameo - peran numpang lewat dalam hidup seseorang." Entah darimana si kawan ini mencaplok kata-kata tentang cameo itu.

"Ngomong-ngomong, itu bukan tindakan pengecut kalau aku bilang. Itu hanya upaya mencoba berpikir waras," tambahnya.

So you, apa pandanganmu tentang bunuh diri? Has this ever been thought in your mind?

Photo by: Yosepina Purba's.
Model: Yosepina Purba.


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 2/21/2011 07:44:00 PM. 4 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, February 20, 2011
Bencinya Aku Terhadap Bahasa Inggris

Selama beberapa waktu ini saya menuai banyak perkataan dari orang-orang di sekitar saya tentang kemampuan saya berbahasa Inggris, yang bagi saya tidak ada istimewanya sama sekali. Sangat biasa, karena hampir kebanyakan orang sudah mahir berbahasa itu. Dan sering saya bertanya kepada diri saya sendiri, "apa bagusnya saya?"

Sementara yang sebenarnya ada ialah hubungan "love-and-hate" dengan bahasa Tanah Anglo itu.

"Love". Karena sepanjang saya mengenyam bangku pendidikan formal, terutama dimulai dari masa SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), mata pelajaran Bahasa Inggris ini telah banyak membantu nilai rata-rata saya di rapor sekolah, bersamaan dengan mata pelajaran umum dan sosial. Jujur, saya tidak begitu baik di bidang eksakta. Dan hal ini sangat menjaga posisi saya, minimal selalu berada di sepuluh besar, atau tiga besar bila kompetisinya tidak terlalu ketat (sekedar catatan, saya tidak pernah masuk sepuluh besar selama di kelas dua SLTP, karena kompetisi yang sangat ketat di kelas unggulan... Terpujilah ahli fisika! Hahaha... :) ~)

Hingga saya lalu benar-benar bersyukur, dan terheran akan seperti apa saya bila mata pelajaran bahasa asing itu tidak pernah saya pelajari, praktekkan, dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Di sisi sebelahnya, adalah "Hate". Sungguh sisi ini adalah yang sebenarnya mengambil porsi terbesar. Ada banyak penyesalan dan ketakutan.

Sungguh saya benar-benar menyesal bila mengingat masa-masa saat saya harus mengajari adik-adikku semua mata pelajaran sekolah kepada mereka. Sungguh saya bukan orang yang penyabar, dan benar-benar tertekan saat itu dengan kondisi keluarga saya. Dan adalah saya menjadi seorang abang yang sangat buruk, yang hampir setiap malamnya adalah malam-malam mengajari mereka dengan nada ketus dan gusar. Dan kalau diri saya sekarang ini bisa menembus waktu dan menemui saya di masa lalu itu, sangat ingin saya menghentikan diri saya, memeluknya, dan menyuruhnya menenangkan diri dahulu. Karena segala yang menjadi output saya waktu itu sudah membuat ketakutan bagi adik-adikku. Dan enggannya mereka untuk belajar dariku saat itu, berimbas kepada kemampuan mereka menguasai Bahasa Inggris juga...

Butuh waktu bertahun bagi adik-adikku untuk mengumpulkan keberanian berbahasa itu. Dan sungguh saya menyesal telah menimbulkan trauma itu pada mereka. Dan saya hanya bisa "encourage" mereka dan kawan-kawan yang datang kepada saya dan mengakui kesulitan dalam hal ini; berbicaralah, jangan terlalu pedulikan grammar, ada kata yang tidak tahu, gunakan saja Bahasa Indonesia. Saya sangat menyesal.

"Hate" yang lain adalah kenyataan bahwa  cukup banyak orang yang "mau berinteraksi" dengan saya di sekolah -terutama di masa SLTP hingga SMU-, hanya demi mendapat contekan tugas Bahasa Inggris. Hanya bila ada yang berkaitan dengan Bahasa Inggris, lalu saya didekati. Seusainya, seperti dianggap tidak pernah dikenal meski sekelas. Pertemanan sebegitu murahnya di masa itu. Dan saya masih bisa mengingat mereka. Hahaha...

Ya, cukup menyedihkan memang, setidaknya menjadi pelajaran bagi saya. Tapi sesungguhnya bukan kesalahan dari teman-teman sekolah saya itu. Saya pikir ada alasan yang lebih kompleks dan lebih besar. Terutama bagi kami yang besar di kota kecil dan dibatasi untuk bermimpi besar; efek dari media sangatlah besar dan dorongan dari tenaga pendidik untuk kami boleh menguasai kemampuan berbahasa asing bisa dikatakan minim. Dari sisi media, saya mengingat jelas bagaimana lagu seperti milik Zamrud, "Asal British" telah menanamkan imagi negatif tentang Bahasa Inggris sebagai suatu keangkuhan dan diasosiasikan dengan hal-hal tidak baik. Atau peran antagonis "Tante Anita/America" di Sinetron Tersanjung yang sukses menancapkan imagi penjahat angkuh bagi mereka yang mampu berbahasa Inggris. Sangat mengerikan untuk dibayangkan bagaimana impresi-impresi tersebut untuk menjadi acuan bagi kebanyakan kami.

Dan tenaga pendidik di generasi itu memang juga sepertinya tidak bisa berbuat banyak untuk mendorong penggunaan bahasa tersebut, ataupun memancing dan menggunakan ide-ide kreatif agar sesi pelajaran menjadi sangat menyenangkan, dan lalu meruntuhkan imagi negatif yang telah dibangun di pikiran kami. Sesuatu yang hanya mungkin didapati di sekolah swasta yang sangat bagus. Tapi tetap saya berpikir bahwa hal tersebut bukanlah hal yang mahal untuk dilakukan, meski untuk di sekolah-sekolah negeri yang pernah saya duduki itu.  Terlebih karena memang mata pelajaran Bahasa Inggris ini tidak diunggulkan menjadi "mata pelajaran hidup dan mati" seperti matematika dan ilmu-ilmu eksakta lain. Sementara hidup tidak melulu tentang kepastian. Kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris juga penting.

Untuk menutup post ini, saya beri sedikit tips untuk menguasai Bahasa Inggris (juga bahasa asing lainnya), tentunya dengan "Cara Ele" (memaksimalkan yang minim):
1). Berbicaralah. Jangan terlalu pedulikan tentang grammar.
2). Menulislah, lalu baca tulisan dalam bahasa asing yang kamu tulis itu. Lalu coba koreksi sendiri, selanjutnya kamu bisa meminta koreksi sebagai pendapat kedua, dari orang yang kamu anggap lebih mahir.
3). Tontonlah tayangan berbahasa Inggris yang tidak memiliki subtitle/terjemahan. terjemahannya ada, tutupi bagian tersebut.

Semoga post ini berguna! :D

Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/20/2011 04:36:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, February 19, 2011
Kematian. Perayaan Kehidupan.

"Kuburannya bagus itu, Bu Inge," said he. "Iya, ini (dibuat menyerupai) makam orangtuaku", said she.

Bahwa kematian selayaknya memang menjadi sebuah perayaan, dari permulaan kehidupan yang baru.
Hanya sering, perpisahan sementara itu memang terlalu menyedihkan.

How are you our departed ones?...

------------

A Facebook note on Feb 9 2011...

Lafemme Lena and Inge Tiwi like this.
Inge Tiwi sweet notes, thanks Cok :)
He should be happier now...aku aja yg lagi mengasihani diri sendiri, loosing my root is the hardest.
February 9 at 12:59pm · Like
Ele Azhar Purba Still hard it is for me, too, Bu Inge.
February 9 at 1:07pm · Like
Inge Tiwi have you lost you root as well ? when ?
February 9 at 1:10pm · Like
Ele Azhar Purba ‎3 years ago. My Leo man.
February 9 at 1:10pm · Like
Inge Tiwi I c, hope both our men are doing well and happy up there :)
February 9 at 1:18pm · Like
Kie Tarie hey me too dont forget me hehehe mereka di atas sana lagi curhat2 an dan kangen denag kita2 yang masiy didunia yah ..in the end kita akan berkumpul kembali dengan org yang kita sayangi untuk waktunya still be mistery yang penting semangat maju terus pantang mundur wow keren !!(apa coba) Xixixixi
February 9 at 1:51pm · Like
Ele Azhar Purba hahaha... ada tiga kita.
February 9 at 1:57pm · Like
Inge Tiwi mereka lagi gosipin kita yg bandel2 ini, xixixi.....
February 9 at 2:19pm · Like

Labels:

Eleazhar P. @ 2/19/2011 08:15:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, February 14, 2011
The Horizon and The End of The World

I am now rarely go on boat or ship, in a search of solitude, in a search of sunset.

If I tell you that, then it's now rare to see the horizon, that separates this sea and the sky above. And that clearly sets our eyes to be the prettiest liars ever. "Look! There's no future that you toward to the horizon. It's finally reaching to to the end of the world," said the eyes.

But if you do mind, you will just easily sail to that place named The End of The World. Not that we're living in the round shaped planet, Earth, but if this is truly a flat one, there must a be journey afterward. Perhaps, it's another better world, or it can be the opposite as well.

Saya tidak merencanakan untuk berlayar kesana, tetapi kapal yang saya tumpangi mengikut jalurnya sendiri ke tempat itu. Suka atau tidak, selalu kita tidak punya pilihan. Meski kita berkeras bahwa memilih adalah bukan suatu pilihan, sekalipun.

The ship you're sailing on can sail faster or even slower, as all are unique ones.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/14/2011 05:47:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Friday, February 11, 2011
Five Reasons to Choose an Android Tablet Over an iPad

A very nice post at LifeHack, on why an Android tablet is far way better option to purchase & use than an iPad. You can read the post here.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/11/2011 07:04:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, February 7, 2011
To Think Out Of The Box, Stay To Be Inside Please...

I think I'm pretty lucky that there were online courses I had, pertaining to such thing named Six Sigma. Well, the company I work for was providing the courses of course. It was good actually, to redefine processes on all aspects, and to drive them for better growth within the measureable matters in the organisation.

Not that I'm no way interested in this thing. Really I'm interested in it. But somehow there are points in the processes of figuring out the critical points are way that complicated, for me personally.

I was then thinking of the fun thing to do this. Simply I play with the ability of empathy in me. I think that this has never been done by me before, for specific reasons. Till that day, my empathy was easily going poured out to other people, rather not ever pouring it out to myself. I used to think of the others', then I myself to be the last one to be left behind. Yet to say, that I was no way to think about myself; playing martyr and get pity to all by myself to me alone. Argh, Pisces me!

This would be simply easy. This is my game. I've been playing it at the very intensive in my life. Damn! Hahaha...

Now I'm simply shooting out myself as an independent form out there, to gently see into myself of who is in the box, and figuring out how to define the problems I face and to do the needful things afterward.

I think I'm now understanding the true concept of thinking outside of the box, whilst we're truly have to stay inside the box. Argh, Ele!... :P

Labels:

Eleazhar P. @ 2/07/2011 12:17:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, February 6, 2011
Two Minds in A Head

The ringing alarm in the morning.
Siapakah aku di pagi ini? Tuhan, Kau sudah melewati kamarku pagi ini kah?

A fifteen minutes on the bed.
Kenapa setiap pagi aku harus merasa kecil? Tentang luka ini. Tentang peristiwa-peristiwa itu. Masa lalu.

The newly rising warm sun.
Mari melanjutkan hidup. Masih ada orang-orang yang layak kuperjuangkan hari ini.

The morning crowd, the massive traffic jam.
Mungkin baik bagiku menguping sedikit kabar orang-orang pagi ini.

The same picture of different persons.
Astagaaa... Kenapa mereka berbeda? Kenapa dengan yang ini ada kemampuan, tetapi dengan yang itu hanya ada kehancuran yang terasa.

The more empathy, the more pain.
Kamu mengingatkannya pada seseorang. Ini tentang seseorang. Ia itu seseorang.

This acceptance is the pain itself.
Tentang sekelibat cahaya. Tentang luka jiwa.

Laughing. Let's laugh a lot. A lot!..
Ya, mari tertawa. Sekeras dan selepas mungkin.

This is the right time. The singing laptop, the yelling mobile phone, the shining music player.
Aku meminta supaya kau menghilang dari hidupku. Tetapi ini dan itu hanya mengingatkanku tentangmu.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/06/2011 05:42:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, February 5, 2011
Deactivating Facebook

I think I need more of my personal time, to be alone, in the fully & truly solitude. Hide away from friends for some time. Yet to communicate verbally and using emotions as I used to do.

Bye Facebook.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/05/2011 07:47:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Tuesday, February 1, 2011
Siapkah Dikau Tentangku?

Tentang dikau, yang berniat memberi hati. Tentang dikau, yang aku takutkan aku akan menyakitimu. Bukan. Bukan aku tidak menghargai ketulusan sebuah hati. Bukan pula aku tidak pernah mencoba untuk menautkan milikku kepada hati itu. Aku, sudah mencoba. Aku sudah.

Sungguh bukan perkara mudah, bila diri dikaruniakan hati yang terlalu peka, yang di masa-masa awal permulaan kehidupanku, sudah terbiasa untuk dihancurkan, untuk kemudian diperbaiki, untuk kemudian dihancurkan lagi.

Ini adalah hati yang sulit. Demikian aku dikenal menjadi anak, kawan, orang yang sulit. Sulit untuk dijamah, sulit untuk dibaca. Namun sungguh aku merasa tidak sesulit itu untuk menjadi manusia.

Sungguh aku menghargai dikau. Seutuhnya. Bagaimana mungkin aku tidak menghargai orang yang mau duduk bersamaku, menawarkan diri untuk mendengarkan hatiku, sementara orang-orang lain sebelumnya menjauh dan lari dariku?

Dikau terlalu baik. Tetapi lebih aku melihatmu seperti tokoh antagonis bagi diriku. Dikau sangat bersinar, kegembiraan mengikuti jejak langkahmu, kebaikan menyertaimu. Dikau bahkan hampir sempurna, dalam banyak hal. Tidak bercacat cela dalam setiap kata yang keluar dari mulutmu, atau laku perbuatanmu.

Aku hanya takut bila perjalanan hidupku hanya akan merusakkan dirimu. Terutama karena tujuan hidupku adalah mengumpulkan airmata manusia dan mengembalikannya kepada Dia Yang Mencipta Manusia. Apakah dikau siap mengenal dariku tentang duka, airmata, kegagalan, penolakan, pengkhianatan, kehancuran hati, ketakutan akan masa depan, atau merasakan penghakiman dari sesamamu atau kerdilnya diri di hadapan Tahta Semesta? Aku takut semuanya akan mengubahkanmu. Aku tidak ingin dikau ikut menyertai perjalanan berikutnya dalam hidupku.

Janganlah mencoba sama sepertiku. Tidak baik bagimu. Tidak baik bagi sesamamu.

Dikau pun mempunyai tugas, misi tersendiri dalam hidupmu. Aku tidak akan mengatakannya padamu, karena kelak dikau akan menemukannya.

Menjauhlah dariku.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/01/2011 05:06:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts