The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, February 20, 2011
Bencinya Aku Terhadap Bahasa Inggris

Selama beberapa waktu ini saya menuai banyak perkataan dari orang-orang di sekitar saya tentang kemampuan saya berbahasa Inggris, yang bagi saya tidak ada istimewanya sama sekali. Sangat biasa, karena hampir kebanyakan orang sudah mahir berbahasa itu. Dan sering saya bertanya kepada diri saya sendiri, "apa bagusnya saya?"

Sementara yang sebenarnya ada ialah hubungan "love-and-hate" dengan bahasa Tanah Anglo itu.

"Love". Karena sepanjang saya mengenyam bangku pendidikan formal, terutama dimulai dari masa SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), mata pelajaran Bahasa Inggris ini telah banyak membantu nilai rata-rata saya di rapor sekolah, bersamaan dengan mata pelajaran umum dan sosial. Jujur, saya tidak begitu baik di bidang eksakta. Dan hal ini sangat menjaga posisi saya, minimal selalu berada di sepuluh besar, atau tiga besar bila kompetisinya tidak terlalu ketat (sekedar catatan, saya tidak pernah masuk sepuluh besar selama di kelas dua SLTP, karena kompetisi yang sangat ketat di kelas unggulan... Terpujilah ahli fisika! Hahaha... :) ~)

Hingga saya lalu benar-benar bersyukur, dan terheran akan seperti apa saya bila mata pelajaran bahasa asing itu tidak pernah saya pelajari, praktekkan, dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Di sisi sebelahnya, adalah "Hate". Sungguh sisi ini adalah yang sebenarnya mengambil porsi terbesar. Ada banyak penyesalan dan ketakutan.

Sungguh saya benar-benar menyesal bila mengingat masa-masa saat saya harus mengajari adik-adikku semua mata pelajaran sekolah kepada mereka. Sungguh saya bukan orang yang penyabar, dan benar-benar tertekan saat itu dengan kondisi keluarga saya. Dan adalah saya menjadi seorang abang yang sangat buruk, yang hampir setiap malamnya adalah malam-malam mengajari mereka dengan nada ketus dan gusar. Dan kalau diri saya sekarang ini bisa menembus waktu dan menemui saya di masa lalu itu, sangat ingin saya menghentikan diri saya, memeluknya, dan menyuruhnya menenangkan diri dahulu. Karena segala yang menjadi output saya waktu itu sudah membuat ketakutan bagi adik-adikku. Dan enggannya mereka untuk belajar dariku saat itu, berimbas kepada kemampuan mereka menguasai Bahasa Inggris juga...

Butuh waktu bertahun bagi adik-adikku untuk mengumpulkan keberanian berbahasa itu. Dan sungguh saya menyesal telah menimbulkan trauma itu pada mereka. Dan saya hanya bisa "encourage" mereka dan kawan-kawan yang datang kepada saya dan mengakui kesulitan dalam hal ini; berbicaralah, jangan terlalu pedulikan grammar, ada kata yang tidak tahu, gunakan saja Bahasa Indonesia. Saya sangat menyesal.

"Hate" yang lain adalah kenyataan bahwa  cukup banyak orang yang "mau berinteraksi" dengan saya di sekolah -terutama di masa SLTP hingga SMU-, hanya demi mendapat contekan tugas Bahasa Inggris. Hanya bila ada yang berkaitan dengan Bahasa Inggris, lalu saya didekati. Seusainya, seperti dianggap tidak pernah dikenal meski sekelas. Pertemanan sebegitu murahnya di masa itu. Dan saya masih bisa mengingat mereka. Hahaha...

Ya, cukup menyedihkan memang, setidaknya menjadi pelajaran bagi saya. Tapi sesungguhnya bukan kesalahan dari teman-teman sekolah saya itu. Saya pikir ada alasan yang lebih kompleks dan lebih besar. Terutama bagi kami yang besar di kota kecil dan dibatasi untuk bermimpi besar; efek dari media sangatlah besar dan dorongan dari tenaga pendidik untuk kami boleh menguasai kemampuan berbahasa asing bisa dikatakan minim. Dari sisi media, saya mengingat jelas bagaimana lagu seperti milik Zamrud, "Asal British" telah menanamkan imagi negatif tentang Bahasa Inggris sebagai suatu keangkuhan dan diasosiasikan dengan hal-hal tidak baik. Atau peran antagonis "Tante Anita/America" di Sinetron Tersanjung yang sukses menancapkan imagi penjahat angkuh bagi mereka yang mampu berbahasa Inggris. Sangat mengerikan untuk dibayangkan bagaimana impresi-impresi tersebut untuk menjadi acuan bagi kebanyakan kami.

Dan tenaga pendidik di generasi itu memang juga sepertinya tidak bisa berbuat banyak untuk mendorong penggunaan bahasa tersebut, ataupun memancing dan menggunakan ide-ide kreatif agar sesi pelajaran menjadi sangat menyenangkan, dan lalu meruntuhkan imagi negatif yang telah dibangun di pikiran kami. Sesuatu yang hanya mungkin didapati di sekolah swasta yang sangat bagus. Tapi tetap saya berpikir bahwa hal tersebut bukanlah hal yang mahal untuk dilakukan, meski untuk di sekolah-sekolah negeri yang pernah saya duduki itu.  Terlebih karena memang mata pelajaran Bahasa Inggris ini tidak diunggulkan menjadi "mata pelajaran hidup dan mati" seperti matematika dan ilmu-ilmu eksakta lain. Sementara hidup tidak melulu tentang kepastian. Kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris juga penting.

Untuk menutup post ini, saya beri sedikit tips untuk menguasai Bahasa Inggris (juga bahasa asing lainnya), tentunya dengan "Cara Ele" (memaksimalkan yang minim):
1). Berbicaralah. Jangan terlalu pedulikan tentang grammar.
2). Menulislah, lalu baca tulisan dalam bahasa asing yang kamu tulis itu. Lalu coba koreksi sendiri, selanjutnya kamu bisa meminta koreksi sebagai pendapat kedua, dari orang yang kamu anggap lebih mahir.
3). Tontonlah tayangan berbahasa Inggris yang tidak memiliki subtitle/terjemahan. terjemahannya ada, tutupi bagian tersebut.

Semoga post ini berguna! :D

Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/20/2011 04:36:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives