The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, February 21, 2011
Dengan Cara Apa Kamu Memilih Mengakhiri Hidup?

Dengan seorang kawan, saya terlibat perbincangan tentang hidup beberapa waktu lalu. Tidak lama, kami sampai pada area yang agak tidak lazim dibicarakan, tentang orang-orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ya, tentang bunuh diri.

Kawan saya itu lalu bertanya, "pilih, El. Kalau kamu memutuskan bunuh diri, dengan cara apa kamu mengakhiri hidupmu? Gantung diri, melompat dari ketinggian, memotong urat nadi, tidur di jalur lintasan kereta, menabrakkan diri ke kendaraan yang melaju kencang, atau menenggak racun serangga?" Sayapun tidak berani memilih salahsatunya. Membayangkannya saja cukup ngeri. Meski memang, pemikiran untuk bunuh diri pernah terlintas beberapa kali di kepala saya di masa dulu. Tapi tidak satupun menjadi bagian yang terencanakan, hanya terlintas, hanya sebuah keinginan.

"Nggak, takut aku. Aku memang pengecut. Mau bunuh diri tapi membayangkannya aja udah buat aku mulas," kataku. Kalaupun saya memilih mati, saya pikir tidak sepatutnya untuk menyulitkan mereka yang menemukan tubuhku. Lalu bagaimana proses berikutnya? Bagaimana menguburkannya? Berapa biayanya, lalu bagaimana perasaan ibuku nanti? Adik-adikku, bukankah nanti mereka mencapku pengecut? Pertimbangan seperti ini yang selalu menghentikan niat bunuh diri, terlepas dari pertimbangan "akan dimana nanti setelah bunuh diri". Saya tidak berani melakukannya sama sekali, dan pengecutnya saya, "kalaupun aku mati dengan cara yang aneh, aku mau mati di kecelakaan pesawat aja. Terbakar, lenyap, kalaupun jatuh ke laut tidak akan diangkat kembali untuk dikuburkan secara wajar. Dan memang pengecut, sementara para penumpang di pesawat itu nantinya, mungkin belum ingin hidupnya berakhir. Hanya karena aku ada di situ. Dan aku ingin Tuhan "membunuhku" di waktu itu."

"Tapi sudahlah, keinginan mati dalam kecelakaan pesawat itu hanya angan-angan dan pikiran picik beberapa tahun lalu," kataku.

"Dan sangat mungkin, mereka yang ingin mati itu tidak pernah membicarakan masalahnya kepada orang lain. They just keep the problem by themselves," lanjut si kawan. "Exactly. Seperti kasusku, di waktu itu aku tidak punya seorangpun untuk aku boleh berbicara. Bahkan dengan orang-orang yang dengannya aku ingin masalahku selesai, aku tidak punya keberanian untuk berbicara. Karena posisiku tidak pernah benar, atau kalaupun aku mau berbicara, kesempatan itu nggak pernah ada atau langsung ditepiskan. That's it. Jadi aku diam saja dan memilih menyimpan semua masalahku hingga semuanya meledak di pikiran. Begitupun mungkin yang dihadapai mereka yang terpikir untuk bunuh diri," sambungku. Hidup memang penuh tanda tanya. Benang-benang kosmos menautkan satu peristiwa dengan peristiwa satunya lagi yang berbeda. Kadang sinar yang satu terlalu terang, yang lainnya sangat muram. Suatu rencana, suatu keterkaitan yang hanya dipahami dan bisa dijelaskan seiring berlalunya waktu. Selebihnya, tetaplah menjadi misteri.

Saya sangat kagum kepada orang-orang yang bisa memandang dan menjalani hidup dengan sebegitu positifnya, atau menjalani hidup yang sepertinya terlalu sempurna, untuk kemudian bernyanyi "Tuhan itu baik" tanpa ada kecanggungan. Yang menjadi masalah bagi saya adalah sebagian orang-orang sempurna itu yang datang kepada orang-orang tidak sempurna yang "Tuhan fungsikan untuk menjadi tanda keberadaanNya bahwa manusia memang membutuhkanNya" ini, dengan menghakimi ketidaksempurnaan hidup mereka sebagai hal yang jahat dan hina.  "Untuk sekarang, aku sudah bisa menerima sedikit demi sedikit diriku sendiri. Butuh proses. Kejadian-kejadian beberapa waktu lalu mengobrak-abrik pandanganku tentang Tuhan, manusia dan diriku sendiri. Mungkin memang  sudah jalanku untuk hidup sebagai orang yang tidak sempurna dan tertolak kebanyakan orang; tentang asal-usulku, rupaku, tuturkata dan logatku, banyak lagi, mungkin tingkah laku dan perkataanku. Akupun tidak bisa memaksa dunia berjalan seperti yang aku bayangkan dalam pola idealku sebagai sebuah utopia. Membuat frustrasi, memicu pemikiran untuk bunuh diri," kataku. "Iya, setiap orang punya perannya sendiri-sendiri. Kita bisa menjadi tokoh protagonis atau antagonis bagi seseorang, atau menjadi cameo - peran numpang lewat dalam hidup seseorang." Entah darimana si kawan ini mencaplok kata-kata tentang cameo itu.

"Ngomong-ngomong, itu bukan tindakan pengecut kalau aku bilang. Itu hanya upaya mencoba berpikir waras," tambahnya.

So you, apa pandanganmu tentang bunuh diri? Has this ever been thought in your mind?

Photo by: Yosepina Purba's.
Model: Yosepina Purba.


Ele Purba
Sent from my iPod, limited connectivity.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 2/21/2011 07:44:00 PM.

4 Comments:

"Ele, makasih sudah men-tag aku.... Tulisan yang membuat aku berpikir juga. Aku akui aku pernah ingin mati. Tapi tidak berniat bunuh diri, hanya ingin Tuhan mencabut nyawaku saat itu juga. Ya seperti orang-orang lain, perasaan ingin mati itu disebabkan aku melihat hidup terasa begitu berat dan aku sudah tidak sanggup lagi menjalaninya.
Aku pikir itu wajar. Sama seperti ketika kita berjalan di jalanan mendaki dan merasa sangat lelah. Rasanya ingin berhenti saja dan tidak perlu meneruskan lagi. Tetapi dorongan semangat dari sesama pendaki dan juga keinginan hati untuk melihat keindahan di atas sana (setelah melewati semua kesulitan ini) lah yang membuat kita tetap bertahan.

Fotomu di atas membuatku terkagum-kagum. "Dapat dari mana foto model begini?" Ternyata bikin sendiri ya.....hahaha."
 
"@Mbak Dewi. Sejenis mind-provoking.. :) Ya, mungkin memang hampir semua orang pernah berpikir yang sama, ingin meninggalkan masalah, dan lingkaran manusia di sekitar kita, memang sangat mendukung utk mencegah keinginan tsb.

Tentang foto, modelnya itu adik kandungku, mbak. :)
Hobi barunya memang spt itu.
----
Komentar lain di Facebook:
- Rama Anastasia Hutasoit sedikitpun..ele..aku..ga..pernah..berniat..bunuh..diri..karena..seberapa..beratpun..beban..hidup..harus..dijalani..karena..dgn..begitu..kita.tahu..seberapa..kuat..kita..mampu..menaklukkan..hidup!!thanks..ya..udah..ditagged..aku..didlm..blogmu..hehe
15 hours ago · Like · 1 person
Juli Huang yupz....justru orang yang diam dan tidak membicarakan niatan untuk bunuh diri adalah orang yang paling berpotensi untuk melakukannya. hummmm....td aku br aj bicara ttg bunuh diri ya? berarti aku masih cukup sadar diri untuk tidak melakukannya..

nice writing, el....love this one... ^^
15 hours ago · Like · 1 person"
 
  • On February 23, 2011 at 1:39 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "hmm...bunuh diri???kalau putus asa atau mengalami kekecewaan yang berat mungkin akan mempunyai pikiran seprti itu...tapi di sisi lain kita harus bisa berpikir positif,,,buat apa ada Tuhan kalau kita tidak bisa meminta tolong ke Dia,,,jadi gak usah lah ada pikiran semacam itu di benak kita,,hehhe masih ada Tuhan Le...

    Bagus aksi si Yosefine ya jadi model di rel kereta api hehehh

    thanks udah ngetaq aku Le..
    Nice writting,,,"
     
    "Vera, thanks for commenting and sharing your thought, and experience with God."
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives