The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, April 18, 2011
Menjembatani Empati dan Memenangkan Hidup Berdampingan

Sering sekali dalam banyak titik di hidupku dulu, aku merasakan kesulitan untuk bisa mengungkapkan dan menceritakan segala keluhkesah dan mencari solusi untuk setiap pemecahan masalah. Bisa jadi, karena hampir tidak ada orang yang bisa menjadi pendengar yang baik, dan malah hanya menghakimi, atau karena memang keterbatasanku untuk mengungkapkan secara verbal hal-hal yang menjadi beban pikiranku.

Orang-orang terdekatku, imbasnya, sering menganggap aku "aneh". Aneh karena seringkali tampil sebagai orang yang ceria seakan tanpa masalah, tetapi lebih sering muncul sebagai orang yang pendiam. Well, ya, aku memang mendiamkan dan memilih bungkam kalau memang aku mempunyai masalah. Sama halnya dengan laki-laki kebanyakan, kami sering tidak punya opsi untuk memberitahukan isi hati kami.

Karena beberapa alasan, kami memilih diam. Bisa jadi, yang terutama adalah masalah kultur yang mengkultuskan laki-laki sebagai pribadi yang kuat dan harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dari kecil, kami diminta untuk mempersiapkan diri untuk sesegera mungkin menjadi dewasa. "Masa' begitu saja nggak bisa? Laki-laki harus bisa kuat," begitu kata orangtua kebanyakan. Padahal, kalau kami boleh memilih, kami meminta untuk dibimbing dahulu, jangan langsung melepas kami begitu saja tanpa persiapan... Tidak jarang, banyak laki-laki dewasa sekarang ini yang tidak ubahnya orang yang sama sekali nggak siap untuk menjadi dewasa, karena pembekalan yang seadanya atau malah sangat kurang di masa-masa perkembangan emosi.

Alasan kedua, kami pun enggan untuk bercerita kepada teman. Gengsi untuk membicarakan masalah kepada teman wanita, karena pemikiran awal kami untuk kemudian dianggap sebagai manusia lemah oleh perempuan, dan banyak perempuan yang suka menggosipkan masalah kami kepada teman-temannya, meski awalnya perempuan tersebut nggak berniat sama sekali untuk bergosip. Then say it as a big NO NO. Lebih susah lagi untuk mempertimbangkan berbicara kepada kawan sesama laki-laki, karena respon yang didapat bisa jadi lebih "parah" dan meruntuhkan harga diri. Belum akan menuntaskan cerita dan mencari penyelesaian masalah, seringkali sanggahan yang menggampangkan masalah akan terlebih dahulu kami dengar. Laki-laki yang dianggap lemah oleh sesama laki-laki, rasa kejatuhan harga diri terasa lebih sakit. So it's not a good option at all.

Terasa seperti membuat perbedaan jenis kelamin terasa kontras, kan? No. Ini memang hanya masalah per individu, tapi kebanyakan kasus menjadikan anggapan-anggapan tersebut mejadi hal yang... sepertinya sangat awam dan umum. Dan memang, sulit sekali bagi kami, laki-laki, untuk menuntaskan bagian jiwa yang sering berteriak agar kami sedikit saja bisa merasakan kelegaan dari himpitan dan segala beban. Kecuali, bahwa ada orang yang benar-benar merasa bahwa dia bisa hidup tanpa orang lain. Baiklah, tinggal saja di hutan kalau begitu...

Saya pernah mengatakan bahwa, hidup akan lebih baik ketika empati ada.

Berempati adalah hal yang mampu seseorang untuk mau mendengarkan masalah orang lain, merasakan masalah tersebut seakan menjadi bagian dari masalahnya sendiri, menutup rapat pembicaraan tersebut dari pihak luar, dan mencarikan solusi dari masalah tersebut, atau setidaknya untuk menjadi pendengar yang baik saja adalah hal yang sangat baik, dan lebih dari cukup.

Dan berempati adalah hal yang sangat langka di masa sekarang. Sikap orang yang semakin mementingkan kepentingannya sendiri sudah membuat diri semakin tidak peka dengan masalah orang lain, atau setidaknya meluangkan waktu untuk melihat lingkungannya dan mendengar siapa yang kira-kira dalam himpitan masalah hidup. Hal yang sangat mahal.

Sebegitu susahnya? Apakah memang harus menceritakan masalah kita kepada orang lain?
Tidak, tidak susah. Kalau memang terlahir dan besar dimana budaya berkomunikasi dengan baik dan berempati itu sendiri menjadi bagian gaya hidup, tentu menjalani hidup bukanlah hal yang rumit untuk dijalani. Tetapi saat kebanyakan orang di masa sekarang yang menjadi bagian dari generasi terhilang dan seperti tidak menjadi manusia seutuhnya (banyak bagian dari esensinya sebagai manusia sudah direnggut), menjalani hidup adalah hal yang sulit dan kita membutuhkan orang lain untuk menjadi kawan dalam menyelesaikan perjalanan hidup, yang memang tidak selalu mulus, tapi kita bisa tenang dan merasa tidak sendirian dalam menjalaninya.

Karena itu, kebanyakan kita membutuhkan orang lain. Dan dia atau mereka adalah manusia-manusia penuh empati yang bisa berwujud sebagai orangtua, saudara, abang-kakak-adik, kawan, rekan, yang kita tidak pernah kira sebelumnya, karena kita belum pernah membuka hati sebelumnya untuk masalah-masalah mereka. untuk berempati kepada mereka sebelumnya. Yes, people. Untuk berempati tidak bisa kita mengharapkan orang lain untuk terlebih dahulu berempati kepada kita, tetapi kita lah yang memulainya terlebih dahulu. Saat kita membuka pintu gerbang hati untuk orang lain, saat itulah empati ada, terkoneksi, dan hidup yang lebih baik semoga terwujud.

Aku? Aku pun membutuhkan orang lain. Aku sangat beruntung untuk hal tersebut sekarang ini karena aku menemukan orang-orang yang kepada mereka aku bisa menceritakan masalah saya dan mereka membantu mencarikan solusinya. Demikianpun denganku, aku akan meluangkan waktuku untuk mendengarkan masalah mereka tanpa menyanggahnya dan membantu mencarikan solusi bila memang diperlukan. Dan lebih dari duapuluh tahun hidup yang kujalani untuk kemudian menemukan orang-orang yang dekat denganku secara emosi tersebut.

Aku sudah melewati masa-masa sulit hidupku dengan hanya lebih banyak menuangkan keluhkesahku dalam simbol-simbol rahasia dan tidak menemukan solusi selain hanya waktu yang secara bertahap menyembuhkan luka-luka jiwa. Dan empati dari orang-orang di sekitarku telah menghangatkan hatiku untuk menjalani hidup dengan lebih kuat. Karena dari mereka aku tahu ada lebih banyak orang yang hidupnya tidak lebih baik bagiku, atau menjalani hidup dengan lebih keras, tetapi mereka bisa berhasil mengatasi segala ketakutan dan kekhawatiran hidup mereka. Dan di sini tercipta proses belajar, mencari solusi, dan mengarahkan potensi-potensi dan materi untuk mengatasi masalah-masalah yang sebenarnya hanya sebesar pemikiran kita! :D

Mari buka mata, hati, dan telinga untuk orang lain. Karena hidup akan lebih baik ketika empati ada. :)

Labels:

Eleazhar P. @ 4/18/2011 06:18:00 PM.

2 Comments:

  • On April 19, 2011 at 12:27 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "Ele,,post yang bagus :)
    Empati???iya benar sekali, sekarang kebanyakan orang tidak peduli kepada orang lain mementingkan diri sendiri, kadang aku juga merasa takut, tidak ada seorangpun yang bisa mendengar keluhanku, kalaupun ada itu hanya sebatas dengar tapi tidak ada solusi, itu sebabnya masalah kadang dipendam sendiri walapun aku tahu itu tidak bagus.
    Numpang share di facebook yaa :)"
     
    "saranku ya ver, cepat2 cari soulmatemu, hahahaha..."
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives