The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, August 27, 2011
Kita Tidak Akan Berjumpa Lagi, Aku Tahu Itu.

Kalau ditanya apa yang membuatku sangat senang di akhir minggu ini, maka akan kujawab kalau ada dua hal yang membuatku sangat senang. Pertama, liburan panjang! Aku sangat butuh liburan, dan liburan yang bertepatan dengan hari besar keagamaan ini sangat menyenangkan. Seminggu ke depan masih ada acara buka bersama dengan kawan-kawan, lalu jalan-jalan ke Dufan. Dan yang kedua, akhirnya dapat genjotan semangat lagi untuk terus berjuang untuk hidup.

Hari-hari selama dua minggu kemarin cukup melelahkan. Semua persiapan, analisis data, koordinasi dengan vendor dan tim internal, sudah dikerjakan, demi upaya maksimal mendukung pelayanan masyarakat sepanjang "peak season" di negara ini, terutama dalam sektor keuangan yang aku terlibat di dalamnya. Dan kemarin semua sudah selesai. Puas? Sebagian hatiku mengatakan "ya". Sebagian hati yang lain baru akan dipuaskan kalau segala efforts ini ternyata nanti terbukti memberi nilai maksimal untuk pelayanan finansial ini. :)

Dan untuk yang kedua di atas; tentang semangat hidup, yang akhirnya bisa kudapatkan lagi. Kupikir, aku memang harus sangat berterimakasih kepada kawan sekantorku itu, yang sudah mau "meracun" aku terus-terusan selama seminggu terakhir. Ah, siapa sih yang nggak senang kalau ada kawan yang peduli dengan kita?

Dan tentang kenapa semangat hidup ini sempat jatuh, mungkin aku nggak bisa terlalu banyak bertutur di sini. Biarlah abangku itu saja yang tahu ceritanya (which I think you can guess it actually). Dan aku masih senang mencelanya, "abang gue ini memang yang paling jelek". Hehehe...

Dan sekarang, Sabtu ini, aku masih harus ke kantor. Mungkin agak sorean saja, sekarang masih mau berleha-leha di kos. Sebetulnya agak malas ke kantor, tetapi memang harus karena ada sedikit paperwork yang harus dikerjakan untuk monthly closing.

Perjalananku selama hari kerja sendiri di setiap harinya, baik ke kantor di Gedung BEI Sudirman atau ke lokasi proyek di Manggarai, hampir selalu punya cerita tersendiri. Entah yang terjadi di bis (Transjakarta), atau di trotoar jalan. Seperti yang terjadi Kamis malam kemarin sewaktu pulang dari lokasi proyek. Dengan berjalan kaki menuju Halte Busway Manggarai, aku mengikuti seekor anjing centil, dan mencoba berbicara kepadanya.

"Hai Minci Iuh Iuh Cui Cui. Udah makan belom? Tapi maaf ya, aku nggak ada makanan di tas. Cuma basa-basi aja. Hahaha.."
"Eh, jangan cepat-cepat... Memangnya mau kemana? Nggak ada tulang di sana..."

Aku berbicara terus ke anjing itu selama lima menit perjalananku. Untung agak gelap, jadi orang nggak akan menganggap aku aneh, dan G.I.L.A... Hihihihi...

*Ih, kasian banget sih itu orang. Keren-keren tapi ngomong ke hewan??...* Hahahahaha...

Setelah puas "mengusili" anjing itu - yang sebenarnya aku juga sangat terbiasa usil berbicara ke kucing atau anjing lain yang kutemui di sepanjang jalan, maka aku sampai di Pasaraya Manggarai. Yah, sama seperti di setiap tempat di kota ini, menyeberang jalan amatlah berbahaya. Ada saja pengendara motor yang tiba-tiba "kesetanan" melajukan motornya padahal banyak orang mau menyeberang di depan matanya. Ehhh, mungkin ini yang disebut zona angker ya? Dan malam itu, aku hampir saja ditabrak pengendara motor. Tapiiii... Mungkin karena sudah pernah hampir ditabrak motor sebelumnya, jadi aku tahu cara menghentikan motor itu; harus sigap menahan motor itu dan kasih tampang galak supaya dia mengerem mendadak dan sekaligus berguna untuk mengintimidasinya secara instan. Huehehehe... Dan benar, caraku ampuh menghindari kecelakaan.

Lanjut, di Bis Transjakarta. Setelah menaiki Bis Koridor 4 yang sepertinya udah tua renta karena bisnya secara umum sudah agak ringkih, tibalah aku di halte transit Dukuh Atas untuk melanjutkan perjalanan dengan Bis Koridor 6, berhenti di Halte Kuningan Barat, dan lalu lanjut lagi dengan Bis Koridor 9 hingga Mal Taman Anggrek. Perjalanannya memang panjang dan capek.

Di Dukuh Atas sendiri, kalau kamu bukan orang yang terbiasa di sini atau tidak tinggal di Jakarta untuk mencari dan memperjuangkan mimpi-mimpimu, ketahuilah kawan, halte transit ini sangat tidak nyaman.
Di jam-jam sibuk, saat ribuan orang selesai bekerja dan menuju rumah masing-masing, halte ini selalu disesaki ularan manusia. Manusia-manusia berbaris panjang membentuk ular di jembatan sempit sambil menunggu datangnya bis Traja (Transjakarta) mereka. Bau parfum bercampur keringat, bau asam badan, bau matahari di pakaian, bercampur. Belum lagi ditingkahi orang-orang tertentu yang berkelakuan aneh; pasang headphone sambil berjoget-joget menggeser orang-orang di kiri kanannya, laki-laki bersuara kewanitaan yang tertawa keras-keras dengan teman-teman segengnya, atau ibu-ibu tertentu yang suka mengomel sendiri sementara obyek omelannya entah ada di mana. Tapi mayoritas orang hanya terdiam menunggu. Pasrah, pasrah, pasrah... Namun bisa menjadi "beringas" saat berebut masuk bis. Hehehehe...

Di bis sendiri, kalau memang aku beruntung mendapatkan tempat duduk, maka aku akan memilih "tidur ayam" sambil mendengarkan musik dari iPod. Nggak boleh lengah meski bis sepi karena bisa saja barangmu segera berpindah tangan alias dicopet. Nah, kalau kebetulan bisnya sesak dan nggak dapat tempat duduk, maka nikmati saja pemandangan di luar bis. Lampu-lampu jalan atau gedung-gedung tinggi bercahaya bisa menjadi hiburan. Aku suka membayangkan gedung-gedung itu adalah sarang-sarang tempat berdiam serangga penembak cahaya yang dibangun di atas tanah yang terbentang luas. Dan cahaya-cahaya lampu dari gedung-gedung itu adalah cahaya dari serangga-serangga itu yang berpendar keluar melalui rongga-rongga dan pintu keluar masuk sarang-sarang raksasa itu.

Dan kadang aku jadi panik sendiri... "So I'm living in the town of millions of fireflies?!" That's the thing i do not want to believe, and sometimes I'm afraid of my own imagination. :)

Di Bis Koridor 9 kemarin, aku harus bilang ini nafas agak kembang-kempis nggak karuan. Aku geli sendiri. Setelah aku naik bis Traja di Halte Kuningan, naiklah seorang wanita di halte berikutnya, Gatsu LIPI. Cantik, wajahnya segera bisa mencuri perhatian orang. Umurnya kutaksir sedikit lebih muda dariku. Dan saat dia masuk di bis yang padat penumpang itu, dia bingung harus berpegangan tangan ke atas. Pegangan tangan semua terpakai. Dia lalu bergeser ke depanku. Dan aku langsung reflek membagi pegangan tanganku. Kusisakan dua jariku di pegangan itu, dia lalu melihatnya dan segera meraih separuh bagian lain yang bisa dipegangnya. Dia lalu tersenyum kecil, mungkin dia agak geli dengan kejadian itu. Dan aku tiba-tiba membalas senyumannya. Kami lalu terdiam, dan lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, karena posisi kami yang saling berhadapan.

Tidak berbicara apapun setelahnya. Dan perjalanan terasa menjadi begitu lambat...

"Pemberhentian berikutnya, Halte Slipi Petamburan," notifikasi bis bersuara. Gadis itu, selebar pandangan horisontalku, mengangkat kepalanya. Aku melihat ke arahnya, dan dia melihatku juga... Ada satu atau dua detik yang tiba-tiba terasa begitu lama. Dan, dia pun melepas pegangan tangan, dan turut turun di halte pemberhentiannya...

Aku tahu, mungkin ini yang pertama dan terakhir kali aku melihatnya.

Eleazhar Purba
Sent from my iPod

Labels: ,

Eleazhar P. @ 8/27/2011 11:48:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, August 22, 2011
Maaf Bahwa Saya Bertindak Terlalu Jauh Sebagai Seorang "Kawan"


Seumur hidup, baru kali ini aku merasa begitu menyayangkan tindakan cerobohku yang membuatku kehilangan seorang kawan. Seumur hidup, baru kali ini aku menyayangkan kehilangan seorang kawan. Aku menganggapnya kawan, an ally, meski mungkin temanku itu tidak menganggap aku sebagai kawan...

Berbulan sudah aku memutuskan segala hubungan dengan kawanku itu. Dimulai dari melakukan klik link dan button "unfriend" di Facebook, memblokirnya di Yahoo! Messenger dan menghapusnya dari daftar kontak di messenger (dan sampai detik ini aku masih kagum dan mengumpat heran dengan "kehebatan" Facebook yang sudah menggeser arti pertemanan di dunia nyata dengan menjadikan tautan pertemanan di jejaring sosial itu sebagai pertemanan sesungguhnya & yang terutama, yang lalu berdampak pada kejadian di dunia nyata). Aku malu, takut, dan merasa begitu bersalah atas kelancanganku kepadanya. Dan aku memutuskan untuk menjauh sejauh-sejauhnya.

Aku ingat, beberapa waktu sebelum aku menjadi "blingsatan" dengan rasa bersalahku kepadanya, dan berujung pada "unfriend yang sesungguhnya", aku telah berbuat lancang dengan mengomentari beban pribadinya di sebuah status Facebook (lagi-lagi Facebook...), dalam hal asmara dengan kekasihnya. Yes, you have to know, kawanku ini cowok. Dialah orang yang aku anggap abang saya sendiri; abang yang aku bangga-banggakan selama beberapa tahun terakhir, abang yang kutiru dan - yang entah kenapa - aku sangat patuh kepada kata-katanya. Bisa jadi, ini juga karena sugesti dari mendiang bapak.

Aku mengingat sedikit esensi status itu, "apakah pantas sebuah hubungan dipertahankan kalau salah satu pihaknya gemar berselingkuh, dengan disadari ataupun tidak disadari?"

Dan aku berkomentar pendek, "tidak pantas".

Sang kakak (kandung, kakak kawanku itu) yang menuliskan status lalu membalas, "Ele, you translate Bang **** well".

Aku membalas kembali, "wah, aku nggak tau kalo ini soal si Bang ****, tadi cuma asal jawab aja kok".

Lebih kurang seperti itu isi percakapan di status tersebut, hingga kawanku itu lalu membalas, "woi woi".

Simpel. Respon simpel. Tapi aku tiba-tiba teringat bagaimana dia mengucapkan seruan tersebut di dunia nyata. Aku pernah mendengarnya menyerukan hal yang sama. Dan seingatku, dia terlihat, terdengar sangat jengkel dan kesal luar biasa kepada obyek yang ditujukan... Dan, aku pernah menjadi obyek. Sore itu, dia berseru kesal kepadaku yang tidur di kursi belakang mobil saat kami pernah bertugas di luar dulu.

Aku takut kalau dia marah padaku. Terlebih adalah bentakannya saat aku terakhir melihatnya di kota bercuaca panas itu pada Agustus 2008 lalu, "anak ini, kalau pergi nggak pernah permisi! Buat apa aku nunggu di sini kalau cuma buat dicuekin?!" Dan ia lalu menghambur ke dalam sambil membanting pintu. Aku tidak tahu kalau waktu itu ia menungguku di luar. Akupun mau mengucapkan permisi waktu itu, sangat mau. Tapi bagaimana mungkin aku mengucapkannya, menyalaminya, sementara saat perpisahan di bulan April sebelumnya saat aku berangkat bertugas ke Jakarta, aku sudah mencuci bersih tanganku agar ia tidak enggan menyalamiku seperti di hari pertama kami bertemu pada Desember 2007 sebelumnya? Bagaimana mungkin aku menyalaminya sementara di bulan Mei sebelumnya, saat aku kembali ke Jakarta, dia masih terlihat membenciku? Ia tidak mengulurkan tangannya kepadaku.

Akupun sempat sangat terpukul karena bentakannya di bulan Agustus itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya menyampaikan permohonan maafku melalui Yahoo! Messenger dalam perjalanan menuju bandara, namun tidak pernah mendapat tanggapan setelahnya. Dan ini menambah daftar rasa bersalahku kepadanya, setelah yang terutama, yaitu kehadiranku yang sebentar dalam periode tersebut, kehadiranku yang seakan terus menjadi "masalah" baginya, yaitu keberadaanku sebagai orang yang terlahir Batak.

Aku tidak pernah tahu pasti apa yang menjadi keberatannya atasku. Tapi dari sisiku, aku tidak pernah membencinya, saat itu, hingga sekarang sekalipun. Aku masih menaruh rasa hormatku kepadanya sebagai seniorku, dan - mungkin terdengar sangat berlebihan bagi kebanyakan orang, dan yakinlah aku bukan penyuka sesama laki-laki - aku masih menyayanginya sebagai seseorang yang kuanggap abangku sendiri. Sama seperti pendirianku waktu aku mendengar dari orang lain bahwa kekasihnya sudah terlalu sering menyakitinya. Memang aku hanya mendengar, aku tidak melihat langsung, dari kawanku sendiri itupun dia hanya berkomentar pendek, "menderita sih, but it's somehow enjoyable"... Pendirianku, dia lebih pantas mendapat yang lebih baik dari kekasihnya saat itu (aku sempat mendengar dari kawan-kawan yang lain bahwa ia putus dengan kekasihnya itu, tapi aku tidak peduli dengan hal ini).

Namun memang aku lancang telah berkomentar atau mengambil sikap tentang hal tersebut. Kekurangajaranku telah melewati batas. Tidak sepantasnya aku berkomentar, sementara aku tahu dia telah berjuang keras mempertahankan hubungannya tanpa terlalu peduli komentar orang lain.

Beberapa waktu sebelum "insiden status" itu, aku pun telah berbuat salah padanya. Di salah satu Facebook Note yang berisi opiniku tentang relasi ke sesama manusia dan Tuhan, mungkin dia merasa telah kuserang dengan pengakuanku di tulisan tersebut bahwa aku mengalami luka batin atas perlakuan rasis dari orang-orang sesama Batak (yang terlahir di Pulau Jawa) kepada orang yang berasal dari Sumatra Utara, yang umumnya dilecehkan sebagai "Batak Tembak Langsung". Ya, aku akui bahwa aku terluka. Aku memang telah membangun benteng jiwa setinggi mungkin terhadap orang-orang Batak kelahiran pulau yang sekarang kudiami ini. Dia memang pernah menyebutku, (kuanggap) merendahkanku, membenciku, sebagai seorang "Batak Tembak Langsung" di awal-awal aku mengenalnya dan sepanjang periode aku berada di satu institusi dengannya. Dan hal ini memang membawa kesulitan dan musibah bagiku setelahnya.

Dan tiap kali aku mengingat perlakuannya kepadaku itu, aku hanya bisa merasa (I can not describe this in better way) pusing, leher kaku, ingin memukul sesuatu, dan mata berkunang-kunang. Entahkah aku mendendam, aku tidak tahu. Aku memang masih merasa sakit dan terluka, aku tidak malu mengakuinya. Tapi selama periode tersebut, hal tersebut tidak menghalangiku untuk "mencoba" berteman dengannya, bahkan tidak menghalangiku untuk melakukan yang pernah diarahkannya kepadaku (meski ia mungkin sudah lupa), tetapi aku masih mengingatnya dengan baik.

Jujur, aku tidak pernah berniat "menyerangnya" dengan catatan Facebook itu, ataupun dengan komentarku di catatan itu, "makasih udah mau berkomentar, bang. Aku udah nungguin 3,5 tahun untuk kam berkomentar di log-ku, hehehe". Tetapi mungkin saja, ia telah merasa kuserang...

Seorang kakakku yang bawel - yang kami bertiga sempat mengobrol di link, note, checkin berbeda - di malam yang sama saat aku merilis Facebook Note itu, sempat berkomentar beberapa hari setelah aktifitas di Facebook itu, "El, jujur aja gue ngerasa senang banget kita bertiga bisa ngobrol akrab banget Sabtu malam kemaren itu". Akupun berujar, "hehehe, sama mbak. Aku juga senang, hati terasa hangat aja. Makanya aku bilang makasih ke Bang **** dan Mbak N** di komentar penutupku di checkin itu". Aku tidak berbohong, akupun sangat senang. But I got no idea, kalau bisa akrab dalam malam itu, kenapa setelahnya bisa menjadi runyam?

Namun mungkin isi Facebook Note dan insiden status tersebut memang mengambil peran yang lebih besar atas kejadian yang terjadi setelahnya, kawanku itu menunjukkan sikap yang membuat luka batinku dibuka lagi; dia lalu tidak menganggapku ada di beberapa percakapan, dia tidak mau menyebut namaku. Dan jelas, semuanya mengingatkanku atas hal-hal jelek yang terjadi sebelumnya di masa lalu... Ia seperti tahu cara untuk membuatku merasakan sakit kembali. Akupun dulu sempat berpikir ia mempunyai kemampuan membaca isi pikiran dan perasaan orang seperti kebanyakan orang yang terlahir dalam periode Cancer lain, karena sering isi pikiran dan hatiku dapat ditebaknya dengan tepat. Dan, jika benar hal tersebut ada dan dia menggunakan "keistimewaannya" itu untuk membuatku merasakan sakit, maka biarlah, aku memang tidak berniat melawannya.

Dia pasti punya alasan untuk segala sesuatu, yang besar kemungkinan aku tidak mengerti sama sekali apa hal-hal tersebut sebenarnya. Di luar semua itu, dia tidak jahat secara fisik; tidak pernah kami ribut secara fisik atau aku merasa diintimidasi.

Tidak akan pernah menutup dan menghabisi rasa hormatku kepadanya. Karena dia juga satu dari sedikit orang yang juga pernah memperlakukanku dengan baik. Meski kemudian aku tahu dari orang lain bahwa setelah "perbuatan baik" itu, pandangannya kepadaku semakin bertambah "parah" dalam arti sebenarnya; bahwa ada orang secengeng dan setakut ini yang begitu takut kepada darh, bahkan darahnya sendiri. Ya, aku takut darah.

Aku pikir-pikir lagi, bahwa agak bodoh dan lugu sekali aku ini yang dulu mau saja dimarahi seseorang di level atas, karena dengan sadar "membangkang" untuk segera kembali ke Surabaya, bukannya Jakarta, sepulang melayat mendiang bapakku, hanya untuk mengucapkan sampai jumpa kepada orang yang pernah menolong membersihkan jari berdarahku ini dan membantu membalutnya dengan Hansaplast; si abang itu. Inilah perbuatan baik yang kumaksud itu, yang karena jarang sekali kutemui orang yang baik kepadaku, dan ini pula yang mampu membuka sedikit mataku saat itu bahwa "hei, seniorku ini nggak jahat-jahat amat kok..." Dan aku sempat menyimpan Hansaplast itu (seperti kesukaanku menyimpan "sampah-sampah" lainnya yang mengingatkanku akan kebaikan orang atasku) untuk tetap mengingat bahwa si abang itu juga sebenarnya baik, meski ia memandangku sebagai orang aneh. Hingga ibuku datang ke Jakarta pada Februari 2010 lalu untuk merawatku yang terkena cacar, dan Hansaplast itu, beserta "sampah-sampah" lain yang kumpulkan selama perantauanku, dibuanglah sudah oleh ibuku saat kamarku dibersihkannya. Dan aku tidak lagi memiliki benda-benda perkenangan atas perbuatan baik orang kepadaku.

Kini, sudah tiga bulan aku tidak lagi mendengar kabar apapun tentang kawanku itu. Komunikasi terakhir adalah saat ia mengomentari film Insidious di status milik kawan yang lain. Ia tidak menyebutkan namaku di komentarnya untuk membalas cetusan ideku untuk menonton Insidious. Mungkin ia masih jijik dengan namaku, atau aku pribadi. Sama seperti di saat kami masih berada di institusi yang sama, ia hanya sering mengarahkan bibir ke arahku, dan menyebut namaku sebagai "orang itu", seperti ia melakukanya pada aktifitas di Facebook sebelum aku menghapusnya, untuk yang kedua kali...

Kuakui, akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku pernah dikenalnya. Setelahnya aku coba belajar untuk lebih berhati-hati berkomentar, dan sejatinya bukan sifatku untuk mau ikut campur urusan orang lain. Kecuali bahwa aku memang tergerak untuk menyampaikan pendapatku, teguranku, saranku, keberatanku, kepada orang yang aku pedulikan, seperti kawanku itu, dulu.

Saya sempat dimarahi kakak saya yang bawel itu via messenger, "sudah bahagia mengurangi satu kawan dalam hidupmu?" Ada baiknya, dia tidak pernah menjadi kawanku, tidak sepantasnya juga aku menjadi kawan baginya.

Setelah semua kejadian ini, sudah tidak seharusnya ia kusebut "kawan", bahkan "abang". Lancangnya aku.

---

Pesan moral:
Berhati-hatilah berkomentar dan kendalikan diri saat menggunakan Facebook, juga jejaring sosial lainnya dengan bijak. Kita tidak akan tahu kalau kita akan kehilangan teman kita di platform yang ide awalnya adalah untuk menambah teman, bukan?

Catatan:
Tidak ada maksud dan motivasi apapun dalam diriku sewaktu menulis post ini. Ini hanya untuk sedikit meringankan sakit kepalaku saat subuh ini.

Labels:

Eleazhar P. @ 8/22/2011 03:30:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, August 20, 2011
Hati. Kamu. Jari. (4)

Selamat sore dunia, selamat sore galaksi, selamat sore planet-planet dan bintang-bintang. Selamat bagi semesta raya... Kebaikan dan kepenuhan aku harapkan turun atas segala sesuatu.

Kawan Yang Tidak Bernama,
Aku berharap kau kini tahu bahwa aku sudah mengerti tentang arti kesendirian dan kesepian. Tentang hari-hari pada saat aku menyukai segala sesuatu tentang awan, burung-burung, langit, dan semburat cahaya matahari. Tentang malam-malam saat hujan yang begitu derasnya telah menguras mega-mega berat tentang pemisahan air dan darat.

Ada detik dan menit tertentu aku merasa kesakitan yang luar biasa di kepalaku. Mata yang berkunang-kunang, dan leherku yang tiba-tiba menjadi kaku, lalu kelu yang menjalar dari leher ke kepala ke hidung dan mata. Dan aku tahu pasti penyebab rasa sakitku ini; kehilanganku tentang sesuatu.

Tentang sesuatu yang memberiku kekuatan, keberanian, ketegasan, dan kedigdayaan jiwaku, dan terutama hatiku. Tentang sesuatu yang telah memberiku banyak hal, sesuatu itu juga yang membesarkan hatiku untuk kuat menghadapi hal-hal yang terlalu rumit dan menyulitkanku.

Dan tentang hal itu, yang memberiku sesuatu yang istimewa tersebut, adalah hal yang bisa saja ditertawakan. Tidak mungkin aku memberitahukannya padamu, atau kepada siapapun yang tidak mengerti atau terbiasa membaca hati.

Aku takut, sangat takut. Kuharap kau bisa merasa.
Dan saat ini, aku merasa begitu lelah.

Labels:

Eleazhar P. @ 8/20/2011 04:38:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, August 14, 2011
Craving for Sushi and Sashimi...

So I've been impractically and desperately craving for sushi and (tuna) sashimi while I am writing this post... Truly I've been, that 3 hours ago I was tweeting "Suddenly craving for Sushi and Sashimi... Ooh, Tuna... #kucingngeong2"... Then, that true enemy of mine (@felixjuarso), tweeted this, and that made me so "galau"... Uhuk!
Oh, well.. So that was a good try, Mister. You tried to make this cat to be so envy with your superlate dinner of sushi (at midnight? That was so superlate. Now I know how you get your big belly, huahahaha...). Very good effort it was, Felix...

Yang bisa aku lakukan setelahnya hanya bisa googling gambar-gambar sushi dan sashimi di tengah malam ini. Gue kepengen banget, bangeeetttt, bangggeeeetttttttttt!!! Udah kayak emak-emak ngidam gitu.

Look at that! Salmon sashimi!!! I want that one NOW. Meeoonggg...

Aku bertekad, besok harus makan sushi dan sashimi! Dan seminggu ke depan juga, harus dapat ikan mentah atau yang half cooked. The end of this story.

Kucing lapar, pengen ikan... Meowww...*dengan suara meong yang lirih...*

Labels:

Eleazhar P. @ 8/14/2011 01:09:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, August 1, 2011
Peperangan Virus


Kenyataan bahwa tubuh ini sekarang sedang menjadi inang bagi virus-virus yang memang membutuhkannya, mengingatkan saya tentang ledakan neurotik beberapa saat lalu yang memerintahkan sel-sel darah merah untuk membentuk butiran-butiran merah kehitaman dan tetes menggelembung di bagian bawah.

Selimuti pegunungan di tepi tanah datar ini, karena sangkakala peperangan terhadap bala pasukan virus ini akan dimulai. Sorakkan mantra-mantra yang tercipta berabad-abad lalu itu, agar konstelasi bebuahan di langit dapat terlihat jelas di bentangan malam...

Labels:

Eleazhar P. @ 8/01/2011 09:42:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts