The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, August 22, 2011
Maaf Bahwa Saya Bertindak Terlalu Jauh Sebagai Seorang "Kawan"


Seumur hidup, baru kali ini aku merasa begitu menyayangkan tindakan cerobohku yang membuatku kehilangan seorang kawan. Seumur hidup, baru kali ini aku menyayangkan kehilangan seorang kawan. Aku menganggapnya kawan, an ally, meski mungkin temanku itu tidak menganggap aku sebagai kawan...

Berbulan sudah aku memutuskan segala hubungan dengan kawanku itu. Dimulai dari melakukan klik link dan button "unfriend" di Facebook, memblokirnya di Yahoo! Messenger dan menghapusnya dari daftar kontak di messenger (dan sampai detik ini aku masih kagum dan mengumpat heran dengan "kehebatan" Facebook yang sudah menggeser arti pertemanan di dunia nyata dengan menjadikan tautan pertemanan di jejaring sosial itu sebagai pertemanan sesungguhnya & yang terutama, yang lalu berdampak pada kejadian di dunia nyata). Aku malu, takut, dan merasa begitu bersalah atas kelancanganku kepadanya. Dan aku memutuskan untuk menjauh sejauh-sejauhnya.

Aku ingat, beberapa waktu sebelum aku menjadi "blingsatan" dengan rasa bersalahku kepadanya, dan berujung pada "unfriend yang sesungguhnya", aku telah berbuat lancang dengan mengomentari beban pribadinya di sebuah status Facebook (lagi-lagi Facebook...), dalam hal asmara dengan kekasihnya. Yes, you have to know, kawanku ini cowok. Dialah orang yang aku anggap abang saya sendiri; abang yang aku bangga-banggakan selama beberapa tahun terakhir, abang yang kutiru dan - yang entah kenapa - aku sangat patuh kepada kata-katanya. Bisa jadi, ini juga karena sugesti dari mendiang bapak.

Aku mengingat sedikit esensi status itu, "apakah pantas sebuah hubungan dipertahankan kalau salah satu pihaknya gemar berselingkuh, dengan disadari ataupun tidak disadari?"

Dan aku berkomentar pendek, "tidak pantas".

Sang kakak (kandung, kakak kawanku itu) yang menuliskan status lalu membalas, "Ele, you translate Bang **** well".

Aku membalas kembali, "wah, aku nggak tau kalo ini soal si Bang ****, tadi cuma asal jawab aja kok".

Lebih kurang seperti itu isi percakapan di status tersebut, hingga kawanku itu lalu membalas, "woi woi".

Simpel. Respon simpel. Tapi aku tiba-tiba teringat bagaimana dia mengucapkan seruan tersebut di dunia nyata. Aku pernah mendengarnya menyerukan hal yang sama. Dan seingatku, dia terlihat, terdengar sangat jengkel dan kesal luar biasa kepada obyek yang ditujukan... Dan, aku pernah menjadi obyek. Sore itu, dia berseru kesal kepadaku yang tidur di kursi belakang mobil saat kami pernah bertugas di luar dulu.

Aku takut kalau dia marah padaku. Terlebih adalah bentakannya saat aku terakhir melihatnya di kota bercuaca panas itu pada Agustus 2008 lalu, "anak ini, kalau pergi nggak pernah permisi! Buat apa aku nunggu di sini kalau cuma buat dicuekin?!" Dan ia lalu menghambur ke dalam sambil membanting pintu. Aku tidak tahu kalau waktu itu ia menungguku di luar. Akupun mau mengucapkan permisi waktu itu, sangat mau. Tapi bagaimana mungkin aku mengucapkannya, menyalaminya, sementara saat perpisahan di bulan April sebelumnya saat aku berangkat bertugas ke Jakarta, aku sudah mencuci bersih tanganku agar ia tidak enggan menyalamiku seperti di hari pertama kami bertemu pada Desember 2007 sebelumnya? Bagaimana mungkin aku menyalaminya sementara di bulan Mei sebelumnya, saat aku kembali ke Jakarta, dia masih terlihat membenciku? Ia tidak mengulurkan tangannya kepadaku.

Akupun sempat sangat terpukul karena bentakannya di bulan Agustus itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya menyampaikan permohonan maafku melalui Yahoo! Messenger dalam perjalanan menuju bandara, namun tidak pernah mendapat tanggapan setelahnya. Dan ini menambah daftar rasa bersalahku kepadanya, setelah yang terutama, yaitu kehadiranku yang sebentar dalam periode tersebut, kehadiranku yang seakan terus menjadi "masalah" baginya, yaitu keberadaanku sebagai orang yang terlahir Batak.

Aku tidak pernah tahu pasti apa yang menjadi keberatannya atasku. Tapi dari sisiku, aku tidak pernah membencinya, saat itu, hingga sekarang sekalipun. Aku masih menaruh rasa hormatku kepadanya sebagai seniorku, dan - mungkin terdengar sangat berlebihan bagi kebanyakan orang, dan yakinlah aku bukan penyuka sesama laki-laki - aku masih menyayanginya sebagai seseorang yang kuanggap abangku sendiri. Sama seperti pendirianku waktu aku mendengar dari orang lain bahwa kekasihnya sudah terlalu sering menyakitinya. Memang aku hanya mendengar, aku tidak melihat langsung, dari kawanku sendiri itupun dia hanya berkomentar pendek, "menderita sih, but it's somehow enjoyable"... Pendirianku, dia lebih pantas mendapat yang lebih baik dari kekasihnya saat itu (aku sempat mendengar dari kawan-kawan yang lain bahwa ia putus dengan kekasihnya itu, tapi aku tidak peduli dengan hal ini).

Namun memang aku lancang telah berkomentar atau mengambil sikap tentang hal tersebut. Kekurangajaranku telah melewati batas. Tidak sepantasnya aku berkomentar, sementara aku tahu dia telah berjuang keras mempertahankan hubungannya tanpa terlalu peduli komentar orang lain.

Beberapa waktu sebelum "insiden status" itu, aku pun telah berbuat salah padanya. Di salah satu Facebook Note yang berisi opiniku tentang relasi ke sesama manusia dan Tuhan, mungkin dia merasa telah kuserang dengan pengakuanku di tulisan tersebut bahwa aku mengalami luka batin atas perlakuan rasis dari orang-orang sesama Batak (yang terlahir di Pulau Jawa) kepada orang yang berasal dari Sumatra Utara, yang umumnya dilecehkan sebagai "Batak Tembak Langsung". Ya, aku akui bahwa aku terluka. Aku memang telah membangun benteng jiwa setinggi mungkin terhadap orang-orang Batak kelahiran pulau yang sekarang kudiami ini. Dia memang pernah menyebutku, (kuanggap) merendahkanku, membenciku, sebagai seorang "Batak Tembak Langsung" di awal-awal aku mengenalnya dan sepanjang periode aku berada di satu institusi dengannya. Dan hal ini memang membawa kesulitan dan musibah bagiku setelahnya.

Dan tiap kali aku mengingat perlakuannya kepadaku itu, aku hanya bisa merasa (I can not describe this in better way) pusing, leher kaku, ingin memukul sesuatu, dan mata berkunang-kunang. Entahkah aku mendendam, aku tidak tahu. Aku memang masih merasa sakit dan terluka, aku tidak malu mengakuinya. Tapi selama periode tersebut, hal tersebut tidak menghalangiku untuk "mencoba" berteman dengannya, bahkan tidak menghalangiku untuk melakukan yang pernah diarahkannya kepadaku (meski ia mungkin sudah lupa), tetapi aku masih mengingatnya dengan baik.

Jujur, aku tidak pernah berniat "menyerangnya" dengan catatan Facebook itu, ataupun dengan komentarku di catatan itu, "makasih udah mau berkomentar, bang. Aku udah nungguin 3,5 tahun untuk kam berkomentar di log-ku, hehehe". Tetapi mungkin saja, ia telah merasa kuserang...

Seorang kakakku yang bawel - yang kami bertiga sempat mengobrol di link, note, checkin berbeda - di malam yang sama saat aku merilis Facebook Note itu, sempat berkomentar beberapa hari setelah aktifitas di Facebook itu, "El, jujur aja gue ngerasa senang banget kita bertiga bisa ngobrol akrab banget Sabtu malam kemaren itu". Akupun berujar, "hehehe, sama mbak. Aku juga senang, hati terasa hangat aja. Makanya aku bilang makasih ke Bang **** dan Mbak N** di komentar penutupku di checkin itu". Aku tidak berbohong, akupun sangat senang. But I got no idea, kalau bisa akrab dalam malam itu, kenapa setelahnya bisa menjadi runyam?

Namun mungkin isi Facebook Note dan insiden status tersebut memang mengambil peran yang lebih besar atas kejadian yang terjadi setelahnya, kawanku itu menunjukkan sikap yang membuat luka batinku dibuka lagi; dia lalu tidak menganggapku ada di beberapa percakapan, dia tidak mau menyebut namaku. Dan jelas, semuanya mengingatkanku atas hal-hal jelek yang terjadi sebelumnya di masa lalu... Ia seperti tahu cara untuk membuatku merasakan sakit kembali. Akupun dulu sempat berpikir ia mempunyai kemampuan membaca isi pikiran dan perasaan orang seperti kebanyakan orang yang terlahir dalam periode Cancer lain, karena sering isi pikiran dan hatiku dapat ditebaknya dengan tepat. Dan, jika benar hal tersebut ada dan dia menggunakan "keistimewaannya" itu untuk membuatku merasakan sakit, maka biarlah, aku memang tidak berniat melawannya.

Dia pasti punya alasan untuk segala sesuatu, yang besar kemungkinan aku tidak mengerti sama sekali apa hal-hal tersebut sebenarnya. Di luar semua itu, dia tidak jahat secara fisik; tidak pernah kami ribut secara fisik atau aku merasa diintimidasi.

Tidak akan pernah menutup dan menghabisi rasa hormatku kepadanya. Karena dia juga satu dari sedikit orang yang juga pernah memperlakukanku dengan baik. Meski kemudian aku tahu dari orang lain bahwa setelah "perbuatan baik" itu, pandangannya kepadaku semakin bertambah "parah" dalam arti sebenarnya; bahwa ada orang secengeng dan setakut ini yang begitu takut kepada darh, bahkan darahnya sendiri. Ya, aku takut darah.

Aku pikir-pikir lagi, bahwa agak bodoh dan lugu sekali aku ini yang dulu mau saja dimarahi seseorang di level atas, karena dengan sadar "membangkang" untuk segera kembali ke Surabaya, bukannya Jakarta, sepulang melayat mendiang bapakku, hanya untuk mengucapkan sampai jumpa kepada orang yang pernah menolong membersihkan jari berdarahku ini dan membantu membalutnya dengan Hansaplast; si abang itu. Inilah perbuatan baik yang kumaksud itu, yang karena jarang sekali kutemui orang yang baik kepadaku, dan ini pula yang mampu membuka sedikit mataku saat itu bahwa "hei, seniorku ini nggak jahat-jahat amat kok..." Dan aku sempat menyimpan Hansaplast itu (seperti kesukaanku menyimpan "sampah-sampah" lainnya yang mengingatkanku akan kebaikan orang atasku) untuk tetap mengingat bahwa si abang itu juga sebenarnya baik, meski ia memandangku sebagai orang aneh. Hingga ibuku datang ke Jakarta pada Februari 2010 lalu untuk merawatku yang terkena cacar, dan Hansaplast itu, beserta "sampah-sampah" lain yang kumpulkan selama perantauanku, dibuanglah sudah oleh ibuku saat kamarku dibersihkannya. Dan aku tidak lagi memiliki benda-benda perkenangan atas perbuatan baik orang kepadaku.

Kini, sudah tiga bulan aku tidak lagi mendengar kabar apapun tentang kawanku itu. Komunikasi terakhir adalah saat ia mengomentari film Insidious di status milik kawan yang lain. Ia tidak menyebutkan namaku di komentarnya untuk membalas cetusan ideku untuk menonton Insidious. Mungkin ia masih jijik dengan namaku, atau aku pribadi. Sama seperti di saat kami masih berada di institusi yang sama, ia hanya sering mengarahkan bibir ke arahku, dan menyebut namaku sebagai "orang itu", seperti ia melakukanya pada aktifitas di Facebook sebelum aku menghapusnya, untuk yang kedua kali...

Kuakui, akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku pernah dikenalnya. Setelahnya aku coba belajar untuk lebih berhati-hati berkomentar, dan sejatinya bukan sifatku untuk mau ikut campur urusan orang lain. Kecuali bahwa aku memang tergerak untuk menyampaikan pendapatku, teguranku, saranku, keberatanku, kepada orang yang aku pedulikan, seperti kawanku itu, dulu.

Saya sempat dimarahi kakak saya yang bawel itu via messenger, "sudah bahagia mengurangi satu kawan dalam hidupmu?" Ada baiknya, dia tidak pernah menjadi kawanku, tidak sepantasnya juga aku menjadi kawan baginya.

Setelah semua kejadian ini, sudah tidak seharusnya ia kusebut "kawan", bahkan "abang". Lancangnya aku.

---

Pesan moral:
Berhati-hatilah berkomentar dan kendalikan diri saat menggunakan Facebook, juga jejaring sosial lainnya dengan bijak. Kita tidak akan tahu kalau kita akan kehilangan teman kita di platform yang ide awalnya adalah untuk menambah teman, bukan?

Catatan:
Tidak ada maksud dan motivasi apapun dalam diriku sewaktu menulis post ini. Ini hanya untuk sedikit meringankan sakit kepalaku saat subuh ini.

Labels:

Eleazhar P. @ 8/22/2011 03:30:00 AM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives