The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, September 1, 2011
Why Are You Afraid of The Writings?

Minggu malam kemarin, aku dan beberapa kawan masih mengadakan acara berbuka puasa di tempat favorit kami, di Imperial Cakery Mal Taman Anggrek. And it was such a lot of fun, meski yang berbuka puasa hanya satu orang dan tiga lainnya tidak. Banyak yang kami obrolkan, tertawakan, and that was a melted heart-warming pieces in certain time and place. Until then, a friend told me, "El, si M agak takut loh kalau mau berkomentar di status atau Notes ente". Lalu, teman kami yang ditunjuk itu menimpali, "iya, bang. Agak-agak nggak ngerti dan ngeri aja dengan bahasanya.." Kakak tertua kami pun menimpali, "iya, El. Kita-kita sering nggak ngerti apa yang loe tulis. Bahasanya ketinggian, cuy. Atau sebenarnya cara berpikir loe yang nggak bisa kita jangkau?.." Dan aku cuma tertawa cekikikan hingga airmata keluar. "Masa sih segitunya?"

Ini bukan pertama kali aku mendapat tanggapan seperti itu dari kawan-kawanku, baik yang terdekat seperti mereka, ataupun yang baru kenal sekalipun. A dominating statement to be conyeyed, "takut, nggak ngerti." Oh, well then. Sebelumnya pernah, di acara gala dinner dengan service supplier, account manager-ku di supplier tersebut pernah mengatakan, "Pak Ele kalau menulis status sering puitis sekali. Saya juga pernah berkunjung ke blognya, meski memang belum membaca semuanya. Tapi yang bisa saya sampaikan, Pak Ele ini, berbeda." Hehehe...

Sepulangnya ke rumah, aku nyalakan laptop dan mulai menelusuri, membaca ulang status-status, catatan Facebook, bahkan isi blog. Dan aku menggumam, "apanya yang mengerikan?"

Jujur, aku nggak juga mengerti dengan apa yang ditakutkan, atau kalaupun ada yang tidak dimengerti, ya nikmatilah saja tulisan-tulisan anehku, yang memang aku yakin tidak semua orang bisa dan diharuskan mengerti. Karena memang aku memang menulis bukan untuk orang lain, bukan untuk menyenangkan orang lain, tetapi lebih sebagai bentuk meditasi dan teriakanku atas hal-hal yang tidak bisa kuungkapkan secara oral. Menulis tentang mimpi, menulis berpondasikan kebebasan, menulis tentang reka rasa hatiku, dan untuk merayakan keberadaan dan kekinianku. Sounds bombastic, eh?

Aku ingat sekali di masa-masaku sebagai mahasiswa, yang sudah menulis blog dan mendokumentasikan semua perjalanan perkuliahanku. Mulai dari kesulitan-kesulitan akademis, aksi demontrasi (oh ya, aku memang berperan sebagai orator dan demonstran dulu, hehehe...), dan cerita-cerita keseharianku. Ujung-ujungnya, aku menjadi sangat terbiasa menulis meski dalam keterbatasannya. Menulis di tugas akhir bukanlah masalah yang besar, dan di samping itu, aku belajar banyak hal dari kegiatan menulis yang dipublikasikan di dunia maya ini. Belajar webdesigning dan sedikit programming (HTML, CSS, dan engines), manipulasi citra/foto, dan terutama ialah, aku selalu menjadikan blog sebagai referensi di CV-ku, sebagai bukti bahwa aku bukan orang biasa dan selalu exceeds the expectation. Pikirku, keterampilan untuk menulis dan mendesain web, selain keterampilan utama memang harus dipamerkan, ditunjukkan. And you have to know, I'm saying this in positive boastful way. And I did see and experience it, my employers were accepting this positively.

Ekses positif dari kegiatan menulis, bagiku pribadi, selain boosting my confidence, juga seperti disebutkan di atas, menjadi meditasi pribadiku untuk melarikan diri sebentar dari kebisingan dunia ini. This is the world I govern, this is my only place to hide and relax. Tidak terpikirkan bagiku untuk mencoba tenar dari menulis karena memang aku melakukannya untuk diriku sendiri. Pun proyek buku "Semesta Mimitchi" yang akan dirilis tahun ini juga sama sekali tidak menargetkan penjualan apapun. "Semesta Mimitchi" hanya bagi yang merasa jiwanya terhubung dengan dunia lain yang hanya sebagian kecil manusia yang mewarisi kenangan tentangnya dan masih terhubung dengannya. That's it.

And then, oh really, nggak ada faktor ekonomi sama sekali? Yes. Aku memang menempatkan iklan Adsense di blog dan mendapatkan recehan darinya. Aku menganggap kalau ada yang mengklik iklan di blog, itu lebih karena iklannya kebetulan sesuai dengan apa yang memang dibutuhkan orang yang melakukan aksi tersebut. Tetapi saya belum pernah serius untuk benar-benar mencari uang dari space iklan seperti Adsense tersebut.

Dan jujur, saya lebih senang menyebut diri saya sebagai pemimpi daripada penulis yang impresinya adalah mencari uang dengan menulis secara konsisten dan memiliki tim editorial sendiri, ataupun blogger yang serius menulis konten di blog dalam waktu teratur dan mencari ceruk-ceruk baru di ranah online untuk menggenjot penghasilan dari blognya. Ini yang sedikit aku sedihkan memang, bahwa blogger di masa kini, terutama di Indonesia, lebih terasosiasikan dengan pencari uang semata. Google saja gerah dengan "sebagian blogger Indonesia" yang ternyata adalah blogger abal-abal yang hampir melakukan segala cara untuk mengeruk dollar dari pengiklan; mulai dari black SEO, copy-paste artikel dari blog lain dan mengklaimnya sebagai artikel tulisannya sendiri, auto-generate contents di puluhan blog. That's so sad! For I'm avoiding to be named blogger, as those reasons are there. Anyway, don't feel of being offended, they're just my personal opinion.

Dan sungguh aku tidak perduli dengan ada-tidaknya pengunjung, atau komentator di blogku. And nothing I can stand on, except being selfish on this, which is I don't really care. This blog is all juat about my heart, my life, and I myself, yang karenanya aku memang menarik diri dari lingkaran pertemanan di blogosphere selama dua tahun terakhir. Dan aku memang tidak pernah merasa tertekan dalam menulis karena anggapan umum yang mengatakan, "menulis itu bukan sesuatu yang macho". Apa hubungannya?

Kembali ke awal bahwa orang-orang tertentu bisa menjadi takut denganku karena tulisan-tulisanku. Terlepas dari prinsip "egoisku" dalam menulis, yang mungkin berhubungan kuat dengan introvert-nya diriku ini, mungkin juga karena tema-tema yang kutulis. Mungkin memang banyak yang tidak nyaman atau risih dengan tema-tema seperti kematian, kehancuran hati, perpisahan, life struggle in such dark perspectives, and the whole related schemes and colors, yang adalah biasa dalam kehidupanku, dan aku terbiasa membicarakan tentangnya. Well, I'm Pisces, yang terlalu perasa dengan emosi duka dan terlalu sering membaca hati orang (you, be careful! Hehe...), dan membutuhkan ruang lain untuk bebas dari rutinitas keseharian yang kalau terus dijalani tanpa ada relaksasi hanya mengakibatkan burnt. Percayalah, kinerja dan produktivitas tidak bisa dicapai dan dinikmati dalam kondisi burnt.

Weekend ini, atau di meet-up berikutnya dengan kawan-kawanku, aku mau todong mereka dengan pertanyaan yang mereka belum beri jawaban pastinya, "kenapa takut dengan tulisanku?" Hehehe...

One thing, this below is music video by He Is We featuring Owl City, titled "All About Us". Sugary lyrics in there, which most girls will love it, playing it over and over again, and scenes which will make the girls cry out loud. :)

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 9/01/2011 11:07:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives