The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, October 30, 2011
My Love For The Rain

I've decided to be silent and to wait
For such thing I call the certainty
Tell him, Father, that I miss him
Tell Him, father, that I miss Him
I miss him like the desert misses the rain...
Adalah hujan yang saya tunggu-tunggu sejak beberapa waktu lalu, untuk tercurah di atas kota yang saya diami ini. Rasa penat, ketidakteraturan, kebisingan, seketika hening dan terdiam saat curahan air terjatuh dari langit.

Dan saat ini, saya menginginkan untuk sejenak berada di kota kecil yang saya tinggali berpuluh tahun lamanya sebelum perantauan saya ke tanah ini. Dan kemarin, 29 Oktober, adalah genap empat tahun saya meninggalkan kota kecil itu.

Seketika saya melihat kembali gambar-gambar yang saya ambil beberapa hari lalu di lokasi proyek. Saya merekam jejak hari sebelum dan sesudah hujan pada siang itu, dan saya teringat jelas pada hari saya meninggalkan kota itu. Siang yang panas, ibu saya yang sibuk mencari tiket pesawat, dan bapak saya yang menemani saya di penerbangan hingga beberapa hari di kota saya yang baru saat itu.

Hujan di sepanjang penerbangan, dimulai dari detik-detik lepas landas di Medan hingga menjejak kaki di Cengkareng, adalah hal yang mendamaikan saya, meski tetap membuat saya takut sepanjang di udara. Tapi tetap adalah bapak saya yang menjadi sumber kekuatan saya saya itu. Sama seperti saat saya mengikuti wawancara kerja beberapa hari setelahnya, bapaklah yang masih menunggui saya di luar resto di mall besar itu, setelah saya memintanya untuk menunggu di luar saja, karena saya tidak mau dicap anak manja oleh para pewawancara saya saat itu.

Di kota kecil itu pula saya bertumbuh dengan adik-adik saya. Dan saya masih mengingat jelas tentang suatu pagi di waktu musim liburan sekolah. Anak-anak di rumah itu, kami, masih bermalas-malasan untuk melakukan apapun. Cuaca yang dingin, hujan yang tercurah dengan derasnya, dan langit yang gelap kelabu, sesiapapun masih ingin melanjutkan tidurnya. Tapi tidak lama, ibu kami tiba di rumah setelah berbelanja bahan makanan. Saya ingat jajanan pasar yang dibelikannya; kue dadar guling berwarna hijau, kue lapis legit, dan roti ketawa. Kesemuanya hingga kini adalah kue-kue kesukaan saya. Tetap dan untuk selamanya. Dan hanya sorak senang yang bisa saya luapkan saat itu.

Dan kini, sebagai laki-laki dewasa muda, adalah tidak mudah bagi saya untuk menyampaikan isi hati dan perasaan saya di depan orang. Kalaupun ada orang yang tepat menurut saya untuk saya bisa mengatakan kesusahan hati ini, katakanlah ibu saya, orangnya tidak ada di dekat dan depan saya. Saya jauh lebih menyukai untuk berbicara langsung berhadap-hadapan, daripada berkomunikasi suara atau kata menggunakan teknologi masa sekarang. Saya pun tidak ingat kapan terakhir kali saya menangis menumpahkan beban berat yang sudah tidak terkatakan lagi dengan kata-kata. Mungkin beberapa bulan lalu. Mungkin juga saya menangis akhir-akhir ini, tapi hanya berupa tetes di mata yang tidak sempat mengalir, hanya karena terharu akan beberapa hal.

Dan hujanlah kini dan masih menjadi lukisan alam yang saya benar-benar sukai. Gemuruh petir, tetes air, kemuraman langit, dan keheningan alam setelah diredam riuh berisik tapi damai dari curahan air langit. Dan kesejukan di udara setelahnya. Kesemuanya seperti perasaan manusia. Bila marah, marahlah. Asal jangan merusak diri dan orang lain. Kalau berkeluh, katakanlah, sepertinya jalan keluar untuk setiap masalah pasti ada. Bila bersedih, berbagilah kepada orang yang tepat, yang mungkin bisa mendamaikan hati.

Seketika saya teringat hal yang sering saya lakukan dulu, bila ingin menangis, berjalanlah di tengah hujan. Lalu menangislah, tidak ada orang yang akan menertawakan atau merendahkan. Air mata dan air hujan di wajah, siapa yang bisa membedakan?





Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 10/30/2011 01:46:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Thursday, October 27, 2011
Kematian dan Mereka Yang Akan Menggantikan Kita

Tidak selalu baik untuk mengenang mereka yang sudah pergi, katamu. Tapi memang apalah saya, saya manusia, saya masih sering merindukan mereka yang telah pergi. Saya rindu. Sangat.

Satu pasal berjudul "Winter" dari novel Bambi - karangan Felix Salten yang cukup "memorable" tentang kematian. Tentang kita yang menuju ke sana, mereka yang sudah disana, dan mereka yang akan menggantikan kita yang berdiam di atas bumi ini.

Berikut kutipannya, sekaligus lagu kesukaan saya di hari-hari ini, "Paradise" dari Coldplay. Enjoy.
The leaves were falling from the great oak at the meadow’s edge. They were falling from all the trees. One branch of the oak reached high above the others and stretched far out over the meadow. Two leaves clung to its very tip.

“It isn’t the way it used to be,” said one leaf to the other.

“No,” the other leaf answered, “So many of us have fallen off tonight we’re almost the only ones left on our branch.”

“You never know who’s going to be next,” said the first leaf. “Even when it was warm and the sun shone, a storm or a cloudburst would come sometimes and many leaves were torn off, though they were still young. You never know who’s going to be next.”

“The sun seldom shines now,” sighed the second leaf, “and when it does, it gives us no warmth. We must have warmth again.”

“Can it be true,” said the first leaf, “can it really be true that others come to take our places when we’re gone, and after them still others, and more and more?”

“It is really true,” whispered the second leaf. “We can’t even begin to imagine it, it’s beyond our powers.”

“It makes me very sad,” added the first leaf.

They were silent a while.

Then the first leaf said quietly to herself, “Why must we fall?”

The second leaf asked, “What happens to us when we’ve fallen?”

“We sink down.”

“What is under us?”

The first leaf answered, “I don’t know. Some say one thing, some another, but nobody knows.”

The second leaf asked, “Do we feel anything, do we know anything about ourselves when we’re down there?”

The first leaf answered, “Who knows? Not one of all those down there has ever come back to tell us about it.”

They were silent again. Then the first leaf said tenderly to the other, “Don’t worry so much about it, you’re trembling!”

“That’s nothing,” the second leaf answered, “I tremble at the least thing now. I don’t feel so sure of my hold as I used to.”

“Let’s not talk anymore about such things,” said the first leaf.

The other replied, “No, we’ll let be. But — what else shall we talk about?” She was silent, but went on after a little while. “Which of us will… which of us will go first?”

“There’s still plenty of time to worry about that,” the other leaf assured her. “Lets remember how beautiful it was, how wonderful, when the sun came out and shone so warmly that we thought we’d burst with life. Do you remember? And the morning dew and the mild and splendid nights?”

“Now the nights are dreadful,” the second leaf complained, “and there is no end to them.”

“We shouldn’t complain,” said the first leaf gently. “We’ve outlived many, many others.”

“Have I changed much?” asked the second leaf shyly but determinedly.

“Not in the least,” the first leaf assured her. “You only think so because I’ve got to be so yellow and ugly. But it’s different in your case.”

“You’re fooling me,” the second leaf said.

“No, really!” the first leaf exclaimed eagerly, “believe me, you’re as lovely as the day you were born. Here and there may be a little yellow spot, but it’s hardly noticeable and only makes you handsomer, believe me.”

“Thanks,” whispered the second leaf, quite touched. I don’t believe you, not altogether, but I thank you because you’re so kind. You’ve always been so kind to me. I’m just beginning to understand how kind you are.

“Hush,” said the other leaf, and kept silent herself, for she was too troubled to talk anymore.

Then they were both silent. Hours passed.

A moist wind blew, cold and hostile through the treetops.

“Ah, now,” said the second leaf, “I…”

And then her voice broke off. She was torn from her place and spun down.

Winter had.

Labels:

Eleazhar P. @ 10/27/2011 07:42:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, October 9, 2011
Terbebas. Hampir Semuanya? Ya, Tentang Yang Sudah Terjadi.

"Tidak ada yang lebih menegangkan daripada konfrontasi langsung.
Tidak ada yang lebih berani daripada berbicara dan berhadapan langsung dengan orang yang dengannya kau memiliki tautan masalah.
Dan tidak ada yang lebih baik daripada tidak mengetahui sama sekali apa sebenarnya akar dari segala sesuatu yang kita sebut masalah itu."

Saya benar kesulitan menemukan padanan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang sekarang saya rasakan. Tapi kini, saya benar mengalami hal yang lebih berbeda di dalam diri setelah saya mencoba pelan-pelan belajar mengendalikan suasana hati dan menaruh air muka.

Bukan, bukan untuk mengatur air muka seperti anggapan umumnya. Tetapi mengendalikan "kejujuran" yang terlalu cepat tergambar di wajah dan sikap.

Dan tentu saya terpacu untuk semampu mungkin untuk mempercepat bagian pembelajaran ini, karena saya sadari, saya menemukan terlalu banyak kesulitan yang disebabkan semua ini. Dan jelas, saya lebih bahagia akhir-akhir ini. Sebab sayalah penguasa perasaan dan emosi ini. Saya yang menentukan kebahagiaan saya.

Terima kasih, kepada "orang yang saya serang" beberapa waktu lalu, dialah mentor sekaligus abang, dan "musuhku yang baik". Dia terlalu banyak mengalah, menurutku. Dan berbicara dengannya tentang kacaunya keadaan, pelan-pelan membebaskan.

These of his words shot but then waking me up, "I just want to tell you to not giving up, manage your emotion, dan menjalani hidup dengan lebih ceria... Which i'm still struggling to do, too."

Thank you so much. Bujur.

"Aku telah menerima segala ketetapan tentangku. Aku memang tidak mendapat jawaban yang memuaskan keingintahuanku tentang apa sebenarnya itu pembeda, pembedaan, perbedaan, kesengajaan, ketidaksengajaan, dan uluran pertama dalam pembicaraan, perkenalan, yang kupikir semuanya itu kau sengajakan kepadaku. Aku bisa bernafas lega sekarang, karena aku menerima. Hampir segalanya, tentang masa lalu, dan kejadian-kejadian yang telah lewat.
Masa lalu adalah masa lalu, kekinian dan masa depan adalah bagian kita sekarang, yang masih bisa kita, manusia, rancang bangun rajut. Aku bebas."
All photos by Eleazhar Purba.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 10/09/2011 04:46:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts