The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, January 21, 2012
Semesta Serangga di Halaman Rumah (If I Were God, Back Then)


Hari ini aku terbangun, besok akan terbangun lagi. Siang ini aku akan berada di suatu tempat, dan malamnya aku akan terlelap bila kantuk sudah waktunya. Hari dan malam akan terulang dan selalu terulang, hingga akhir dari umur.

Terulang. Lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. Tapi bukan ini intinya.

Kau tahu, oh, setidaknya aku mengharapkan kau tahu, bahwa hidup ini semakin berat dan terasa semakin singkat, hanya bila kau berhenti sebentar dari kesibukan yang seperti nggak ada habisnya.

Bukan, bukan aku orang yang pesimis. Aku tidak menolak fine living, pleasures, good foods, and happiness. Aku hanya mencoba seimbang dalam hidup. Ada kontradiksi, awal dan akhir, yin dan yang dalam kehidupan. Sehingga aku bisa saja tidak menyukai orang yang terlalu menggampangkan hidup, pun juga orang yang terlalu pahit menjalani hidup.

Aku mengingat diriku yang akan duduk di kelas dua SMP pada pertengahan tahun 1998. Aku masih sama seperti diriku pada beberapa tahun sebelum dan sesudah masa itu; aku yang pengkhayal, dan sibuk dengan duniaku sendiri.

Di saat anak-anak seumuranku asik dengan gelaran Piala Dunia di Prancis kala itu, aku menghabiskan hari-hari liburan panjangku dengan mendirikan semestaku di halaman rumah keluarga kami. Semesta yang kubangun adalah dunia serangga yang kutiru dari film animasi A Bug's Life yang dirilis tahun itu.

Di atas halaman seluas lebih kurang delapan puluh meter persegi itu, semesta serangga yang didominasi semut sebagai penghuninya itu berdiri berhari-hari. Aku tidak pernah mencari tahu kenapa semut-semut menjadi yang terbanyak di antara serangga-serangga di halaman rumah. Ada cukup banyak kupu-kupu, kabutaku, dan -aku lupa namanya- serangga yang suka menyemprotkan bau tidak enak saat merasa terancam (walang sangit?), capung, dan belalang.

Bagian tengah halaman adalah pusat dari semesta serangga. Aku membuat dan mengatur jalur-jalur dengan menggoreskan lidi di atas tanah. Ini akan menjadi jalan-jalan yang dilalui semut-semut itu. Pun aku tidak tahu pasti kenapa mereka mau menuruti jalan-jalan yang kubangun itu. Awalnya, aku hanya menempatkan semut-semut itu di situ, dan mereka lalu seperti tahu itu adalah jalur-jalur yang lebih baik dan teratur bagi mereka, meski sering juga aku membuat rute yang lebih panjang bagi jalan-jalan tertentu. Kasihan...

Kubangun juga kota-kota bagi mereka. Tepatnya, aku menyebutkan beberapa lubang semut yang cukup ramai sebagai suatu kota. Ada yang berada di bawah pohon pinus, ada yang berada di semak rerumputan, di bawah pohon jambu, di mana-mana. Ada juga semut-semut angkrang yang kutempatkan di "kastil". Kastil itu adalah khayalanku saat melihat gundukan semen yang menjulang ramping di pinggir kolam kecil di pojok halaman. Almarhum bapak membangun gundukan ramping tinggi itu untuk "pemanis" kolam, yang tepat di kedua "menaranya" ditempatkan pot-pot tanaman anggrek yang bapak rawat.

Bagiku, koloni semut di kastil ini adalah yang paling sulit hidupnya kubuat.

Ya, hidup mereka aku yang mengatur. Begitu pun seluruh jenis serangga yang lain. Pada hari ini kubiarkan damai, pada hari esok atau lusa akan ada "musibah" menimpa di kota-kota tertentu. Saat itu, aku bermain menjadi Tuhan; membuat, mengatur, dan mengadili kehidupan yang kucipta dalam imagi buatanku.

Ada peran-peran di semesta itu. Ada yang jahat, ada yang baik. Tidak mungkin serangga-serangga itu berteriak meminta peran, jadi aku yang menentukannya.

Jadi, pada suatu hari, kota Semutberg bisa saja menyerang Semutton dan Semutland. Dan akan ada batang-batang korek api (bayangkan sebagai anak panah api) yang melayang ke Semutton, dan batu-batu kerikil hingga batu berukuran besar (bayangkan sebagai serbuan meriam) yang menghujani Semutberg. Dan lalu akan ada semut-semut yang penyet, gepeng setelahnya, atau bau hangus sekumpulan semut.

Di hari yang lain, beberapa semut akan tewas terbakar seketika, hangus menghitam dan berasap, saat sinar matahari kukumpulkan dengan bantuan fokus kaca pembesar, tepat di atas mereka. Saat sore, beberapa semut angkrang akan tewas terbakar, sebagai mereka yang berperan sebagai gerombolan raja-raja dan panglima perang jahat, di dalam kobaran api hasil pembakaran sampah dedaunan.

Atau juga, beberapa kota akan mengalami terjangan banjir saat kusiramkan beberapa gayung air terhadapnya. Semut-semut itu akan terjungkal, merayap kuyup, bergerak melambat, lalu menjalani hidup normal setelah tanah menjadi kering. Sementara semut-semut yang ada di kastil akan diserang oleh pasukan udara seperti capung dan belalang hasil tangkapanku. Mereka akan bertarung, hingga biasanya capung dan belalang yang akan mati dikerubungi semut. Tentu saja kalah, aku memegangi sayap-sayapnya, mereka tidak bisa bergerak kemana-mana.

Kadang aku berbagi anugerah bagi semut-semut itu. Butiran beras, dan remahan biskuit kadang juga kusediakan sebagai makanan mereka. Aku senang saat semut-semut itu kemudian mengangkut persediaan makanan itu.

Ya, aku memelihara semut-semut itu selama liburan panjang itu. Adik-adikku tahu "kegilaanku" itu, tetapi mereka sudah maklum. Almarhum bapak juga tidak pernah tahu tentang permainanku ini, pun ibuku tidak pernah tahu persediaan beras di rumah aku yang menghabiskannya sedikit dengan berbagi ke serangga-serangga itu. Aku memelihara mereka dalam semestaku.

Kini - saat rotasi bumi berlangsung seperti tanpa arti, saat jutaan orang bertahan hidup tanpa merasakan belas kasih, dan hidup tanpa rumah untuk berlindung - aku sering mengingat-ingat kembali impian dan khayalan masa kecilku. Dan lalu membangkitkan kenangan tentang bagaimana aku mencoba mengenal Tuhan di masa kecil. Di masa aku bermain sebagai Tuhan, yang kupikir aku akan segera diserang orang-orang yang memasukkan diri mereka dalam hitungan orang yang lebih rohani, bila aku mengungkapkan cara pandangku tentang Tuhan di masa kanak-kanakku.

Lapis batinku, sedari dulu mungkin sudah terlanjur terbiasa dengan kenyataan bahwa hidup tidak akan selalu baik, or anything sugary and sweet, tidak akan selalu ada tawa atau sorak bahagia. Paling kentara adalah kesuraman dan kemuraman hidup, dan kita manusia mencoba melawan, berjuang, atau malah tidak berbuat apa-apa menghadapi kesulitan hidup.

Bahwa sering ada gugatan seperti "Tuhan tidak adil! Tuhan kejam! Kenapa hidupku tidak semudah orang-orang itu?!" atau perasaan tertolak karena sedari lahir sudah merasa dunia tidak menginginkan kelahirannya, katakanlah orangtua dulu hendak menggugurkannya selagi di dalam kandungan. Atau pertanyaan dari para orangtua yang anaknya terlahir cacat, "kenapa harus anakku, Tuhan?!"

Ah, aku tidak mencoba menggurui tentang hal apapun kali ini, karena akupun sering jatuh menyerah dan lalu menggugat. Bukan orang suci, dan sama saja dengan orang kebanyakan. Pun tidak mungkin aku tidak mengharapkan keinginanku saja yang harus terkabul. Akupun pasti mau keinginanku saja yang jadi. Tapi itu jelas mustahil.

Aku memang pernah bermain sebagai Tuhan di semesta yang kubangun di masa liburan sekolah berbelas tahun lalu itu. Tetapi adalah Tuhan bukanlah aku. Aku tidak mewakili pola pikir dan pendapat Tuhan tentang dunia nyata yang ada ini dalam mengatur semesta seranggaku. Mungkin satu pelajaran kecil yang kutarik dari permainan khayalan masa kanak-kanak itu adalah aku kini yang seperti semut, Tuhan adalah yang mengetahui hidupku, kesusahanku, beban pikiranku, dan seluruh mimpi-mimpi yang belum terwujud. Pengenalanku akan dia adalah sebatas hubungan pribadiku saja dengan Dia. Dan langit adalah langit-langit rumah ibadahku. Langit-langit adalah mengecilkan dan membatasi langit maha luas di atas sana.

Hari ini, hari esok, aku akan menjalani hidupku seperti biasa. Ada waktu kelak kebahagiaanku datang. Dan seperti semut-semut itu yang menerima remahan biskuit dan butiran beras, akan ada waktuya pemenuhan mimpi-mimpiku terwujud nyata.
Bapa,
Hampir genap empat kali bumi berada di titik revolusinya saat kau tinggalkan kami
Kau tahu, akupun begini
Gagal di saat ini sebagai apa yang pernah kau harapkan atasku

Kau tahu, Bapa
Kepahitan yang kutanggung bertahun-tahun sudah hampir tawar
Tidak lagi terlalu pahit rasanya
Aku mau percaya,
bahwa Bapa yang mengirimkan obat penawarnya
All photos by Eleazhar Purba

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 1/21/2012 01:00:00 AM.

1 Comments:

  • On January 31, 2012 at 7:31 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "Ganti warna kayaknya di tahun naga air heheh..saat sibuk kerja mampir bentar ke blogmu,,terasa enak aja Le setelah baca bebera post mu,,"
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives