The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, March 11, 2012
Song of The Trees (Nyanyian Pepohonan, Kematian dan Manusia)

Tentang perkenanganku kepada mendiang bapakku, aku mengingat jelas bahwa ia adalah penyuka tanaman. Mungkin darah petani yang mengalir dari darahnya dan menjadi semacam kode genetik yang diwariskan kepadaku, akupun mempunyai ketertarikan khusus kepada tanaman pun tumbuhan liar.

Tetapi terlebih dari pengertianku bahwa ini adalah kemungkinan yang tradisional, diwariskan oleh bapakku kepadaku, aku percaya bahwa aku juga terikat dan mampu mendengar suara-suara dari tanaman seperti layaknya suara-suara binatang yang biasa kudengar.

Di masa-masa awal tahun remajaku, aku sangat menyukai berada di halaman belakang rumah yang luas. Aku hanya merasa seperti berada di rumah yang sesungguhnya. Seperti persembunyian yang sangat sempurna dari manusia-manusia yang saat itu kurasa sangat kejam kepada manusia lainnya. Tidak di sekolah, tidak di jalanan dan di pasar, semuanya di kota kecil kami. Aku tahu, aku hanya seorang introvert akut saat itu. Aku hanya sedikit tidak siap dengan kenyataan hidup saat itu, dan beralih dengan tinggal di duniaku saja.

Tapi satu yang tidak berubah, terkadang hingga kini aku masih mendengar suara-suara mereka. Bukan desir angin, hanya nada-nada. Seperti rintihan kesusahan dan tangisan. Yang jelas bukan suara mahluk-mahluk spiritual, karena ini berbeda.

Dan saat bencana alam kecil menimpa Jakarta awal tahun ini, aku kembali mendengar rintihan mereka. Dan tidak terduga, airmata ini menetes sedikit melihat beberapa pohon yang tumbang di sekitar jalan-jalan protokol. Some were too old, and later they died. The younger ones were crying and the voice and the warning they were singing about were horrible.



Hear the song of the trees at my Podcast channel.
Saya mengerti beberapa hal yang mereka katakan dan nyanyikan, tetapi biarlah... Biar kejadian-kejadian berikutnya yang menyatakan hal-hal setelahnya.
"Kamu lihat dan belajarlah lagi dari dedaunan di pepohonan dan kamu akan belajar tentang apa itu keabadian, dan sakralnya kematian, dan indahnya dedaunan baru yang menggantikan dedaunan lama"
Mimitchi
Ya, kematian seseorang adalah sebuah tragedi, dan kematian berjuta orang adalah data dalam laporan. Aku mungkin akan mengerti bahwa kematian bapakku adalah satu kematian dari berjuta orang pada 11 Maret empat tahun yang lalu. Sama seperti korban perang. Satu kematian dalam sebuah keluarga adalah sebuah kedukaan yang luar biasa bagi keluarga itu, tetapi kematiannya lalu tercatat dalam kumpulan jamak angka yang dicatatkan dalam satu periode sejarah.

Dan kemarin malam aku mengenang kepergiannya kembali. Tidak bisa berbuat apapun selain menangis. Aku rindu bapakku. Sangat rindu.

Photo by: Eleazhar Purba.

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 3/11/2012 11:37:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives