The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Friday, April 27, 2012
Memilih Untuk Tetap Terluka Atau Sembuh


Rasanya, menuliskan permasalahan batin di dunia maya memang tidak akan pernah aman dari cap atau prasangka orang lain yang aku tidak bisa tebak. Juga rasanya "kok ini nggak jantan banget" untuk curhat-curhat seperti ini. Ah, tapi biarlah. Dengan cara ini aku telah berhasil melewati beberapa proses hidup yang sulit.

Sometimes I am just concerning too much of what people are thinking about me. Which I must not!

Jumat subuh seminggu yang lalu, aku terbangun dengan hampir setengah melompat dari kasurku. A nightmare I had. Mimpi yang benar-benar buruk  buatku. Di mimpiku itu, aku dan si kakak satu ini sedang menelepon seorang kawan lama (yang hanya seorang "kenalan" bagiku karena aku bukan kawannya). Aku tidak menceritakan detilnya serinci-rincinya. Tapi ini jelas-jelas buruk.

Setelah terbangun, aku langsung membuka Facebook dan melihat profile page si kenalan lama itu. Dan kaget! Di page itu tertulis "pending friend request", yang berarti aku mengirimkan request pertemanan dengannya di Facebook. Pertanyaannya, kapan aku pernah mengirimkan request itu sementara dia baru aku remove pada Maret bulan lalu? Dan itu adalah ketiga kalinya aku remove beliau.

Dan lalu aku galau sepanjang Jumat kemarin, weekend minggu lalu, dan hingga tulisan ini kuketik di iPod touch.

Karena sejujurnya aku capek, sangat capek dengan urusan yang belum tuntas bagiku tentangnya. Aku masih sangat ingin tahu kenapa dia dulu mendiskriminasikanku, "membuangku" karena alasan-alasan yang bagiku irasional. Dan berkali saya konfrontasikan dengannya, dan dia hanya menjawab kalau dulu dia hanya bercanda. Oh Tuhan, bercanda seperti apa yang seserius itu?! Dan untuk alasan apa? Aku tidak pernah mengerti apa maksudnya. Hidupku sudah bertahun-tahun tidak jelas dan terpuruk karena rasa rendah diri yang diakibatkan "candaannya" itu. Dan itu, cuma, bercanda...

Oh wait, aku belum bilang kalau beliau ini adalah orang yang punya peran sangat besar dalam hidupku, mengubahku dari si pemalu menjadi si garang? Sepertinya sudah belasan, hingga puluhan post aku menulis tentangnya. Orang yang sangat ingin kutiru, kucontoh, dan aku hormati sebagai mentor dan abang. Dan aku sekaligus masih menyimpan kekecewaan dan kemarahan yang belum sembuh!

Tahun lalu, dalam korespondensi teranehku dengannya (aneh, karena aku bisa menulis dan berbalas surel begitu panjang dengan seorang laki-laki), aku sudah hampir mendapatkan jawaban kenapa dia dulu bersikap demikian padaku sebagai "yang dititipkan" kepadanya. Pun kubilang, bahwa aku mungkin butuh beberapa tahun lagi untuk mengerti dan menerima perlakuannya itu. Yang jelas ialah hingga sekarang aku belum sembuh sepenuhnya. And I do not like this situation! Really I do.

Sepanjang minggu ini aku kepikiran tentangnya, tentang keanehan Facebook bahwa akunku mungkin dibajak orang (tapi siapa yang seiseng itu?), tentang perjalanan hidupku yang banyak dipengaruhi olehnya.

Dan sementara aku telah membeli rumah agar aku bisa tetap tenang dan berkeinginan kuat menata hidupku. Dan sementara aku punya abang di kantor sekarang yang banyak mengajariku tentang hidup dan menjadi kepala keluarga kelak. Sementara sekarang kehidupan sosialku juga semakin membaik. Tetapi aku sendiri seperti tidak menghargai apa-apa yang kupunyai sekarang karena urusan pribadiku dengan mantan mentorku itu juga belum dan tidak akan pernah selesai.

Dan karenanya aku hapus dia, dan karenanya aku blok dia dari semua akun jejaring sosial dan messenger. Tetapi keadaan semakin menggila, hatiku semakin tidak pernah tenteram karena aku tidak pernah membencinya. Aku hanya marah, kecewa, selagi aku masih tetap merasa belum ada apa-apanya dibandingkan dia. Aku hanya mengingat dia sebagai abangku dulu yang hebat, pintar, meski cerewet dan ketusnya minta ampun. Tapi yang sempat kulihat dan dengar, dia kini kelihatan tidak seperti dulu.
"Andai gue masih waras kayak dulu, El, mungkin gue bisa lewati ini semua lebih mudah," katanya di Mal Taman Anggrek hampir dua tahun yang lalu.
Dan kami - aku dan kakakku itu jelas lebih senang melihat dia seperti dulu. Tidak seperti kondisinya saat terakhir kali kami melihatnya. Kami sangat ingin membantunya. Kami tidak merasa ada persaingan dengannya. Murni karena kami merasa dia kawan kami. Karena kami melihat potensi besar dalam dirinya yang harusnya tidak terkungkung seperti itu. Kami membantu dengan cara kami. Mungkin ada yang tidak berkenan baginya. Dan kini, dia menjauh, bahkan menghilang...
"Sampai kapan elo mau begini, El? Tokh kalau dia ngasih jawabannya, elo mau berbuat apa?"
Nggak akan ada yang bisa kuperbuat. Semua terjadi di masa lalu. Mungkin aku hanya akan lebih tenang dan terbantu melupakan semua hal buruk itu lebih cepat. Aku hanya, entahlah, merasa dan sangat percaya kalau dia bukanlah orang jahat, karenanya aku seakan tidak punya malu dulu, untuk dua kali mengirimkan request pertemanan di Facebook. Dan sudah tiga kali aku remove dia. Dan terakhir kali kemarin, aku sudah mantap untuk tidak akan pernah lagi ada dilihatnya.

Aku hanya pernah percaya dia adalah temanku. Meski dia tidak pernah mau dan berharap menjadi kawanku. Aku sudah menerima keadaan diriku, inilah aku apa adanya. Mungkin dia dijadikan pertanda bagiku untuk tidak pernah sombong dan untuk selalu siap dengan penolakan.
"Bang, aku bisa menulis lebih banyak lagi tentangmu. Aku bisa menjelaskan lebih banyak nasihat-nasihatmu kepadaku dulu dan meneruskannya kepada mereka yang mungkin membutuhkan. Ada sedikit keuntungan bahwa kam dulu sepertinya jijik terhadapku hingga kita jarang berbicara, makanya aku bisa mengingat banyak perkataanmu.

Bujur, untuk semuanya. Maaf, aku lancang pernah datang."


Eleazhar Purba
Sent from my iPod

Labels:

Eleazhar P. @ 4/27/2012 06:27:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives