The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Tuesday, May 22, 2012
Tentang Kematian, Tentang Masa Yang Akan Datang, Tentang Kerajaan

Berkali dalam hari-hariku kini sekelebat bayangan muncul. Hilang dan pergi. Bayangan-bayangan tentang hari-hari yang lalu tentang sebentang kota. Tentang langit biru di atasnya pada musim kemarau, dan tentang langit yang sempurna kelamnya pada musim penghujan.

Maka aku mengingat tentang banyak hal. Sebab dan akibat. Kesimpulan empiris dan asal mulaj dari kejadian-kejadian yang muncul berbelas hitung setelahnya.

Hingga aku berkata, "berhentilah tertawa bersamaku. Aku ingin hening. Aku ingin terasing meski dalam hitungan matahari belum terbenam sejak ia terbit."

Lalu, tentang hari-hari setelah bapaku pergi menuju akhir dari tepi laut dan awal dari cakrawala. Terang saja aku menyesalkan hari-hari akhirnya dulu. Bahwa ia jauh lebih berharga dari segala yang kuanggap berharga saat itu. Akuu merindu ia, tentang bapaku.

Aku tidak mengingat jelas kapan ia terakhir kali muncul dalam mimpi-mimpiku. Maka, bila bapamu masih belum tiba waktu keberangkatannya menuju tepi lautan itu, peluklah ia dalam satu atau dua kesempatan. Dan ini adalah tentang hal yang tidak mungkin aku perbuat. Dan akan sangat lama waktu itu tiba, detik menit perjumpaanku dengan bapaku kelak di negeri di balik cakrawala. Satu hal yang bisa mempertemukanku dengan bapa saat ini hanyalah dalam mimpi.

Demikianpun tentang ibuku. Berhitung kali berbelas masa aku tidak akan sanggup melakukan tunjuk balas atas kebaikan dan banyak hal yang ia perbuat. Ia kini satu alasan terbesar aku memilih untuk berjuang dalam hari-hariku. Tidak untuk mengalah. Tidak untuk kalah.

Dan segala kenangan tentang hari-hariku di masa lalu. Saat aku memerintah sebagai raja di atas negeri yang kurancangjadikan di atas buku catatan keramatku. Aku akan terus mengingatnya. Bahwa aku pernah memerintah atas suatu negeri nir wujud yang kecil lagi makmur sebagai pulau di tengah samudera. Dan batas-batas air, dan batas-batas langit adalah hal yang telah terbiasa. Bahwa negeri itu mengenal kehidupan dan kematian.

Lalu aku berkata dalam hati, pada malam-malam berhujan yang dingin rasa telah menusuk-nusuk tubuh, dan lagu-lagu kematian terdengar terlalu dekat bagi mereka yang empunya tiada, "adakah kekuatanku tersisa?"

Satu dalam beratus-ratus laksa bintang, satu tetes dalam hembur yang hitungan manusia tak berkuasa atas air di lautan raya, aku masih menginginkan satu kesempatan untuk melihat detik-detik terciptanya semesta. Atau mungkin keinginan dan impian tidak pernah ada batasannya dalam batas sadarku. Entahlah.

Berawaslah aku setelahnya, bila nyanyian pepohonan sudah terdengar, dan burung-burung di udara menghentikan perjalanannya meski angin muson telah tiba, mungkin waktu itu sudah akan datang. Tentang waktu yang dinantikan, lagi ditakuti pada detik yang berkembaran jarum pada jam manusia. Palingkan kepala kepada dia, namun tetaplah berawas. Dia dilahirkan saat musim berbunga berganti musim matahari berkuasa. Yang terpancar dari rupa adalah kekuasaan yang sulit untuk diabaikan, bahkan oleh bintang, bahkan oleh kumpulan binatang yang menjajah bumi sebelum peradaban bertanam ada.

Maka adalah tentang waktu. Maka adalah tentang kesempatan. Dan aku ada pada masa itu. Kamu juga. Sebagai saksi, sebagai bagian dari naskah yang dinantikan untuk dilihat.

Dan bapaku, bila apa yang kami ucapkan saat itu saat memberangkatkan kapalmu menuju tepi lautan menuju negeri di balik cakrawala itu terjadi pada masa ini, biarlah bapa. Aku, ibuku, saudara-saudariku. Rahasia kita. Ucapan kita, biarlah itu menjadi doa kita. Hingga waktunya tiba, kita memerintah sebagai bagian dari kerajaan.

Tentang langit. Tentang kehidupan. Tentang akhir dari suatu cerita.

Laha' ir man usha ja jilah hube eningka. Ligh sishaka ummakh.

Labels:

Eleazhar P. @ 5/22/2012 12:41:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, May 19, 2012
Istana Mungilku (Day 30): Merencanakan Masa Depan Satu Keluarga

Belanja peralatan rumah tangga untuk rumah baru? Cek. Sudah berbelanja di Seasons City untuk beberapa keperluan mendasar. Ditemani Mbak Nur. Lihat, si kakak bawel cantik itu lagi tenggelam dengan keasikannya sendiri berbelanja, sementara sepasang kakiku sudah gempor naik turun mall.


Jalan-jalan di akhir pekan yang panjang minggu ini? Eeekk. No. Kerja dari rumah dan tiduran saja. Masih kecapekan. Beberapa kerjaan dan proyek harus selesai minggu ini juga. Literally, harus selesai Hari Minggu besok. Yang agak susah dan mendesak untuk segera diselesaikan adalah tugas setting-up tempat baru untuk me-repair spare parts. Beruntung, Mas Tri mau membantu. Abang yang baek... Yak, semoga cepat selesailah.


Dan sekarang, kami sekeluarga merencanakan kepindahan ke rumahku yang di Cileungsi itu. Sementara rumah kami - tempat aku dan adik-adikku dibesarkan itu rencananya akan disewakan saja. Akan jauh lebih baik bila ibuku ada di dekatku, dan adik-adikku bekerja saja di Jawa ini. Aku hanya akan merindukan Sumatra Utara.


All photos by Eleazhar Purba.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 5/19/2012 11:01:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, May 7, 2012
Titik dan Titik. Kamu. Tidurlah...

Sama seperti hari-hari kemarin...
Sama seperti malam-malam terdahulu

Merindumu sudah menjadi hal yang biasa bagiku
Seperti yang sudah-sudah
Dahulu...

Aku hanya terbingung
Entah harus dengan cara apa aku menunjukkannya kepadamu

Aku pasti akan merindukanmu
Besok dan lusa
Minggu depan, bulan depan
Bertahun sudah dan bertahun akan datang nanti

Tidurlah. Aku lelah sepanjang hari-hari terakhir, jiwaku

Mari menyambut pagi, besok nanti.

Labels:

Eleazhar P. @ 5/07/2012 11:13:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts