The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Wednesday, August 22, 2012
Berlari di Bawah Matahari

Dahulu, dan beberapa masa di masa lalu,
Aku merasa ketakutan yang amat sangat tentang seseorang.
Jangankan untuk menatap matanya,
Untuk mendengar suaranya sepelan apapun nada yang keluar dari mulutnya,
Sudah membuatku ketakutan dan ingin berteriak saja.

Entah apakah ia sebenarnya menyadari ataupun tidak,
Aku melihat ia menikmati ketakutanku.
Entah yang terlihat dari air mukaku, entah yang mungkin ia rasa dari getaran-getaran yang secara tidak sengaja terlepas dari jiwaku.

Satu yang jelas, aku ketakutan.
Untuk berbicara dengannya saja, aku menundukkan kepala, suara yang keluar dari mulutku lebih berupa getaran, dan getaran.

Aku sempat berharap dulu, agar aku mati saja.
Seperti layaknya mahluk tidak berguna yang ia tuding acungkan tentangku.

Kelam hari yang kurasa saat itu, tak berbeda seperti hari-hari di kota tua yang sepanjang harinya diselubungi awan hitam.
Tidak hitam dan putih, hanya warna kelabu.
Setidaknya hitam dan putih itu lebih baik kukira,
Karena ada ruang yang tercipta dan terpahat di mata,
Antara yang hitam, antara yang putih.
Tetapi jelas tidak tentangku, yang hanya melihat abu-abu.
Aku sangat menginginkan kematian bagi hariku.



Namun satu hari yang membebaskanku tibalah juga.
Setidaknya kupikir, Pemilik Semesta membuatkan jalan-jalan bagiku,
Dan tidak menginginkanku mati saat itu.
Aku bebas setelahnya.

Hari-hariku lalu berubah.
Hari-hari yang sebelumnya seperti layar televisi di era masa lalu,
Oh tidak, era technicolor bahkan lebih baik,
Hari-hari itu seperti masa kegelapan.
Dan lalu melompati peradaban dan menggulung waktu,
Setelahnya tiba pada hari-hari yang kembali mengenal warna.

Aku lalu menikmati kembali biru pada langit dan laut.
Juga semburat jingga pada matahari sore yang bersembunyi di atap hijau hutan pada senja-senja setelahnya.
Aku lalu bisa melalui hari-hariku,
Meski kerap aku tergelincir, terjatuh, dan terluka saat menjalani hari-hari baruku menjelajah tanah dan hutan ini.

Selalu ada tangan yang terulur untuk kupegang agar bisa berdiri setelah terjatuh.
Pun orang-orang yang kutemui dalam perjalanan ini,
Juga kulihat lebih mampu mereka tersenyum kepadaku.
Aku tidak bertanya kepada mereka, apa alasan mereka tersenyum.
Aku menikmatinya saja.
Karena senyuman yang dipertanyakan adalah jamak sebagai senyum kebohongan dan kebohongan di balik wajahnya.
Aku tidak ingin terluka oleh perasaan dan prasangka dalam hatiku.
Tentang senyuman itu,
Aku menikmatinya saja.

Kini, titik dan tempat-tempat persinggahan baru dalam hidup berubah telah.
Aku mengharap kebaikan dan kemurahan hati Pemilik Semesta dalam kehidupan dan jalan-jalan hidupku.
Agar aku tetap bisa berdiri...
Agar aku tetap bisa berlari...
Di atas bumi, di bawah matahari...


Photo by: Eleazhar P.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 8/22/2012 03:26:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives