The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, August 20, 2012
Dunia Terus Berputar, Dan Kita Harus "Move On"

Dua minggu terakhir adalah hari-hari yang menguras pikiran dan perasaan. Kerjaan sedang pada posisi "peak" dan ditambah desakan-desakan lagi limpahan dari banyak pihak dan kepentingan, hari-hari menjelang perpisahan dengan senior di kantor, rencana kepindahan tempat tinggal, dan kabar adik perempuanku yang terkena kecelakaan kecil di Medan sana.

Tentang perpisahan dengan seniorku di atas, cukuplah sudah aku bercerita pada post sebelumnya. Aku mungkin hanya akan merasakan kehilangan pada Kamis besok, saat kembali bekerja setelah libur Lebaran ini. Aku mungkin hanya akan kebingungan pada siapa aku akan mendapat pertolongan sigap di kantor kalau bukan darinya seperti dulu dan bertahun sebelumnya, meski hanya pertolongan-pertolongan kecil, namun aku jarang mendapatkannya dari orang lain. Aku akan tidak bisa bercerita lagi tentang kesulitan-kesulitan pribadiku seperti biasa. Orang dewasa muda sepertiku ini masih butuh banyak bimbingan, dan itu sempat kudapat darinya. Aku akan merasa "kecarian" sesegeranya.
"Mas, tolongin gue. Ini supir taksinya ngomel-ngomel karena macet parah. Ntar diadukan aja ke Bl*e Bird-nya. Ini lagi uangku kayaknya nggak cukup, tadi nggak ke ATM karena buru-buru nganter tuh si Oom ke gudang. Please help, tungguin gue di halte BEJ yak.."

Dan ia benar segera turun dan menunggui dengan wajah cemas. Jarang ada yang seperduli ini.
Aku mengambil banyak hal positif dari kepergiannya. Aku tahu ia akan jauh lebih berhasil di tempat barunya nanti. Aku tahu ia akan menjadi bapak manajer yang lebih baik dan punya banyak waktu lebih untuk keluarganya. That family man, yang setahuku sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Dari cerita-ceritanya pula, aku merasa bahwa ketakutanku untuk membangun sebuah keluarga perlahan mencair. Trauma masa kecilku dan rasa takutku tentang bagaimana aku akan menjadi suami dan bapa yang baik perlahan disembuhkan, tentu oleh si abang tadi dengan cerita-ceritanya. Pun tentang rasa sakit hati yang kuderita selama beberapa tahun terakhir, perlahan terkikis. Aku mulai merasa biasa - ya, biasa saja terhadap luka-luka itu. Aku mulai merasa bahwa itu hanya bagian dari hidup. Meski sesekali kesakitan itu akan muncul lagi, tetapi aku akan tidak ambil pusing lagi.

Lalu tentang pekerjaan. Ah, rasanya akan lebih baik aku tidak menceritakan terlalu detil di sini. Aku hanya akan terbuka dengan semua orang bahwa aku memang sedang mencari-cari pekerjaan baru. Aku butuh tantangan baru, dan semoga kehidupan yang jauh lebih baik karena ibuku sudah menua dan secara pribadi aku pikir, bila memang ada yang lebih baik dari yang sekarang, kenapa tidak?

Hanya memang aku tidak bisa beralih begitu saja, masih banyak tugas yang harus diselesaikan di sini. Mungkin awal tahun depan aku sudah berada di tempat yang baru. Aku tidak boleh berdiam tentunya. Bosku, yang juga menganggapku sebagai adiknya, juga sudah merestuiku. Katanya, "itu pilihan dan kehidupanmu. Jika ada yang lebih dari sekarang, ambillah. Aku percaya saat umurmu nanti sudah tigapuluh tahun, kau menjadi manajer yang baik. Bahkan sekarangpun, you are the best at your age. You exceeds all expectation".

Aku sangat terharu karenanya, it boosts my moral. I'm lucky to have a boss like her.

Kurang dari dua minggu yang lalu, kabar gembira datang dari adik perempuanku. Ia diterima bekerja di konsultan pajak. Meski bergaji kecil tetapi tidak mengapa, ini pekerjaan pertamanya. Dan nilai positifnya adalah pekerjaan ini sesuai dengan perkuliahannya dulu.

Hingga datang kabar yang kurang mengenakkan Kamis kemarin (sepulang farewell dinner di Kalibata), adikku itu yang lebih banyak bekerja dengan klien di luar kantor dan mengurus hal-hal administratif ke kantor pemerintah, mengalami kecelakaan di jalan. Kakinya terluka karena terserempet mobil. Jujur, aku sangat khawatir dan bingung harus berbuat apa. Aku lalu menelepon ibuku terus menerus tentang pengobatan dan kemajuan kesembuhannya. Aku takut.

Tapi syukur, kabar selama dua hari ini menunjukkan perkembangan kesembuhannya. Semoga usai libur Lebaran ini, ia sudah bisa bekerja seperti biasa.

Dan kini, saat post ini ditulis, aku sudah berada di rumah kontrakan di Cileungsi. Aku sudah memulai kepindahanku. Sebelum rumah milikku selesai dibangun, aku menyewa rumah milik Mbak Nur, si kakak yang satu itu. Jujur, ada sedikit rasa aneh untuk meninggalkan Jakarta untuk tinggal di sini, dan setiap hari harus ke Jakarta, bekerja, dengan status "komuter".

Aku belum berpamit pada abang sepupuku di Tanjung Duren yang aku telah tinggal bersama dengan keluargaku itu selama hampir lima tahun terakhir. Tetapi besok atau lusa aku akan kembali ke sana, untuk berpamit dan mengambil sisa barangku.

Kepindahanku ke sini, tentu juga akan mengubah beberapa hal. Aku akan bekerja "normal" seperti orang lain umumnya, dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore. Ini akan sangat berbeda dengan sebelumnya, yang setiap hari bisa pulang hingga pukul sembilan malam. Aku akan sangat berfokus pada to-do-list milikku, agar pekerjaan semua selesai dalam sehari dan bisa pulang pada pukul lima, mengikut pada bis perumahan agar tidak kemalaman tiba di rumah. Terlebih, orang yang biasa "stand by" lembur di kantor denganku saat ini sudah tidak di sini lagi. Siapa lagi kalau bukan senior di atas. Hehehe...

Saat ini masih sedikit gelisah. Saat ini masih sedikit goyah. Terlalu banyak perubahan terjadi akhir-akhir ini, dan aku harus ikut bergerak, sama seperti bumi berputar pada porosnya dan berlari dalam jalur lintasannya mengelilingi matahari dan mengejar tahun.

God! Good things will happen, I believe. But please help me to be strong getting thru this.

Labels:

Eleazhar P. @ 8/20/2012 10:49:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives