The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, November 25, 2012
Kejujuran Brutal Tentang Luka

Telah terjadi terlalu banyak hal akhir-akhir ini, November ini terlalu emosional dan berwarna.

Musim gugur telah berlalu. Detik dan menit dalam perputaran waktu berjalan menetapkan setiap rasa, dan semakin kerap. Mungkin saya telah menjadi begitu perhatian dalam setiap detil dalam kehidupan yang kujalani ini, setelah beberapa waktu lalu penawar lukaku telah menutupi luka itu.

Luka, dan luka itu lagi. Kesakitan dan kepahitan yang seperti sobekan pada pakaian. Sebagus apapun proses menambal sobekan itu, benang jahitan itu akan tetap menunjukkan detil pori pakaian yang pernah tersobek.

Pernah saat saya menyampaikan segala luka itu pada si penoreh luka, saya hanya mengharapkan ia tahu, bahwa disadarinya atau tidak, ia telah melukaiku. Saya tidak mengharapkan luka itu disembuhkan olehnya. Saya hanya telah menemukan penawarnya, yang tentu penawar rasa sakit ini bisa saja habis, menghilang, tetapi tetap penyakit itu akan tetap ada.

Satu cerita tentang Seseorang, yang katanya sanggup memulihkan luka ini, dengan kesembuhan total. Meski saya sedikit ragu, bahwa ia akan datang menjengukku, dan menyembuhkan luka dan kesakitan ini sepenuhnya.

Entah bagaimana caranya saya bisa mengundangnya...
Entah bagaimana caranya ia akan menyembuhkan sakit yang telah menyiksa bertahun ini...

Luka ini telah menjadi sebegitu menjengkelkan dan sangat menyebalkan. Sangat menyiksa.

Bahkan saudara sedarahku, adikku yang sangat kusayang, telah merasakan luka ini yang telah kujalarkan ke dalam inti hatinya. Dan jujur aku sangat menyesal. Dan entah bagaimana aku bisa menawarkan rasa sakitnya. Kau tahu pasti sangat terasa sakit begitu kau sadar kau telah menyakiti orang yang kau sayangi. Terlebih bila kau dapat merasa hati dan perasaan orang dan menggemakannya lebih kuat di dalam jiwa. Semakin kuat gema itu, semakin roboh pertahanan jiwamu, dan semakin rapuh kau menghadapi pagi.

Dan itulah yang terjadi selama dua hari terakhir... I'm just feeling so crushed.

Adikku, kesayanganku, maafkan aku. Aku sangat menyesal.
Di dunia keseharianmu, tentu tidak akan kau pernah mendengar bahwa aku menyayangimu.
Tetapi ketahuilah dari caraku melindungimu, dan aku tahu jalan yang ketempuh adalah selingkaran kesalahan yang menggenap, bahwa aku berusaha melindungimu, sepenuhnya.

Dan kepada dirimu yang lain berada jauh di sana... Peluka jiwaku beberapa tahun lalu. Sepenuh kesadaranku, kuketahui bahwa kesakitan yang kau tanamkan dalam diriku telah menjadi luka yang menggila dan memenjarakan jiwaku dalam kesedihan yang belum terhibur selama bertahun. Entah senjata apa yang telah kau tusukkan dalam hatiku hingga kesakitan ini telah menjadi bagian keseharianku, bahkan hampir setiap jam dalam hariku.

Kau tidak tahu bagaimana aku berjuang setiap harinya untuk menutupi kesakitan ini, dan bagaimana aku bersusah berteriak kepada diriku sendiri agar aku tetap bisa berdiri. Kau tidak tahu itu! Yang kau tahu bahwa segala yang kutanggung adalah jelas tentang kesalahanku sendiri. Kesalahanku sendiri, dan tidak ada sesuatu tentangmu. Hanya itu yang kau tahu!

Sebagai lelaki, bahkan aku hampir tidak punya kekuatan sedikitpun untuk bisa berdiri. Terkecuali harapan bahwa ada hal yang harus kuselesaikan dalam hidup, hanya itu! Hanya itu yang membuatku tidak menyerah.

Kau bahkan tidak menyadari kesakitan yang kurasa dari setiap benda dan jalan yang kulalui telah bercerita apa saja saat bayangan-bayangan manusia dan setiap geraknya bisa muncul begitu saja. Kau bahkan tidak tahu apapun tentangku!

I'm brutally honest. I am. Kau bahkan tidak tahu apapun tentangku.

Labels:

Eleazhar P. @ 11/25/2012 08:43:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives