The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Friday, May 10, 2013
Rumah Adalah Tempat Hati Berdiam

Tidak ada tempat berdiam dan berteduh terdamai di hidupku dan dunia yang kutinggali, selain berada di dalam perlindunganmu.

Dalammu, aku menjadi aku yang kukenal sebagai diriku.
Dalammu, segala ketakutanku hilang dan tergerus.

Denganmu berjalan di sampingku, dalammu aku menempatkan hatiku, maka tiada gentar malam yang kutakuti. Maka setiap pagi adalah hari baru yang kita jalani.

Kau pun tahu, berpisah denganmu adalah kesakitan besar bagiku.
Tiada hari akan terlalui tanpa pernah memikirkanmu.

Dan matahari, bulan, dan malam berbintang, akan menjadi benda-benda langit tempat hatiku menautkan jangkarnya, lalu garis konstelasi dari hatiku bergetar, meminta mereka menyampaikan hal ini padamu, bahwa "aku merindumu, sangat..."


Dan garis langit di ujung kehidupan, adalah tempat kita berdiam di akhir hidup kita. Dalam alam keabadian, menjalani tapak tanah dan jalan berlapis emas. Jikapun dalam kehidupan ini aku tidak bertemu denganmu lagi, yang kupercaya ialah kita akan bertemu di garis akhir kehidupan.


Tentang hati ini yang mencarimu, adalah sama seperti sulur-sulur tanaman yang merindu cahaya mentari setiap harinya. Aku tidak akan pernah bisa menjangkaumu, tetapi kau tetap selalu ada di sana bagiku, memberikan hal hidup yang tidak terlihat tetapi menghidupkanku. Maafkan bila aku berlebihan, bagiku, kau adalah segala hidupku.

All photos by Eleazhar P. All were taken in my Pisces Sanctuary.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 5/10/2013 08:33:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, May 5, 2013
Pembunuh Senyap Yang Kau Kirim Padaku

Jauh sebelum aku berperang denganmu, aku telah menjalani hidup yang kau sendiri tidak akan menyangka bagaimana aku menjalaninya.

Jauh sebelum permusuhan kita dimulai, aku belum pernah bertatap kenal dengan orang yang sepertimu.

Dan dalammu, garis baru dalam hidupku sudah dimulai.

Segala siksa yang kau perbuat, segala kesakitan yang tergurat rasa di punggungku, telah berlalu bertahun lalu.

Dan lalu terlihatku, kau telah menempatkan bagian-bagian tubuh seorang pembunuh, setiap kau hujam aku dengan pukulan-pukulanmu tepat mengena di bagian jantung tubuhku.

Pembunuh itu, pembunuh senyap, yang kau kirimkan dan lengkaplah ia kini bertubuh di dalamku.

Ia menamparku setiap pagi dan berteriak di kedua telingaku hingga aku terlalu takut untuk bangun dari tidurku. Katanya, "kau tidak layak hidup!!!"

Ia mengikat kedua tanganku, kedua kakiku, lalu menunjukkan gambar-gambar saat kau menghabisiku dulu. Jelas aku meronta hebat. Jelas aku gusar dan marah. Jelas aku menggerakkan kakiku, tanganku, untuk bebas dan melawannya.

Dan kau, aku pernah meminta kepada Dia Yang Mengatur Hidupku, agar tidak akan lagi ada titik di bumi yang kau dan aku bisa bertemu. Dan tentu, menjauhkanku sejauh mungkin darimu.

Yang bisa kini kuperbuat hanyalah agar bisa hidup berdampingan dan mengacuhkan pembunuh senyap yang kirim untuk tetap menghabisi nyawaku. Meski aku tidak pernah selalu menang melawannya.

Kesakitan ini, muncul berkali, lenyap berkali.

Labels:

Eleazhar P. @ 5/05/2013 08:31:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts