The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Tuesday, December 31, 2013
Bandung dan Beberapa Cerita Tentangnya

Siang tadi, adikku mengunggah foto-foto hasil liburan akhir pekannya di Bandung dengan seorang sahabat perempuannya sejak kuliah di Medan, selama Sabtu - Minggu yang lalu. Adikku terlihat senang di foto-foto itu. Mungkin karena ia - sejak dulu, menyukai menjelajah tempat-tempat baru, atau mungkin karena Bandung itu sendiri, yang memang punya daya tarik untuk sebagian besar orang untuk datang dan menikmati kota itu.

Tidak begitu banyak tempat yang sudah mereka singgahi. Hanya Cihampelas Walk (Ciwalk, yang kusarankan padanya), Trans Studio Bandung, dan beberapa tempat makan. Komentarnya, "bagus".

Aku sendiri menilai adikku ini sangat pemberani, untuk ukuran gadis yang baru datang ke Jawa, mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta, dan punya semangat untuk menjelajah tempat-tempat baru, yang ia dapatkan informasinya dari aku sendiri atau teman-teman barunya di kantor. Berbeda denganku, aku belum banyak melakukan penjelajahan di banyak tempat di pulau perantauanku ini selama enam tahun aku di sini. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan nature pekerjaanku, mungkin karena aku belum punya mood untuk menjelajah sekalipun aku memang suka travelling.

Tetapi bagiku, Bandung punya kisahnya sendiri...

Aku sendiri baru dua kali ke Bandung. Dua kali tersebut merupakan kunjungan dinas dengan rekan-rekan kantor, selama Juni hingga Juli 2013 lalu. Jelas, belum banyak yang bisa kulakukan selama dua kunjungan itu. Kegiatan selama kunjungan dinas, hanya berupa kunjungan ke toko-toko milik kantor; satu toko sekelas Tier-1 di Bandung Indah Plaza, dan dua toko kelas Tier-2 di Dago dan Kampus ITB. Rute yang dijalani baru sebatas itu dan beberapa titik di pusat kota tempat kami menginap. Secara keseluruhan, sama dengan kesimpulan adikku di atas, bagus. Kami menyukai Kota Bandung.

Ada beberapa cerita tentang kota ini, mulai dari hal kecil hingga yang cukup serius tentang hidupku.

Kota ini adalah kota asal dari beberapa orang yang kutahu & kukenal. Mereka memiliki kebanggaan tersendiri tentang kota mereka. Pun sama denganku, Lubuk Pakam tetap menjadi kota kelahiranku yang kubanggakan. Dan bila mendengar kisah-kisah mereka (juga kawan-kawanku dari Sumatra Utara yang melanjutkan pendidikannya di sana), pahamlah aku mengapa mereka mencintanya. Kata mereka juga, Bandung punya segala romantisme yang dicari orang.

Di Bandung pula, selama kunjungan dinas kedua, adalah saat aku "bersitegang" dengan rekan kerjaku saat itu. Sebut saja namanya SARR. Aku yang sekamar hotel dengan dua rekan kerjaku saat itu, tidak percaya terhadap apa yang SARR perbuat saat aku mandi setelah kami baru tiba di Bandung jam 1 pagi. SARR mengambil fotoku dalam keadaan tak berpakaian di kamar mandi (dan ya, akupun menyalahkan Hotel H**ris yang membiarkan kamar mandi yang tak berpenutup penuh, karena ada jendela dari kamar yang bisa melihat langsung situasi di kamar mandi!!) dan membuatku sangat marah. Mungkin dia bercanda - aku berusaha keras berpikir positif. Tetapi saat dia coba meyakinkanku bahwa foto tersebut sudah dihapus, aku berhasil merebut Blackberry-nya dan menemukan foto itu masih di sana. Kontan kuhapus. Bagiku, "buat apa kau simpan?"

Aku tidak tahu motivasi SARR hingga kini. Jujur, aku kecewa dan marah saat itu, pun sempat menjaga jarak. Tentu, bila ia menjadi sangat menyebalkan di waktu-waktu tertentu kemudian, dan kejadian di Bandung ini teringat-ingat lagi, ada muncul rasa gemas yang ingin kuluapkan dengan melayangkan tinju ke mukanya. Tapi aku tak akan pernah bisa, he's still a brother to me. Brad, kalau kau membaca post ini, you have to know this, aku masih gemas dan sangat mau melayangkan tinju, but I know I'll never be able to...

Di Bandung pula aku mengalami kunjungan yang diselingi rasa takut akan kelanjutan hidup kami. Pada kunjungan pertama di 21 - 23 Juni lalu, aksi sweeping mobil berplat B terjadi karena ricuh masalah bola antara Jakarta dan Bandung. Mobil kantor yang kami tumpangi sempat digeplak dengan keras saat hendak pulang ke Jakarta. Menyayangkan nyawa, kamipun mengungsi beberapa jam lamanya di Ciwalk. Well, Ciwalk was much better than some spots of "gaul" we know in Jakarta. That was what we found out that night...

Hal-hal ringan tentang Bandung yang kami (aku) sukai, tentu makanannya dan selera berbusana masyarakatnya yang lumayan. Yah, rasanya semua orang tahu itu. Dan bagiku juga, Bandung agak sedikit mirip dengan Medan dan terutama Siantar, dua kota besar di propinsi asalku, Sumatra Utara. Jadi, rasanya seperti pulang ke rumah sendiri saat mengunjungi Bandung.

Bandung pula, adalah tentang rumah yang kubeli dan kutempati kini.

Bandung dan kawasan wisata di sekitarnya adalah tujuanku dan dua kawan terdekatku saat itu untuk berlibur tepat dua tahun lalu. Plan sudah mulai rapi, akupun ikut antusias dan mengumpulkan cukup banyak duit untuk kugunakan berlibur. Saat itu di tanganku sudah terkumpul beberapa juta rupiah.

Namun entah kenapa, saat itu si abang yang menjadi pencetus ide ini, malah tidak bisa bergabung. Tidak mungkin hanya aku dan si kakak yang jalan. Jadi rencana untuk berlibur cukup lama dan menjelajahi Bandung sekitarnya dibatalkan sementara. Dan aku masih tetap mengumpulkan uang hingga rencana itu jadi.

Entah kenapa pula, setelahnya, sepertinya si abang tadi menjauh dari kami berdua. Dan lalu ia menghilang. Aku bingung hendak diapakan uang yang kutabung untuk berwisata itu. Entah untuk berwisata sendiri ke tempat lain, atau membeli gadget. Itu pikiran mudaku yang masih "hedonis", tak berpikir panjang tentang hal lebih yang lebih berguna dengan uang yang kupunya.

Tetapi, tidak lama setelah kejadian di atas, si kakak menyarankan untuk membeli rumah saja dengan cara mencicil. "Uang simpanan yang mulai loe cicil untuk jalan-jalan di Bandung, bisa loe pake menjadi DP dan KPR awal," katanya. Jadilah kupinang rumah sederhana di suatu kawasan di Kabupaten Bogor yang kutempati kini. Kunamakan ia "Rumah Pisces", "Suaka Pisces", tempat perlindunganku dan hatiku.

Kini, tiap kali aku merenung di kamar, terkadang aku mengingat kembali tentang Bandung, beberapa cerita tentang kota klasik itu, dan cerita tentang beberapa pertemanan yang kandas, renggang, atau terputus tiba-tiba.

Dalam waktu dekat, aku akan mengunjungimu kembali, Bandung. Kali ini aku akan berjalan sendiri, temanku di sana hanya akan ada kamu sendiri.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 12/31/2013 12:55:00 AM.

1 Comments:

"yep!exactly right,,bandung kayak medan ya Le,,dari perumahaan, untuk masalah berpakaian mereka bisa di acungi jempol karena memang disana banyak FO :D "
 

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives