The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, January 4, 2014
Indonesia, Inilah Charlotte Church

Bagi beberapa orang yang lebih senang menghabiskan waktu sendiri - paling tidak dengan beberapa orang terdekat di momen hari raya, seperti aku sendiri, mendengarkan lagu-lagu Natal di suasana Natal adalah waktu-waktu istimewa. Dan di momen Natal seminggu yang lalu, pilihan untuk mendengarkan lagu-lagu Natal tetap mengembalikan saya pada sosok "anak ajaib" dari Britania Raya yang beberapa tahun lalu menjadi ikon dari musik klasik yang dikemas dalam bentuk crossover music. Lagu-lagu Natal yang dibawakannya masih saya suka. Dan sosok anak ajaib itu adalah Charlotte Church.


EP Two cover. Buy EP One and Two here.

Charlotte, pada usianya yang kini menginjak duapuluh tujuh tahun (sebaya, dan berselisih beberapa hari denganku) telah mengalami beberapa kali perubahan dalam bermusik, kini ia bukan lagi seorang penyanyi klasik yang menyanyikan lagu-lagu tradisional Eropa atau sacred arias seperti ia dikenal dulu. Ia sempat menjajal menjadi penyanyi pop kebanyakan, menjadi host di acara tevenya sendiri, menghilang dari publisitas, dan kini kembali hadir. Kini ia adalah seorang musisi indie yang merevolusi musik - sekali lagi - di dataran Britania Raya, terlepas dari segala kekejaman pemberitaan media tentang kehidupan pribadinya selama beberapa tahun lalu.

Sekedar informasi singkat, selepas memenangkan gugatan atas tindakan non-etis berupa penyadapan telepon oleh raksasa media Inggris, Charlotte sempat menghilang. Uang yang diperoleh dari kemenangan melawan media tersebut memang menyakitkan, tapi Charlotte menggunakan uang tersebut dengan sangat bijak; ia membuat label musik sendiri dan menghasilkan beberapa EP yang memuat banyak lagu berjenis alternative yang pantas untuk kamu dengar.

Beberapa EP telah dirilis sejak tahun 2012, dan masih berlanjut hingga sekarang. Sentuhan musik klasik masih bisa terdengar pada lagu-lagu rock pada EP yang kini judah berjumlah tiga (sudah ada EP One, Two, Three, menyusul akan ada EP Four, dan Five). Kamu juga akan bisa mendengar sedikit pengaruh dari Bjork, Kate Bush, bahkan U2! Tiap EP membawa ciri dan cerita khas masing-masing. dimulai dari EP One yang memuat kisah hancur dan bangkitnya hidup Charlotte, dan dilanjutkan dengan kisah evolusi hidup pada EP-EP berikutnya.

Banyak yang menjadi favorit saya. Sebut saja sebagian:
Tiga lagu terakhir yang kusebutkan di atas adalah yang paling sering diputar di iPod. Dan suaranya, luar biasa, pun agak sedikit sulit mendefinisikan jenis musiknya.

EP Four akan dirilis Maret 2014 ini, seperti yang disebutkan Charlotte sendiri melalui akun Twitternya. Saya sendiri sangat antusias menunggunya. Sedikit banyak, saya juga berharap bila ada promotor yang mau membawa Charlotte ke Indonesia. Mungkin, Java Rockin Land bisa menjadi panggung pertama untuk Charlotte. Siapa tahu...

Hingga kini, musisi kelahiran Wales ini masih terus aktif di panggung-panggung alternatif Inggris, dan beberapa gigs di Amerika Serikat. Ia pun aktif menyuarakan opini, bahkan memberikan kuliah umum, perihal musik dan kehormatan perempuan di industri musik yang banyak "menguliti" sensualitas wanita. Sesuatu yang kini ia sesalkan karena pernah berada dalam kondisi tersebut. Opininya sendiri cenderung tajam dan keras, tapi saat didengarkan dengan seksama, kamu pasti akan setuju dengannya.

Charlotte Church, kami menunggumu di Indonesia.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 1/04/2014 11:52:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives