The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Tuesday, May 27, 2014
Yang Tidak Terceritakan Oleh Mulut Sejak Februari Lalu

Jadi, di sini, tepat di lingkar tengah pusat Jakarta, kantor yang saat ini hanya berisi empat orang karena yang lain sedang bertugas di luar, sore bermendung, dan riuh demo di sekitar pusar air mancur di bawah sana, aku putuskan untuk menuliskan hal-hal yang tidak terceritakan oleh mulut sejak Februari lalu.

Sekarang sudah memasuki bulan keempat aku bekerja di tempat baru. Masa probation sudah selesai minggu lalu, surat pengangkatan sudah diterima, dan hal-hal baik sudah banyak terjadi akhir-akhir ini. Terang saja aku senang; sekarang aku sudah kembali bekerja di lingkup kerja antarbangsa kembali, gaji yang sangat cukup dan keuangan yang mulai stabil kembali, dan pastinya, inilah industri yang paling lama aku geluti dan paling senangi.

Aku sudah malas berpindah-pindah perusahaan lagi. Yang sekarang ini sudah perusahaan keempat, dan sudah merasakan lebih-kurangnya bermacam perusahaan terdahulu. No, kau tidak akan menemukan aku menjelek-jelekkan tempatku mencari nafkah dahulu di sini, meski kadang jari rasanya gatal untuk meluapkan emosi tentang perusahaan sebelumnya.

Aku cuma berharap, pengalaman di perusahaan ketiga itu biarlah menjadi yang terakhir untuk hal-hal yang buruk selama masa karirku. Aku sekarang hanya ingin bekerja, aku butuh duitnya untuk menyicil mimpi-mimpi masa dulu dan yang terbaru; pergi ke Iceland, melunasi cicilan KPR, menyicil mobil, dan terutama, aku ingin mengadopsi bayi.

Keinginan mengadopsi bayi muncul lebih kurang sejak tiga minggu terakhir. Dimulai lebih karena, munculnya rasa kasihan dan ada semacam rasa aneh untuk menyalurkan belas kasih kepada anak bayi. Nggak tahu pasti kenapa juga bisa begini, padahal sebelumnya aku tidak pernah punya keinginan untuk memiliki anak meski memang suka anak-anak. Kucing dan anak kucing sebelumnya ada sebagai prioritas utama di hati.

Seru juga kalau dibayangkan, anak itu nantinya ikut aku commute tiap hari kerja ke Jakarta, selanjutnya kutitipkan di semacam nursery/child care, dijenguk di jam makan siang, dan dijemput pulang selepas kerja. Kupikir aku sanggup secara mental & finansial. And to those who asked why I should not get married soon so I could have my own baby, aku mau jawab, "no! Marriage is not for me, setidaknya sampai saat ini." Aku bisa menunggu hingga usiaku 30 tahun dan mengadopsi bayi secara legal sebagai orangtua tunggal. Daripada rasa sayang dan belas kasihanku selalu kuberikan kepada orang yang salah seperti yang selama ini terjadi, bukankah lebih baik kuberi rasa sayang itu ke anak kecil yang tidak beruntung lagi tidak diinginkan orangtuanya?

Akachan To Boku

Dan awal dari tiga minggu terakhir tersebut adalah saat aku mulai menonton kembali anime "Akachan To Boku" (Baby and I) di Youtube. Anime ini yang dulu, sewaktu ditayangkan di TV7, berhasil bikin perasaan hancur, karena mirip dengn kejadian sehari-hari, baik dulu di masa kecil ataupun di awal-awal usia duapuluhtahunku yang baru kusadari akhir-ahir ini. Dulu sewaktu ditayangkan, I thought that I can relate myself to Takuya-kun (lead character, the big brother in the anime). Kami sama-sama anak sulung; dilahirkan lebih dulu untuk menjaga yang dilahirkan kemudian, juga tanggungjawab rumahtangga yang dibebankan lebih untuk kami. Juga masa-masa naik-turun untuk menyayangi dan membenci mereka yang terlahir kemudian. I could place my feet in Takuya's shoes.

Tetapi, semakin aku sering menonton anime ini, semakin aku tertarik dan menjatuhkan belas kasihan ke tokoh Minoru-chan, si adik bayi yang "kawaii badai" atau super lucu di anime ini. Aku merasa tertohok di banyak adegan, dan aku melihat diriku sendiri dan sumber masalahku di awal usia duapuluhtahunku, pada Minoru-chan. Seketika aku merasa jijik dan malu pada diriku sendiri, yang di tahun-tahun awal perantauanku di Tanah Jawa ini, sikapku malah seperti anak bayi ini, Minoru-chan.

Aku menemukan bagian inti masalahku dari menonton anime ini, I did something stupid, yang entah karena pengkondisian, I did something called "Big Brother Worship" to some people, seperti Minoru perbuat ke Takuya. Dan itu sebabnya, it has been hurting me so much these years.

Aku pernah menuliskan di post perpisahan ini, bahwa satu orang berperan sebagai "yang menunjukkan segala yang tidak baik tentangku", dan satu orang lagi - yang hingga sekarang tetap berhubungan sangat baik denganku, adalah yang membangkitkan semangat hidup saat itu. Pada keduanya, aku pernah dan masih menganggap mereka sebagai saudara laki-laki tuaku, yang seharusnya tidak boleh ada di dunia kerja. Terhadap yang kedua, sedikit sekali, bahkan tidak ada kenangan buruk tentangnya, bahkan aku yang cenderung "kurangajar" ke dia sekalipun dia tahu banyak rahasia tergelapku. Bahkan aku beberapa kali "mengancam" meski dengan bercanda saat malam-malam horor di kantor, "kalau nggak ditemani sampai aku selesai lembur, gue pecat lo jadi abang gue." Hingga sekarang kalau bertemu di mana atau via telepon, aku masih bisa teriak-teriak seperti orang yang tidak ingat umur ke dia. I called him "abang jelekku, abang kesayanganku." Ia adalah partner-in-crime bagiku.

Dan perihal orang pertama pada masa itu, yang dengan jahat kusebut "yang menunjukkan segala yang tidak baik tentangku," aku sudah bertemu dengannya beberapa kali pada Maret dan April lalu. In fact, yang paling banyak membekas adalah tentangnya dibandingkan orang kedua yang kuceritakan di atas, sekalipun hanya beberapa bulan aku sekantor dengannya, dan hanya setahun berada di perusahaan yang sama.

Saat melihat beberapa puluh episode, aku melihat apa yang kualami tentangku seperti yang ada pada Minoru terhadap Takuya. Aku mengalami rasa takut berlebih waktu membuat kesalahan di pekerjaan yang saat itu ia menjadi semacam pembimbingku, aku takut seniorku itu marah dan ketus kembali padaku. Aku merasa ngeri kalau ia tidak banyak bicara tetapi kedua matanya "melotot" dan wajahnya kusut, dan itu kulihat hanya ia tujukan padaku. Banyak hal lain; menjadi gugup bila mau bicara kepadanya karena rasa takut itu, merasa tidak layak di kantor itu karena sering ia bandingkan aku menjadi "yang kurang" dibandingkan rekan seangkatanku waktu itu (dan bertahun-tahun aku menganggap diriku adalah orang yang sangat bodoh karenanya), dan merasa tidak pantas dalam banyak hal karena aku secara bercanda - meski aku masih sulit mencerna bentuk candaan macam apa itu, "dikelompokkan" sebagai "Batak Tembak Langsung" yang berlogat aneh dan aku tahu bahwa aku semacam orang yang tidak tahu sopan-santun di tanah rantau yang kudatangi. Dan titik akhirnya adalah aku mengatur sendiri akhir "perjalananku" di perusahaan itu, dengan skenario yang kiranya bisa memuaskan mereka yang membenciku.

Tentangnya, hanya tertinggal semacam kesedihan yang masih belum tertuntaskan hingga sekarang. Tapi, aku nggak pernah bisa benci ke dia, meski selama bertahun aku mengalami rasa takut setelahnya untuk menghadapi pagi, untuk bangun sekalipun. Di banyak pagi, aku berharap mati saja, karena rasa rendah diriku yang sering tiba-tiba muncul di pagi hari, terlebih karena mengingat darah Batak yang mengalir di jejaring pembuluh darahku.

Beberapa kali aku unfriend dia di Facebook, terakhir sekali (di akhir Maret 2012) karena ia tiba-tiba menghilang sejak aku berkomentar di statusnya (Februari 2012). Kupikir saat itu, mungkin aku berbuat salah lagi, atau ia tiba-tiba menghilang karena aku diajak dalam "grup jalan-jalan ke Bandung" dan tiba-tiba antusias tentang rencana itu sementara ia tidak suka denganku. Semua belum terjawab sampai sekarang. Saat itu aku bersumpah dengan mulutku, agar Pemilik Semesta secepatnya mematikanku kalau sampai aku bertemu dengannya lagi. Sama seperti keinginanku dulu, untuk dimatikan saja setelah terakhir bertemu di Surabaya.

Dua tahun tidak ada kontak sama sekali, hingga di awal Februari lalu saat aku melihat dia tiba-tiba ada di list following-ku di Twitter. Pikirku, "sejak kapan? Kok tidak ada notifikasi berupa e-mail atau mention? Aneh. Dan bukannya kalau si abang ini benci sekali ke aku, seharusnya dia tidak pernah lagi melihatku, sekalipun di media sosial?" But, as I write above, aku tidak pernah benci ke dia jadi aku memulai percakapan dengannya. I talked to him again, this time on Twitter and Whatsapp.

Saat itu dia sudah resign dari kantor itu, dari perusahaan tempat aku pertama bekerja dulu, untuk memulai pekerjaan baru sebagai abdi negara. Ia segera setelahnya akan menjalani pelatihan di Jakarta. Kupikir, "ah, cuek aja, mana mungkin dia mau berjumpa. Tokh, aku juga udah bersumpah kalau akan secepatnya dimatikan aja kalau sampai bertemu dengannya." Pada 22 Maret di rumah kecil si Mbak N di klaster bertetangga dengan klaster rumahku, aku nyeletuk, "Mbak, si Bang Dxxx ada di Jakarta, mungkin nanti mau ajak Mbak N ketemuan." Dan pada Jumat, 28 Maret di Whatsapp, " Iya, El, sebenarnya mau ngajak kamu juga..." Aku langsung berteriak, "See!! Benar kan? Kalaupun ketemu, pasti bukan untuk benar-benar mau ketemu. Aku tahu kalau aku tidak pernah benar-benar diajak, sama seperti dulu saat harus ikut tugas ke luar kantor untuk inspeksi produk, pasti bukan aku yang diajak sekalipun itu jadwalku."

Tetapi akhirnya pertemuan di Sabtu esoknya terjadi. Sejak semalamnya aku akhirnya menyerah lalu mau berdoa supaya keinginanku untuk dimatikan Pemilik Semesta setelah berjumpa si abang itu dibatalkan, atau paling nggak ditunda saja. SAYA LALU KOMAT-KAMIT MEMOHON PEMBATALAN DOAKU ITU! Tapi, bukan kematian itu yang aku takuti. Aku hanya sekedar takut kalau berjumpa dengannya, bekas-bekas ingatanku tentangnya lebih banyak yang tidak menyenangkan. Dan tentuya, aku memikirkan nasib adikku yang perempuan yang nantinya harus bagaimana kalau kutinggal mati.

Tiga hari, terikut hari Sabtu itu juga, kami hanya sekedar nongkrong di Jakarta Barat dan dari Minggu hingga Senin berada di Sukabumi dengan keluarga besar Mbak N. Jujur aku masih sungkan dan takut berbicara dengannya saat itu. Lah, aku baru semenit duduk dan pertama berjumpa di Citraland saja sudah "disambutnya" dengan kalimat yang harusnya memakai satu tanda seru, "itu masih ada pizza-nya!" Astaga, kupingku harus kutahan, mukaku harus tetap memakai topengku. Kupikir, meski sudah baca-baca arketipe pribadi ISTJ seperti si abang ini, ternyata itu belum apa-apa hingga bertemu dengan orangnya langsung. Hanya bisa memakai pengertian dan penerimaan, bahwa seperti itulah cara ia berbicara dan mungkin dia tidak bermaksud seperti itu.
Pinky Angkot in Sukabumi. Photo by me.

Reddish Sky Over Sukabumi. Photo by me.

Sunrise and Farmers of Goalpara. Credit: photo by Bang Dxxx.
Di Sabtu tengah malam, di rumah Mbak N, sepulang jalan-jalan dan besoknya akan ke Sukabumi, aku mau mendengar sedikit cerita darinya, lalu kuajak dia berbicara. Dan ternyata, malam itu malah aku yang lebih banyak bercerita. Dia tidak akan bercerita tentang diri dan hidupnya kalau tidak ditanyakan. Tetapi, tentu saja tidak semua hal kuceritakan. Bagaimana mungkin aku cerita kalau tindakan bodohku yang melihat profil Facebook-nya di akhir Mei 2012 (ya, sebutlah saya "kepo") lalu mendapati fotonya dengan mata tertutup seakan mengejekku, "ini loh, katanya kamu bisa membaca pikiran orang dari kedua matanya, sekarang coba baca," lalu membuatku kesal dan berujung pada rasa uring-uringan di kantor, ditambahi pula abang jelekku di atas (yang saat itu ditunjuk menjadi pelaksana Country Services Manager) menjadi sakit-sakitan sejak akhir Februari akibat ditekan habis-habisan oleh orang regional, lalu membuatku seperti bom besar yang meledak hebat, lalu memancingku menghabisi orang-orang bengal yang menambah kekusutan operasional bagi tim kami, dan menantangi si Big Boss yang ingin menendangku setelahnya dan membuatku muak dengan segala sistem di kantor lalu membuatku memutuskan resign setelah si abang jelek resign? Hahahaha.

Lucu juga kalau mengingat ketololanku itu, bahkan kelimat di paragraf di atas tersusun dari banyak kalimat saking meluapnya isi perasaanku untuk menjaga rahasia bodoh ini. Dan pula mustahil kalau aku cerita kalau aku sempat mengamuk di akhir 2011 begitu tahu dia "dipermainkan" kekasihnya waktu itu di Surabaya.

Tetapi memang aku masih sering merasa sedih tentang si abang ini. Bahkan kalau aku mencari-cari kesalahannya, hanya berujung pada semacam kesimpulan bahwa dia tidak bermaksud jahat untuk menyiksaku, karenanya aku tidak pernah benci. Tetapi entah, hanya Tuhan dan dia yang tahu. Fungsi "Intuition" pada INFJ dalam diriku mungkin keliru, tetapi lebih sering intuisi ini tidak pernah salah. Seperti disebut di atas, I did big brother worship toward him, too. Dia tidak pernah salah bagiku, dan dia lebih hebat dan lebih baik dalam banyak hal dariku.

Mungkin sama seperti Minoru-chan, aku berada pada posisi inferior, rasa takut, sungkan, atau segan lebih dominan, bahkan terlalu berlebihan sebagai amplitudo kepada mereka yang lebih senior dan "tidak sengaja kupilih" menjadi "yang selalu kulihat", but it never turns out to be real hatred. Kadang, waktu itu, I just wanted to do my best to listen to him, dan dalam banyak hal, aku kalah jauh dibandingkan dirinya. Mungkin ini yang membuatku berpikir dia selalu lebih hebat, dan membuatku berpikir bahwa aku selalu bisa bertanya banyak hal darinya.

Mungkin juga karena mendiang Bapak yang pernah mengatakan padaku di telepon di minggu-minggu terakhirnya hidup, "abangmu dia itu, ikuti apa yang dia ajarkan, jadikan kawan di Surabaya sana." Though it never turned out to be like that. Bahkan sempat saya membenci diriku karena berpikir dia itu kawanku, "no, we're not friends, not even close friends. Saya terlalu bodoh." In the end, entah apalah semua ini. Kenapa pula bisa bertahun-tahun merasa dipecundangi diri sendiri. Apa semua orang juga mengalami fase atau jalan hidup seperti ini? Apa harus se-frustrasi ini, mengupayakan diri sendiri untuk nggak mengingat-ingat semua yang terjadi di masa lalu, sementara si abang itu sudah menunjukkan sikap baik yang jauh berbeda dengan sikap dan perlakuannya dulu? Apakah kalau di-bully secara fisik jauh lebih cepat tersembuhkan rasa sakitnya daripada di-bully secara emosi? Bila ya, aku lebih memilih untuk dipukuli secara fisik saja.

Good luck for your new step in life, bang. Entah kapan akan berjumpa lagi, tetapi sangat mungkin untuk tidak akan pernah.

Oh well, dua tahun lagi baru berusia tiga puluh. Anak kecilku baru akan bisa kuadopsi saat itu. Saya sudah persiapkan nama untuknya nanti; El-Raja Petra Purba. Anak ini, entah seperti apa rupanya nanti, sekarang menjadi obat jiwaku, satu-satunya semangatku sekarang untuk mempersiapkan yang terbaik untuknya nanti. I'll let my boy to know that I had loved him, long before I met him.

(Jakarta, 20 May 2014. Dengan pertimbangan berhari-hari untuk membatalkan post ini, tengah malam ini kuputuskan untuk di-publish saja.)

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 5/27/2014 12:42:00 AM.

2 Comments:

  • On August 1, 2014 at 12:22 PM, Anonymous Anonymous said,
  • "Nice post, nice name for ur boy,,salute..#baca sambil komat kamit makan spagheti & original burger ;)"
     
    "Nama anakmu di masa depan siapa, Ver?"
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives