The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, June 22, 2014
The Day I Gave Up As Commuter

Jumat malam lalu, 20 Juni 2014, adalah saat saya menyatakan menyerah sebagai komuter.

Saya mengingat bagaimana senangnya saya saat baru memulai proses kredit hingga menempati rumah kecil yang saya sebut "istana mungilku, Pisces Sanctuary" ini. Sudah terlalu banyak rencana saat itu, yang mungkin terlalu impulsif, untuk kemudian diteruskan. Kini, setelah berbagai pertimbangan, terutama karena masalah yang sepertinya tidak akan pernah selesai menyangkut proses transportasi dan rasa keadilan bagi warga (Citra Indah) yang menumpang feeder busway setiap harinya, saya menyatakan menyerah. Saya sudah tidak sanggup lagi menahan emosi bila penumpang di luar perumahan selalu mendominasi bus, sementara warga sendiri banyak yang tidak kedapatan tempat nyaman di bis setelah lelah seharian bekerja, dan harus menempuh jarak jauh lagi untuk tiba di rumah. Ini tidak adil, dan tim operasi bus juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Entah apa yang mereka kejar, setoran? Apakah mereka digaji atau bagaimana?

Apakah saya sudah melakukan eskalasi ke pengembang perumahan? Tidak. Entah kenapa saya yakin itu tidak akan berhasil. Saya hanya akan berbicara dengan "kelas kroco" jadinya, sementara yang saya mau adalah solusi cepat, dan bila memungkinkan harus berbiacara ke "sang godfather", Pak Ciputra. Tetapi saya urung, saya yakin itu tidak akan berhasil.

Entah kenapa saya menyesali kenapa tidak dari beberapa bulan lalu saya jadi pindah ke pusat kota, setelah baru mulai on-board di pekerjaan yang baru.

Kini, saya bergerak cepat mencari tempat tinggal baru di Jakarta, saya tidak mau lagi menjadi bagian dari "commuting people" ke arah Cileungsi-Jonggol. Saya merasa "habis terbakar", secara emosi dan ketahanan tubuh. Saya merasa kurang maksimal jadinya. Jadi, segera saya akan kembali. Ada beberapa apartemen tipe studio yang kini saya jajaki. Semoga cepat dipilih. Hidup "ngekos" saya tidak sanggup; tidak sanggup saya untuk berbasa-basi ke penghuni lain setelah lelah bekerja.

"Kaulah yang bersinar namun terpinggirkan kemudian. Tidak mengapa, kau tetaplah bersinar dan ada." - Photo was shot at En Dining Jakarta.
"Bakar, terbakar langit pada hari itu. Murka dari Sang Ada begitu mengerikan, kau tidak akan sanggup berdiri pada hari itu." - Photo was shot around Wisma BNI 46, Jakarta.
"Hujan dan malam adalah teman yang baik, sekaligus teman buruk. Baik adalah saat ia menjadi jam penanda rindumu akan rumah. Buruk adalah saat ia menjadi penghambat jalanmu menuju rumah di tengah kemacetan panjang yang disebabkannya." - Photo was shot in Karet.

All photos by Eleazhar P.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 6/22/2014 11:03:00 AM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, June 1, 2014
Aku Iri Pada Keadaanmu Menyayangi Ibumu

"Aku iri... Aku iri pada keadaanmu yang bisa menyayangi ibumu."
"Memangnya kenapa? Ada apa dengan ibumu? Kau tidak bisa menyayangi ibumu?"
"Hahaha.. Berhentilah sok tahu. Well, kamu tidak salah. Intuisimu selalu tepat menunjuk apa maksud dari setiap perkataanku. I hate you..."

"Jadi?"
"Aku pernah menyayanginya. Kinipun, kalau dicari sebentuk sayang di dalamku tentangnya, masih ada didapati. Hanya saja, aku tidak bisa mengungkapkannya kepada ibuku. Ada semacam tembok besar yang harus dirobohkan. Ada bahasa yang tidak bisa kami saling mengerti, sekalipun ia ibu kandungku. Ah, andai aku bisa seemosional dirimu, menyayangi ibumu dengan passion. I wish I could..."
"Kau tahu? Akupun punya masalah dengannya. Sering. But she's my only treasure."

============




All photos by me.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 6/01/2014 12:35:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts