The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, July 20, 2014
Dia Yang Berdiri Di Atas Dan Melayang Di Dalam Samudera

Dia adalah sebentuk nyawa, berusia sedikit lebih tua daripada sekumpulan nyawa lain yang mereka bersama-sama muncul di atas Tanah Bumi pada hari itu. Sedikit pula ia berbeda dari kebanyakan nyawa, sebagaimana nyawa-nyawa itu pernah ditentukan sebagai sesiapa mereka. Sesiapa mereka, telah menentukan bagaimana mereka akan menjalani kehidupan, sejak mereka berdiam di dalam tubuh hingga terlepas dari padanya. Ia ditentukan untuk menjadi bagian dari air.

Air adalah bagian darinya, sang nyawa. Rupa air, dan segala bawaannya menjadi satu bagian yang selamanya ia tanggung dalam hidup.

Saat nyawa tersebut berdiam di dalam tubuh, ruang dan waktu yang terpapar dalam penginderaannya adalah sekumpulan besar air; ialah samudera. Sebagai bagian dari air, ia menyatu sedemikian erat dengan samudera. Ia terlarut, menjadi bagian kecil dari samudera raya, sekalipun ia terpisah tanpa pernah menjadi bagian utuh dari samudera ini.

Dia, sang nyawa, melayang di dalam samudera. Segala struktur dan segala bagian terkecil dalam rupa dirinya menjadi sama dengan seisi samudera, meski tidak pernah serupa dengan mahluk dan segala rupa di samudera semesta ini.

Segala macam gerak kebendaan di dalam samudera ini dapat dirasa oleh sang nyawa. Riuh hantam arus di lautan ini menjadi musik hariannya, dentum geser lempeng tanah di dasar samudera pun menjadi hal yang tidak pernah dikhawatirkan olehnya. Ia menganggap segala hal tersebut harus terjadi. Laut, darat, sebagai rupa Bumi menunjukkan detak hidup dari Bumi itu sendiri. Kehidupan dan kematian yang mungkin timbul oleh gerak selasar bumi, adalah lingkar putar kehidupan yang tidak bisa dielak. Iapun sadar, saat dulu dan kini, dengan sepenuh kesadaran, bahwa kelahiran tubuhnya dari kandung rahim ibunya, suatu saat akan tiba di suatu akhir penghentian, kematian.

Dalam waktu tertentu, saat ia berada di tengah kumparan pusar air laut dalam, ia menerima dengan seluruh penginderaannya - segala rupa isi hati dan perasaan yang banyak nyawa lain teriakkan kepada hidup. Amarah, kepahitan, kebencian, sukacita dan banyak getar rasa lainnya tercecap oleh penginderaannya. Sebagai air, nyawa tersebut bersatu, akan tetapi tetap terpisahkan seperti air dan minyak, dengan seluruh macam rasa yang dihantarkan air juga kepadanya. Tidak dapat ia menolak atau menghindar, karena ia adalah bagian dan satu dari keseluruhan air di samudera. Nyawa lalu menderita, terkapar dan terlarut, lalu bersatu sekalipun tetap terpisah dalam kala yang sering tertutup dalam kesepian, dan akan tetap berdiam dalam keheningan sekalipun langit di atas air sedang bergegar gemuruh.

Sewaktu nyawa tersebut masih berdiam di dalam tubuh manusianya, ia pernah sesekali terlepas dari lindung zirah raga. Ia melesak terangkat ke udara, sekian puluh hasta dari titik injak, lalu berdiam melayang di udara. Ratap tangis, sorak tawa, dan segala macam kegetiran merayap dan menjalar ke dalam diri, lalu menggema sedemikian hebat di dalamnya. Entah ia yang secara terbiasa melakukannya tanpa disadari, entah lompatan amplitudo yang semakin meninggi yang membuat kesakitan dan derita itu menjadi berkali ganda terasa di dalam dirinya. Tetapi, bila segala rasa tersebut muncul sebagai rupa kegembiraan, maka undurlah nyawa tersebut dari atas sana, bak ia merasa itu bukan bagiannya.

Nyawa ini, seperti halnya air yang manusia ketahui, terwujud dan dirupakan lemah dan tenang oleh nyawa kebanyakan pada sekelilingnya. Pun mereka sering lupa, bahwa air ini, pada laut dalam atau pada keadaan tertentu yang memaksanya bergerak, adalah ketakutan dan kengerian yang manusia harus hindari. Tak perlu mereka coba meredakan air yang mengamuk atau murka, mereka tidak akan pernah bisa melakukannya. Pun mereka sering lupa, air adalah yang meredamkan gemuruh muntah lahar bumi dari gunung-gunung di samudera, dan airlah yang membidani lahar tersebut menjadi pulau-pulau dan benua. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa air.

Tersebut saat nyawa tersebut menjadi hampir terurai lemah, ia mewujudkan dirinya sebagai air, lalu terbang melesak menuju permukaan laut. Sesegeranya ia mengambil rupa manusia kembali dan melayang di atas samudera. Tanpa menjejak kaki, permukaan di bawah sana bergemuruh, membentuk kumparan, dan berdebur naik ke udara mengelilingi sang nyawa.

Kuat arus dari dasar samudera telah menjalar naik, bergerak kencang memenuhi udara dan ruang yang masih tersisa, lalu merasuk ke dalam nyawa yang telah mengambil rupa manusia tersebut. Air telah bersatu dengan air, air telah diberikan kekuatan baru, air telah dipuaskan dahaganya untuk bersatu dengan semesta raya. Air bersatu dengan udara saat itu, lalu bersesap panas dari matahari, dan ditopang Bumi sebagai dasar dari ibu segala kebendaan bernyawa, telah memberikan sang nyawa kekuatan baru, ialah pemahaman semesta dan penerimaan akan segala imagi penciptaan dan pemusnahan.

Nyawa akan terus bergerak dalam banyak hitungan nama samudera. Bergerak ke sini di pagi hari, lalu bergerak ke sana di Laut Utara, lalu menghantarkan berita-berita kepada para tetua yang menghitung peradaban manusia. Semua terjadi hingga akhir dari suatu keputusan besar, ialah penghentian dan berakhirnya kehidupan yang ia dan semua manusia bernyawa jalani saat ini, dulu, dan nanti.
"Dan padamu, anakKu yang terakhir, kuberikan tugas terberat bagimu dibanding apa yang telah Kumintakan kepada saudara-saudaramu yang bersebelas jiwa itu; tugasmu adalah untuk memberitakan kabar-kabar tentangKu kepada anak-anak manusia. Beban mereka, duka mereka, adalah airmata yang harus kau tampung dan kembalikan kepadaKu. Itulah hari-hari yang kau akan jalani.

Dan ketahuilah, saat mereka mendengar kabar darimu, mereka tidak akan mengindahkan perkataanmu. Kau akan menangisi mereka pada banyak malam. Demikianlah yang harus terjadi, karena saat mereka tidak mendengarkan ucapanmu untuk mereka mengenalKu, Aku akan tetap mengasihi mereka hingga akhir dari segala kesudahan. Dari padamu, mereka akan selalu belajar tentangKu, hingga mereka mengenal dan menerimaKu sebagai akhir dari segala penolakan mereka."

Labels: ,

Eleazhar P. @ 7/20/2014 06:27:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Tuesday, July 1, 2014
The Day I Gave Up As Commuter (Part 2)

Sabtu lalu, 28 Juni, akhirnya aku bertemu dengan pemilik langsung dan melihat unit apartment tipe studio yang sudah saya incar di kawasan Jakarta Selatan itu. Bisa dibilang hoki atau jodoh dengan apartment ini, karena satu komplek (meski beda tower) dengan unit apartment yang ditinggali adikku dengan sahabatnya sesama perantau dari Sumatra Utara. Jangan ditanya bagaimana mereka - yang belum setahun merantau di Jakarta dan terhitung karyawan level staf biasa, sudah bisa menyewa unit tersebut. Yang jelas mereka punya keberuntungannya masing-masing. Disebut berjodoh juga karena pemilik langsungnya baik, prosesnya cepat, nggak berkelit. Akupun secepatnya melakukan proses pembayaran deposit dan sewa dibayar di muka. Lah kondisinya baik, furnished, harganya maih bisa kujangkau pula. Menggunakan istilah Kaskus, "recommended seller, gan!"

Jadi, Sabtu besok, 5 Juli, adalah saat aku mulai menempati unit itu dan mengakhiri proses perpindahan, sekaligus memulai hari-hari sebagai pengguna kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek, kayak si kawan satu ini. I'm way so excited!

Ada teman yang bertanya, "lantas rumahmu diapakan?" Dibiarkan begitu saja, tidak akan kusewakan. Hanya dititipkan ke satpam klaster, dan aku masih akan mengunjungi rumah itu sebulan dua kali untuk berberes dan berganti suasana. I'm gonna miss that little home, Pisces Sanctuary, tetapi karena pekerjaan dan jarak jauh yang harus saya tempuh setiap harinya, memaksa saya untuk meninggalkannya. Anggap saja berinvestasi di rumah itu, anggap saja menjadi villa atau tempat pelarian sewaktu-waktu.

Dengan berpindah ke dekat pusat kota, tentunya aku bisa lebih menghemat waktu yang terbuang di jalan setiap harinya. Dengan berpindah ke apartment ini, hanya satu jam waktu yang dihabiskan di jalan untuk pergi-pulang (dengan KRL). Bandingkan kalau masih tinggal di Cileungsi. Bisa hampir enam jam terbuang setiap harinya. Aku bisa gunakan waktu sebanyak itu untuk beristirahat cukup, membaca buku atau menulis sesuatu, menonton teve, dan banyak lagi. Hal-hal tersebut nggak bisa aku lakukan kalau masih tinggal di Cileungsi. Menonton siaran teve saja jarang, update berita hanya dari timeline Twitter dan news portal. Juga jelas lebih hemat dari segi biaya hidup. Dengan berpindah ke tempat baru ini, pengeluaran perbulan - setelah diperhitungkan, bisa dipangkas sebesar hampir 75%.

There it is, another chapter in life is about to begin.

Labels:

Eleazhar P. @ 7/01/2014 09:16:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts