The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, September 4, 2014
Empat Huruf Yang Mengubah Hidup Kami: INFJ (Part 1)

Jika ada beberapa hal yang telah membentuk hidup saya selama beberapa tahun terakhir, maka penemuan diri sebagai INFJ adalah salah satunya. Penemuan ini adalah salah satu yang terbesar, dan melepaskan sekaligus menjawab banyak hal yang saya alami selama berbelas tahun masa pencarian saya tentang kehidupan yang saya sudah dan sedang jalani.

Saya dulunya, adalah seorang yang bisa dibilang tidak skeptis tentang hidup dan misterinya. Saya beberapa kali mengalami apa yang orang sebut adalah hal-hal yang jarang terjadi; sebutlah sebagai kejadian di luar batas normal (paranormal). Melihat hal-hal berbeda, mendapat kunjungan dari pribadi-pribadi bukan manusia melalui mimpi, membaui yang tidak tercium, merasakan yang orang lain tidak awas, melihat sekilas - dalam bentuk kilas dan kedip, hal-hal yang akan terjadi di masa depan, dan membaca rekam jejak suatu kejadian yang pernah disaksikan suatu benda. Kata orang, mungkin saya mengada-ada, terlalu perasa/sensitif, terjebak dalam imajinasi level dewa, pembohong.

Saat itu, hanya mendiang Bapak yang percaya, meskipun itu sulit untuk dicerna dan diterimanya. Tapi satu kejadian yang akan saya ingat terus dari Bapak. Di suatu siang saat saya masih di kelas satu SMP, bapak mengatakan kalau dia mendengar suara dalam mimpinya, bahwa "biarkanlah anakmu seperti itu, dia memang berbeda dari orang kebanyakan."

Tetapi meski seperti itu, bahwa Bapak mengerti saya dan tahu bahwa saya merasakan sesuatu, bukan berarti hubungan saya dan Bapak baik-baik saja. Secara emosional kami saling menyakiti. Saya butuh waktu bertahun-tahun setelahnya, dan semakin disadarkan melalui proses menyakitkan dan kematian Bapak, bahwa apa yang Bapak perbuat di masa lalu adalah hal-hal yang berpondasi pada kasih sayang. Bapak punya bahasa kasih yang berbeda dengan bahasa kasih yang kuharapkan dan coba terapkan. Karenanya kami berbeda, dan dalam banyak interaksi kami saling terluka. Beliau seorang ekstrovert sejati, periang namun garang, pengasih yang pemurah dan pemarah, Leo. Sedangkan saya adalah seorang introvert, memilih menyendiri dan menutup diri dari interaksi dengan banyak orang, dikenal pemurung dan berbeda, Pisces.

Mungkin, yang membentuk diri saya saat itu adalah lingkungan saya, karena saya tidak bisa begitu saja memberi label bahwa orang Pisces adalah seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Saya mengenal beberapa Pisces yang sangat periang, positif, dan seperti malaikat. Tetapi saya juga tidak tahu pasti cerita hidup mereka, mungkin mereka juga pernah mengalami kehancuran dan disia-siakan, namun mampu menemukan kebangkitan hidup. Jadi stereotip zodiak bisa saja tidak terlalu akurat, meski memang membantu. Hubungan bapak & mamak tidaklah baik, dan keluarga kami tidak seperti keluarga ideal seperti yang ditunjukkan dalam iklan-iklan keluarga bahagia Indonesia. Mamak adalah tipe khas Orang Angin, sedang Bapak adalah Orang Api. Pertengkaran di antara keduanya adalah hal yang membara dan lama. Saya yang Air adalah yang memendam rasa dan keterhilangan dari tahun-tahun masa pembentukan pondasi hidup itu. Karenanya saya memilih untuk memelihara perasaan saya saat masih kecil. Benih-benih kejiwaan saya sebagai Orang Air - Pisces, terbentuk dan diarahkan menuju melihat hidup dengan sebegitu kontradiktif saat itu; terkadang saya sangat bersemangat menjalani hidup karena ada keyakinan diri bahwa ada masa-masa baik di masa depan, tetapi tidak jarang bahwa saya menginginkan kematian saja yang terjadi.

Berbelas tahun, dari mulai saya berinteraksi dengan banyak orang di kelas satu SD (usia lima tahun), hingga usia duapuluh satu saat saya mulai merantau, saya menjalani hidup seperti yang saya uraikan di atas. Sekalipun seperti itu, saya terkadang merasa kenyamanan dalam hidup. Saya tidak terlalu banyak bergaul dengan banyak orang karena saya pikir mereka tidak perlu tahu tentang saya, keluarga saya, dan cerita hidup saya. Saya tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan baik, karena sayapun malas berbicara atau memulai percakapan. Pembicaraan adalah hal yang seperlunya saja. Karenanya, saya tidak terlalu tahu banyak jenis kejiwaan manusia.

Hingga saya berusia duapuluh satu, titik awal pembentukan hidup dimulai kembali. Fase tersebut adalah masa perantauan saya, di Surabaya, kota tempat saya memulai karir saya. Saya mengalami apa yang mungkin disebut gegar budaya; baik dalam bahasa, cara pandang hidup, dan ragam manusia yang lebih majemuk.

Di awal masa-masa perantauan saya, saya bisa menilai sendiri bahwa saya gagal. Saya gagal menyesuaikan diri, saya berharap merekalah yang harus mengikuti cara hidup saya, saya kesulitan untuk mengenal dan menerima ragam kejiwaan orang lan di kantor saat itu. Seharusnya, sayalah yang harus menyesuaikan diri dengan systems (lingkungan) yang saya masuki itu. Hanya saja saya berkeras bahwa saya tidak mau sepenuhnya mengikuti cara mereka menjalani hidup dan berinteraksi satu sama lain, meski sebenarnya ada keinginan besar di dalam diri untuk bisa mengenal mereka, dan terlibat dalam pekerjaan. Hanya saja, sedari awal saya sudah merasakan penolakan di lingkungan tersebut. Ada kesakitan besar yang saya rasakan di banyak malam selama tinggal di Surabaya.

Saya memendam banyak hal dalam diri saat itu. Dan saat saya melakukan "konfrontasi" dengan senior yang darinya saya merasakan rasa sakit terbesar saat itu, untuk mendapatkan jawaban kenapa saya dijauhkan dan dibenci - mungkin karena saya berasal dari Sumatera Utara (terlebih selalu dicap "Batak Tembak langsung" oleh beliau, dan saya menolak keras dianggap seperti itu karena rasanya sangat kasar) dan berlogat aneh, saya mendapatkan respon yang lebih menyakitkan. Saya kapok bertanya untuk mendapatkan jawaban saat itu, dan hingga beberapa tahun setelahnya - dalam beberapa kejadian, saya masih bertanya-tanya kepadanya tentang letak kesalahanku sehingga dia terlihat dan terkesan sangat membenciku. Saya memilih menyalahkan keberadaan saya dalam hidup, kelahiran saya, orangtua dan asal-usul darah ini.

Sebegitu sakitnya masa-masa itu, hingga saya memilih bahwa kematian saya adalah jawaban yang jauh lebih baik. Kematian mungkin adalah jalan tempuh terbaik, karena saat itu saya berpikir bahwa semua orang normal-normal saja dan sayalah yang aneh dan berbeda, baik dalam perilaku, cara menalar dan menangkap pesan verbal & non-verbal, dan pengolahan input di dalam diri. Saya merasa tidak layak menjadi bagian dari hidup, karena saya berbeda. Saya tidak pernah melihat orang lain yang seperti saya. Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya adalah barang cacat produksi, tidak berguna, sampah, layak disingkirkan. Emosi, perasaan, dan segala proses dalam diri saya, saya anggap sebagai sampah dan harus disingkirkan. Saya pikir, laki-laki tidak seharusnya seperti ini. Saya sering berharap kematian agar segera tiba.

Hingga suatu Sabtu, sepulang bekerja setengah hari, saya menyempatkan mampir ke warnet di sebelah kos. Dari blog seorang teman, saya melihat badge hasil tes online MBTI yang dipajang di sidebar blog itu. Saya klik, dan mengikuti semua petunjuk. Saya tidak berharap banyak, tetapi tetap saya menjawab jujur semua queries berdasarkan hal-hal konsisten yang saya alami dan rasakan (saat itu, saya masih belum terlalu mempelajari tentang zodiak dan empirical traits-nya, tetapi saya mulai mempelajari jiwa saya sebagai Pisces dan cara menalar hidup, tetapi memang tidak terlalu akurat). Dan saat saya mengetahui hasil dan membaca semua deskripsi, berikut googling artikel terkait, saya merasakan kelegaan luar biasa dan cukup membebaskan. Saya adalah seseorang yang jiwanya didominasi pada kualitas Introversion (I), Intuition (N), Feeling (F), Judging (J). Ringkasnya, saya adalah INFJ.

Sejak saat itu, keinginan untuk mengakhiri hidup sedikit berkurang. Dan saat saya ditugaskan ke Jakarta, yang saya alami adalah keinginan untuk memahami dan sedikit lebih terbuka ke tim baru di Jakarta. Saat itu, saya ingin memulai membuktikan bahwa saya tidak sebodoh dan seaneh yang dianggap tim lama di Surabaya, sekalipun saya hanya anak kampung. Setelahnya, di Jakarta, saya mencoba mencari tahu lebih tentang diri saya, apa-apa yang harus diperbaiki & dikembangkan. Saya mencoba untuk lebih berani berbicara dan berinteraksi, sekalipun itu sangat melelahkan. Semua karena saya tidak punya siapa-siapa di Jakarta. Tinggal di rumah saudara sekalipun, saya merasa jarak saya dengan saudara-saudara saya sangat jauh. Pembicaraan hanya menjadi sekedar basa-basi melelahkan (yang saya tidak sukai). Sering saya mengunci diri di kamar dan menolak untuk berkenalan dengan saudara-saudara jauh yang datang. Sekalipun harus terjadi perkenalan, saya sangat membenci kejadian itu, terutama kalau saya tiba-tiba merasa orang tersebut memiliki maksud jahat. Pun secara kontradiktif, saya takut melukai perasaan mereka bila saya menolak berinteraksi, sama seperti saat saya merasa sangat tertolak di Surabaya itu. I tried to put my feet in their shoes. Jadi saya harus mati-matian berusaha untuk mulai bersinggung hubung dengan orang lain, sekalipun dengan orang asing atau orang yang dari awal saya merasakan firasat jelek tentangnya.

Perihal berbicara ke orang lain atau tepatnya orang asing, pengalaman yang tidak saya lupakan adalah kejadian saat makan siang di suatu restoran di kawasan industri pengolahan hasil perikanan antara Surabaya - Gresik saat saya mulai bekerja di kantor pertama itu. Biasanya, saya hanya menerima makanan apa saja yang dihidangkan, atau cukup menunjuk makanan yang saya mau, pelayan atau rekan kerja lain yang akan mengucapkan dan mencatat. Saat di restoran itu, saya ditanya seorang pejabat kantor, "mau yang mana?" Saya tidak menjawab beliau langsung, tapi saya beralih ke senior yang saya sebut di atas, dia duduk di sebelah saya, "bang, aku mau yang ini." Tetapi saya langsung mendapat bentakan dari beliau, "bilang sendiri sama mbaknya, jangan ke saya!" Saat itu rasanya muka saya sudah sangat panas, rasanya ingin menghancurkan seisi restoran dan bersembunyi selama mungkin, sekalipun yang diucapkan si senior adalah juga benar. Rasanya seperti ada yang menghantam dada dengan keras saat mendapat reaksi seperti itu. Saya berusaha mati-matian menahan malu, tangis, dan amarah. Saya lalu segera memberanikan diri mengucapkan menu yang saya mau ke pelayan. Dalam perjalanan pulang ke kantor, saya memilih diam dan mengutuki diri sendiri. Setelahnya, saya mulai mencoba berani berbicara ke orang asing. Saya tidak mau lagi dibentak senior saya itu.

Sekalipun saya menjalani hidup dengan berkeras diri seperti di atas, sifat-sifat alami saya tidak bisa saya hilangkan dengan mudah. Bahwa saya berusaha keras menghabisi perasaan saya hingga babak belur adalah memang terjadi, tetapi seringkali perasaan, atau kata hati, intuisi, suara hati, first voice, godly voice, adalah yang berpengaruh besar bagi saya dalam menjalani kehidupan setelah peristiwa di tahun awal perantauan ini. Pun saat memasuki perusahaan kedua, saya masih mengandalkan dan mencoba sisi baik dari fungsi N dan F tersebut. Saya tidak mau terlalu dikotak-kotakkan dalam kerangka INFJ sekalipun saya seperti itu. Saya berusaha pahami apa yang menjadi kelemahan saya dan coba perbaiki, mencoba melihat orang lain dan dunia dari sudut bird-eye view, dan tentunya mencicipi pencapaian-pencapaian tertentu dalam hidup dengan mengandalkan fungsi N dan F. Dibantu kedua fungsi ini, saya memiliki kemampuan untuk melihat banyak kemungkinan yang hidup tunjukkan & tawarkan. Tidak terpaku pada satu opsi saja, dan ini sangat berguna. Dari sisi lain hidup saya sebagai empath dan Pisces (kedua hal ini mungkin akan saya bahas kemudian), saya juga banyak terbantu. Terutama dalam mengidentifikasi calon partner saya, orang-orang yang bekerja dengan saya, dan segelintir orang yang menjadi teman saya.

Saat di perusahaan kedua, setelah mempelajari titik-titik lemah saya; yang salah satunya adalah gampang terbawa perasaan dan dimanfaatkan orang, saya mencari jalan untuk melindungi diri saya. Kau tahu ungkapan bahwa orang yang paling pemarah adalah orang yang paling rapuh? Itulah saya dulu. Saya melindungi hati saya dengan lebih dulu "menghabisi" perasaan orang lain yang berinteraksi dengan saya. Saya kuras emosi, perasaan mereka. Saya buat mereka bertanya-tanya ke diri mereka sendiri tentang kesalahan mereka. Saya buat mereka menghukum diri mereka sendiri. Saya tidak membiarkan orang-orang menyakiti hati saya lagi saat itu. Tidak saya biarkan juga mereka menggangu dan menghambat domain saya sebagai pengatur unit logistik saat itu. Saya tekankan idealisme (N & F) saya dalam pekerjaan sehari-hari. Saya sadar saya dianggap "setan, anak jahanam" oleh mereka. Tapi persetan, saya berusaha buktikan ke diri sendiri bahwa saya tidak sebodoh yang orang-orang di perusahaan pertama saya pikir hakimi tentang saya. Dan bila ada yang terendus berusaha menyakiti saya, saya akan menyerang mereka terlebih dulu. Pada titik ini, rekan di kantor yang padanya saya menaruh rasa hormat tertinggi saat itu menegur saya, "jangan seperti itulah, El. Nanti loe akan mengerti kenapa mereka seperti itu. Masih ada cara lain. Kalau mau fight, kita main cantik saja." Dan pada rekan senior di kantor kedua ini saya sangat dekat, hingga pada fase yang bisa dibilang komunikasi "telephatic". Dia membawa banyak hal-hal baik dalam hatinya sekalipun dia juga pernah "hancur". Sayapun sempat sangat "terikat" padanya, sehingga sering saya merasa gamang kalau dia tidak ada. Sebagai INFJ, saya membutuhkan orang-orang positif dalam hidup saat itu dan saya beruntung dia disediakan Pemilik Semesta selama beberapa tahun, untuk saya lihat dan menjadi "tameng" saya secara sukarela. Saya menyayanginya seperti abang sendiri, dan sering saat saya merasa terpukul, saya hanya mengingat orang-orang baik yang pernah saya kenal dekat - termasuk si abang ini, dan saya pulih kembali. Secara visual, saya mengirimkan sebuah jangkar dari jiwa saya dan ditautkan ke si senior. Jadi sangat mudah untuk menerima dan menyerap kekuatan-kekuatan positif dari hatinya, sekalipun berjauhan jarak.

Begitulah cara pertama saya sebagai INFJ untuk melindungi diri; dengan memiliki teman (level sahabat) yang memuat banyak hal positif dalam dirinya.

Dan sudahkah saya bercerita bagaimana jiwa senior di kantor pertama di atas? Jadi, setelah saya tahu bahwa saya INFJ, saya menunjukkan hasilnya ke beliau & memintanya untuk mencoba tes yang sama. Dia melakukannya, dan hasilnya "ISTJ". Tetapi tidak ada pembahasan lebih lanjut, saya juga tidak mau mencari tahu lebih ISTJ itu seperti apa. Saya hanya membaca deskripsinya dan berusaha mencerna bahwa memang ISTJ seperti demikian orangnya. Mirip sekali dengan si senior. Belakangan, saat saya mulai berkomunikasi lagi dengannya di awal Februari lalu (setelah dua tahun tidak ada komunikasi sama sekali), topik ini muncul lagi. Beliau membaca-baca salah satu post di blog ini, dan pembicaraan lalu menuju tentang hasil tes MBTI enam tahun lalu. Setelah berbalas cuitan di Twitter dan Whatsapp, saya sadar bahwa bila INFJ & ISTJ bertemu, pertama sekali memang akan terjadi benturan karena berseberangan cara mengolah input yang masuk ke dalam diri. Bagi INFJ, ISTJ adalah "insensitive bastards". Sedang bagi ISTJ, INFJ adalah "irrational feelers". Rasionalisasi dan perasaan adalah dua hal yang sulit terhubung. Komunikasi hanya bisa terjadi kalau ada yang mau mengalah dan mengerti.

Saya mencoba untuk mengerti dan menerima kejadian-kejadian di waktu lampu tersebut, sekalipun sering saya merasa sakit kembali. Saya masih bisa merasakan rasa sakit yang sama yang saya alami bertahun lalu itu; penolakan, rasa terkucil & rendah diri, ketidaklayakan hidup dan berdiri bersama mereka. Dan bukan berarti dengan menerima segala kejadian lampau tersebut berarti saya sudah bebas. No, saya masih sensitif, tetapi saya berusaha mengendalikannya. Bahkan hingga awal bulan Agustus lalu, saat saya merasa terkucilkan lagi, saya terang-terangan bercerita ke senior saya itu, mengkonfrontasi sekali lagi. Saya lalu berusaha masuk komunitas "underground" online untuk mencari sisi lain yang mungkin ada pada saya. Setelah saling bertukar pikiran dengan orang yang saya dapati berpikir cocok di komunitas itu, mungkin sisi N, F, bahkan J saya terlalu besar. Mungkin saat ini, sayalah yang "jahat" kepada senior saya itu, dengan sering melupakan kondisinya yang harusnya saya sudah bisa terima. And I know why it has been hurting me these years, karena saya juga menganggap dia seperti abang saya sendiri.

Seperti yang pemerhati MBTI tahu, INFJ adalah tipe kepribadian paling langka, minoritas. Saya tidak pernah bangga menjadi minoritas, seperti mungkin yang dilakukan beberapa orang yang mengaku INFJ tetapi merasa sangat spesial di atas muka bumi ini. Justru sebaliknya, menurut saya, setiap INFJ harusnya mawas diri. Seseorang yang benar adalah INFJ adalah orang yang telah melewati jalan hidup khusus, dianggap terbuang dan asing, tetapi telah atau sedang menuju status kemenangan atas diri sendiri yang terlanjur dicap kuda hitam oleh masyarakatnya. Dan terutama bila sang INFJ tersebut juga menggendong nature sebagai "Empath", maka tidak ada alasan untuk berbangga diri, tetapi harus menjalani hidup sebagai "alat" Tuhan untuk menampung rasa sakit, air mata, juga perasaan tertolak & terhakimi yang dialami manusia-manusia di sekitar, dan lalu menyerahkannya ke Tahta Pemilik Semesta untuk diubahkan menjadi kebaikan (ini mirip dengan cara kerja kristal kuarsa bening / clear quartz).

Hingga pada paragraf ini, hanya ada satu cara untuk melindungi diri sebagai INFJ (lihat di atas). Tetapi tidak selamanya kita bisa selalu terikat dengan sahabat. Ada saatnya untuk melepas mereka atau mereka yang terlepas, dan masing-masing kita melanjut hidup. Toh, yang disebut sahabat juga akan kembali dan bertemu bila memang waktunya ada (kalau terpisah jarak). Kekuatan itu mungkin memudar sementara waktu. Pada post berikutnya, saya akan bercerita tentang cara kedua untuk melindungi diri dari "serangan" emosional dari dalam dan luar diri. Till the next post, bye!

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 9/04/2014 07:00:00 PM. 5 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts