The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, December 25, 2014
Merii Kurisumasu, Selamat Natal!

Selamat memperingati hari kelahiran Tuhan, Anak Manusia, kepada visitor random blog saya yang merayakan.




Photos by Eleazhar P., taken at my employer's corporate dinner in Grand Hyatt, Jakarta, 2014. The story was different at the same place 6 years ago.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 12/25/2014 10:32:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, December 21, 2014
Paruh Akhir Tahun Ini dan Yang Tidak Diceritakan Mulut Selama Masa Tersebut

Jika ada beberapa hal penting yang saya perhatikan tentang diriku sendiri selama tahun 2014 yang akan habis ini, maka ada beberapa kebiasaan "penting" di tahun-tahun sebelumnya yang tahun ini aku perlahan tinggalkan. Pertama adalah kebiasaan mengambil foto-foto nggak jelas perihal senja, perkotaan, dan jalan-jalan yang kusinggahi lalu menghubungkannya dengan cara manusia menyikapi hidup. Yang kedua adalah kebiasaan menulisi blog (entah di blog ini ataupun di Lifephilia) yang semakin jarang meski sesekali masih menyempatkan menulis panjang selama tahun ini. Aku merasa kedua hal tersebut semakin, entahlah, "membosankan" mungkin kata yang tepat.

Yang kuingat dan rasakan, aku merasakan ada kehilangan yang sangat terasa selama setahun ini. Dan "yang hilang" tersebut bermacam-macam; dimulai dari kesedihan yang saya rasakan selama bertahun lalu, perasaan rendah diri yang berujung kebiasaan self-destructive (ya, aku mengaku sempat rutin meminum minuman beralkohol selama tahun 2013 hingga awal 2014 kalau merasa tidak ada jalan keluar menghentikan rasa sakit akibat self-guilt telah terlahir di dunia ini), dan segala macam "drama dan pertempuran" di dalam diri antara perasaan dan rasionalitas. Haruskah aku bersyukur bahwa ketika dilahirkan, Mercury kebetulan berada di Virgo, sehingga menjadwalkan keberadaan  rasionalitas, "keribetan cara berpikir", dan daya ingat panjang, untuk menyeimbangkan sisi emosional dan idealis yang dijadwalkan ada pada diri melalui Neptunus dan Jupiter padaku? Ah, entahlah. Kerumitan dan pertentangan dalam diriku seakan menjadi berkat sekaligus kutuk bagi diri sendiri.

Itulah semua yang aku sempat "takutkan", yaitu perubahan. Setelah berbagai kesedihan dan kemuraman yang mengendap selama bertahun-tahun, akhirnya di tahun 2014 ini aku melihat ada titik cerah di tahun-tahun mendatang. Tetapi, aku belum berhasil untuk menjadi begitu siap dengan so-called thing bernama kebahagiaan. Apa itu "bahagia"? Sekedar menjalani "good life", bragging about how close you are to G*d and how well your job can pay your bills and debts, memamerkan fancy food dan jumlah teman berikut like yang didapat di social medias? Bagiku bukan. Pencarianku masih belum selesai.

Aku pikir, dan rasa, bahwa pencarianku tentang kebahagiaan dan tujuan hidupku adalah menyatu dengan Tuhan. Tetapi semua pola pikir tradisional dan peribadahan yang "diatur dan diwajibkan bertemu dalam satu perkumpulan" bukan caraku. Ini pula yang membuat saya menjauhi segala macam pertemuan ibadah, and attending services at a physical church is not an option, definitely.

Untuk paruh kedua tahun ini, aku merasa "perjalanan" terbesarku dan bagian dari "menyatu dengan keesaan Tuhan" adalah belajar untuk menerima masa lalu dan menerima diriku sendiri.
Belajar untuk menerima bahwa segala sesuatu di masa lalu - yang terburuk sekalipun, memang harus terjadi...
Belajar untuk menerima kepergian dan meninggalnya orang yang sempat dibenci tetapi lalu disadari bahwa mereka adalah orang yang paling peduli terhadapmu...
Dan belajar untuk menerima keberadaan saya dalam hidup dalam keterikatannya dengan keberadaan orang-orang yang pada akhirnya saling bersinggung ruang dan waktu.

Di paruh tahun kedua ini pula, aku semakin tekun mempelajari crystal healing, dan sudah punya koleksi kristal dan batu-batuan semi berharga yang mulai banyak. No, jauhkan pikiranmu dari anggapan yang tidak-tidak bahwa ini semacam pemujaan berhala. Tidak ada yang mistis tentang crystal healing. Karena aku yang sudah menjalaninya dan sudah merasakan sendiri manfaatnya, ya aku percaya bahwa metode ini bekerja.

I had done so many ways to heal myself back then. Yang aku coba sembuhkan adalah kemuraman dan kesedihan menahun yang kuceritakan di atas dan di hampir semua posts di blog ini. Aku merasa susah dan berat untuk bercerita kembali, tetapi yang orang lain perlu tahu sebelum menghakimiku, aku mau berujar bahwa, mungkin, dirikulah sebagai sumber masalah dalam hidupku.Berbagai titik dari rupa pemikiran, perasaan, gagas ide dan ucap dari orang-orang yang bertemu dan bersinggung dalam hidupku mungkin memang harus terjadi. Lalu kepada siapakah aku harus marah? Tuhankah? Atau kepada bos-bosku terdahulu yang tidak mau mendengarkan ucapanku? Kepada bapakku yang membiarkanku tumbuh tanpa pembekalan tentang hidup darinya dan mentelantarkanku? Kepada rekan kerja yang seenak perutnya mengucapkan hal yang tidak pantas tentang kematian bapakku? Kepada seniorku yang tidak mau berhenti saat aku sudah memohon untuk berhenti "mencandaiku" dengan hal yang kuanggap melukakan perasaan?

Sebutlah aku berlebihan, tetapi memang tidak ada kata lain yang bisa menyimpulkan hidupku selama bertahun ke belakang selain hancur, aku memang hancur, hidupku hancur. Sekelebat keinginan pernah menghampir beberapa kali pada titik terparah; aku ingin mati saja. Sekelebat keinginan lain muncul mengimbangi, bahwa akan ada masa yang baik dan beberapa fase terberat dalam masa remajaku sendiri pernah kulalui dan aku masih hidup, jadi kenapa harus menyerah?

Demikianlah tahun-tahun yang kujalani di belakang; berputar dalam amplitudo, naik dan turun pada titik yang terendah dan tertinggi. Sekalipun juga aku harus bersyukur bahwa ada orang-orang baik yang ada di sampingku sepanjang masa itu.

Dan perihal penyembuhan diri dengan kristal tadi, aku merasakan hal-hal yang signifikan dalam diriku. Bila beberapa tahun lalu saat aku mengkonfrontasikan masa lalu dengan seniorku tentang masa lalu itu, maka segala apa yang diucapkannya aku akan dengar meski nanti berujung marah dan muncul rasa tidak terima dari dalam diriku (seperti, "so why did you still do it meski saya sudah memohon untuk dihentikan? Did you enjoy torturing me verbally? Apa sebenarnya maumu saat itu? Didn't you realize how respected you were to me, and to hurt me that time was to place deep stab to my inner-self?"), setelah proses bermeditasi, ada semacam kemampuan untuk menerima dan mengerti secara lebih. Mungkin saya tidak akan pernah diberi jawaban olehnya, mungkin argumen dan konfrontasi tidak akan memberikan jawaban.

Bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua dariku, juga ego sebagai laki-laki untuk mengakui sesuatu pernah terjadi, mungkin ada. Dan aku memilih satu kesimpulan yang tidak saya buat tetapi mesti kuambil setelah mulai rutin bermeditasi dengan kristal-kristal itu; bahwa akulah yang salah. Si abang tidak bersalah, dia sudah menunjukkan hal-hal terbalik dari yang dia pernah perbuat padaku sebelumnya, sekalipun aku sempat ragu apakah ini hanya tindakan pura-pura. Dan yang dia perbuat padaku selama setahun ini dari jarak jauh sekalipun seperti mendekati doa-doaku pada malam-malam di Surabaya dulu, agar dia tidak membenci dan membedakanku hanya karena kelahiranku sebagai orang yang terlahir tersebut Batak. Akupun tidak seharusnya terikut "membencinya" karena ucapan bekas rekan seangkatanku yang munafik itu tentang kematian bapakku yang dibandingkan dengan rencana resign-nya si abang itu. Si senior bahkan tidak berucap apa-apa, justru dialah orang pertama di kantor yang mengucap "turut berduka" via telepon dari Jakarta pada malam meninggalnya bapak. Justru bekas rekan seangkatan dan seniorku yang lain, yang bersamaku seharian itu, tidak mengucapkan berbelasungkawa sekalipun. Kenapa aku tidak mempercayai intuisiku untuk percaya bahwa kebaikannya selama setahun ini bukanlah bagian dari kepura-puraan? Akupun lalu membaca message exchanges di Facebook beberapa tahun silam dengannya, in fact, dia mengaku dia sudah melukai dan sudah memberi masukan (kukira sekarang, adalah semampunya dia saat itu yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi) supaya aku tidak menyerah hidup. Sanggupkah aku membenci si senior ini?

Ada beberapa detil kejadian di masa lalu yang sempat kulewatkan secara tidak sengaja dari ingatanku. Dan Clear Quartz, yang menjadi kristal utamaku untuk bermeditasi, katanya memang mempengaruhi pemikiran pemakainya untuk menggali ingatan-ingatan masa lalu untuk memahami beberapa kejadian di masa kini. Dan tentu, beberapa ingatan di masa lalu akhirnya menjadi muncul di kepala seperti percakapan di telepon pada malam kematian bapak di atas. Kerasnya hati akhirnya mulai luluh, bahwa sering yang menjadi sumber masalah adalah diriku sendiri. Dengan pengertian dan berusaha untuk menyayangi diri sendiri, juga kenyataan bahwa tidak akan ada orang yang mau peduli tentang keberadaanku dan hukum alam bahwa sebagai laki-laki, sang laki-lakilah yang harus melindungi dirinya sendiri, akupun menghentikan segala pikiran untuk membenci diri sendiri dan segala anggapan juga bisikan bahwa diriku tidak berharga sama sekali seperti yang dulu-dulu terpikirkan.

Ada kelegaan yang terasa lebih besar pada titik ini. Something is ending, and something begins.

Dari proses di atas, aku mulai meminati pencarian kristal-kristal lain. Pada periode meditasi awal untuk pelepasan kemarahan dan kemuraman masa lalu itu, aku menggunakan amethyst (untuk memberi vibrasi penenang dan kedamaian, juga pelepas kecanduan dari alkohol), clear quartz (untuk melepas rasa sakit dan melihat masa lalu yang baik tetapi terlupa), dan rose quartz (untuk pemahaman dan menghargai diri sendiri). Dan dilanjutkan dengan memiliki onyx, agate, Lemuarian quartz, lapis lazuli, citrine, flourite, smoky quartz, aventurine, pietersite, dan terakhir moonstone (kamu bisa melihat-lihat Instagram-ku untuk foto-foto kristal koleksi ini). Kini saya merasa lebih baik di dalam jiwa setelah rutin bermeditasi, kristal-kristal ini bahkan bisa berdetak dan saya alami sendiri (you have to be sensitive enough to feel their beats). I never thought I would do such things named crystal healing and meditation. I'm not about to tell you how they work, technically, as many will not open their eyes to the spiritual realm of which this crystal things are working about. It's more than just mind games, and it is not about mind games or placebo.

So here I stop typing about crystals and the healing process. I want to remember some others, those which are quite significant to me recently.

Pertama adalah kembalinya aku ke industri yang aku paling lama melayani di dalamnya; industri teknologi jasa keuangan (ATM). Happy? I am! And I think I won't "convert" to other industries for the upcoming 5 years. Tahun ini juga bekerja dalam situasi yang menyenangkan. Peraturan di kantorpun semakin baik (yeay for in-leu holidays!!), dan sempat ditugaskan ke Jepang di Oktober lalu untuk berbicara di depan konferensi berisi orang-orang dari kantor global lainnya. It was my first international public-speaking opportunity. Dan juga saat ini bertindak sebagai bagian dari "agent of change" di perusahaan. This is quite big challenge and opportunity.

Kedua, it was how moved I was watching "Tiga Nafas Likas" on the day before my departure to Japan. Aku sempat berpikir tidak akan ada produk seni yang bisa mewakili perasaanku tentang ditinggal mati orangtua tanpa diberitahu kabar sama sekali, bahkan saat ia masuk ke dalam kondisi pesakitan sekalipun. That scene, when Ms. Likas was crushed to not even being informed that her mother died, just because her father did not want her study interrupted, it hurted me a lot! "A LOT" that I cried at the cinema. I had that feeling years ago, and it still bugs somehow, that not even my mom and siblings informed me anything about my father that time; about being hospitalized et cetera.

Ah, tears on my face now. This can't be changed, aku memang gampang terharu dan ekspresif dalam emosi. Tidak ada yang perlu disembunyikan dari perasaan kecuali memang hal tersebut memang harus dan sangat dirahasiakan. I want to continue, tetapi aku tidak sanggup lagi. Kupikir aku terlalu bahagia sekarang ini, dan bisa menertawakan bermacam kebodohan yang kujalani akibat perasaanku sendiri.

Tidakkah memaafkan dan memberi pengampunan itu membebaskan diri kita sendiri?
Bahwa pertemuan dan persinggungan ruang, materi, dan waktu di antara kita manusia, sekalipun pada titik terdahulu terlampaui, sulit untuk kita mengerti, tetapi kini kita bisa tahu bahwa segala sesuatu terjadi dengan tujuannya masing-masing?
Bahwa keberadaan masing-masing kita telah ditentukan dalam berat massa dan bergantung pada keberadaan gravitasi dan memampukan kita untuk selalu berdiri setelah terjatuh dan sebaliknya?
Dan gravitasi bisa menjadi hal yang relatif bila ada yang menopang kita, katakanlah semacam pengampunan dari orang-orang pernah kita lukai atau sebaliknya pengakuan dari mereka yang pernah melukai kita, dan memampukan kita melanjutkan hidup?
"Love is the one thing we're capable of perceiving that transcends time and space."

Dr. Brand, on Interstellar

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 12/21/2014 08:35:00 AM. 2 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts