The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, January 3, 2015
Seorang Bapak dan Tiga Ekor Kucing

Hutchi, Manis, dan Micuoh adalah tiga ekor kucing yang dipelihara oleh satu keluarga. Dari ketiga ekor kucing ini, hanya si Manis yang merupakan keturunan terakhir dari kucing yang pernah dipelihara keluarga tersebut bertahun-tahun. Hutchi dan Micuoh, adalah semula anak-anak kucing liar yang ditelantarkan induknya, dan lalu dipungut untuk dipelihara keluarga tersebut.

Manis berbulu warna abu rokok, Hutchi merupakan kucing tuksedo; hitam dan putih. Micuoh adalah kucing belang tiga warna; putih, hitam, dan oranye. Hanya Micuoh yang betina, dan satu matanya serta lehernya seakan patah. Semua karena ia pernah hampir mati disiksa kumpulan anjing. Namun Micuoh selamat, semua karena tangan dingin dari anak perempuan satu-satunya di keluarga itu yang telaten merawatnya.

Sang Bapak, kepala keluarga yang diceritakan ini, sebenarnya adalah penyayang binatang juga. Ia sedikit berbeda dari kebanyakan bapak, yang tidak menyukai hewan terutama kucing. Mungkin hanya karena egonya yang sungkan untuk disebut penyayang binatang, maka Bapak akan menjadi cuek bila ada kucing-kucing piaraan anak-anaknya yang bermanja kepadanya. Tetapi lebih sering, bila tidak banyak orang di dekatnya, Bapak akan mengajak bicara salah satu atau ketiga kucing penguasa rumah itu. Bapak, sejatinya adalah lelaki berperasaan, ia berhati lembut sekalipun ia sangar terlihat dari luar.

Selama bertahun, Bapak adalah yang bertugas membeli bahan makanan dari pasar di pagi hari. Subuh-subuh ia mengendarai motornya ke pasar, sebelum ia berangkat bekerja. Dan seperti kebanyakan menu harian orang-orang di daerahnya, ikan adalah lauk utama. Karenanya, masakan berbahan ikan hampir setiap hari ada di rumah.

Dan, tentu, hampir setiap pagi adalah pesta besar bagi ketiga kucing tadi. Menjadi kebiasaan dan kegiatan harian mereka untuk setiap pagi menunggui Bapak pulang dari pasar. Suara khas motor Bapak bisa mereka kenali. Dan bila suara motor itu mendekat, kucing-kucing itu akan menghambur lari ke teras dan menyambut kedatangan Tuan Besar mereka. Yang mereka tunggu, sudah pasti, adalah kegiatan menyiangi isi tubuh ikan-ikan tersebut sebelum dimasak.

Kebiasaan harian, sukacita harian. Berulang, diulang, menjadi suatu pola yang mungkin akan menjadi hal yang abadi bagi kucing-kucing tersebut.

Beberapa saat kemudian, kucing-kucing mulai menandai ada perubahan. Tidak ada suara motor di pagi hari, tidak ada pesta besar memakan isi perut dan insang ikan. Kucing-kucing hanya memakan tulang, nasi, dan daging ikan yang sudah dimasak. Tidak ada lagi daging segar. Yang ditandai kucing-kucing itu hanyalah bahwa sang ibu dan anak-anaknya yang menjadi majikan mereka, hampir setiap hari pergi ke luar. Manusia-manusia itu menyebut tempat tujuan mereka sebagai "rumah sakit". Yang mereka dengar dari bahasa yang diucapkan manusia-manusia itu, "Bapak sakit keras."

"Apakah arti dari kesakitan itu, bagaimana rasanya, kenapa Bapak sakit? Kenapa tidak ada lagi makanan segar?" Demikian kucing-kucing itu saling bertanya dalam untai bahasa yang tidak mereka ucapkan dari mulut.

Tidak lama setelah mereka mendengar tentang penyakit, mereka mendapati bahwa rumah menjadi ramai oleh manusia-manusia. Ada suara tangis, ada sedikit jeritan diiringi tangisan. Hutchi dan Manis menjadi merasa tidak nyaman. Mereka memilih menyingkir ke atap rumah dan mengamati orang-orang asing ini. Hanya Micuoh yang berdiam dalam kerumunan manusia. Micuoh melihat Bapak, Tuan Besarnya sedang tidur dalam satu kotak besar berwarna coklat. Bapak akhirnya pulang ke rumah, tetapi Bapak selalu diam. Bapak tidak bangun untuk mengambil makanan seperti biasa, untuk lalu Micuoh bisa meminta sisa makanan setelahnya. Malam itu, Micuoh tidur di samping kotak besar yang Bapak tertidur di dalamnya.

Esok hari, Micuoh hanya melihat dari jauh, kotak tadi ditutup. Bapak dibawa oleh orang-orang asing ini. Siang itu Micouh tidak tahu, bahwa malam tadi adalah terakhir kali ia melihat wajah Bapak yang menghitam.

Beberapa hari setelahnya, ibu dan anak-anak yang menjadi majikan Micuoh pulang ke rumah. Ketiga kucing piaraan itu menyambut mereka. Segala sesuatu seperti menjadi normal kembali, hanya Bapak yang tidak ada pulang. Padahal sudah beberapa hari ini ketiga mahluk berekor ini menunggui Bapak pulang dari pasar. Tidak ada lagi suara khas motor bapak yang hampir selalu tepat waktu tiba di pukul 6.45 pagi. Yang ada kini dan setelahnya, motor itu selalu digunakan anak laki-laki yang menjadi majikan mereka juga. Mobil di rumah itu, yang Hutchi sukai untuk tidur di atapnya, juga tidak lagi pernah bersuara.

Hutchi, Manis, dan Micuoh, masih sering menunggui sang Bapak setiap pagi setelah hari manusia-manusia asing memenuhi rumah itu. Suara motor di pagi hari tidak lagi ada, dan terutama, tidak lagi mereka pernah melihat Bapak pulang.


(Cerita ini adalah sudut pandang lain perihal kematian Bapak saya, W. Purba, yang pada tanggal 11 Maret 2015 nanti, akan genap tujuh tahun tidak lagi pulang dari pasar, untuk mengadakan perjalanannya ke akhir dunia, ke tanahnya yang baru.)

Labels: ,

Eleazhar P. @ 1/03/2015 11:25:00 PM.

1 Comments:

  • On January 6, 2015 at 11:21 AM, Anonymous Anonymous said,
  • "Ceritanya sedih :-("
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives