The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Friday, February 27, 2015
Banda Aceh and Sabang Getaway: A Relieving Journey to The 0 Kilometer of Indonesia

Saat post ini di-publish, saya masih dalam euforia liburan (yang saya lebih suka sebut sebagai "upaya melarikan diri dari Jakarta yang sumpek dan segala rutinitas membosankan") di Nanggroe Aceh Darusalam pada 19 - 22 Februari lalu. Bagi saya, liburan kali ini lengkap; langit cerah, samudera lepas, clear water and blue beach, pasir putih, perbukitan dan hutan, food tasting, penjelajahan pulau, berlayar dan terbang.

Lalu, kenapa Aceh (terutama Pulau Weh)? Pertama, saya sudah lama ingin ke pulau ini. Teman-teman di masa dulu sudah banyak yang pernah ke sana, saya belum. Kedua, sebagai loner wolf, saya tidak suka lokasi berlibur yang terlalu ramai semacam Bali. Ketiga, saya ingin annual leave pertama saya di perusahaan baru dihabiskan dengan sangat berguna. Dan keempat, saya sumpek dengan hidup dan butuh kawan ngobrol yang bisa mengimbangi atau paling nggak untuk menetralkan isi pikiran & perasaan, omongannya bisa saya terima, yang kebetulan orangnya ada di Banda Aceh, sekaligus yang bertanggungjawab sudah "mengompori" saya untuk menjelajah ke sana dengan foto-foto yang dia publish di Instagram, hahaha... Well, there could be no one else than si Bang Dian.

Dan sebagai introvert pada umumnya, saya tidak terlalu senang untuk berpergian dengan rombongan yang ramai. A small group consists of two to three persons is way enough. Jadi, dari inisiasi untuk berangkat dengan Mbak N dari Jakarta, akhirnya hanya menjadi dua orang untuk berlibur karena Mbak N berniat untuk banyak menabung di 2015; ya saya dan si abang satu itu. Terakhirnya, si Mbak N malah mendapat rejeki untuk Ibadah Umroh pada saat yang bersamaan dengan liburan kami.

Plan untuk berlibur sudah kami bicarakan via Whatsapp, Twitter, dan Instagram berbulan sebelumnya. Informasi obyek wisata dan rencana aktivitas berceceran di banyak chat, hingga Bang Dian yang ISTJ- Cancer itu menyarankan untuk membuat itinerary getaway ini, supaya setidaknya ada timeline dan target yang mau dicapai. Well, that was good, he's the boss and already knew such condition of the battlefield we would conquer. Itinerary akhirnya saya buat dengan mengumpulkan remah-remah percakapan kami dan informasi dari berbagai travel blogs. Setelahnya kukirimkan ke Bang Dian untuk di-review dan beri masukan sesuai kondisi dan prediksi lapangan.
It's quite rare to find a Cancer with a quite dominant Thinker characteristic. Let's say that it's a cosmic jackpot combination that comes into a Cardinal ISTJ-Cancer. The thing is, let this kind of people have their own space, let them lead. And on the other side, show what you can do to contribute and keep the fire on. Logic and emotion are absorbing them, to the point of inner battlefield.
Itinerary akhirnya menjadi dua versi. Versi terakhir saya tambahkan dengan weather forecast, karena berita duka yang terjadi di Iboih beberapa hari sebelum kedatangan saya saat itu, yang lebih dikarenakan gelombang tinggi dan cuaca buruk. So, I put my heart to believe. Di Whatsapp chat saya bilang, "aku yakin liburan ini berhasil. Selamat sejahtera tanpa terjadi yang aneh-aneh." Yes, juga agar liburannya lebih asik daripada liburan tahun lalu.

A useful tips for you in life; make and map your plans (in this case, it's an itinerary), believe in your vision, and always have your senses and intuition activated.
And the good thing of a Mutable INFJ-Pisces, and Mercury in Virgo during my birth, is the entanglement point of optimism, prophecy, and vision thru the darkest days. But I'm not good in keeping myself on the right track and schedules - I hate schedules. So the fact that an ISTJ (who is famous to be the master the schedules, time, and all routines) proposed to have an itinerary as our ultimate guide, was really helpful for us to enjoy this trip at the fullest.

And oh, you can download our itinerary as your ultimate reference to visit Banda Aceh and Sabang here.
Jadi, setelah saya booking tiket PP Jakarta - Banda Aceh dari Traveloka (termurah di antara penyedia jasa sejenis. Recommended, gan!), membeli underwater case untuk iPad mini, backpack, dan booking penginapan di Iboih Inn (nah, yang ini hasil pembicaraan kami di Twitter; perihal rekomendasi dan cerita di Sabang oleh Rahne Putri), berangkatlah saya dari Jakarta ke Banda Aceh di 19 Februari. Yass, saya terjaga semalaman itu saking excited-nya, sekaligus takut terlena tidur akibat hujan yang turun sejak tengah malam (kemungkinan banjir pulak). Jam empat pagi, taksi sudah meluncur dari apartment ke CGK, sementara jadwal terbang di tiket pada 8.45 pagi.

So the adventure began, with the itinerary I had in my iPad mini...

Kamis, 19 Februari 2015: City Exploration
Saya tak terlalu tertarik membicarakan delay oleh Lion Air yang membikin heboh negara ini minggu lalu meski saya juga "korbannya". Di jam 8.35 kami sudah dipanggil masuk ke bus untuk naik ke pesawat di Terminal 3 CGK, mengira akan sedikit tepat waktu untuk take off di 8.45, tapi ternyata pesawat berangkat di 10.40. Dua jam di pesawat yang AC-nya tidak terasa, tidak ada kompensasi makanan-minuman, sudah membuat perasaan tidak nyaman. Para pramugari dan pilot juga sudah terasa kehilangan kesabaran kalau dirasa dari helaan nafas dan gelengan kepala. Penumpang juga sudah kehilangan kesabaran. Kalau aku, aku nggak enak kalau si Bang Dian akan menunggui lama di bandara tujuan, sementara ponsel sudah saya matikan sejak masuk pesawat. Tapi saya bersyukur bahwa delay yang kami alami tidaklah terlalu lama.

Tepat di jam satu siang kami mendarat di BTJ, si Bang Dian langsung membawa saya makan di rumah makan bermenu kari kambing yang dia rekomendasikan di dekat bandara. Nama rumah makannya kami tidak tahu, dan sekalipun saya tidak mengambil foto makanannya, percayalah makanannya (terutama menu ayamnya yang mirip menu ayam angkap) benar enak! :)

Setelah makan, kami menuju rumah si abang di pusat kota untuk beristirahat sebentar dan mengganti pakaian. I chose not to wear my (long) jeans but that "such short pants" instead, jadinya tidak bisa mengunjungi Masjid Baiturrahman sesuai rencana sore itu.

Yang kami kunjungi setelah berangkat dari rumah, secara berurutan adalah situs tsunami "Kapal di Atas Rumah", Museum Tsunami Aceh (yang sayangnya lagi berbau karena sedang dilakukan pengurasan isi kolam), situs tsunami "PLTD Apung" dan menara air "Animaniacs-nya", mengunjungi sekilas kawasan Ulhee Lee, dan menikmati senja di Pantai Lampuuk. Dan tentu, Pantai Lampuuk adalah yang paling berkesan. Hanya sayang, sunset-nya tidak sebagus seperti saat si Bang Dian mengambil foto di Instagramnya beberapa bulan lalu di situ. Tapi nggak apa-apa, saya sangat suka pantainya dan saya bisa bercerita cukup banyak di sana! :D

Pantai Lampuuk, Kuta-nya Aceh. Pantai komersial paling barat di Indonesia. Tidak kalah dengan pantai-pantai di Indonesia bagian tengah dan timur.

White waves. Telah bertahun damai tercipta di Nanggroe, geliat pariwisata juga terasa meski memang banyak hal yang harus dibenahi pemerintah daerah dan pelaku usaha. Di satu sisi, Aceh sangat menyenangkan. Saya tidak harus khawatir atau takut akan mengalami kecurian sebagai wisatawan di sana. Sepanjang kamu hidup benar, bisa menjaga sikap, dan kesantunan adalah bagian dari hidupmu, tidaklah perlu takut mengunjungi Nanggroe. Saya merasa sangat diterima dengan baik sebagai turis lokal.

Terlihat seperti di klip musik Bjork "Who Is It?" Tetapi ini bukan di Iceland. Ini di Lampuuk, Lhok Nga, kawan.

Sunset at Lampuuk. Caption is actually not needed.

Semuanya bisa dijelajahi dalam waktu yang singkat dan sedikit improvisasi dari itinerary. Semua karena jalanan yang tidak macet, cuaca baik, dan si pembalap yang menjadi tour guide saya itu. Satu hal yang bagi saya lucu, waktu si Bang Dian berucap begini di tengah jalan saat menunggu traffic light, "kadang kupikir aku jadi orang paling gobl*k di sini. Traffic light masih merah, orang lain sudah jalan saja menerobos." Hahahahaha... Ini salahsatu yang cukup jelek di kota-kota besar di Sumatra (Medan juga); ketertiban berlalulintas.

Pukul 7.30 malam kami kembali di rumah. Langit masih terang malam itu, Bang Dian shalat maghrib. Setelah mandi, kami bersiap melakukan food tasting dan swarming at the coffee shop. Kedua tempat yang akan kami kunjungi berikutnya adalah rekomendasi si Bang Dian.

Pilihan tempat makannya, Mie Razali di kawasan Peunayong. Rasanya enak, lebih enak daripada mie Aceh yang kadang saya nikmati di Jakarta. Sedang warung kopi yang kami kunjungi adalah Warkop Solong. And, in case that you're imagining such traditional small coffee shops, I'd scream "Tettootttt... You're wrong!" Hahaha... Warkop- warkop di sini banyak yang berukuran besar. Ada yang tempatnya kelihatan biasa saja, ada pula yang kelihatan fancy dengan interior bagus. Dan saat melihat jejeran warkop di Ulee Kareng itu, saya cuma bisa mengajukan pertanyaan retoris ke si abang saking takjubnya dengan keramaian di warkop-warkop itu, "Oh, my, Gosh! What are they doing?!" Bang Dian cuma bisa tertawa...

Kopi Solong. Yang black coffee sudah habis saya seruput, rasanya enak & mirip wine. Sedang Kopi Sanger dingin seperti di foto ini, satu sedotan saja sudah membuat mata saya berkedip-kedip. Sensasi ini tidak ada di Starbucks. Artinya saya harus kembali ke Aceh suatu hari nanti.

Menurut si abang, Warkop Solong ini adalah yang jago soal urusan rasa kopi (belakangan saya tahu kalau Kopi Solong adalah kopi Aceh terbaik, saya beruntung sudah mencicipinya). Kami pesan kopinya, dan rasanya benar enak! Menurutku agak mirip rasa wine. Setelahnya saya coba Kopi (Solong) Sanger dengan es. Inipun enak! Mata saya sampai berkedip-kedip menikmati kedua minuman ini. Ah, during those few seconds, I felt heaven had come to earth. That means, saya harus kembali ke Aceh suatu waktu nanti! :D

Kami pulang, dengan sebelumnya membeli bubuk Kopi Solong itu sebagai oleh-oleh. Kata Bang Dian di motor seusai keluar membeli minum di warung dalam perjalanan pulang, "kamu ini jadi kelihatan seperti orang Jepang sekarang, El, mengucap terima kasih udah pakai acara membungkuk. Tapi nggak apa-apa, malah bagus."

Belum terlalu banyak cerita yang kami saling tukar di malam hari pertama, aku juga ingin menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan kota ini (yang saat tidur saya sampai ketindihan dua kali dan bermimpi dikelilingi banyak mayat dan mendengar suara gemuruh air). Hari pertama berakhir.

Jumat, 20 Februari 2015: Island Exploration (Day 1)
Jam 8.35 pagi kami berangkat ke Pelabuhan Ulhee Lee dengan menumpang beca, karena niat awal adalah menumpang kapal cepat ke Pulau Weh. Apa daya, tiket sudah habis saat kami mengantri. Akhirnya kami membeli tiket kelas VIP untuk kapal ferry di jam 10.

Pelabuhan Ulhee Lee

Dari berbagai blog yang saya baca, disarankan untuk bersiap "berburu" tempat duduk saat berada di ferry, sekalipun tiket yang kamu beli adalah tiket VIP! Dan benar terjadi, kami yang sesuai tiket sudah menduduki kursi nomor 3 dan 4, didatangi oleh satu keluarga yang sangat menyebalkan karena meminta kami berpindah duduk. Ogah! Nggak mau saya. Saya lalu bilang ke si Ibu sambil menahan emosi bahwa mereka harus duduk di kursi dengan nomor mereka sendiri, bukan dengan menyusahkan atau mengusir penumpang lain. Bang Dian bilang, agak susah memang kalau peradaban kita diadu dengan orang pribadi yang memang sudah barbar, kadang memang harus kita ikut berbaur menjadi "sedikit barbar" agar survive. Jadi, bisa dong diambil tips untuk mengatasi hal sepele tapi menjengkelkan di kapal ini? Yes, "speak out! Fight for your rights."


Pelabuhan Balohan, Sabang

Kami tiba di Balohan sekitar jam duabelas, lalu langsung menyewa motor (bahasa Sumatra; kereta!) di dekat pelabuhan. Setelahnya langsung menuju masjid terdekat untuk si Bang Dian Jumatan di jam satu.
"Jadi kayak waktu di M*da dulu, nungguin kam Jumatan begini..."
"Memangnya pernahkah?"
"Iyalah, dasar pelupa."


Bahkan sebenarnya saya masih ingat nomor-nomor inspeksi (job number) saat saya ikut tugas di lapangan dengan si abang ini saat di Surabaya dulu dan menungguinya Jumatan.

Untuk sekian detik saya merasa sedih. Some parts of it, karena sepertinya dia tidak mengingat apa-apa tentang itu. Tetapi porsi terbesar adalah karena saya yang terlalu mengingat hal-hal seperti itu. Saat itu, saya tidak sesering si "rekan seangkatan lain, that girl of the batch" dulu untuk diajak atau mengajukan diri ikut bertugas ke lapangan. As a matter of fact, I rarely had discussion with him that time, jadi setiap perkataannya bisa kuingat dengan jelas. It was not an everyday-thing to talk to him.
Setelah Jumatan, kami langsung meluncur ke arah pusat Kota Sabang di utara untuk makan siang, melalui Jalan By Pass. Kota Sabang terasa sangat tenang dan sejuk sekalipun langit masih terik-teriknya. Kami masih sempat berfoto-foto di jalan saat menuju Sabang.

Setelah makan, kami menuju pemberhentian berikutnya, Iboih! Dan perjalanan menuju Iboih sejak dari Balohan adalah petualangan tersendiri. Bang Dian jadi pemegang kemudi, saya yang jadi navigator dengan dibantu si Jarvis (hape Lenovo saya yang jelek itu) sambil memegangi tasnya supaya tidak melorot jatuh ke depan. Ada waktunya sinyal ngga dapat atau hape ngadat, berakibat pengambilan keputusan menjadi susah. Jadinya saya lebih mengandalkan intuisi saja waktu memandu sambil memperhatikan penunjuk jalan. Ada kalanya pula si abang menimpali dengan logikanya, "nah, itu udah kelihatan dekat lautnya, berarti dekat garis pantai". Somehow I felt that our ISTJ (Thinker) and INFJ (Feeler) traits were explored during the journey.

And... The "best part" was to mess up with the monkeys (monkey family) we met afterward, when we're close enough to Iboih!! Sensasinya epik, paduan lompatan adrenaline dan sensasi lucu. Kami hampir dikejar keluarga monyet, dan tidaklah lucu kalau kami sampai terjerembab ke jurang di pinggir jalan karena panik dan hilang kendali. Hahaha.. Lesson learnt, "don't mess up with monkeys!"

Menuju Iboih Inn dengan kapal jemputan. Bisa juga ke penginapan ini dengan berjalan kaki di jalur trekking. Layanan antar-jemput ini hanya berlaku untuk check in dan check out.

Tepian Iboih Inn, di Teupin Layeu, Iboih.


Pukul 3 kami tiba di Pantai Iboih - yang saat itu cukup ramai, dan pantainya bagus! :D Sesegeranya kami dijemput oleh tim dari Iboih Inn, heading to our private sanctuary... And trust me, Iboih Inn is so good. Terhampar dan tersedia pantai dengan clear water, pemondokan yang sejuk dan tenang lengkap dengan hammock-nya, makanan yang lumayan, pemilik dan staf yang ramah dan sigap, WiFi kencang, dan apa lagi ya? Lengkaplah pokoknya untuk ukuran penginapan dan sebagai peristirahatan untuk menenangkan diri. And, oh, terlewat, ada banyak kucing piaraan sang pemilik, Bu Liza, di sini. Semuanya lucu, jinak, terlihat sehat, tidak berisik.

Hammock di pondok. Kalau beruntung bisa book pondok di bagian depan yang menghadap laut, tentu akan makin susah mengajak si Bang Dian turun, hahaha.. Sudah pewe di hammock.

Setelah berleha-leha sebentar di pondok dan bercengkerama dengan kucing jinak yang mampir (tentunya dipanggil dengan bahasa kucing) kami menuju Pantai Iboih dengan menyusuri jalur trekking (guys, bawalah senter mini. Saat gelap tiba - seperti saat kami pulang dari Pantai Iboih, gelapnya maksimal dan harus berhati-hati menyusur jalan), tentunya untuk bermain di pantai dan membeli sunglasses karena si Bang Dian "cukup tersiksa" oleh angin dan debu di jalan tadi, sementara besoknya masih harus menempuh perjalanan panjang lagi.

Ahli kelautan dadakan. Kami berdua adalah lulusan perikanan, tetapi saya adalah yang "murtad" setelah kecemplung sebagai logistician.

Setelah bermain-main dengan koral mati, bercerita banyak di pinggir pantai sambil memakan gorengan dan menyeruput kopi, serta shalat maghrib, pulanglah kami ke penginapan untuk mandi dan makan malam di restoran pinggir laut, yang masih di penginapan yang sama. Oh iya, untuk menu makan malam di Iboih Inn, sebelumnya harus melakukan pemesanan menu di siang atau sore harinya ya.
"Aku itu dulu takut, takut banget ke kam, bang. Meski jarak meja kita cuma satu meter, diagonal, aku merasa jarak sebetulnya lebih jauh."
"Resignation-ku itu bagian dari skenarioku sendiri. Aku yang mengatur itu... The irony was, meskipun aku yang merencanakannya, berharap kalian yang membenciku akan semakin senang melihatku makin terpuruk, tapi rentang satu bulan dari akhir November sampai awal Januari itu masa-masa suramku. Kadang aku menginginkan mati waktu itu."
Corals in micro mode.

Our dinner at Iboih Inn. Kami memesan combo seafood and chips, tuna goreng tepung dengan sambal khas Iboih Inn, kangkung tauco (yes! Saya yang memilih ini karena sudah lama nggak memakan anything tauco), dan teh dengan daun sereh.

Dinner for the cats. Ada banyak sekali kucing di sini. Semuanya lucu, sehat, jinak, dengan ukuran tubuh yang pas, tidak ada yang kurus atau kegendutan.

Clear water of Iboih Beach. This photo will always call my name to come back.

Malam itu kami lalu habiskan dengan makan malam, mengobrol lagi tentang banyak hal, dan menikmati alam; debur ombak, angin laut, samudera bintang (bawalah kamera bagus, kamu akan bisa mengabadikan Milky Way di atas), dan suasana menyenangkan yang dibawa kucing-kucing piaraan. Di malam itu, giliran Bang Dian yang lebih banyak bercerita. Sementara aku, was secretly taking notes. Ini kebiasaanku, belajar secara diam-diam darinya.

Hari kedua pun berakhir dengan sangat baik...

Sabtu, 21 Februari 2015: Island Exploration (Day 2)
Our morning was started to see the sunrise. Kami mampir sebentar di dermaga Iboih Inn (Simon si kucing sudah bangun dan ikut mengaso di dermaga), lalu melanjutkan menikmati pagi dengan berjalan menuju Pantai Iboih, mengambil motor yang kami parkir sejak kemarin, dan berkendara menuju Tugu 0 Kilometer.

The journey was damn fun! Kami pikir menaiki motor jauh lebih pas untuk menuju lokasi ini, dan akan susah kalau dari awal kami menyewa mobil. 15 menit diperlukan sebagai waktu tempuh dengan motor, dan dikebut oleh Bang Dian.

Sebelum berangkat ke Aceh, si abang sudah memberi tahu kalau sedang ada renovasi di tugu itu, so I did not expect anything fancy. Yang penting sampailah di sana, di tepian Indonesia, di titik awal garis hitung kehidupan negara ini. Dan memang, lokasinya ternyata memang belum cocok untuk dikunjungi turis, masih banyak terlihat bahan bangunan dan gunungan pasir untuk proses renovasi Tugu 0 Kilometer. Sekali lagi, ini tidak mengapa bagi kami...

Sepulang dari 0 Kilometer, kami bercebur ria di sekitar dermaga Iboih Inn. Peralatan snorkeling disewa dari pengelola. Dan... Underwater case iPad mini saya berfungsi, tetapi tidak maksimal! :( Harusnya saya membeli underwater camera sungguhan saat itu.

Setelah bermain air, kami check out di jam 11 dan diantar kembali ke Pantai Iboih dengan perahu. Another journey was about to began...

Pukul 11.20 kami keluar dari kawasan Pantai Iboih menuju Pelabuhan Balohan untuk pulang ke Banda Aceh. Di tengah jalan, kami menemukan jalan pintas di daerah Gampong Anak Laot dan sempat bertanya ke warga sekitar untuk memastikan jalan menuju Balohan. Di jam 12.28 kami tiba di Balohan dan memulangkan motor sewaan, lalu makan siang dan mengantri tiket kapal cepat. Setelah di kapal, ada sedikit jengkel juga dengan kelakuan penumpang yang sepertinya "penumpang gelap" hasil kerjasama dengan calo. Tapi ya sudahlah, we must not let ourselves consumed by that such feeling.

Di sekitar jam 3.25 kami sudah tiba di Ulhee Lee, menumpang beca kembali menuju rumah. Setelahnya tidur siang sebentar. Man, that was a bit tiring, but still it was enjoyable...

Lalu di jam 7.30 setelah menyapu rumah, menonton teve, mandi, dan shalat, meluncurlah kami ke rumah makan "Spesifik Aceh" untuk mencicipi Ayam Tangkap yang terkenal itu. I did, enjoy the meals and place. Akhirnya kesampaian juga memakan Ayam Tangkap! :D

Tujuan berikutnya adalah membeli oleh-oleh di toko "Pusaka Souvenir" di kawasan Peunayong, yang sebenarnya bisa membuat gelap mata karena rasanya ingin memborong saja. Bermacam kopi dan jajanan, dompet, topi, tas, dan baju dengan corak Aceh ada.
"Aku sebenarnya agak malas beli oleh-oleh, bang... Rasanya menyakitkan kalau oleh-olehnya nggak dinikmati atau disentuh...""Yah, itu resiko sih, El. Yang penting kamu bawa aja dulu."
Setelah membeli oleh-oleh, kami menuju warung kopi yang "bersejarah" bagi si abang, karena inilah warkop pertama yang dia kunjungi di Aceh; Warkop Zakir. Inipun juga karena keinginan saya di itinerary, untuk melihat bagaimana suasana Saturday Night di Banda Aceh. Soal rasa, hmmm, saya jujur saja ke Bang Dian waktu itu, bahwa Warkop Solong yang kami kunjungi dua malam lalu punya rasa yang lebih enak dan sangat membekas bagiku. Sebagai benchmark lah tentunya.

Di sini kami bercerita banyak. Tentang hidup, kematian, masa lalu dan masa depan, beberapa kesusahan hidup, spiritualitas dan ketuhanan, quantum entanglement, xenology, optimisme. Pada satu cerita, saya hampir keceplosan menangis. Agak malu sebenarnya, karena saya sudah bertekad menjadi orang kuat di hadapan si abang, bukan saya yang dulu kelihatan lemah dan manja.
"Mungkin aku memang terlalu muak dengan relijiusitas atau aturan-aturan dogmatis gereja, jadinya aku merasa, kalaupun aku tidak pantas dikuburkan dengan layak oleh gereja, that's fine. Aku lebih memilih untuk mati tanpa jasadku pernah ditemukan, kayak dulu aku pernah berharap pesawat yang kutumpangi meledak di udara sehabis pulang dan bertemu kam di Surabaya (menahan airmata). Tapi sesudah melihat tragedi Air Asia, aku merasa aku jadi ngeri."
Dari bermacam topik aneh di kepala, aku merasa kalau hanya si abang yang bisa menyediakan telinganya dan memberi masukan. Diapun punya banyak kesamaan berpikir denganku. Sementara kalau aku berbicara hal-hal seperti itu dengan kawan kebanyakan, mereka akan "give up" dan akan mencemooh, which this I hate about.

Malam semakin larut. Cerita tidak akan pernah habis. Di malam itu aku menemukan kenyataan lagi, bahwa segala "tragedi" di masa lalu, dengan berlalunya waktu dan disertai usaha untuk saling mengerti dan belajar, akan menjadi komedi dan cerita yang bisa kami tertawakan. In fact, I never hate him.

Hari ketiga berakhir. Ada beban yang terasa terlepas di hati. Adventure, exploration, are the keywords.

Minggu, 22 Februari 2015: The End of The Journey
Hari terakhir di Aceh. Saya harus kembali ke Jakarta. Somehow I felt that the vacation was too short, like I did not want to return to the Crazy City as of that day... Saya masih mau menyepi dan menyingkir dari sumpeknya Jakarta. Tapi memang sudah berakhir, saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Pukul 9.45 pagi kami berangkat ke Bandara. And oh, saya sudah cerita di atas kalau si abang ini pembalap kan ya? Dan di jam 10.15 kami sudah di bandara, dari kawasan Lampulo di dekat bibir pantai (di malam saya tiba di Jakarta, saya cek peta dari bandara ke Lampulo, langsunglah saya Whatsapp, "Bang Dian gilakkkk," hahahaha). Segera saya check in dan keluar lagi, menyusul Bang Dian untuk menyeruput kopi di Warkop Chek Yukee di kawasan parkiran.

Saat bertukar foto via Bluetooth di warkop, pengumuman delay-nya Lion Air terdengar; pesawat diperkirakan tiba di jam 1.30 dan akan kembali ke Jakarta di jam 2. Atas saran si abang, kami keluar dari bandara di jam 11.30 dan jalan-jalan ke kota. Saya terserah saja, saya tidak terlalu mendengar saat itu akan diajak ke mana. Dan ternyata, tujuannya adalah pusat batu-batuan (gemstone) di Ulhee Lee yang kami rencanakan untuk dikunjungi sejak semula di itinerary tapi belum sempat dikunjungi hingga siang itu. Yippie kay yay!!!... :D

Setelah melihat-lihat sebentar, kami sampai di kios di pojok. Saya lihat koleksinya cukup lengkap, berkali-kali saya tanya penjualnya dia punya batu apa saja, harganya berapa, asal batunya dari mana. Sejujurnya saya sudah tahu, tapi saya mau memastikan pengetahuan mereka saja. Setelah menimbang-nimbang batu apa yang saya mau beli dan merasakan detak batu untuk memastikan keaslian dan fungsi yang saya mau, akhirnya saya membeli Lapis Lazuli terbaik yang ada di situ. Tebak harganya berapa, kawan? 200 ribu? Itu harga di Jakarta! Saya bisa dapatkan Lapis Lazuli seharga 50 ribu Rupiah di sini, dan asli! Terang saja saya girang sekali waktu itu. :D

Si Bang Dian tidak membeli apa-apa, tetapi dia tertarik dengan Star Quartz yang keren. Harganya tidak bisa saya disclose di sini ya, hehehe... Saya hanya bilang, "Star Quartz-nya bagus, tapi aku nggak butuh fungsinya yang untuk membantu mempercepat proses pembuatan keputusan." Bang Dian hanya merespon, "kalau gitu cocok denganku." Beli deh, bang. Bungkus! Ketularan hobi gemstone dan kristal nanti. Hahaha...

Di jam satu kami makan siang di rumah makan yang tepat di depan gerbang bandara. Nggak perlu diceritakan lagi lah ya cara mengemudi si Bang Dian, hahaha... Ada menu sate rusa di situ, boleh dicoba kalau singgah makan di situ. Bapak penjual dan timnya ramah, bahkan yang paling ramah yang kami temui di sini.

Pukul 1.30 saya akhirnya harus masuk untuk boarding. Bang Dian menawarkan untuk ditunggui lagi, karena mungkin delay kembali. Saya minta dia pulang, pasti sudah capek. Sebenarnya, seperti saya tuliskan di atas, saya belum mau kembali ke Jakarta. Saya masih mau ngobrol panjang dengan dia. Somehow I feel the loneliness when I'm in Jakarta. Friends in similiarities are rare, and to find a truer friends is rarer even more. Saya masih mau belajar langsung dari seniorku ini; hal yang tidak saya dapatkan sepenuhnya saat kami masih sekantor dulu.

Sebagai bagian perpisahan, saya akhirnya tonjok dia di punggung. That's how boys waving goodbyes. Setelah masuk di ruang tunggu di jam 2, saya masih bertukar chat dengan si Bang Dian yang -tebakanku benar- baru tiba di rumah. Dalam perenunganku beberapa menit di ruang tunggu dan ditawari untuk jalan-jalan keluar lagi kalau delay-nya masih berlanjut, di situ aku sadar, sisi lain dari getaway ini adalah eksplorasi karakter diriku, bahkan mungkin eksplorasi karakter si abang ini, melewati apa-apa yang tertulis dan kami pelajari sendiri tentang diri manusia. That time, I knew that I have a big brother I can count on, a big brother I never had by birth.

I will miss the trip, places, food, seas and hills, the adventure, the teamwork, the in-depth talks. And for sure, I'll miss my big bro.

The trip was truly relieving. I'd take this as my 29th birthday gift, my last trip on my 28.

Jika ada waktu dan kesempatan lagi, kami akan lakukan trip lagi. We'll do the "magic" again; fueling the optimism, strategy, and faith once again. Iceland, Norway, Japan? Entahlah, tidak tahu caranya akan seperti apa, tapi pasti akan terwujud. Amen.

Simon. Kucing yang paling disayang di sini.

I had one of the best morning in my life here; a private and peaceful sanctuary.

Pantai Iboih di saat matahari terbit. Kami menyusuri jalur trekking dari penginapan ke sini untuk melanjutkan perjalanan ke Tugu 0 Kilometer.

0 Kilometer dan saya.

0 Kilometer dan Bang Dian.

Tepian Indonesia. Yang kamu lihat adalah Samudera Hindia dari Kawasan Tugu 0 Kilometer.

Selfie on water.

Simon dan clear water. "Simon, kami pasti datang lagi..."

Teluk Sabang. Perjalanan pulang ke Balohan.

Ayam Tangkap. Seporsi ini harganya 50 ribu Rupiah. Khas Aceh, harus dicoba. ;)

Lapis Lazuli. Detaknya sangat terasa, dan langsung saya amplify dengan Clear Quartz sphere dan tiga Tourmaline. Saya sangat senang dengan Lapis Lazuli ini.

------------
Rincian biaya-biaya utama:
  • Sewa penginapan per malam (budget room, fan & shower, incl. breakfast): IDR 200.000,00
  • Sewa sepeda motor per hari (lebih kurang 24 jam): IDR 150.000,00
  • Ferry (per orang, kelas VIP Executive): IDR 58.000,00
  • Kapal Cepat (per orang, kelas Executive): IDR 85.000,00
  • Sewa peralatan snorkeling (set): IDR 45.000,00
All photos by Eleazhar Purba and Dian Keliat. Using these photos requires our permission. Complete photos set can be seen at my Instagram and Facebook (please login to your account first).

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 2/27/2015 12:49:00 PM. 2 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, February 14, 2015
Bu, Mbak, Mungkin Tadi Adalah Hari Yang Buruk Bagimu

Teruntuk para ibu dan saudari yang pernah menerima senyum dan kelakar dari saya saat membeli makanan atau barang apapun yang kalian jajakan, selamat malam.

Baru sore tadi saya renungkan, tentang porsi makanan yang selalu kalian lebihkan dari apa yang kupesan, tanpa aku membayar lebih pada kalian. Mungkin, kalian melihat tubuh bongsorku dan seketika tahu aku gemar makan berlebih. Kalian sangat benar, aku gemar makan. Pun aku memang makan berlebih karena warisan kebiasaanku beberapa tahun lalu. Makan berlebih adalah pelarianku untuk menghilangkan rasa sakit dalam jiwaku. Rasa sakit yang disembuhkan secara sementara, lalu muncul kembali. Dan aku butuh makan berlebih sejak saat itu.

Kini, di tengah masa-masa proses kesembuhan jiwaku, aku mencoba menghindari kebiasaan makan seperti itu. Aku tahu, yang berlebih itu tidaklah baik bagi tubuhku. Pun juga aku sangat menghindari duduk bersebelahan dengan orang yang berkelebihan berat badan di angkutan publik. Mereka sangat "memakan" tempat dan itu mengganggu penumpang yang lain. Aku sadari itu, karenanya aku ingin bertubuh biasa saja seperti tahun-tahun sebelum masa-masa kelamku. Aku tidak ingin menjadi pengganggu ketenteraman umum karena berat badanku.

Kini pula, saat upaya-upaya kebiasaan makan lebih terukur itu aku coba lakukan, berjalan pula proses lain yang kujalani dalam jiwaku. Aku kini jauh lebih rileks dalam hidup, aku bisa ramah kepada orang-orang yang secara jiwa tidak terikat denganku. Siapapun. Sekalipun aku memang tetap bisa galak kepada orang-orang tak bernama di jiwaku yang kutemui di jalan. Keramahanku, sikap baikku, termasuk pernah dan semakin sering kutujukan buat kalian juga.

Apa yang kudapat setelahnya adalah keceriaan yang berbalik kepadaku dari kalian. Mungkin aku telah mengambil hati kalian tanpa aku maksudkan sedari awal. Keceriaan kalian disertai dengan porsi makanan berlebih yang sering membuatku terkejut. Aku terkejut karena kalian seharusnya tidak memberi sebanyak itu. Sedikit banyak aku terharu. Tak lupa kusampaikan terima kasihku dalam hati, meski aku tidak akan serta merta menjadi pelanggan tetap kalian setelah "dibaiki" seperti itu.

Tetapi alasan terdalamku bukan itu. Bukan karena aku kini lebih santai dan lunak menghadapi manusia. Alasanku, karena sering aku menaruh belas kasihanku melihat mangkuk-mangkuk kalian masih penuh saat jam makan siang sudah hampir usai, atau sudah waktunya tengah malam. Pada peritel makanan besar, aku bisa mengerti kalau makanan sisa akan diberikan ke karyawan atau dibuang begitu saja. Tapi warung-warung makanan rumahan seperti kalian, tidak tega aku melihat mangkuk-mangkuk itu masih penuh. Sekalipun makanan yang kalian jual bukanlah makanan terenak yang pernah mampir di cecap rasa lidahku, aku akan datangi dan beli dari kalian saat aku lapar. Aku ingin menyumbang sedikit pendapatan kalian hari itu, dengan membeli.

Aku berpikir juga pada banyak waktu, mungkin kalian telah menghadapi hari yang buruk. Sama seperti kebanyakan pemilik, pengelola, pekerja industri seperti kalian. Pun aku pernah seperti kalian, pernah juga berada di industri ritel. Sangat tidak enak bagiku. Tetapi aku belajar dan menaruh hatiku pada posisi seperti kalian kini.

Menyebarkan brosur, ditolak oleh calon pembeli, berdiri dari pukul 10 pagi hingga 10 malam selama hampir seminggu berturut-turut dalam event pameran per empat bulanan, mengganti selisih harga dari uang pribadi, menanggung denda anggota timku, juga digoda oleh laki-laki penyuka laki-laki yang sangat brengsek itu. Semua juga pernah kujalani. Dan aku tahu rasa seperti itu, juga masih banyak orang yang menjalani jalan pekerjaan seperti itu.

Terkadang hatiku berada pada kalian. Buntu, aku sering tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin, dengan sikap ramahku, kuharap bisa sedikit membuat hari kalian cerah. Sedikit senyum dan tawa adalah baik bukan?

Terima kasih sekali lagi buat porsi lebihnya. Satu-satunya cara adalah sering bergerak tubuh. Baiklah, akan kulakukan. :)

Labels:

Eleazhar P. @ 2/14/2015 07:53:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Saturday, February 7, 2015
Seekor Kucing dan Segala Kegetiran Hidup Manusia

Geo, sebutlah demikian namanya, adalah seekor kucing hitam dengan perut berbulu warna putih yang hidup di teras sebuah minimarket 24 jam di sekitar Jalan Thamrin, Jakarta. Geo sudah cukup berumur. Kira-kira ia telah berusia 6 tahun, usia yang terbilang mulai tua untuk seekor kucing di jalanan Jakarta. Bulunya bagus, hitam mengkilap, seperti ada yang telaten merawat dan memandikannya.

Selama dua tahun terakhir, Geo belum pernah lagi menjelajah jauh ke jalan-jalan kecil di luar jalan utama. Bukan karena tiap-tiap kucing telah menandakan area kekuasaannya masing-masing, bukan juga karena ia adalah kucing pemalas yang sudah menikmati kemewahan hidup untuk ukuran kucing - di area yang selalu memberinya makanan cukup, sekalipun hanya berupa makanan sisa manusia. Hanya saja, kucing ini merasa bahwa ia tidak perlu lagi melihat dunia terlalu jauh. Ia lelah. Ia lelah mengamati dunia dan merasakan banyak kesakitan di sekitarnya.

Geo dilahirkan induknya di sebuah kotak kardus Indomie yang disediakan majikan induknya. Di malam Geo dan saudara-saudaranya dilahirkan, sang induk gelisah. Anak dari majikan induknya yang melihat gelagat kegelisahan itu, lalu menyediakan kotak kardus itu. Dan bila kau bertanya kenapa disebut "majikan" manusia-manusia itu, ketahuilah, kucing-kucing itu juga bekerja dan melayani manusia. Tugas mereka adalah menghibur dan mengobati luka hati manusia, dalam cara dan jalan yang sedikit manusia yang tahu dan mengerti. Dan saat Geo dan saudara-saudaranya lahir, anak-anak majikannya bersorak girang. Kehidupan baru telah muncul di rumah itu. Sama seperti hari anak-anak manusia dilahirkan. Sukacita, keceriaan, harapan baru, permulaan baru, kehidupan dan nyawa.

Berbulan anak-anak manusia tadi bergirang dengan kelincahan anak-anak kucing itu. Apapun yang mahluk mungil berekor itu lakukan, sepertinya selalu menjadi perbuatan ajaib.

Geo jarang keluar dari rumah majikannya. Di Jakarta, tidak banyak rumah yang memiliki pekarangan. Kalaupun ada, rumah-rumah tersebut pastilah milik orang yang cukup berada untuk membeli rumah dengan tanah tersisa, atau memiliki rumah tersebut dari generasi di atasnya. Majikan Geo, kebetulan bukan orang yang sangat berada. Memiliki rumah di kawasan padat penduduk di Jakarta sepertinya sudah cukup bagi mereka. Mereka bersyukur untuk itu. Dan Geo tidak pernah tahu atau terlintas sekalipun di batas pikirnya tentang hal tersebut.

Tahun berlalu. Banyak yang telah berubah...

Pada tahun kedua usia Geo menurut tahun manusia, Geo mulai jarang melihat anak-anak manusia di rumahnya. Katanya, kedua anak itu sudah memulai tahun-tahun di Sekolah Dasar. Di hari pertama Geo melihat mereka diantar ke sekolah, kucing ini melihat kedua anak itu menangis saat dimandikan. Berteriak dan menangis mereka memohon supaya jangan disekolahkan, si ayah berkeras dan mulai memukul kedua anak perempuan itu. Geo yang tidak tahan melihat itu semua, langsung mencakar kaki si ayah supaya menghentikan pemukulannya. Yang tidak terpikir oleh Geo, manusia jelas lebih kuat. Si ayah lalu berbalik menendang perut Geo hingga kucing itu terantuk keras menghantam tabung gas. Geo lalu berlari ke luar rumah. Anak-anak manusia tetap berteriak memohon ampun. Suara mereka terdengar pekik dari dalam rumah.

Di tahun yang sama, satu persatu dari ketiga saudara Geo tiada. Minci mati karena keracunan makanan, Mangu mati karena ditabrak sepeda motor, Pangupunyu mati karena berkelahi dengan anjing liar. Geo tidak mengerti tentang kematian saat itu, dan apa yang terjadi dengan kucing saat kematian menjadi pemutus kesadaran, dan tentang yang dirasakan tubuh saat kematian terjadi. Yang Geo tahu, ia merasa ada yang hilang, ada yang terlepas. Saat rasa kehilangan itu begitu jenuh di dalam perasaan Geo sebagai kucing, iapun menjadi tidak tahan. Geo pernah meneteskan airmata karena kerinduan akan saudara-saudaranya. Sama seperti ia merindukan induknya yang mati karena dilempari batu oleh pemilik warung di ujung gang sana, setelah kedapatan mencuri seekor ikan goreng untuk makanan Geo dan ketiga adiknya.

Yang Geo ingat, ia pernah melihat beberapa bayangan putih menyerupai bentuk manusia, datang mengambil beberapa orang tua di lingkungan mereka. Bayangan-bayangan putih itu menuntun orang-orang itu menuju langit. Malam ataupun siang, langit membuka pintu saat mereka terbang ke langit. Yang Geo ingat, saat pintu itu terbuka, ada rasa bahagia dalam perasaannya. Geo ingin bisa ke sana suatu saat nanti. Kalaupun bisa, hari ini juga ia ingin ke sana. Mungkin dari atas sana, ia bisa melihat ke bawah dan melihat anak-anak manusia yang ia selalu ingin lindungi. Atau mungkin, saudara-saudara dan induknya telah berada di atas sana. Mungkin ia sebenarnya juga bisa terbang dan melayang, sama seperti manusia-manusia yang ia lihat dijemput ke langit itu. Sebelumnya Geo belum pernah melihat mereka bisa terbang dan melayang.

Suatu siang, saat si ayah bekerja dan anak-anak manusia bersekolah, sang ibu rumah itu pelan-pelan dan berhati-hati masuk ke rumah melalui pintu samping. Geo yang sedang tidur di dekat teve melihat itu dan sedikit curiga; ada orang lain di belakang sang ibu. Seorang laki-laki asing. Geo lalu terbangun dan melihat kedua manusia itu masuk ke dalam kamar tidur si ayah sambil tertawa kecil dan berpelukan. Ia tidak pernah melihat sang ibu seakrab dan sehangat itu kepada sang ayah.

Cukup lama mereka berada di kamar tidur. Geo tidak tahu apa yang mereka perbuat. Hingga tak lama kemudian, ia mendengar derap kaki di teras. Setelah kunci pintu terbuka, Geo melihat si ayah masuk pelan-pelan dan sangat tenang. Mungkin karena lelahnya, si ayah hendak masuk ke kamar dan beristirahat.

Apa yang Geo akan dengar dan lihat setelahnya, ia belum pernah alami dan saksikan. Keributan, perkelahian, dan teriakan keras yang Geo belum pernah dengar akhirnya terjadi. Tetangga berkerumun di luar pintu dan berusaha menggedor pintu. Ada perasaan tidak enak yang Geo rasa.

Menit-menit itu terasa begitu lama, ada kalanya juga terasa sangat cepat...

Para tetangga akhirnya berhasil masuk dan berkumpul di depan pintu kamar, lalu terdiam menyaksikan yang sudah terjadi. Sang ayah tergeletak diam dengan lilitan kawat di lehernya, darah juga mengalir dari mulut dan hidungnya. Sang ibu menangis di pojok kamar. Dan si laki-laki asing terdiam, darah juga mengalir dari mulutnya. Kematian lain telah terjadi.

Hari-hari setelahnya berlalu lambat. Geo tidak lagi mendiami rumah itu. Pun ia tidak lagi pernah melihat kedua anak perempuan yang pernah menjadi majikannya. Mereka pindah setelah kejadian itu.

Hal yang Geo sesali, adalah ia tidak pernah bisa berbicara dalam bahasa manusia kepada kedua anak manusia kesayangannya itu. Bersusah pernah Geo menggerakkan lidahnya untuk menyuarakan yang ia mau anak-anak itu tahu. Berkali dia mencoba, dan setiap kali ia tahu bahwa semua usahanya untuk berbicara dalam bahasa manusia gagal, semakin tertekan dan sedih perasaannya. Bukan karena ia tidak peduli, bukan karena ia tidak menyayangi manusia. Jalan hidup telah membatasi sang kucing untuk menyampaikan dalam bahasa yang sekiranya manusia tahu bahwa ia juga peduli dan menyayangi manusia.

------------

Kelahiran, kematian, belas kasih, penderitaan, perpisahan. Segala sesuatu dalam hidup adalah mungkin. Tidak pernah kita tahu akhir dari dari suatu masa kebahagiaan, ataupun masa kesukaran. Jauh pada masa-masa sebelumnya, sekalipun sebagai kucing, adalah harapan dan pertahanan hidup yang membuat Geo melanjutkan hidup.

Dan jika manusia kebanyakan akan melihat apa yang ia jalani dan miliki saat ini untuk menentukan apa yang telah ia alami di masa lalu, maka Geo dan segelintir manusia yang memahami hidup dengan cara berbeda, akan menentukan masa kini - juga masa depannya, dengan menempatkan dirinya di masa lalu. Dengan demikian, harapan akan tetap hidup di atas bumi, sekalipun tiap-tiap kegetiran akan terjadi...

------------

Saat hari mulai gelap tadi, sekelompok berandalan mengerubungi gadis muda yang baru keluar berbelanja di minimarket yang Geo tinggali. Sepertinya ia memiliki sesuatu yang menarik empat berandalan tadi untuk mendekat. Ada sesuatu yang mereka ingin rebut dan miliki dari gadis itu. Geo yang melihat itu, lalu melompat ke kap mobil dan bersiap menyerang wajah berandalan itu.

Hap!! Sang kucing berhasil menerjang wajah salah satu berandalan itu sambil mencakarnya. Ia terjatuh, lalu bersiap melompat menerjang berandalan yang lain. Dan saat ia melompat, sang berandalan secara cepat mengarahkan pisaunya ke arah sang kucing. Kumpulan berandalan tadi lari terbirit sambil berteriak "kucing setan sial!!!"

Geo tersayat di bagian perut, darahnya mengalir deras. Sang kucing sudah mati. Bangkainya lalu dikubur oleh karyawan minimarket itu keesokan pagi.

Geo, sang kucing, telah belajar satu hal. Bahasa kasihnya kepada manusia adalah pengorbanan, sekalipun ia dulu tidak tahu akan ke mana ia pergi setelah mati nanti.



Tags: Journey to Semesta Mimitchi.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/07/2015 11:35:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, February 2, 2015
"Stonemilker" by Björk

Our juxtapositioned fates
Find our mutual coordinates

Moments of clarity are so rare
I better document this
At last the view is fierce
All that matters is

Who is open-chested
And who has coagulated
Who can share and
Who has shot down the chances?

Show me emotional respect, oh respect, oh
respect
And I have emotional needs, oh needs, oh ooh
I wish to synchronize our feelings, our feelings, oh
ooh

What is it that I have
That makes me feel your pain?
Like milking a stone
To get you to say it and
Who is open?
And who has shut up
And if one feels closed
How does one stay open?

We have emotional needs, oh needs, oh needs, oh
ooh
I wish to synchronize our feelings, our feelings,
ooh
Oh, show some emotional respect, oh respect, oh
ooh

Our juxtapositioned fates
Find our mutual coordinates



Photo by: Eleazhar P's Instagram. Lyrics by Björk, taken from her latest album "Vulnicura".

Labels: ,

Eleazhar P. @ 2/02/2015 10:33:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts