The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Saturday, February 7, 2015
Seekor Kucing dan Segala Kegetiran Hidup Manusia

Geo, sebutlah demikian namanya, adalah seekor kucing hitam dengan perut berbulu warna putih yang hidup di teras sebuah minimarket 24 jam di sekitar Jalan Thamrin, Jakarta. Geo sudah cukup berumur. Kira-kira ia telah berusia 6 tahun, usia yang terbilang mulai tua untuk seekor kucing di jalanan Jakarta. Bulunya bagus, hitam mengkilap, seperti ada yang telaten merawat dan memandikannya.

Selama dua tahun terakhir, Geo belum pernah lagi menjelajah jauh ke jalan-jalan kecil di luar jalan utama. Bukan karena tiap-tiap kucing telah menandakan area kekuasaannya masing-masing, bukan juga karena ia adalah kucing pemalas yang sudah menikmati kemewahan hidup untuk ukuran kucing - di area yang selalu memberinya makanan cukup, sekalipun hanya berupa makanan sisa manusia. Hanya saja, kucing ini merasa bahwa ia tidak perlu lagi melihat dunia terlalu jauh. Ia lelah. Ia lelah mengamati dunia dan merasakan banyak kesakitan di sekitarnya.

Geo dilahirkan induknya di sebuah kotak kardus Indomie yang disediakan majikan induknya. Di malam Geo dan saudara-saudaranya dilahirkan, sang induk gelisah. Anak dari majikan induknya yang melihat gelagat kegelisahan itu, lalu menyediakan kotak kardus itu. Dan bila kau bertanya kenapa disebut "majikan" manusia-manusia itu, ketahuilah, kucing-kucing itu juga bekerja dan melayani manusia. Tugas mereka adalah menghibur dan mengobati luka hati manusia, dalam cara dan jalan yang sedikit manusia yang tahu dan mengerti. Dan saat Geo dan saudara-saudaranya lahir, anak-anak majikannya bersorak girang. Kehidupan baru telah muncul di rumah itu. Sama seperti hari anak-anak manusia dilahirkan. Sukacita, keceriaan, harapan baru, permulaan baru, kehidupan dan nyawa.

Berbulan anak-anak manusia tadi bergirang dengan kelincahan anak-anak kucing itu. Apapun yang mahluk mungil berekor itu lakukan, sepertinya selalu menjadi perbuatan ajaib.

Geo jarang keluar dari rumah majikannya. Di Jakarta, tidak banyak rumah yang memiliki pekarangan. Kalaupun ada, rumah-rumah tersebut pastilah milik orang yang cukup berada untuk membeli rumah dengan tanah tersisa, atau memiliki rumah tersebut dari generasi di atasnya. Majikan Geo, kebetulan bukan orang yang sangat berada. Memiliki rumah di kawasan padat penduduk di Jakarta sepertinya sudah cukup bagi mereka. Mereka bersyukur untuk itu. Dan Geo tidak pernah tahu atau terlintas sekalipun di batas pikirnya tentang hal tersebut.

Tahun berlalu. Banyak yang telah berubah...

Pada tahun kedua usia Geo menurut tahun manusia, Geo mulai jarang melihat anak-anak manusia di rumahnya. Katanya, kedua anak itu sudah memulai tahun-tahun di Sekolah Dasar. Di hari pertama Geo melihat mereka diantar ke sekolah, kucing ini melihat kedua anak itu menangis saat dimandikan. Berteriak dan menangis mereka memohon supaya jangan disekolahkan, si ayah berkeras dan mulai memukul kedua anak perempuan itu. Geo yang tidak tahan melihat itu semua, langsung mencakar kaki si ayah supaya menghentikan pemukulannya. Yang tidak terpikir oleh Geo, manusia jelas lebih kuat. Si ayah lalu berbalik menendang perut Geo hingga kucing itu terantuk keras menghantam tabung gas. Geo lalu berlari ke luar rumah. Anak-anak manusia tetap berteriak memohon ampun. Suara mereka terdengar pekik dari dalam rumah.

Di tahun yang sama, satu persatu dari ketiga saudara Geo tiada. Minci mati karena keracunan makanan, Mangu mati karena ditabrak sepeda motor, Pangupunyu mati karena berkelahi dengan anjing liar. Geo tidak mengerti tentang kematian saat itu, dan apa yang terjadi dengan kucing saat kematian menjadi pemutus kesadaran, dan tentang yang dirasakan tubuh saat kematian terjadi. Yang Geo tahu, ia merasa ada yang hilang, ada yang terlepas. Saat rasa kehilangan itu begitu jenuh di dalam perasaan Geo sebagai kucing, iapun menjadi tidak tahan. Geo pernah meneteskan airmata karena kerinduan akan saudara-saudaranya. Sama seperti ia merindukan induknya yang mati karena dilempari batu oleh pemilik warung di ujung gang sana, setelah kedapatan mencuri seekor ikan goreng untuk makanan Geo dan ketiga adiknya.

Yang Geo ingat, ia pernah melihat beberapa bayangan putih menyerupai bentuk manusia, datang mengambil beberapa orang tua di lingkungan mereka. Bayangan-bayangan putih itu menuntun orang-orang itu menuju langit. Malam ataupun siang, langit membuka pintu saat mereka terbang ke langit. Yang Geo ingat, saat pintu itu terbuka, ada rasa bahagia dalam perasaannya. Geo ingin bisa ke sana suatu saat nanti. Kalaupun bisa, hari ini juga ia ingin ke sana. Mungkin dari atas sana, ia bisa melihat ke bawah dan melihat anak-anak manusia yang ia selalu ingin lindungi. Atau mungkin, saudara-saudara dan induknya telah berada di atas sana. Mungkin ia sebenarnya juga bisa terbang dan melayang, sama seperti manusia-manusia yang ia lihat dijemput ke langit itu. Sebelumnya Geo belum pernah melihat mereka bisa terbang dan melayang.

Suatu siang, saat si ayah bekerja dan anak-anak manusia bersekolah, sang ibu rumah itu pelan-pelan dan berhati-hati masuk ke rumah melalui pintu samping. Geo yang sedang tidur di dekat teve melihat itu dan sedikit curiga; ada orang lain di belakang sang ibu. Seorang laki-laki asing. Geo lalu terbangun dan melihat kedua manusia itu masuk ke dalam kamar tidur si ayah sambil tertawa kecil dan berpelukan. Ia tidak pernah melihat sang ibu seakrab dan sehangat itu kepada sang ayah.

Cukup lama mereka berada di kamar tidur. Geo tidak tahu apa yang mereka perbuat. Hingga tak lama kemudian, ia mendengar derap kaki di teras. Setelah kunci pintu terbuka, Geo melihat si ayah masuk pelan-pelan dan sangat tenang. Mungkin karena lelahnya, si ayah hendak masuk ke kamar dan beristirahat.

Apa yang Geo akan dengar dan lihat setelahnya, ia belum pernah alami dan saksikan. Keributan, perkelahian, dan teriakan keras yang Geo belum pernah dengar akhirnya terjadi. Tetangga berkerumun di luar pintu dan berusaha menggedor pintu. Ada perasaan tidak enak yang Geo rasa.

Menit-menit itu terasa begitu lama, ada kalanya juga terasa sangat cepat...

Para tetangga akhirnya berhasil masuk dan berkumpul di depan pintu kamar, lalu terdiam menyaksikan yang sudah terjadi. Sang ayah tergeletak diam dengan lilitan kawat di lehernya, darah juga mengalir dari mulut dan hidungnya. Sang ibu menangis di pojok kamar. Dan si laki-laki asing terdiam, darah juga mengalir dari mulutnya. Kematian lain telah terjadi.

Hari-hari setelahnya berlalu lambat. Geo tidak lagi mendiami rumah itu. Pun ia tidak lagi pernah melihat kedua anak perempuan yang pernah menjadi majikannya. Mereka pindah setelah kejadian itu.

Hal yang Geo sesali, adalah ia tidak pernah bisa berbicara dalam bahasa manusia kepada kedua anak manusia kesayangannya itu. Bersusah pernah Geo menggerakkan lidahnya untuk menyuarakan yang ia mau anak-anak itu tahu. Berkali dia mencoba, dan setiap kali ia tahu bahwa semua usahanya untuk berbicara dalam bahasa manusia gagal, semakin tertekan dan sedih perasaannya. Bukan karena ia tidak peduli, bukan karena ia tidak menyayangi manusia. Jalan hidup telah membatasi sang kucing untuk menyampaikan dalam bahasa yang sekiranya manusia tahu bahwa ia juga peduli dan menyayangi manusia.

------------

Kelahiran, kematian, belas kasih, penderitaan, perpisahan. Segala sesuatu dalam hidup adalah mungkin. Tidak pernah kita tahu akhir dari dari suatu masa kebahagiaan, ataupun masa kesukaran. Jauh pada masa-masa sebelumnya, sekalipun sebagai kucing, adalah harapan dan pertahanan hidup yang membuat Geo melanjutkan hidup.

Dan jika manusia kebanyakan akan melihat apa yang ia jalani dan miliki saat ini untuk menentukan apa yang telah ia alami di masa lalu, maka Geo dan segelintir manusia yang memahami hidup dengan cara berbeda, akan menentukan masa kini - juga masa depannya, dengan menempatkan dirinya di masa lalu. Dengan demikian, harapan akan tetap hidup di atas bumi, sekalipun tiap-tiap kegetiran akan terjadi...

------------

Saat hari mulai gelap tadi, sekelompok berandalan mengerubungi gadis muda yang baru keluar berbelanja di minimarket yang Geo tinggali. Sepertinya ia memiliki sesuatu yang menarik empat berandalan tadi untuk mendekat. Ada sesuatu yang mereka ingin rebut dan miliki dari gadis itu. Geo yang melihat itu, lalu melompat ke kap mobil dan bersiap menyerang wajah berandalan itu.

Hap!! Sang kucing berhasil menerjang wajah salah satu berandalan itu sambil mencakarnya. Ia terjatuh, lalu bersiap melompat menerjang berandalan yang lain. Dan saat ia melompat, sang berandalan secara cepat mengarahkan pisaunya ke arah sang kucing. Kumpulan berandalan tadi lari terbirit sambil berteriak "kucing setan sial!!!"

Geo tersayat di bagian perut, darahnya mengalir deras. Sang kucing sudah mati. Bangkainya lalu dikubur oleh karyawan minimarket itu keesokan pagi.

Geo, sang kucing, telah belajar satu hal. Bahasa kasihnya kepada manusia adalah pengorbanan, sekalipun ia dulu tidak tahu akan ke mana ia pergi setelah mati nanti.



Tags: Journey to Semesta Mimitchi.

Labels:

Eleazhar P. @ 2/07/2015 11:35:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives