The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, March 19, 2015
Tentang Rasisme, Tuhan, dan Kesalahpahaman, Luka

Jauh sebelum saya menerima suratronik berbau rasisme dan hinaan di minggu lalu, saya sudah mengenali luka di dalam jiwa saya.

Luka yang tidak aku mau orang lain untuk pernah alami dalam hidupnya.

Luka yang orang lain tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya kesakitan yang saya alami sepanjang hari selama bertahun.

Luka yang mengendap, lalu lenyap, dan muncul kembali.

Luka yang saya tahu, berasal dari kesalahpahaman dan ketidakmengertian, juga keengganan, yang tertumbuh dalam tinggi tebal tembok-tembok jiwa kami.

Lalu saat sang bapak, orang yang tidak pernah saya tahu dan kenal sebelumnya - menghina saya dengan brutal pada suratronik yang sebenarnya ia tujukan kepada bawahannya, namun secara "tidak sengaja" terkirim kepada orang yang ia caci maki di suratronik itu, yaitu saya, mau tidak mau, saya harus berbicara kembali tentang luka saya. Luka yang diungkit kembali oleh isi suratronik tersebut.
Izinkan saya bercerita tentang kenapa saya harus sangat cerewet saat memainkan peran saya dalam pekerjaan, sekalipun orang tidak melihat siapa saya.

Nasionalisme, ekonomi, kisah orang-orang marginal yang terlupakan, dan passion adalah topik dan material yang terhambur setelahnya.

Izinkan pula saya bercerita tentang kenapa isi suratronik bapak telah membuat saya menggigil kedinginan saat membacanya...

Dulu sekali, oleh kesalahpahaman pula, saya pernah merasakan hal yang sama. Mengalami diskriminasi karena asal-usul saya adalah hal yang saya alami di tahun pertama saya bekerja. Saya masih polos, naif, menganggap dunia menerima saya apa adanya. Sayapun buta secara emosi. Egois, berdarah muda. Oleh orang yang ia diberikan kepada saya sebagai senior saat itu, saya mengalami hal yang lebih kurang sama.
Yang saya rasakan, alami, adalah diskriminasi karena saya terlahir Batak. Bertahun saya mempelajari hidup saya. Bertahun saya berpikir untuk membunuh diri saya karena diskriminasi itu, oleh orang yang saat itu adalah orang yang paling saya segani, hormati, dan saya anggap. I hate my blood. I hate my body. But in the end, haruskah saya membunuh ibu saya, bapak saya, yang dari mereka saya dilahirkan? Enggak kan, Pak, Bu? Saya membenci, mungkin sebenarnya sebal ke Tuhan selama tahun-tahun itu, karena kelahiran saya. I often asked, "why God? WHY IS MY LIFE THIS HARD? Kenapa saya dilahirkan Batak?" Saya tidak tahu apakah bapak ibu di sini percaya Tuhan itu ada atau tidak, mohon maaf saya membawa nama Tuhan di meeting ini. Tapi demikianlah dulu...

Tapi kini saya pikir saya adalah survivor. Masalah tersebut sudah berlalu. Your e-mail, if targeted to and received by a younger me, it would break me into pieces. Tapi saya beruntung hal buruk tersebut sudah berlalu. Luka saya, telah saya terima sebagai jalan hidup saya. I know what kind of fate I'm living in. Dengan senior saya dulu itupun, saya sekarang berteman baik, kami bisa berlibur bersama, dan kini tetap seperti abang saya sendiri. So I'm open for any possibilities with you, and your company. Secara pribadi saya maafkan.

But personally, Pak, I ask for you, please, jangan lagi mengirim e-mail seperti itu. Yang saya pikirkan adalah orang-orang yang sama seperti saya saat muda dulu. Kasihani mereka, saya tahu hal terbodoh ternekat apa yang mereka bisa lakukan.
Dan setelah kepulangan mereka dari pertemuan untuk meminta maaf tersebut, it eventually left my heart empty for a while, "Tuhan, kenapa harus saya alami lagi ini?"

Yang tidak orang lain tahu, di dalam jiwa saya, api belaskasih dan kemarahan saya masih menyala kuat, yang setengah mati selalu saya coba kendalikan. Deep down in me, I cried and was broken once again, and to revive on the other day.

Photo by Eleazhar Purba

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 3/19/2015 09:26:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Sunday, March 8, 2015
Bangkok Trip, March 2 - 4

This was my first time to Bangkok and Thailand, and for a business trip. Delivering presentation in front of members from other countries, was my main and ultimate purpose to be sent here. I did, enjoy Bangkok. But I do not plan to visit it again as personal trip.

In just one hour at the office (Feb 23), right after arriving from my getaway to Aceh, the big boss said that I had to go to Bangkok on March 2 - 4. Being surprised and still my head was on the clouds - as felt so happy for my Aceh journey, I did not make any itinerary of what to do and visit in the short trip. I stayed at the hotel most of the time.

I took this Bangkok trip as one of my 29th birthday gifts. One had happened earlier, my Aceh getaway of course! :D

In Iboih, Aceh, one week earlier...
"Nggak berminatkah ke Thailand atau Malaysia, El?" asked Bang Dian.


That sudden question, I took it as a prophecy. I did not plan any visit to Thailand before. It was just a sudden instruction by my boss. My big bro did ever make prophecy about Facebook, and it happened. I'm working and waiting for another prophecy to be fulfilled; making a FREE trip to see the auroras in northern hemisphere. He will join me again, I believe.















Labels: , ,

Eleazhar P. @ 3/08/2015 01:54:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts