The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, May 24, 2015
Banda Aceh and Sabang Getaway, Part II, May 14 - 17 2015


"One fine Saturday afternoon in Alue Naga". Shot by myself.

I went to Banda Aceh and Sabang for the second time this year. And yes, I do have the after-thoughts which I'll write later.

--------

[Update: May 25 2015] The After-Thoughts

Beberapa teman bertanya setelah tahu saya menghabiskan akhir pekan panjang Mei ini di Aceh. "Apa istimewanya?" begitu mereka bertanya. Saya tidak punya jawaban pasti bagi mereka. Bagi saya saat itu, berlibur ya berlibur. Saya ingin menenangkan dan melambatkan detak jantung saya di bibir pantai Ulhee Lee saat senja. Saya ingin menjauh dari tempat-tempat liburan yang terlalu ramai. Saya ingin agar liburan terakhir saya sebelum masa-masa peak di kantor yang dimulai tidak lama lagi, dapat dihabiskan dengan baik, berbuah bagi jiwa saya. Tokh di sana juga ada Bang Dian, dan mungkin saja kami bisa menjelajah bersama lagi kali ini.

Saya merasa ada yang belum terpenuhi dari liburan di Februari lalu. Saya rindu menjejak kembali satu pulau dalam waktu sehari. Saya rindu awan-awan tipis dan langit biru di sana. Saya masih ingin mengobrol tentang banyak hal di warkop-warkop dengan abang saya itu.

Tetapi ada sedikit keraguan yang begitu menusuk saat saya hendak berangkat. Ada pertanyaan-pertanyaan semacam, "should I go? Apa yang akan kulakukan di sana?" Saya tidak bisa berhenti tenggelam dalam keraguan pikir saya saat itu. Bahkan saat sejak taksi meluncur keluar dari apartment hingga tiba di Soekarno-Hatta, kupikir saya lebih banyak melamun atau dalam keadaan tidak sadar dengan sekitar. Saat pesawat transit sebentar di Kualanamu, saya bahkan berpikir untuk ikut turun dan pulang ke Lubuk Pakam. Entah kenapa saya bersedih, bahkan hingga kaki menjejak di Bandara Sultan Iskandar Muda, menyeruput kopi sanger di warkop depan bandara, dan dijemput oleh Bang Dian, saya merasa ada yang hampa. Entahlah.

Mungkin saya agak terlalu berharap liburannya menjadi sebegitu menyenangkannya seperti Februari lalu. Tapi masih ada sedikit rasa percaya di dalam diri bahwa ada hal baik akan terjadi di liburan ini. Saya memang menjadi kikuk, tanpa itinerary, tanpa panduan hendak ke mana di Sabang setelah yakinnya saya akan menjejak Sabang seorang diri saat itu.

Di sisi lain, kesendirian di Sabang (meski saat itu saya sempat bertemu dan jalan sebentar dengan kawan SMA dulu, Offy), menunjukkan kepada saya, bahwa mungkin saya akan masih lama "seperti ini". "Seperti ini" adalah berarti menjejak dunia seorang diri. Dan saat itu saya hanya berharap pada kemurahan hati masyarakat setempat, bergantung pada pemeliharaan ilahi atas nyawa dan hidup saya, dan tersesat dalam pikiran. Yes, being lost in thoughts.

Tidak terlalu banyak tawa dari saya di liburan ini. Lidah saya seringnya malah menjadi kelu. Ada hal-hal yang saya kesulitan untuk ungkapkan. Saya memilih untuk menutup mulut saya lebih sering. Bahkan saya "cukup berani" untuk memasang "topeng" di depan Bang Dian; hal yang sebenarnya sia-sia karena dia tahu siapa dan suasana hati saya. Pun sebaliknya.

Saya tidak punya banyak cerita untuk liburan ini. Sesuai keinginan tidak sadar saya sebelum berangkat untuk tersesat di dalam pikiran saya, maka memang "tersesatlah" saya di dalam semesta jiwa sendiri.

Pada akhir liburan, saat boarding di bandara menuju Jakarta sore itu, saya mendapati kenyataan yang membebaskan; bahwa terbalik dari harapan untuk bisa berlibur dengan sukacita yang mungkin tawanya akan pudar dalam hitungan minggu begitu dibabat oleh sumpeknya kehidupan di Jakarta, saya akhirnya sadar bahwa sebenarnya orang-orang yang pernah saya nilai membenci saya sebegitu hebatnya di masa lalu, sebenarnya adalah orang-orang yang paling peduli dengan saya, dan dengan macam-macam upayanya sudah berusaha untuk tidak membuat saya padam dan mati dalam kesedihan. "Bahasa sayangnya" mereka saja yang saya butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa pahami. I learnt this life on my own hard path.

Kenyataan yang membebaskan ini, mungkin adalah buah terbaik dari liburan kali ini. Setelah ini, mungkin saya menjalani hidup dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Perhaps, the truth has set me free.


Labels: , , , ,

Eleazhar P. @ 5/24/2015 11:06:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives