The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, June 28, 2015
Hati Manusia, Dicari dan Kutakutkan Tentangnya


Dan tiap kali pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di landasan pada senja atau malam, yang saya lihat adalah kilau lampu kota yang saya akan jejak.

Dan tiap lampu bagai jiwa-jiwa yang berdiam di dalam lebur kehidupan kota. Bangun, berjalan, bersinggung hubung, tidur, dan beberapa dari jiwa meninggalkan tubuhnya dan berbaur dalam kelompok kecil menuju alam perhentian.

Dan jiwa-jiwa, juga hati yang mereka pernah pelihara dan hidupkan nyalanya selama mereka manusia - kita, hidup, adalah yang kita cari dalam banyak riwayat hidup masing-masing kita.

Pada banyak titik, aku merasa terikat dalam candu untuk melihat lebih dekat jiwa-jiwa yang kupilih. Beberapa jiwa begitu mudah dikenali dari sinar matanya, tidak peduli seberapa besar usaha tubuh nyata mereka untuk menyampaikan kuatnya diri mereka, tetapi jiwa mereka terpapar dalam mata mereka. Sejatinya rapuh, sejatinya mereka hancur.

Jiwaku hancur melihat jiwa mereka. Bukan karena sekedar empati, tetapi karena jiwaku sudah hancur terlebih dulu. Dan kesakitan pada jiwa mereka terdengar lebih dari lolongan anjing pada malam-malam horor di masa kecilku.

Namun tidak banyak, bahkan hampir tidak ada yang bisa kuperbuat bagi mereka. Tidak mampu untuk menyembuhkan, tidak mampu untuk memberi penghiburan bagi sesama jiwa yang lelah dalam hidup.

Kata mereka yang mendahuluiku dalam hidup, bahwa hidup adalah tentang menjalani, semua sudah ada yang mengatur. Tetapi, bagaimana bila aku memberontak terhadap tata atur kehidupan ini? Padan tak sesuai, padan tak sama dan sejalan. Aku pernah berpikir untuk berdiam dan terikut dalam perkataan mereka, untuk hidup, menjalaninya, dan mati pada suatu waktu nanti.

Dan bila dulu aku menginginkan matiku pada banyak pagiku karena tidak ada lagi pengharapan dalam hatiku, mungkin, kini, telah menjadi ketetapanku untuk ikut dalam menjalani hidup.

Aku tidak tahu apa yang menjadi pengharapanku kali ini. Tidak tentang ibuku, tidak tentang bapaku yang telah tiada, tidak tentang anak yang kuharapkan di masa depanku, tidak tentang jiwa-jiwa yang pernah hatiku menaruh belas kasihanku. Aku tidak tahu-menahu banyak.

Bahkan, lebih aku menakut tentang jiwa-jiwa yang terlihat berbeda; jiwa-jiwa yang juga berbelas kasih lebih kepada jiwa-jiwa yang lain. Kami saling menakut, karena sepenuh jiwa ini adalah yang mengendali seluruh tubuh yang menjadi kapal yang ditumpangi jiwa.

Mungkin Pemilik Hidup, sedang menunjukkan jalan-jalan yang harus kupilih. Mungkin Ia sangat bosan, dulu, mendengar ratap dukaku di banyak malam dan subuh yang menginginkan matinya. Mungkin, aku hanya tidak terlalu peka dengan maksudNya selama paruh hidupku. Mungkin, aku terlalu berkeras agar keinginanku yang jadi. Mungkin, Ia menilai inilah waktu bagiku untuk memulai ulang hidup, untuk menentukan jalan berkelok atau lurus untuk dilanjutkan setelah titik perhentian waktu ini, saat Saturnus telah kembali pada titik ia berada saat hari lahirku ditetapkan.

Jiwa-jiwa yang dicari, jiwa-jiwa yang kutakuti. Pemilik Hidup, tolonglah kami.



Photo was shot by myself, during my second getaway to Banda Aceh and Sabang.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 6/28/2015 10:14:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives