The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, June 4, 2015
Mereka, Dari Masa Lalu Yang Kini Pergi Atau Meninggal


Minggu lalu, seorang bapak yang pernah menjadi salah satu manajerku menghubungi di Whatsapp, memberitahu bahwa seseorang di masa lalu, seorang petinggi di vendor yang pernah bekerja untuk kami, meninggal dunia. Mencari kemungkinan siapa saja kolega beliau yang mungkin masih bekerja di perusahaan logistik tersebut, kamipun mencoba hubungi siapa-siapa saja yang mungkin bisa memberitahu alamat almarhum. Beruntung bagi bapak bekas manajerku tadi, alamat almarhum akhirnya diketahui.

Dan saat tahu bahwa petinggi bekas vendorku itu telah meninggal dunia, sejujurnya aku tidak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya, pada beberapa hari sebelumnya, aku sempat memperhatikan profile almarhum di Whatsapp; aku ingin memulai percakapan, aku ingin meminta maaf dari beliau. Namun, aku urung.

Aku sempat berpikir bahwa mungkin beliau sebenarnya tidak pernah merasa tersakiti olehku, oleh perkataanku, oleh tindakanku, oleh tuduhanku, oleh kecurigaanku. Padahal, bila kupikir kembali di masa dulu, beliau berhak marah atasku, sekalipun aku adalah "raja" yang memerintah perusahaannya.

Dan gamang adalah yang kurasa malam itu.

Masih ada banyak orang yang pernah kusakiti di masa lalu, sebagai akibat dari tindakan jiwaku yang berusaha melindungi diri sebelum disakiti oleh orang-orang lain yang kurasa akan menyakitiku, membenciku. Aku belum meminta maaf dari mereka.

Beberapa hari sebelumnya, di Senin pagi pada minggu yang sama, di Stasiun Tanjung Barat, tidak sengaja aku berpapasan dengan orang yang pernah menjadi orang yang sangat penting dalam hidupku selama beberapa tahun. Orang yang pernah aku sedihkan kepergiannya dari perusahaan tempat kami bekerja, sahabat yang memegang banyak rahasiaku, abang yang bisa kuandalkan dalam banyak hal. Pagi itu, aku merasa jengkel bertemu dengannya, berbeda dengan beberapa kali pertemuan tidak sengaja sebelumnya setelah kami tidak lagi bekerja di tempat yang sama.

Rindukah aku pada bekas rekanku ini di pagi itu? Ternyata tidak. Aku tidak lagi merasakan hal yang sama. Beberapa waktu sebelumnya aku sudah mengendus bahwa dia memang sengaja menjauh, mengucilkan diri, menutup diri. Aku punya firasat dia menjadikanku target dari segala upayanya itu. Kurasakan dia bukan dia yang dulu, entah apapun alasannya. Sekilas aku pernah mencoba mengingat-ingat apa yang mungkin membuatnya menjauh, memutuskan persaudaraan, tapi aku kesulitan menemukan jawaban. Aku tidak tahu, dan aku tidak mau mau ambil pusing akan hal ini!

Semua orang punya alasannya untuk menjauh. Semua orang punya alasannya masing-masing untuk menghindari pandang dan percakapan denganku. Apakah aku merasakan kesakitan karenanya? Ya, ada sedikit rasa menghujam di jantung. Tetapi pendekatan lain yang kini aku coba tempuh adalah bahwa merekapun melakukan itu karena aku mungkin yang bersalah, dan mereka tidak juga memikirkan atau mencoba merasa apa yang kurasakan saat mereka melakukan pemutusan silaturahmi.

It hurts for a while. But, it still hurts...

Ada beberapa orang yang pernah kuanggap sahabat dekatku kini sudah meninggalkanku. Aku tidak tahu kesalahan pasti yang pernah kubuat atas mereka. Mereka juga manusia, berjiwa, punya rasa, punya nalar. Aku berusaha memberi hormat atas perasaan mereka, mereka manusia.

We both stopped operating months ago
You know this cut is going to hurt like hell
But it’s what we need
Before we cause a breach of the peace
Before we cause a breach of the peace

(I hope that someday, you know I never meant any harm)

"Breach of The Peace" by Charlotte Church
Kali ini aku akan berdiam. Tidaklah perlu mencari tahu alasan-alasan tersebut, karena mungkin aku yang akan tersakiti hebat setelah mengetahui alasan-alasan tersebut. Atau mungkin jalan hidupku memang benar seperti ini, yang setelah perenunganku di Sabang bulan lalu; untuk akan tetap menjadi manusia yang ditetapkan menjalani hari seorang diri untuk seterusnya, karena untuk menjalin persaudaraan dengan orang-orang yang paling aku hargai - ternyata adalah hal yang tidak sanggup aku lakukan?

Dulu, kupikir aku sangat kuat untuk hidup tanpa persaudaraan atau pertemanan yang mencapai tingkatan persahabatan, hingga aku merasa bahwa aku akan baik-baik saja saat mereka datang dan pergi sebagaimana jalan hidup sudah mempertemukan dan memisahkan anak-anak manusia. Tapi ternyata aku tidak sekuat itu. It still hurts, dan terus berulang. Padahal sangat mungkin, mereka tidak pernah menganggapku sebagai saudara mereka.

Pada malam ini, aku menjadi begitu sinis dan skeptis. Aku tidak bahagia.

Maafkan aku, karena pernah menyakiti kalian.

Photo of Balohan Port, Weh Island. Shot by myself.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 6/04/2015 10:52:00 PM.

1 Comments:

  • On June 8, 2015 at 11:18 AM, Anonymous Anonymous said,
  • "It hurts for a while. But, it still hurts...
    "
     

    Post a Comment

    Back to blog homepage...
      Web This Blog

     

    :: Blogger + Designer

    Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
    Find me on:

    :: Categories

    :: Featured

    :: Monthly Archives