The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, July 26, 2015
Kau Takut Akan Laut?


Dan kau, kenapa kau takut akan laut, akan samudera?

Aku merasa, laut adalah tentang jiwa kita.

Aku takut akan apa yang laut dapat perbuat atas kita.

Ada amarah, sekaligus kedamaian yang dibawa dalam kandungan perutnya.


Photo by: Myself, during #EAPgetawayMay2015.

Labels:

Eleazhar P. @ 7/26/2015 10:53:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Tuesday, July 21, 2015
Saturn Returns: Tahun Untuk Menentukan Arah Hidup

Tiap hari, ada banyak hal dan subyek yang kupikirkan. Tentang hidup yang akan kujalani, tentang orang-orang yang pernah singgah dalam kehidupan, tentang orang-orang yang pernah aku berbelas kasihan kepadanya, tentang orang-orang yang pernah kusakiti, tentang pekerjaan dan beberapa hambatan, dan tentang orang-orang yang pernah kubenci.

Sering aku tenggelam dalam pikiranku, pada banyak malam di saat menumpang kereta commuterline, bahkan pada jam-jam bekerja. Kata orang-orang, daydreaming. Tapi aku tidak setuju, saya tidak berkhayal, melainkan hanya terseret dalam alam pikirku atau menetapkan hal-hal yang ingin kulakukan atau inginkan untuk dicapai. Tetapi sering, yang kuinginkan adalah memutar waktu dan mengubah beberapa keadaan.

Mengubah keadaan, ini sesuatu yang mustahil. Tetapi entah kenapa, aku masih inginkan beberapa hal di masa lalu bisa diperbaiki: "andai aku bisa lebih terbuka ke orang-orang, andai saat itu aku tidak tersulut marah, andai mulutku tidak kelu mengungkapkan sesuatu..." Dan yang akhir-akhir ini aku coba pelajari, adalah menerima masa lalu, meski memang tidak gampang.

Menerima masa lalu bukan perkara mudah. Yang sudah kulewati dalam proses ini juga cukup panjang dan lama; ada rasa ingin berteriak dan marah kepada orang-orang yang kunilai pernah terlibat, ada banyak luka yang akan dibuka kembali - sebagai konsekuensi saat saya melakukan konfrontasi dengan orang-orang yang saya nilai terlibat.

Aku pernah berucap, dan mencoba menjalankan ajaran kasih untuk penyembuhan luka masa lalu; bahwa diperlukan pengampunan kepada mereka yang pernah menyakiti dan tidak membalas apapun yang mereka pernah perbuat atau melampiaskannya kepada orang lain. Tetapi yang terjadi, ada banyak hambatan untuk menjalankan pengampunan, dan memberi diri untuk bebas dari kemarahan dan kesedihan yang bertahun-tahun ada.

Ada satu pola umum yang kucermati terjadi pada manusia, disebut Saturn Returns, yaitu periode khusus dalam umur manusia saat posisi Planet Saturnus kembali ke titik asal saat manusia dilahirkan. Ini disebutkan terjadi pada tahun ke-29 usia tiap-tiap manusia, hingga ia siap menjadi dewasa pada usia 30.

Dan Saturn Returns disebutkan sebagai salah satu periode "sulit" dalam hidup manusia, ada banyak krisis yang mengiringi. Sebutlah pada usia 21 dan 27. Dan aku memang pernah mengalaminya. Umum diketahui bahwa pada usia 21 adalah periode goncangan, dan saya mengalaminya sepanjang usia 21 dulu, saat aku baru lulus dari perkuliahan, lalu dihadapkan pada dunia "orang dewasa"; untuk bekerja dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Aku lalu merantau di bulan-bulan terakhir usia 21 ke Surabaya, dan kemudian mengalami salah satu goncangan batin dalam hidup setelah mengalami penolakan kultural dan menjadi scapegoat oleh tindakan politis seorang dari angkatanku di pekerjaan pertamaku. Goncangan menjadi sedemikian brutal setelah bapak meninggal. Yang terjadi setelahnya, aku merasa tidak lagi punya alasan untuk melanjutkan hidup.

Aku memang tidak memutuskan untuk mengakhiri hidup saat itu. Aku hidup, tetapi sesungguhnya sudah mati. Jiwaku mati; tidak berharap apapun, dan hanya berpasrah bahwa bila kematian sudah tiba waktunya, maka mati adalah matilah saja. Terang saja, aku menjadi pribadi yang sebetulnya kubenci setelah goncangan terjadi. Aku bahkan meragukan segala cerita tentang kasih dan Tuhan. Aku membenci semua pemberita kabar baik karena semakin banyak kulihat mereka adalah orang-orang munafik dan sebenarnya adalah pembenci Tuhan itu sendiri. Tetapi dampak terbesar bagiku, setelah goncangan tersebut aku menjadi antipati terhadap semua orang dari kelompok besar sukuku yang lahir dan besar di tanah perantauanku, juga menjadi sangat curiga terhadap segala orang dan motifnya. Yang menjadi perjuanganku saat itu hanya ibu dan adik-adikku.

Usia 27 kemudian tiba setelah tahun-tahun pasca usia 21 di atas, yang datang, dijalani, dan hilang begitu saja tanpa terasa. Tidak ada yang menjadi pegangan atau dasar untuk aku berpijak, tidak pula aku mau tahu tentang keberadaan Tuhan. Aku akui itu, aku tidak punya alasan apapun lagi untuk berjuang.

Beberapa kejadian terjadi di bulan-bulan terakhir di umur 27. Aku menjadi sebegitu jengah terhadap beberapa hal dalam hidup, menjadi tidak berdaya akan banyak hal terutama dalam hal pekerjaan. Aku lalu memutuskan untuk resign, dengan tidak ada pegangan pekerjaan dan sedikit uang untuk bertahan hidup. Pantang bagiku untuk meminta bantuan dari ibuku. Beruntung saat itu aku sudah mempunyai rumah sederhana untuk kutinggali, jadi aku tidak perlu tinggal di rumah saudara yang berubah total sejak menikah (pada titik ini, aku sadar tentang apa dan siapa yang sebenarnya layak disebut "saudara"), dan menerima bantuan ini-itu dari seorang teman. Bersyukurkah aku saat itu? Pasti. Tetapi aku tetaplah hancur. Pada Desember 2013 itu, sering yang muncul dalam pikiranku adalah mengakhiri hidupku. Aku kembali marah kepada diriku, aku membenci segala yang ada di dalam diriku; tentang ketidakmampuanku untuk bertindak dalam beberapa hal, tentang ketidakberdayaanku untuk mengubah hal-hal di perusahaan pertama dulu yang kusalahkan menjadi penyebab dari segala kesusahan jiwaku, tentang hilangnya jiwa asliku yang lalu menjadi pribadi yang sangat pemarah dan pembenci, dan terutama adalah marahku kepada Tuhan yang seperti tidak pernah peduli terhadapku sekalipun sering saya meraung-raung pasrah tanpa sadar seperti anjing yang memohon belas kasihan agar tidak terus dipukuli manusia. I was dying inside.

Hampir semua orang meninggalkanku saat itu. Mungkin ini yang disebut Club 27, usia goncangan di mana beberapa orang tidak berhasil melaluinya, dan memang memutuskan untuk mengakhiri hidup seperti yang dilakukan beberapa pesohor dunia. Sering aku bertanya saat itu, "di mana Kau saat ini, Tuhan? Aku sudah terima, jalani hukumanku kalau memang ini hukuman atas kehidupanku. Tetapi kenapa aku terus dihukum?"

Dalam hitungan minggu setelah puncak goncangan itu, aku tidak tahu apakah ini mujizat atau apa: aku mendapatkan pekerjaan, dan orang yang kuanggap paling bertanggungjawab atas kejadian di perusahaan pertama dulu kemudian muncul dalam kehidupanku. Tidak ada muncul kemarahan dalam diriku saat ia muncul saat itu, dan setelahnya aku sering berkomunikasi dengannya selama usia ke-28; Februari 2014 - Februari 2015.

Saturn Returns period kemudian muncul di 26 Februari 2015. Aku sudah aware tetapi tidak tahu goncangan apa yang akan terjadi setelahnya. Kupikir, apapun yang terjadi, hadapi saja dan jangan lagi terpikir untuk mengakhiri hidup. Inilah waktu untuk menentukan akan menjadi kehidupanku kelak di usia dewasa; apakah untuk tetap terperangkap kemarahan masa lalu yang telah merusak jiwa saya, atau menjadikan semua itu pelajaran untuk menghadapi segala sesuatu dengan lebih baik dan elegan.

Beberapa hari berlalu, aku sudah menghadiahkan diriku liburan backapacking pertamaku menuju Titik 0 Kilometer sebagai hadiah ulangtahun, dan ditunjuk secara mendadak untuk business trip ke Bangkok di awal Maret. Beberapa hal terjadi; trip di Bangkok dicemari pesan bodoh di Whatsapp dari seorang admin di kantor Jakarta, dan admin yang sama bertindak bodoh mengambil sepihak urusanku dengan pihak forwarder company yang membuatnya semakin runyam dan menambah masalah baru, padahal aku tidak menyuruhnya menangani pekerjaanku selama aku dalam business trip (karena masih bisa kutangani dari Bangkok). Dan saat dikonfrontasi setelahnya, yang kutemukan adalah sikap paling kurangajar dan paling brengsek yang tidak bisa dididik.

Dan yang paling runyam adalah pesan di Whatsapp dari orang yang paling kuhormati saat itu, yang memberikan kesan bahwa ia masih tidak percaya dan seperti memberi kesan menuduhku bak pencuri yang akan mengambil sesuatu darinya. Aku tidak memberi reaksi apa-apa setelahnya, aku hanya menjadi sangat kecewa kepada diriku sendiri yang menjadi terlalu polos untuk percaya bahwa segala urusan masa lalu sudah selesai pada beberapa minggu sebelumnya. I was crushed and burnt, sekalipun aku berusaha menerima secara positif - bahwa ia sebenarnya tidak bermaksud demikian.

Aku masih beberapa kali mempunyai kesempatan untuk bertemu orang yang kusebut paling kuhormati ini, tetapi semua kesempatan itu berakhir dengan keributan. Aku memang masih sangat kecewa dengan pesan Whatsapp itu. Di pertemuan bulan Mei dengannya, aku masih memiliki masalah lain yang harus kuurus dengan keluarga, terutama ibuku, dan ini berimbas pada beberapa gesekan emosional saat bertemu dengannya. Secara tidak sengaja, kami saling melukai kembali secara emosional. Aku pasrah dengan segala konsekuensi yang akan terjadi setelah pertemuan-pertemuan tersebut, dan memang aku menyadari bahwa dia mulai memutus banyak hal dengan cara "halus", dengan berbicara hambar dan seperlunya saja. Mungkin aku yang menilai salah, dan ini hanya pendapat subyektif saja. Tidak mungkin aku memakai perspektif darinya sementara ia diam saja.

Menyesalkah aku dengan segala perbuatanku kepadanya? Pasti. Apakah masih akan kulakukan? Tidak tahu, aku tidak bisa berkomitmen sepanjang saya belum mendengar bahwa ia mengampuniku. Tetapi tentu, ia jauh lebih baik dariku dalam tindakan karena masih meladeniku sekalipun hambar; berbeda denganku di mana aku secara frontal menjadi pemberang dan memutus total segala komunikasi dengan admin di kantor yang disebut-sebut di atas.

Banyak ikatan yang telah terputus sejak usia 27 hingga hari ini pada usia 29, entah saya yang memutuskan ataupun saya yang ditendang; dengan saudara yang masih berhubungan darah, dengan orang yang paling kuhormati, dengan rekan kerja yang menurutku memang tidak perlu lagi bekerja dengannya, dengan orang yang kuanggap sahabat (I can count with my fingers, those whom I consider and ever had as friends).

Kita kini berbicara tentang jiwa manusia dan hubungannya dengan sesama, yang mau tidak mau berpengaruh ke banyak hal dalam hidup. Beberapa bulan telah berlalu di usia 29 ini, periode Saturn Returns, dan hampir semuanya tidak mengenakkan. Beberapa hal sebenarnya jauh lebih "sederhana" dibandingkan yang kualami selama periode goncangan di usia 21 dan 27. Mungkin saja, sebenarnya ini adalah benar masa-masa persiapan menjelang usia 30, saat hidup menjadi sedikit lebih kompleks, penuh tekanan sosial, bersiap untuk menerima kedatangan orang-orang baru - entah istri, anak, atau lingkaran pertemanan baru, dan bersiap untuk kehilangan atau terputus dari orang-orang yang ada di sekitar kita selama ini - yang mungkin adalah sahabat, abang, kakak, adik, orangtua, untuk menjalani kehidupan yang baru. I approved and select this perspective. We live our own life individually, don't we?

Labels: ,

Eleazhar P. @ 7/21/2015 01:33:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
A New Friend, Samsung NX mini


I have this new friend of mine, Samsung NX mini, as a supporting tool for my new business. Pictures, and more pictures will be shot by this mirrorless camera. But first, I think that I need to get some readings on how to use a mirrorless camera at the fullest.

This, somehow, reminds me to Samsung Galaxy Mini phone I bought in April 2011, when Android phones were not popular in Indonesia, and I was the only one using Android phone at the office back then.

Labels:

Eleazhar P. @ 7/21/2015 09:43:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts