The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, August 27, 2015
Tentang Berbicara Tanpa Mengucap dan Menulis Kata; Telepati (Part 1)

Saya adalah orang yang percaya bahwa kita manusia bisa menyampaikan isi pikiran dan hati kita tanpa perlu mengucap dan menulis kata; telepati. Meski sebenarnya kini, saya tidak tahu pasti berapa besar kadar kepercayaan saya tentang bagaimana, antara siapa, dan kapan telepati itu bisa terjadi dan tersampaikan. Pop culture dan beberapa aliran kepercayaan telah banyak yang membahasnya.

Disebutkan, telepati adalah peristiwa tersampaikannya suatu atau beberapa pesan, utuh atau terpecah dalam beberapa bagian, dari pengantar ke penerima pesan, dengan tidak menggunakan kelima alat penginderaan pada tubuh manusia. Dan ya, inilah yang saya tahu dan pernah alami tentang telepati.

Banyak cerita, tentang bagaimana telepati itu dapat terjadi. Tetapi yang kurang dibahas adalah, apakah hal ini memang bakat alami atau dapat dilatih, dan seberapa berhasil pesan tersebut dapat disampaikan dan diterima tanpa terjadi distorsi di antaranya yang memungkinkan rusaknya isi pesan. Saya tidak dapat membahas ini terlalu dalam satu blog post, tetapi akan saya sampaikan pendapat pribadi di tempat pribadi ini, dan tidak terikat serta mengundang perdebatan dalam lingkup sains.

Saya sendiri meyakini, bahwa sebenarnya kemampuan telepati itu adalah bakat alami dan ada pada setiap manusia. Kemampuan seseorang untuk melakukan ini, berhasil atau tidaknya, tergantung dari seberapa sering seseorang menggunakan perasaannya dibanding pemikirannya. Ini dua hal yang sebenarnya saling melengkapi dalam diri manusia, tetapi tetaplah keduanya adalah hal-hal yang berbeda dan bertolakbelakang. Dalam posisi berhadapan dengan suatu obyek, dengan penginderaan kita akan melihat bentuk, menyatakan bau obyek tersebut, mendengar riuh-senyapnya, dan merasakan apa yang benda tersebut sampaikan. Segala sesuatu disampaikan ke otak, diolah dengan menggunakan proses berpikir. Semuanya berdasarkan fakta-fakta, material fisik yang diidentifikasi oleh alat indera. Sementara perasaan, kita tidak bisa menjelaskan berdasarkan angka dan kuantitas, kenapa suatu jenis musik atau suatu lukisan dapat tidak memberi pengaruh apa-apa ke satu orang, sementara pada orang berbeda, musik atau lukisan yang sama bisa mengubah suasana hati menjadi lebih buruk atau lebih baik. Juga kita tidak bisa menjelaskan, kenapa orang yang tidak pernah mengalami bentuk fisik sentuhan belas kasihan, bisa menjadi sebegitu terharu dan merasa berharga, tetapi pada orang lain, sentuhan fisik itu dapat menjadi hanya "sesuatu yang biasa" bahkan tidak berarti apa-apa.

Bagi saya pribadi, perasaan adalah bentuk dari suatu (yang dikenal dalam ilmu fisika) antimatter atau anti-materi; yaitu hal atau benda atau partikel yang secara paralel mirip dengan partikel yang kita indera; ada, exist, mengandung berat, massa, tetapi ia adalah tetap berdiri sebagai partikel nyata yang berlawanan dengan matter/hal yang diidentifikasi alat indera tubuh kita; ia kasat mata, tidak berbau, tidak tercium, tidak terasa. Antimatter dapat menjadi sebentuk kenyataan yang dapat bercampur dan melayang tetapi tetap solid dalam kenyataan atau realita yang ada di dunia. Perasaan dapat bersinggungan dengan kita, manusia.

Teoriku, antimatter hanya membutuhkan pertemuan atau tumbukan dengan keberadaan ruang dan waktu untuk dapat menjadi berdiri sendiri. Ruang pada semesta dan Bumi, bagiku, memiliki cakupan yang sangat luas, sementara konsep waktu adalah hal yang ajaib. Konsep mundur atau maju dalam waktu adalah rentang yang saya sulit jelaskan dengan kata-kata. Sesuatu, entah ia berupa hal (matter) atau antimatter, menurutku, bisa berada dalam posisi waktu yang kita sebut kekinian. Akan tetapi waktu adalah seperti sebuah gulungan, roll, repetisi, dan memiliki ketetapan yang sangat kaku, tetapi masih bisa dimasuki, diduduki, dihentikan oleh suatu tembakan atau pergerakan massa dalam waktu yang bisa diatur menjadi sangat cepat.

Pertemuan atau tumbukan antara antimatter (perasaan), ruang, dan waktu tersebut, bisa terjadi di mana saja, selama subyek dan obyek memiliki "persetujuan" untuk menjadi pemicu pertemuan itu. "Persetujuan" tersebut dapat berupa suatu kesepahaman, kedekatan perasaan di antara kedua orang tersebut sebagai komunikator perasaan; baik berfungsi sebagai penyampai dan penerima perasaan. Ringkasnya, perasaan adalah sesuatu yang dapat kita sampaikan tanpa mengenal batas ruang dan waktu; segala sesuatu yang kita rasa, dapat tersampai kepada orang lain, di manapun ia berada dan pada kapanpun (selama orang tersebut masih hidup). Untuk orang-orang yang memang memiliki kebiasaan untuk mengedepankan perasaannya dalam menalar alam sekitarnya, kemampuan untuk menerima dan menyampaikan perasaannya menjadi lebih baik dibanding mereka yang lebih mengedepankan proses berpikir untuk menalar. Dan saat si komunikator mampu membentuk perasaannya menjadi sebuah ide atau perasaan yang lebih utuh, memiliki kilas gambar dan rupa, saat itulah bentuk utuh telepati tersampaikan, melalui penyampaian perasaan yang lalu berdetak sebagai antimatter di luar tubuh si komunikator.

(Dilanjutkan ke Part 2 di akhir minggu ini...)

Labels: ,

Eleazhar P. @ 8/27/2015 07:40:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
:: Monday, August 10, 2015
Aku Tunggui Dia Pada Pukul 8.45 Malam di Stasiun Kereta


Bila ada yang mengganggu pikiranku selama beberapa bulan terakhir, maka ialah jiwa dari saudaraku yang pernah begitu dekat denganku.

Pada beberapa pertemuan terakhir, yang kubaca dari kedua matanya adalah jiwanya yang tidak bahagia. Kesedihannya terlalu nyata. Dan jiwa yang ada di dalam tubuhnya - yang selalu memperlihatkan ketenangan itu, seakan ingin berteriak, melompat, mengamuk.

Aku menandai kesukaran jiwanya.

Beberapa waktu lalu ia pernah kumaki-maki melalui pesan singkat. "Palsu!" umpatku. Aku tidak menyukai tabiatnya yang selalu menghilang, bersembunyi di balik cangkangnya saat ia merasa sedih.

Kupikir, kalaupun ia tidak bisa mengungkapkannya karena posisinya yang mengharuskan ia selalu diharapkan dan ditumpu, maka ia punya aku, sebagai adiknya, saudaranya, untuk ia bercerita tanpa harus takut terlihat lemah. Ia tahu aku tidak pernah menganggap hina kesukaran jiwanya, tetapi ia diam.

Namun aku mencoba melunak. Kupikir, setiap orang berhak menyimpan rahasia. Kupikir, mungkin karena ia tahu aku suka terbawa emosi dan perasaan, maka beban hatinya akan semakin besar kurasa sendiri di dalam jiwaku. Kupikir, ia jauh lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Ia tahu aku menyayanginya sebagai abang. Mungkin karena itu ia sempat menjauh.

Kami berada dalam satu jurusan kereta setiap malam saat pulang bekerja. Bukan, bukan berarti kami satu kereta, hanya satu jurusan. Tetapi ia sering baru naik di stasiun di dekat apartmentku, setelah pulang menumpang bis dari Pasar Rebo, melanjut angkutan ke stasiun dekat apartment, lalu menaiki kereta sampai ke stasiun di dekat rumahnya.

Beberapa kali kami bertatap dan berbicara saat tidak sengaja bertemu di pagi hari. Beberapa kali, saat aku turun dari kereta saat pulang, baru kulihat di beberapa gerbong di belakang, dan ternyata ia satu kereta denganku. Aku tahu ia naik kereta dari Cawang. Dan paling sering ialah bertemu di malam hari saat ia tiba di stasiun kereta di dekat apartment, sementara aku baru saja turun dan hendak berjalan keluar dari stasiun.

Hingga pada minggu lalu aku kembali bertemu dengan saudaraku ini. Aku melihat wajah yang luar biasa sedih sekalipun ia mencoba tertawa. Ingin aku bertanya "what had happened to you, Bang?" namun yang keluar dari mulut adalah "kok tua kali mukanya sekarang?" Sayang pada saat itu ia bersama dengan rekan kerjanya, padahal ingin aku mengajaknya berbicara sebentar. Setidaknya, ia bisa berbagi kesukarannya denganku. Mungkin, dengan cara itu ia bisa melepas sedikit bebannya.

Aku tidak lagi menghubunginya sejak saat itu. Aku tidak ingin ia merasa terpojok oleh desakanku untuk bercerita.

Aku lalu menungguinya setiap malam di stasiun sejak malam itu, antara pukul 8.45 hingga 9.15 pada setiap malamnya. Di antara waktu yang tercatat inilah aku pernah selalu tidak sengaja bertemu dengannya di stasiun di dekat kediamanku. Hanya saja, sayang sekali, kini aku tidak pernah berhasil menemuinya di stasiun. Entah kenapa.

Kekuatan tubuhku melemah sejak kegiatanku menungguinya setiap malam di stasiun hingga akhirnya aku jatuh sakit sejak Sabtu lalu. Beberapa malam terakhir angin menjadi sangat kencang, dan aku sudah tidak lagi pernah membawa jaket.

Hingga malam ini aku belum menyerah, aku masih menungguinya di stasiun di dekat kediamanku. Ah, entahlah, mungkin aku sudah tidak waras. Mungkin sindrom akut mesianik ini sudah mengganggu kesadaranku. Tetapi aku tidak peduli. Tetapi aku belum menyerah. Aku harus mendengar langsung darinya. Tidak melalui telepon, tidak melalui pesan digital. Aku ingin ia berkurang beban jiwanya.

Aku menyayangi abangku ini.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 8/10/2015 10:08:00 PM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts